Ketika Roh dan Para Malaikat Berdiri Bersaf-saf

0
17

Tafsir Al-Qur’an: Surah An-Naba’ Ayat 37-38: Peristiwa yang akan disaksikan pada hari Kiamat. Pada hari, ketika roh dan para malaikat berdiri bersaf-saf, mereka tidak berkata-kata kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pemurah.

رَبِّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا الرحْمَنِ لَا يَمْلِكُونَ مِنْهُ خِطَاباً -٣٧- يَوْمَ يَقُومُ الرُّوحُ وَالْمَلَائِكَةُ صَفّاً لَّا يَتَكَلَّمُونَ إِلَّا مَنْ أَذِنَ لَهُ الرحْمَنُ وَقَالَ صَوَاباً -٣٨

Tuhan Yang memelihara langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya; Yang Maha Pemurah. Mereka tidak dapat berbicara dengan Dia. Pada hari, ketika roh dan para malaikat berdiri bersaf-saf, mereka tidak berkata-kata kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pemurah; dan ia mengucapkan kata yang benar. (Q.S. An-Naba : 37-38)

 .

Tafsir Ibnu Abbas

Rabbis samāwāti wal ardli wa mā baināhumā (yaitu Rabb langit dan bumi serta segala apa yang ada di antara keduanya), yakni semua makhluk dan hal-hal yang menakjubkan.

Ar-rahmāni (Yang Maha Pengasih), yakni Dia-lah Yang Maha Pengasih.

Lā yamlikūna minhu (sedangkan mereka tidak kuasa kepada-Nya), yakni para malaikat dan yang lain tidak kuasa di hadapan-Nya.

Khithābā (berbicara), yakni berkata-kata untuk memberikan syafaat sebelum mereka diizinkan oleh Allah Ta‘ala.

Yauma yaqūmur rūhu (pada hari ketika ar-Ruh berdiri), yakni malaikat Jibril. Menurut satu pendapat, ar-Rūh adalah makhluk yang besarnya hanya diketahui Allah Ta‘ala. Menurut Ibnu Mas‘ud, ar-Rūh adalah malaikat yang lebih besar daripada segala sesuatu kecuali Arasy. Malaikat tersebut senantiasa bertasbih kepada Allah Ta‘ala dalam sehari dua belas ribu kali tasbih. Dari satu kali tasbihnya, Allah Ta‘ala Menciptakan satu malaikat yang memohonkan ampunan bagi kaum mukminin hingga hari kiamat. Kemudian pada hari kiamat para malaikat itu akan didatangkan dalam satu barisan. Ada pula yang mengatakan bahwa mereka adalah makhluk dari jenis malaikat yang mempunyai kaki dan tangan seperti manusia.

Wal malā-ikatu (dan para malaikat), yakni dan pada hari para malaikat berdiri.

Shaffal lā yatakallamūna (bersaf-saf. Tak ada yang berbicara), yakni para malaikat itu tak ada yang berbicara untuk memohonkan syafaat.

Illā man adzina lahur rahmānu (kecuali yang telah diizinkan oleh ar-Rahman [Yang Maha Pengasih]) untuk memberi syafaat.

Wa qāla shawābā (dan ia pun berkata benar), yaitu tidak ada tuhan melainkan Allah.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Rabb langit dan bumi) dapat dibaca Rabbis Samaawaati Wal Ardhi dan Rabus Samaawaati Wal Ardhi (dan apa yang ada di antara keduanya; Yang Maha Pemurah) demikian pula lafal Ar-Rahmaan dapat dibaca Ar-Rahmaanu dan Ar-Rahmaani disesuaikan dengan lafal Rabbun tadi. (Mereka tiada memiliki) yakni makhluk semuanya (di hadapan-Nya) di hadapan Allah swt. (sepatah kata pun) yaitu tiada seseorang pun yang dapat berbicara kepada-Nya karena takut kepada-Nya.
  2. (Pada hari itu) lafal Yauma merupakan Zharaf bagi lafal Laa Yamlikuuna (ketika ruh berdiri) yakni malaikat Jibril atau bala tentara Allah swt. (dan para malaikat dengan bershaf-shaf) lafal Shaffan menjadi Haal artinya dalam keadaan berbaris bershafshaf (mereka tidak berkata-kata) yakni makhluk semuanya (kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pemurah) untuk berbicara (dan ia mengucapkan) perkataan (yang benar) mereka terdiri dari orang-orang yang beriman dan para Malaikat, seumpamanya mereka memberikan syafaat kepada orang-orang yang diridai oleh-Nya untuk mendapatkan syafaat.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi tafsiril Qur’an

