Malaikat Yang Mencabut Nyawa

Tafsir Al-Qur’an: Surah An-Naazi’aat

0
12

Tafsir Al-Qur’an: Surah An-Naazi’aat (Malaikat Yang Mencabut Nyawa). Surah ke-79. 46 ayat. Makkiyyah. Turun sesudah Surah An-Naba. Ayat 1-5: Sumpah dengan para malaikat untuk menegaskan bahwa hari Kiamat adalah benar.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَالنَّازِعَاتِ غَرْقاً -١- وَالنَّاشِطَاتِ نَشْطاً -٢- وَالسَّابِحَاتِ سَبْحاً -٣- فَالسَّابِقَاتِ سَبْقاً -٤- فَالْمُدَبِّرَاتِ أَمْراً -٥

Demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan keras, dan (malaikat-malaikat) yang mencabut nyawa dengan lemah lembut, dan (malaikat-malaikat) yang turun dari langit dengan cepat, dan (malaikat-malaikat) yang mendahului dengan kencang, dan (malaikat-malaikat) yang mengatur urusan (dunia). (Q.S. An-Nazi’at : 1-5)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wan nāzi‘āti (demi para malaikat yang mencabut nyawa), yakni Allah swt. bersumpah dengan para malaikat yang mencabut nyawa orang-orang kafir.

Gharqā (dengan sangat keras), ketika mereka menarik roh orang-orang kafir dari dadanya.

Wan nāsyithāti (dan para malaikat yang mencabut nyawa), yakni dan Allah Ta‘ala bersumpah dengan para malaikat yang giat mencabut nyawa orang-orang kafir seraya menimpakan segala kesusahan dan kesedihan.

Nasythā (dengan kencang). Menurut satu pendapat, yang dimaksud adalah roh-roh kaum mukminin yang bersemangat untuk segera keluar menuju surga.

Was sābihāti sabhā (dan para malaikat yang melaju dengan cepat), yakni Allah Ta‘ala bersumpah dengan para malaikat yang mencabut nyawa orang-orang saleh. Mereka mengeluarkannya dengan lemah lembut dan perlahan-lahan seraya membiarkannya beristirahat. Menurut satu pendapat, yang dimaksud adalah roh-roh kaum mukminin.

Fas sābiqāti sabqā (lalu para malaikat yang berlomba dengan cepat), yakni Allah Ta‘ala bersumpah dengan para malaikat yang berlomba membawa roh-roh kaum mukminin menuju surga dan membawa roh-roh kaum kafirin menuju neraka. Menurut satu pendapat, yang dimaksud adalah roh-roh kaum mukminin yang berlomba menuju surga.

Fal mudabbirāti amrā (lalu para malaikat yang mengatur urusan), yakni Allah Ta‘ala bersumpah dengan para malaikat yang mangatur urusan semua hamba. Mereka adalah Jibril, Israfil, dan Malakul Maut.

Ada yang menyatakan bahwa yang dimaksud dengan wan nāzi‘āti gharqā, wan nāsyithāti nasythā, was. sābihāti sabhā, fas sābiqāti sabqā, semuanya adalah bintang-bintang. Dan yang dimaksud fal mudabbirāti amrā adalah para malaikat.

Ada lagi yang berpendapat, wan nāzi‘āti gharqā adalah kebengisan para penyerang; wan nāsyithāti nasythā. adalah kezaliman para penyerang; was sābihāti sabhā adalah kapal-kapal pasukan laut; fas sābiqāti sabqā adalah kuda-kuda para penyerang; dan fal mudabbirāti amrā adalah komandan para penyerang.

