Al-Qur’an Adalah Peringatan Bagi Semesta Alam

Tafsir Al-Qur’an: Surah At-Takwir ayat 26-29

0
312

Tafsir Al-Qur’an: Surah At-Takwir ayat 26-29. Batilnya sangkaan kaum musyrik seputar Al-Qur’anul Karim. Padahal Al-Qur’an itu tidak lain adalah peringatan bagi semesta alam, (yaitu) bagi siapa di antara kalian yang mau menempuh jalan yang lurus.

فَأَيْنَ تَذْهَبُونَ -٢٦- إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ لِّلْعَالَمِينَ -٢٧- لِمَن شَاء مِنكُمْ أَن يَسْتَقِيمَ -٢٨- وَمَا تَشَاؤُونَ إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ -٢٩

Maka ke manakah kalian akan pergi? Al-Qur’an itu tidak lain adalah peringatan bagi semesta alam, (yaitu) bagi siapa di antara kalian yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kalian tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam. (Q.S. At-Takwir : 26-29)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Fa aina tadzhabūn (maka ke manakah kalian akan pergi), yakni bagaimanakah kalian bisa mendustakan? Ada yang berpendapat, bagaimanakah kalian bisa menyimpang dari Al-Qur’an dan enggan mengimaninya?

In huwa (tiadalah ia itu), yakni tiadalah Al-Qur’an itu.

Illā dzikrun (melainkan pengajaran), yakni nasihat dari Allah Ta‘ala.

Lil ‘ālamīn (bagi seluruh alam), yakni manusia dan jin.

Li maη syā-a mingkum ay yastaqīm (bagi siapa saja di antara kalian yang hendak menempuh jalan yang lurus), yakni yang sesuai dengan Perintah Allah Ta‘ala, baik berupa tauhīdullāh maupun perintah-perintah lainnya.

Wa mā tasyā-ūna (dan kalian tidak dapat menghendaki) berada pada jalan yang lurus dan tauhīdullāh.

Illā ay yasyā-allāhu (kecuali jika Allah menghendaki) hal itu untuk kalian.

Rabbul ‘ālamīn (Rabb semesta alam), yakni Rabb semua yang bernyawa dan bergerak di muka bumi serta Rabb semua penghuni langit.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Maka ke manakah kalian akan pergi?) maksudnya jalan apakah yang kalian tempuh untuk ingkar kepada Al-Qur’an dan berpaling daripadanya?
  2. (Tiada lain) tidak lain (Al-Qur’an itu hanyalah peringatan) atau pelajaran (bagi semesta alam) yakni, manusia dan jin.
  3. (Yaitu bagi siapa di antara kalian yang mau) lafal ayat ini berkedudukan menjadi Badal dari lafal Al-‘Aalamiina dengan mengulangi huruf Jarr-nya (menempuh jalan yang lurus) yaitu mengikuti perkara yang hak.
  4. (Dan kalian tidak dapat menghendaki) menempuh jalan yang hak itu (kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam) barulah kalian dapat menempuh jalan itu. Lafal Al-‘Aalamiina artinya mencakup semua makhluk.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi tafsiril Qur’an

  1. Maka ke manakah kamu akan pergi[25]?

[25] Maksudnya, setelah diterangkan bahwa Al-Qur’an itu benar-benar datang dari Allah dan di dalamnya berisi pelajaran dan petunjuk yang memimpin manusia ke jalan yang lurus dengan diperkuat bukti-buktinya, ditanyakanlah kepada orang-orang kafir itu, “Maka ke manakah kamu akan pergi?” Padahal tidak ada setelah kebenaran selain kebatilan.

  1. (Al-Qur’an) itu tidak lain adalah peringatan bagi seluruh alam[26],

[26] Dengan Al-Qur’an, mereka dapat mengingat Tuhan mereka, sifat-sifat sempurna yang dimiliki-Nya, bersihnya Dia dari segala kekurangan dan tandingan. Demikian pula dengan Al-Qur’an, mereka dapat mengingat perintah dan larangan-Nya, mengingat hukum-hukum qadari-Nya, hukum-hukum syar’i-Nya dan hukum-hukum jaza’i(balasan)-Nya. Singkatnya, dengan Al-Qur’an, mereka dapat mengenal dan mengingat segala yang bermaslahat bagi mereka di dunia dan akhirat, dan dengan mengamalkannya mereka akan memperoleh kebahagiaan.

