Tingkat Demi Tingkat dalam Kehidupan

afsir Al-Qur'an: Surah Al-Insyiqaaq ayat 19

0
198

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Insyiqaaq ayat 19. Sungguh, akan kamu jalani tingkat demi tingkat dalam kehidupan.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

لَتَرْكَبُنَّ طَبَقاً عَن طَبَقٍ -١٩

Sungguh, akan kamu jalani tingkat demi tingkat (dalam kehidupan). (Q.S. Al-Insyiqaq : 19)

.

Tafsir Ibnu Abbas

La tarkabunna (sesungguhnya kalian benar-benar akan melewati), yakni sesungguhnya Kami akan mengubah sejumlah makhluk.

Thabaqan ‘aη thabaq (fase demi fase), yakni dari satu kondisi ke kondisi lainnya, semenjak mereka diciptakan sampai mereka mati; semenjak mereka mati sampai mereka masuk surga atau neraka. Allah Ta‘ala akan Mengubah mereka dari satu keadaan ke keadaan lainnya. Menurut satu pendapat,

la tarkabunna (sesungguhnya kalian benar-benar akan melewati), yakni sesungguhnya kamu, hai Muhammad, benar-benar akan naik;

thabaqan ‘aη thabaq (fase demi fase), yakni dari satu langit ke langit berikutnya pada malam Mi‘raj, jika lafazh la tarkabunna dibaca la tarkabanna. Ada pula yang berpendapat, sesungguhnya orang yang mendustakan itu benar-benar akan melewati;

thabaqan ‘aη thabaq (fase demi fase), yakni dari satu kondisi ke kondisi lainnya, sejak ia mati sampai masuk neraka, jika lafazh la tarkabunna dibaca la yarkabunna.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Sesungguhnya kalian melalui) hai manusia. Bentuk asal lafal Latarkabunna adalah Latarkabuunanna, kemudian huruf Nun alamat Rafa’nya dibuang karena berturut-turutnya Nun, demikian pula huruf Wau alamat jamaknya, tetapi bukan karena ‘illat bertemunya kedua huruf yang disukunkan, sehingga jadilah Latarkabunna (tingkat demi tingkat) fase demi fase; yaitu mulai dari mati lalu dihidupkan kembali, kemudian menyaksikan keadaan-keadaan di hari kiamat.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi tafsiril Qur’an

  1. Sungguh, akan kamu jalani tingkat demi tingkat (dalam kehidupan),[20]

[20] Yang dimaksud dengan tingkat demi tingkat ialah dari setetes air mani sampai dilahirkan, kemudian melalui masa kanak-kanak, remaja dan sampai dewasa. Dari hidup menjadi mati kemudian dibangkitkan kembali untuk diberikan balasan. Tingkat demi tingkat yang dilalui hamba menunjukkan bahwa Allah Subhaanahu wa Ta’aala saja yang berhak disembah, Yang Maha Esa dan yang mengatur hamba-hamba-Nya dengan hikmah dan rahmat-Nya, dan bahwa hamba sangat fakir serta lemah di bawah pengaturan Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. Namun sayang, kebanyakan manusia tidak beriman, dan ketika dibacakan Al-Qur’an kepada mereka, mereka tidak tunduk kepada Al-Qur’an itu serta tidak mau tunduk kepada perintah-perintahnya.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Swt.:

sesungguhnya kalian melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan). (Al-Insyiqaq: 19)

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sa’id ibnun Nadr, telah menceritakan kepada kami Hasyim, telah menceritakan kepada kami Abu Bisyr, dari Mujahid yang mengatakan bahwa Ibnu Abbas pernah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: sesungguhnya kalian melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan). (Al-Insyiqaq: 19) Yakni keadaan demi keadaan. Lalu Ibnu Abbas mengatakan bahwa demikianlah (menurut) Nabi kalian. Hal yang sama diriwayatkan oleh Imam Bukhari dengan lafaz yang sama.