Ada pula yang berpendapat, was, sābihāti sabhā adalah matahari, bulan, malam, dan siang. Allah Ta‘ala Bersumpah dengan semua itu bahwasanya dua tiupan sangkakala pasti akan terjadi. Antara keduanya berselang empat puluh tahun.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Demi yang mencabut nyawa) atau demi malaikat-malaikat yang mencabut nyawa orang-orang kafir (dengan keras) atau mencabutnya dengan kasar.
  2. (Dan demi yang mencabut nyawa dengan lemah lembut) maksudnya, demi malaikat-malaikat yang mencabut nyawa orang-orang mukmin secara pelan-pelan.
  3. (Dan demi yang turun dari langit dengan cepat) yakni demi malaikat-malaikat yang melayang turun dari langit dengan membawa perintah-Nya.
  4. (Dan demi yang mendahului dengan kencang) yaitu malaikat-malaikat yang mendahului dengan kencang membawa arwah orang-orang yang beriman ke surga.
  5. (Dan yang mengatur urusan) dunia, yaitu malaikat-malaikat yang mengatur urusan dunia. Dengan kata lain, demi malaikatmalaikat yang turun untuk mengaturnya. Jawab daripada semua qasam yang telah disebutkan di atas tidak disebutkan, lengkapnya, benar-benar kalian, hai penduduk Mekah yang kafir, akan dibangkitkan. Jawab inilah yang menjadi Amil terhadap ayat berikutnya yaitu:

.

Tafsir Hidayatul Insan bi tafsiril Qur’an

  1. [1]Demi (malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan keras[2],

[1] Allah Subhaanahu wa Ta’aala bersumpah dengan para malaikat yang mulia dan perbuatan mereka yang menunjukkan sempurnanya ketundukan mereka kepada perintah Allah dan segeranya mereka melaksanakan perintah-Nya. Isi sumpahnya kemungkinan menetapkan kebangkitan dan pembalasan berdasarkan disebutkannya keadaan hari Kiamat setelahnya.

[2] Yaitu ketika mencabut nyawa orang-orang kafir.

  1. dan (malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan lemah lembut[3].

[3] Yaitu ketika mencabut nyawa orang-orang mukmin.

  1. Demi (malaikat) yang turun dari langit dengan cepat[4],

[4] Ada pula yang menafsirkan dengan malaikat yang terbang di udara naik dan turun.

  1. dan (malaikat) yang mendahului dengan kencang[5],

[5] Mereka sangat segera memenuhi perintah Allah, mendahului para setan ketika menyampaikan wahyu kepada para rasul Allah sehingga mereka (para setan) tidak dapat mencurinya.

  1. dan (malaikat) yang mengatur urusan (dunia)[6].

[6] Allah Subhaanahu wa Ta’aala menugaskan kepada mereka untuk mengatur banyak urusan alam semesta, baik alam bagian bawah maupun alam bagian atas; mereka mengurus hujan, tumbuhan, angin, gunung-gunung, janin, hewan-hewan, surga, neraka dan lain-lain. Berikut ini di antara tugas-tugas malaikat:

– Jibril, ditugaskan menyampaikan wahyu.

– Mika’il, ditugaskan mengurus hujan dan tumbuh-tumbuhan.

– Israfil, ditugaskan meniup sangkakala. Tiupan pertama menghancurkan alam dan tiupan kedua membangkitkan makhluk yang sudah mati. Rasulullah ﷺ pernah bersabda, “Bagaimana saya bisa bersenang-senang sedangkan peniup sangkakala (Israfil) sudah memasukkan sangkakala ke mulutnya dan sudah mendapat ketetapan, kapan diperintah untuk ditiup.” (HR. Tirmidzi, ia berkata: “Hadits hasan”)

Dalam riwayat Muslim disebutkan bahwa Malaikat Israfil juga di samping sudah menaruh sangkakala di mulutnya, dahinya sudah menunduk (tanda sudah siap meniup).

– Malaikat maut beserta para pembantunya, ditugaskan untuk mencabut nyawa.

