Jalan Lurus yang Mengarah Kepada Tuhannya

Tafsir Al-Qur’an: Surah-An-Naba’

0
20

Tafsir Al-Qur’an: Surah-An-Naba’ ayat 39-40: Perintah agar manusia memilih jalan lurus, jalan kembali yang mengarah kepada Tuhannya.

ذَلِكَ الْيَوْمُ الْحَقُّ فَمَن شَاء اتَّخَذَ إِلَى رَبِّهِ مَآباً -٣٩- إِنَّا أَنذَرْنَاكُمْ عَذَاباً قَرِيباً يَوْمَ يَنظُرُ الْمَرْءُ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ وَيَقُولُ الْكَافِرُ يَا لَيْتَنِي كُنتُ تُرَاباً -٤٠

Itulah hari yang pasti terjadi. Maka barang siapa yang menghendaki, niscaya ia menempuh jalan kembali kepada Tuhannya. Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepada kalian (hai orang kafir) siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata, “Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah.”  (Q.S. An-Naba : 39-40)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Dzālikal yaumul haqqu (itulah hari yang hak), yakni yang pasti terjadi, dan semua yang telah diterangkan benar-benar akan menjadi kenyataan.

Fa maη syā-attakhadza (oleh karena itu, barangsiapa menghendaki, hendaklah ia mengambil) tauhid untuk menggapai ….

Ilā rabbihī ma-ābā (jalan kembali kepada Rabb-nya), yakni tempat kembali.

Innā aηdzarnākum (sesungguhnya Kami telah Memperingatkan kalian), yakni Kami telah memberikan ancaman kepada kalian, hai penduduk Mekah!

‘Adzābang qarīban (akan azab [akhirat] yang tidak lama lagi) akan terjadi.

Yauma yaηzhurul mar-u (pada hari itu seseorang akan melihat), yakni orang mukmin akan melihat. Menurut yang lain, orang kafir akan melihat.

Mā qaddamat (apa-apa yang telah dipersembahkan), yakni yang telah diperbuat.

Yadāhu (kedua tangannya) berupa kebaikan ataupun keburukan.

Wa yaqūlul kāfiru yā laitanī kuηtu turābā (dan [kala itu] orang kafir akan berkata, Alangkah baiknya sekiranya aku menjadi tanah saja) bersama hewan-hewan. Orang kafir mengangankan sekiranya ia menjadi tanah bersama hewan-hewan, karena saking hebatnya kengerian, kedahsyatan, dan azab (pada hari itu). Dan (semua itu terjadi) pada hari tiupan sangkakala pertama yang mengguncangkan.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Itulah hari yang pasti terjadi) hari yang pasti kejadiannya, yaitu hari kiamat. (Maka barang siapa yang menghendaki, niscaya ia menempuh jalan kembali kepada Rabbnya) yakni, kembali kepada Allah dengan mengerjakan ketaatan kepada-Nya, supaya ia selamat dari azab-Nya pada hari kiamat itu.
  2. (Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepada kalian) hai orang-orang kafir Mekah (siksa yang dekat) yakni siksa pada hari kiamat yang akan datang nanti; dan setiap sesuatu yang akan datang itu berarti masa terjadinya sudah dekat (pada hari) menjadi Zharaf dari lafal ‘Adzaaban berikut sifatnya yakni berikut lafal Qariiban (manusia melihat) setiap manusia melihat (apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya) yakni perbuatan baik dan perbuatan buruk yang telah dikerjakannya semasa di dunia (dan orang kafir berkata, “Alangkah baiknya) huruf Ya di sini bermakna Tanbih (sekiranya aku dahulu adalah tanah”) maka aku tidak akan disiksa. Ia mengatakan demikian sewaktu Allah berfirman kepada binatang-binatang semuanya sesudah Dia melakukan hukum kisas sebagian dari mereka terhadap sebagian yang lain: “Jadilah kamu sekalian tanah!”

.

Tafsir Hidayatul Insan bi tafsiril Qur’an

  1. Itulah hari yang pasti terjadi[44]. [45]Maka barang siapa yang menghendaki, niscaya dia menempuh jalan kembali kepada Tuhannya[46].

[44] Bisa juga diartikan hari yang hak, dimana pada hari itu kebatilan tidak akan laku dan kedustaan tidak akan bermanfaat.

[45] Setelah Allah Subhaanahu wa Ta’aala memberikan targhib dan tarhib; memberikan kabar gembira dan peringatan, maka Dia berfirman, “Maka barang siapa yang menghendaki, niscaya dia menempuh jalan kembali kepada Tuhannya.”