Dan ini mengandung takwil bahwa Ibnu Abbas menyandarkan tafsir ini kepada Nabi Saw., seakan-akan dia mengatakan bahwa aku telah mendengarnya dari Nabi kalian. Dengan demikian, berarti lafaz nabiyyukum di-rafa’-kan menjadi fa’il dari lafaz Qala; dan inilah penjelasan yang lebih terang; hanya Allah jualah Yang Maha Mengetahui, seperti juga yang dikatakan oleh sahabat Anas, “Tiada suatu tahun pun datang melainkan tahun yang berikutnya lebih buruk darinya, aku telah mendengarnya dari Nabi kalian.”

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ya’qub ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Hasyim, telah menceritakan kepada kami Abu Bisyr, dari Mujahid, bahwa Ibnu Abbas telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: sesungguhnya kalian melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan). (Al-Insyiqaq: 19) Bahwa menurut Nabi kalian artinya ‘keadaan demi keadaan’; demikianlah bunyi teks riwayat Ibnu Jarir.

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: tingkat demi tingkat. (Al-Insyiqaq: 19) Yaitu keadaan demi keadaan atau fase demi fase. Hal yang sama dikatakan oleh Ikrimah, Murrah, At-Tayyib, Mujahid, Al-Hasan, Ad-Dahhak, Masruq, dan Abu Saleh.

Dapat pula ditakwilkan bahwa yang dimaksud oleh firman-Nya: sesungguhnya kalian melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan). (Al-Insyiqaq: 19) Yakni keadaan demi keadaan. Lalu disebutkan bahwa orang yang dimaksud adalah Nabi kalian sendiri. Dengan demikian, berarti lafaz nabiyyukum dirafa’kan dengan ketentuan bahwa haza dan nabiyyukum merupakan mubtada dan khabar; hanya Allah jualah Yang Maha Mengetahui.

Barangkali hal inilah yang segera tertangkap ke dalam pengertian kebanyakan para perawi, sebagaimana yang dikatakan oleh Abu Daud At-Tayalisi dan Gundar, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Abu Bisyr, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman Allah Swt.: sesungguhnya kalian melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan). (Al-Insyiqaq: 19) Yang dimaksud dengan lawan bicara adalah Muhammad ﷺ. Dan hal ini diperkuat dengan adanya qiraat Umar, Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, dan sebagian besar ulama Mekah dan Kufah dengan bacaan latarkabanna dengan memakai harakat fathah pada ta dan ba-nya.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id Al-Asyaj, telah menceritakan kepada kami Abu Usamah, dari Ismail, dari Asy-Sya’bi sehubungan dengan firman-Nya: sesungguhnya kalian melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan). (Al-Insyiqaq: 19) Bahwa makna yang dimaksud ialah ‘hai Muhammad, engkau akan menaiki langit demi langit’.

Hal yang sama telah diriwayatkan dari IbnuMas’ud, Masruq, dan Abul Aliyah: tingkat demi tingkat. (Al-Insyiqaq: 19) Artinya, langit demi langit.

Abu Ishaq dan As-Saddi telah meriwayatkan dari seorang lelaki, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: tingkat demi tingkat (Al-Insyiqaq: 19) Yakni kedudukan demi kedudukan. Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Al-Aufi, dari Ibnu Abbas, tetapi ditambahkan urusan demi urusan dan keadaan demi keadaan.

Tetapi As-Saddi sendiri telah mengatakan sehubungan dengan firman-Nya: sesungguhnya kalian melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan). (Al-Insyiqaq: 19) Yaitu amal perbuatan orang-orang terdahulu kedudukan demi kedudukan.

Menurut hemat penulis, dapat dikatakan bahwa seakan-akan As-Saddi bermaksud dengan makna hadis sahih yang mengatakan:

لَتَرْكَبُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، حَذْو القُذَّة بالقُذَّة، حَتَّى لَوْ دَخَلُوا جُحر ضَبِّ لَدَخَلْتُمُوهُ. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى؟ قَالَ: فَمَنْ؟   وَهَذَا مُحْتَمَلٌ

Sesungguhnya kalian akan mengikuti jejak orang-orang yang sebelum kalian setapak demi setapak; seandainya mereka memasuki Liang biyawak, tentulah kalian pun memasukinya. Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, mereka adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani.” Rasulullah bersabda, “Lalu siapa lagi (kalau bukan mereka)?” Maksudnya dalam hal berpecah belah menjadi beberapa golongan.