  1. [39]Tuhan (yang memelihara) langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya; Yang Maha Pengasih[40], [41]mereka tidak dapat berbicara dengan Dia.

[39] Yang memberikan pemberian yang besar itu adalah Tuhan mereka; Tuhan yang memelihara langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya.

[40] Yang rahmat-Nya meliputi segala sesuatu. Dia yang mendidik dan merahmati mereka serta memberikan kelembutannya kepada mereka sehingga mereka memperoleh apa yang mereka peroleh.

[41] Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyebutkan keagungan dan kerajaan-Nya yang besar pada hari Kiamat, dan bahwa semua makhluk diam; tidak ada yang berbicara karena takut kepada-Nya.

  1. Pada hari, ketika ruh[42] dan para malaikat berdiri bershaf-shaf, mereka tidak berkata-kata, kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pengasih dan dia hanya mengatakan yang benar[43].

[42] Para ahli tafsir berbeda pendapat tentang maksud ruh dalam ayat ini. Ada yang mengatakan Jibril, ada yang mengatakan tentara Allah, ada pula yang mengatakan ruh manusia.

[43] Yakni yang sesuai dengan keridhaan Allah Subhaanahu wa Ta’aala.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Swt. menceritakan tentang kebesaran dan keagungan-Nya, bahwa sesungguhnya Dia adalah Tuhan yang menguasai langit dan bumi serta semua yang ada pada keduanya dan semua yang ada di antara keduanya. Dan bahwa sesungguhnya Dia adalah Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang rahmat-Nya mencakup segala sesuatu.

Firman Allah Swt.:

Mereka tidak dapat berbicara dengan Dia. (An-Naba: 37)

Yakni tiada seorang pun yang mampu memulai berbicara kepada-Nya kecuali dengan seizin-Nya. Semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya:

مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ

Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya.(Al-Baqarah: 255)

Semakna pula dengan firman-Nya yang lain, yaitu:

يَوْمَ يَأْتِ لَا تَكَلَّمُ نَفْسٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ

Di kala datang hari itu, tidak ada seorang pun yang berbicara, melainkan dengan izin-Nya. (Hud: 105)

Adapun firman Allah Swt.:

Pada hari ketika roh dan para malaikat berdiri bersaf-saf, mereka tidak berkata-kata. (An-Naba: 38)

Ulama tafsir berbeda pendapat sehubungan dengan makna yang dimaksud dengan roh dalam ayat ini; ada beberapa pendapat di kalangan mereka mengenainya.

  • Pertama, menurut apa yang diriwayatkan oleh Al-Aufi, dari Ibnu Abbas, bahwa yang dimaksud dengan roh adalah arwah Bani Adam (anak-anak Adam).
  • Kedua, mereka adalah anak-anak Adam, menurut Al-Hasan dan Qatadah. Qatadah mengatakan bahwa hal ini merupakan sesuatu yang disembunyikan oleh Ibnu Abbas.
  • Ketiga, mengatakan bahwa mereka adalah suatu makhluk Allah yang bentuknya seperti Bani Adam, tetapi mereka bukan malaikat dan bukan pula manusia, mereka juga makan dan minum. Demikianlah menurut Ibnu Abbas, Mujahid, Abu Saleh, dan Al-A’masy.
  • Keempat, menyebutkan bahwa dia adalah Jibril. Ini menurut apa yang dikatakan oleh Asy-Sya’bi, Sa’id ibnu Jubair, dan Ad-Dahhak. Hal ini berdalilkan dengan firman Allah Swt. yang menyebutkan: dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril) ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan. (Asy-Syu’ara: 193-194). Muqatil ibnu Hayyan mengatakan bahwa Ar-Ruh adalah malaikat yang paling mulia dan paling dekat dengan Allah Swt. Serta penyampai wahyu.
  • Kelima, bahwa yang dimaksud dengan Ar-Ruh adalah Al-Qur’an. Ini menurut Ibnu Zaid, yang berarti semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya: Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al-Qur’an) dengan perintah Kami. (Asy-Syura: 52), hingga akhir ayat.
  • Keenam, mengatakan bahwa Ar-Ruh adalah malaikat yang besarnya sama dengan seluruh makhluk bila digabungkan menjadi satu.