– Munkar dan Nakir, ditugaskan untuk menanyakan manusia yang berada di kubur tentang Tuhannya, agamanya dan nabinya. Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا قُبِرَ أَحَدُكُمْ أَوِ الْإِنْسَانُ أَتَاهُ مَلَكَانِ أَسْوَدَانِ أَزْرَقَانِ يُقَالُ لِأَحَدِهِمَا الْمُنْكَرُ وَلِلْاخَرِ النَّكِيْرُ

“Apabila salah seorang di antara kamu atau seorang manusia dikubur, maka akan didatangi oleh dua malaikat berwarna hitam-biru, yang satu bernama Munkar, sedangkan yang satu lagi bernama Nakir.” (HR. Tirmidzi dan dihasankan oleh Syaikh Al Albani, lih. Ash Shahiihah: 1391)

– Al Kiraamul Kaatibun (malaikat mulia pencatat amal), ditugaskan untuk mencatat amal manusia.

– Al Mu’aqqibaat (malaikat yang mengiringi manusia), ditugaskan untuk menjaga manusia dalam semua keadaan mereka secara bergiliran, ada malaikat yang bertugas di malam hari dan ada yang bertugas di siang hari, dan mereka berkumpul di waktu shalat Subuh dan Ashar.

– Ada juga malaikat yang ditugaskan menjaga surga.

– Ada malaikat yang ditugaskan menjaga neraka, mereka disebut malaikat zabaaniyah, pemukanya adalah malaikat Malik.

– Ada pula malaikat yang menjaga gunung.

– Ada pula malaikat yang berpindah-pindah mencari majlis dzikr (majlis ilmu).

– Ada pula malaikat yang berada di pintu-pintu masjid pada setiap hari Jum’at, mencatat siapa yang datang pertama, kedua, dst. Dan setelah khatib naik mimbar, mereka tutup catatan mereka.

– Ada pula malaikat yang bershaf-shaf beribadah dan bertasbih siang dan malam tanpa bosan-bosannya.

– Ada pula malaikat yang berkelana menyampaikan shalawat kepada Nabi ﷺ dari umatnya.

– Ada pula malaikat yang dikirim kepada setiap janin, ditiupnya ruh ke dalam janin dan diperintahkan mencatat empat hal: amalnya, rezekinya, ajalnya dan apakah ia bahagia atau celaka.

– Ada juga malaikat ra’d (guruh) sebagaimana dalam hadits berikut:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ أَقْبَلَتْ يَهُودُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا يَا أَبَا الْقَاسِمِ أَخْبِرْنَا عَنِ الرَّعْدِ مَا هُوَ قَالَ مَلَكٌ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُوَكَّلٌ بِالسَّحَابِ مَعَهُ مَخَارِيقُ مِنْ نَارٍ يَسُوقُ بِهَا السَّحَابَ حَيْثُ شَاءَ اللَّهُ فَقَالُوا فَمَا هَذَا الصَّوْتُ الَّذِي نَسْمَعُ قَالَ زَجْرُهُ بِالسَّحَابِ إِذَا زَجَرَهُ حَتَّى يَنْتَهِيَ إِلَى حَيْثُ أُمِرَ فَقَالُوْا صَدَقْتَ

Dari Ibnu Abbas ia berkata: “Pernah datang beberapa orang yahudi kepada Nabi dan berkata, “Wahai Abul Qaasim, beritahukanlah kami tentang guruh! Apa sebenarnya dia?” Beliau menjawab, “Dia adalah salah satu malaikat Allah yang ditugaskan mengurus awan mendung, di tangannnya ada beberapa sabetan dari api, digiringnya awan dengan sabetan itu ke tempat yang Allah kehendaki.” Mereka bertanya lagi, “Lalu apa suara yang kami dengar ini?” Beliau menjawab, “Penggiringannya kepada awan ketika dia menggiringnya sampai tiba ke tempat yang diperintahkan.” Orang-orang Yahudi berkata, “Engkau benar.” (HR. Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi 3/262 dan Ash Shahiihah no. 1872)