[46] Yakni kembali kepada Allah dengan menaati-Nya agar selamat dari azab dan mendapatkan kedudukan yang tinggi di sisi-Nya. Ayat ini dibatasi dengan ayat yang lain, yaitu firman Allah Ta’ala, “Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (Terj. At Takwir: 29) yakni, kita memang mempunyai pilihan untuk melakukan sesuatu tanpa ada yang memaksa, akan tetapi pilihan dan kehendak kita mengikuti kehendak Allah, jika Dia menghendaki maka akan terjadi dan jika Dia tidak menghendaki, maka tidak akan terjadi. Allah Subhaanahu wa Ta’aala menerangkan demikian, adalah agar manusia tidak bersandar kepada dirinya dan kehendaknya, bahkan hendaknya ia mengetahui bahwa hal itu terkait dengan kehendak Allah sehingga ia pun meminta kepada Allah hidayah-Nya kepada apa yang dicintai-Nya dan diridhai-Nya.

  1. Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (hai orang kafir) azab yang dekat[47], pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya[48]; dan orang kafir berkata, “Alangkah baiknya seandainya dahulu aku jadi tanah[49].”

[47] Yaitu hari Kiamat. Hal itu, karena setiap yang akan datang adalah dekat.

[48] Oleh karena itu, sebelum ia bersedih karena melihat perbuatannya di akhirat, maka hendaknya ia melihat perbuatan yang dilakukannya sekarang sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah Subhaanahu wa Ta’aala, “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Terj. Al Hasyr: 18)

Jika ia mendapatkan kebaikan, maka hendaklah ia memuji Allah. Tetapi, jika yang ia dapatkan selain itu, maka janganlah ia cela kecuali dirinya.

[49] Sehingga aku tidak diazab. Orang kafir mengucapkan seperti ini ketika Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman kepada hewan setelah hewan-hewan itu membalas satu sama lain (melakukan qishas), “Jadilah tanah.”

.

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Swt:

Itulah hari yang pasti terjadi. (An-Naba: 39)

Artinya, pasti terjadinya dan tidak terelakkan lagi.

Maka barang siapa yang menghendaki, niscaya ia menempuh jalan kembali kepada Tuhannya. (An-Naba: 39)

Yaitu jalan untuk kembali yang menghantarkan dia kepada-Nya dan yang akan ditempuhnya untuk sampai kepada-Nya.

Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepada kalian (hai orang kafir) siksa yang dekat. (An-Naba: 40)

Maksudnya, pada hari kiamat nanti. Dikatakan demikian karena kepastian kejadiannya telah dekat, dan sesuatu yang pasti terjadi itu tidak dapat dielakkan lagi.

pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya. (An-Naba: 40)

Yakni ditampilkan di hadapannya semua amal perbuatannya, yang baiknya dan yang buruknya, yang terdahulu dan yang terkemudian. Seperti yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

وَوَجَدُوا ما عَمِلُوا حاضِراً

dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). (Al-Kahfi: 49)

Dan firman Allah Swt.:

يُنَبَّؤُا الْإِنْسانُ يَوْمَئِذٍ بِما قَدَّمَ وَأَخَّرَ

Pada hari itu diberikan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya. (Al-Qiyamah: 13)

Adapun firman Allah Swt.:

dan orang kafir berkata, “Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah.” (An-Naba: 40)

Orang kafir di hari itu berkhayal seandainya dirinya sewaktu di dunia berupa tanah dan bukan makhluk serta tidak dikeluarkan ke alam wujud. Demikian itu terjadi ketika dia menyaksikan azab Allah terpampang di hadapannya dan ia melihat semua amal perbuatannya yang telah dicatat oleh para malaikat juru tulis amal perbuatan, yang semuanya mulia lagi bertakwa. Semua amal perbuatannya penuh dengan kerusakan dan dosa-dosa.

Menurut pendapat lain, sesungguhnya orang kafir itu berkhayal demikian hanyalah setelah ia menyaksikan peradilan Allah Swt. saat menghukumi antara hewan-hewan terhadap kejadian-kejadian yang telah dilakukannya ketika di dunia dengan sesamanya. Maka Allah memutuskan perkara di antara mereka dengan hukum-Nya yang Maha-adil yang tidak aniaya, sehingga kambing yang tidak bertanduk disuruh membalas terhadap kambing yang bertanduk yang dahulu sewaktu di dunia pernah menanduknya. Apabila peradilan telah dilakukan terhadap mereka, Allah Swt. berfirman kepada mereka, “Jadilah kamu tanah!” Maka semuanya kembali menjadi tanah. Dan saat itulah orang kafir berkata, sebagaimana yang disitir oleh firman-Nya: Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah. (An-Naba: 40)

Yaitu menjadi hewan, lalu dikembalikan menjadi tanah. Hal yang semakna telah disebutkan di dalam hadis sangkakala yang terkenal, sebagaimana telah disebutkan pula dalam asar-asar yang bersumber dari Abu Hurairah, dan Abdullah ibnu Amr serta selain keduanya.

Demikian akhir surah An-Naba’. Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

.

««««« juz 29 «««««                        ««««««« juz 30 «««««