  1. (yaitu) bagi siapa di antara kamu yang menghendaki menempuh jalan yang lurus[27].

[27] Setelah jelas mana yang benar dan mana yang salah, petunjuk daripada kesesatan.

Dalam ayat ini terdapat bantahan terhadap golongan Jabriyyah yang mengatakan bahwa manusia tidak memiliki kehendak.

  1. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan seluruh alam[28].

[28] Kehendak-Nya berlaku, tidak mungkin ditolak atau dihalangi. Allah Subhaanahu wa Ta’aala menerangkan demikian, adalah agar manusia tidak bersandar kepada dirinya, bahkan hendaknya ia mengetahui bahwa hal itu terkait dengan kehendak Allah sehingga ia pun meminta kepada Allah hidayah-Nya kepada apa yang dicintai-Nya dan diridhai-Nya.

Dalam ayat ini terdapat bantahan terhadap golongan Qadariyyah yang beranggapan bahwa manusia berkuasa mutlak terhadap tindakannya dan bahwa Allah sama sekali tidak berkuasa. Yang benar adalah jalan yang ditempuh Ahlussunnah wal jama’ah, di mana jalan tersebut merupakan jalan As Salafush Shalih, yakni bahwa manusia berbuat sesuai kehendak dan pilihannya, namun kehendak dan pilihannya mengikuti kehendak Allah Ta’ala, jika Dia menghendaki, maka akan terjadi perbuatan itu dan jika tidak menghendaki, maka tidak akan terjadi perbuatan itu.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Adapun firman Allah Swt.:

maka ke manakah kalian akan pergi? (At-Takwir: 26)

Yakni dipergunakan untuk apa akal kamu bila kamu mendustakan Al-Qur’an ini, padahal Al-Qur’an begitu jelas, terang, dan gamblang bahwa ia benar dari sisi Allah Swt. Sebagaimana yang dikatakan oleh Abu Bakar As-Siddiq r.a. kepada delegasi Bani Hanifah, ketika mereka datang dalam keadaan telah masuk Islam. Lalu Abu Bakar r.a. memerintahkan kepada mereka untuk membacakan sesuatu dari bacaan Musailamah Al-Kazzab yang sangat kacau lagi melindur itu. Setelah hal itu dibacakan kepada Abu Bakar r.a., maka Abu Bakar r.a. berkata, “Celakalah kalian, ditaruh dimanakah akal sehat kalian? Demi Allah, sesungguhnya ucapan itu bukanlah datang dari Tuhan.”

Qatadah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: maka ke manakah kalian akan pergi. (At-Takwir: 26) setelah meninggalkan Kitabullah dan ketaatannya kepada-Nya?

Al-Qur’an itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam (At-Takwir: 27)

Artinya, Al-Qur’an ini merupakan peringatan bagi semua manusia agar mereka menjadi ingat karenanya dan mengambil pelajaran darinya.

(yaitu) bagi siapa di antara kalian yang man menempuh jalan yang lurus. (At-Takwir: 28)

Yaitu bagi siapa yang menginginkan petunjuk. hendaklah ia berpegang kepada Al-Qur’an ini, karena sesungguhnya Al-Qur’an merupakan juru selamat dan pemberi petunjuk baginya tiada petunjuk selain dari Al-Qur’an.

Dan kalian tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam. (At-Takwlr: 29)

Yakni kehendak untuk itu bukan berada di tangan kalian, melainkan ada di tangan kekuasaan-Nya. Maka barang siapa yang Dia kehendaki mendapat petunjuk, niscaya ia mendapatkannya: dan barang siapa yang Dia kehendaki sesat, niscaya dia tersesat darinya.

Sufyan As-Sauri telah meriwayatkan dari Sa’id ibnu Abdul Azizdari Sulaiman ibnu Musa yang mengatakan bahwa ketika ayat ini diturunkan. yaitu firman Allah Swt.: bagi siapa di antara kalian yang mau menempuh jalan yang lurus. (At-Takwir: 28) Maka Abu Jahal berkata, “Segala sesuatunya terserah kita. Jika kita mau menempuh jalan yang lurus, tentulah kita akan lurus: dan jika kita menghendaki bukan jalan yang lurus, maka tentulah kita tidak akan lurus.'” Lalu Allah Swt. menurunkan firman selanjutnya, yaitu: Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam. (At-Takwir: 29)

Demikian akhir surah At-Takwir. Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

.

««««« juz 29 «««««                        ««««««« juz 30 «««««

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here