– Dll.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Masruq, Sa’id ibnu Jubair, Abu Saleh, dan Abud Dulia serta As-Saddi mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan keras. (An-Nazi’at: 1) Yakni para malaikat saat mencabut arwah Bani Adam. Maka di antara mereka ada yang mencabut rohnya dengan sulit, akhirnya ia’mencabutnya dengan paksa; dan di antara mereka ada yang mencabutnya dengan mudah seakan-akan melolos sesuatu yang mudah, dan inilah yang dimaksud oleh firman-Nya: dan (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan lemah lembut. (An-Nazi’at: 2) Demikianlah menurut Ibnu Abbas.

Telah diriwayatkan pula dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna an-nazi’at, bahwa yang dimaksud adalah arwah orang-orang kafir yang dicabut dengan paksa, kemudian dibenamkan di dalam neraka; demikianlah menurut riwayat Ibnu Abu Hatim.

Mujahid mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan keras. (An-Nazi’at: 1)Bahwa makna yang dimaksud ialah kematian.

Al-Hasan Al-Basri mengatakan, juga Qatadah sehubungan dengan makna firman-Nya.: Demi (malaikat-malaikat) yo«g mencabut (nyawa) dengan keras, dan (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan lemah lembut. (An-Nazi’at: 1-2) Bahwa makna yang dimaksud ialah bintang-bintang.

Ata ibnu Abu Rabah telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya, “An-Nazi’at” dan “an-nasyitat” bahwa makna yang dimaksud ialah busur yang dipakai dalam peperangan. Tetapi pendapat yang sahih adalah yang pertama dan dikatakan oleh kebanyakan ulama.

Adapun mengenai firman-Nya:

dan (malaikat-malaikat) yang turun dari langit dengan cepat. (An-Nazi’at: 3)

Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah para malaikat.

Telah diriwayatkan pula dari Ali, Mujahid, Sa’id ibnu Jubair, Abu Saleh hal yang semisal.

Dan telah diriwayatkan dari Mujahid sehubungan dengan makna firman-Nya: dan (malaikat-malaikat) yang turun dari langit dengan cepat. (An-Nazi’at: 3) Yakni maut alias kematian, Qatadah mengatakan bintang-bintang, Ata ibnu Abu Rabah mengatakan perahu (kapal-kapal laut).

Firman Allah Swt.:

dan (malaikat-malaikat) yang mendahului dengan kencang. (An-Nazi’at: 4)

Telah diriwayatkan dari Ali, Masruq, Mujahid, dan Abu Saleh serta Al-Hasan Al-Basri, bahwa makna yang dimaksud ialah para malaikat; Al-Hasan mengatakan bahwa para malaikat lebih dahulu beriman dan membenarkan Allah Swt.

Diriwayatkan dari Mujahid, bahwa makna yang dimaksud ialah kematian; Qatadah mengatakan bintang-bintang, sedangkan Ata mengatakan kuda yang dipakai untuk berjihad di jalan Allah Swt.

dan (malaikat-malaikat) yang mengatur urusan dunia. (An-Nazi’at: 5)

Mujahid, Ata, Abu Saleh, Al-Hasan, Qatadah, Ar-Rabi ibnu Anas, dan As-Saddi mengatakan para malaikat. Al-Hasan menambahkan, yaitu para malaikat yang mengatur urusan dunia dari langit, yakni dengan perintah dari Tuhannya, dan mereka tidak membuat-buatnya dalam urusan ini.

Tetapi sikap Ibnu Jarir tidak memutuskan dengan salah satu dari pendapat-pendapat yang telah disebutkan di atas, melainkan hanya dia meriwayatkan sehubungan dengan makna mudabbirati amran, bahwa makna yang dimaksud adalah para malaikat. Kemudian ia tidak menguatkan pendapat ini dan tidak pula menyanggahnya.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

.

««««« juz 29 «««««                        ««««««« juz 30 «««««