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: Pada hari ketika Ruh berdiri. (An-Naba: 38), Bahwa makna yang dimaksud dengan Ruh ialah malaikat yang paling besar tubuhnya.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Khalaf Al-Asqalani, telah menceritakan kepada kami Rawwad ibnul Jarrah, dari Abu Hamzah, dari Asy-Sya’bi, dari Alqamah, dari Ibnu Mas’ud yang mengatakan bahwa Ar-Ruh berada di langit yang keempat, dia lebih besar daripada semua langit, semua gunung, dan semua malaikat; setiap harinya ia bertasbih kepada Allah sebanyak dua belas ribu kali tasbih. Dan dari setiap tasbih yang dibacanya Allah menciptakan malaikat yang kelak di hari kiamat akan datang membentuk satu saf tersendiri. Pendapat ini garib sekali.

Imam Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdullah ibnu Aus Al-Masri, telah menceritakan kepada kami Wahbullah ibnu Rauq ibnu Hubairah, telah menceritakan kepada kami Bisyr ibnu Bakr, telah menceritakan kepada kami Al-Auza’i, telah menceritakan kepadaku Ata, dari Abdullah ibnu Abbas, bahwa ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ لِلَّهِ مَلَكًا لَوْ قِيلَ لَهُ: الْتَقِمِ السَّمَاوَاتِ السَّبْعَ وَالْأَرَضِينَ بِلَقْمَةٍ وَاحِدَةٍ، لَفَعَلَ، تَسْبِيحُهُ: سُبْحَانَكَ حَيْثُ كُنْتَ

Sesungguhnya Allah mempunyai seorang malaikat seandainya diperintahkan, “Telanlah tujuh langit dan bumi sekali telan!” Tentulah malaikat itu dapat melakukannya, dan bacaan tasbihnya ialah, “Maha Suci Engkau di mana pun Engkau berada.”

Tetapi hadis ini garib sekali, mengenai predikat marfu’-nya masih perlu diteliti. Barang kali hadis ini mauquf hanya sampai pada Ibnu Abbas saja, yang berarti bersumber dari apa yang diterimanya dari berita-berita Israiliyat; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Ibnu Jarir tidak berani memutuskan dengan salah satu dari pendapat-pendapat tersebut. Tetapi menurut hemat saya, pendapat yang lebih mendekati kepada kebenaran, hanya Allah jualah Yang Maha Mengetahui ialah yang mengatakan Ruh adalah Bani Adam alias manusia.

Firman Allah Swt.:

kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pemurah. (An-Naba: 38)

Semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya:

لَا تَكَلَّمُ نَفْسٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ

Di kala datang hari itu, tidak ada seorang pun yang berbicara, melainkan dengan izin-Nya. (Hud: 105)

Dan sebagaimana yang disebutkan dalam hadis sahih:

وَلَا يَتَكَلَّمُ يَوْمَئِذٍ إِلَّا الرُّسُلُ

Dan tiada yang berbicara di hari itu kecuali hanya para rasul.

Adapun firman Allah Swt.:

dan ia mengucapkan kata yang benar. (An-Naba: 38)

Yakni perkataan yang hak, dan termasuk perkataan yang hak ialah kalimah “Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah.” Demikianlah menurut apa yang dikatakan oleh Abu Saleh dan Ikrimah.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

.

««««« juz 29 «««««                        ««««««« juz 30 «««««