Dan pengertian ini dapat juga dijadikan sebagai takwil ayat.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Hisyam ibnu Ammar, telah menceritakan kepada kami Sadaqah, telah menceritakan kepada kami Ibnu Jabir, bahwa ia pernah mendengar Makhul mengatakan sehubungan dengan makna ayat ini: sesungguhnya kalian melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan). (Al-Insyiqaq: 19), Bahwa setiap dua puluh tahun kalian membuat suatu perkara yang belum pernah kalian alami.

Al-A’masy mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibrahim, bahwa Abdullah telah mengatakan sehubungan dengan firman Allah Swt.: sesungguhnya kalian melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan). (Al-Insyiqaq: 19) Yakni langit itu terbelah, kemudian kelihatan memerah, dan selanjutnya berubah dari suatu warna ke warna yang lain.

As-Sauri telah meriwayatkan dari Qais ibnu Wahb, dari Murrah, dari Ibnu Mas’ud sehubungan dengan makna firman-Nya: tingkat demi tingkat. (Al-Insyiqaq: 19) Bahwa langit itu sesekali kelihatan seperti kilapan minyak dan sesekali terbelah.

Al-Bazzar telah meriwayatkan melalui Jabir Al-Ju’fi, dari Asy-Sya’bi, dari Alqamah, dari Abdullah ibnu Mas’ud sehubungan dengan makna firman-Nya: sesungguhnya kalian melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan). (Al-Insyiqaq: 19) hai Muhammad, yakni keadaan demi keadaan. Kemudian Al-Bazzar mengatakan bahwa hal yang sama telah diriwayatkan oleh Jabir, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas.

Sa’id ibnu Jubair mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: sesungguhnya kalian melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan). (Al-Insyiqaq: 19) Bahwa suatu kaum yang dahulunya ketika di dunia kelihatan rendah, kemudian di akhirat mereka kelihatan menjadi tinggi, dan kaum lainnya yang ketika di dunia kelihatan hidup terhormat, kemudian di akhirat mereka kelihatan rendah.

Ikrimah telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: tingkat demi tingkat (dalam kehidupan). (Al-Insyiqaq: 19) Yaitu tahap demi tahap dari masa menyusu, kemudian masa disapih. dari masa muda menjadi masa tua.

Al-Hasan Al-Basri mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: tingkat demi tingkat (dalam kehidupan). (Al-Insyiqaq: 19) Yakni keadaan demi keadaan, makmur sesudah sengsara, dan sengsara sesudah makmur; kaya sesudah miskin, dan miskin sesudah kaya; sehat sesudah sakit dan sakit sesudah sehat.

Ibnu Abu Hatim menyebutkan dari Abdullah ibnu Zahir, bahwa telah menceritakan kepadaku ayahku, dari Amr ibnu Syamir, dari Jabir Al-Ju’fi, dari Muhammad ibnu Ali, dari Jabir ibnu Abdullah yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ ابْنَ آدَمَ لَفِي غَفْلَةٍ مِمَّا خُلِقَ لَهُ؛ إِنَّ اللَّهَ إِذَا أَرَادَ خَلْقَهُ قَالَ لِلْمَلِكِ: اكْتُبْ رِزْقَهُ، اكْتُبْ أَجَلَهُ، اكْتُبْ أَثَرَهُ، اكْتُبْ شَقِيًّا أَوْ سَعِيدًا، ثُمَّ يَرْتَفِعُ ذَلِكَ الْمَلَكُ وَيَبْعَثُ اللَّهُ إِلَيْهِ مَلَكا آخَرَ فَيَحْفَظُهُ حَتَّى يُدْرِكَ، ثُمَّ يَرْتَفِعُ ذَلِكَ الْمَلَكُ، ثُمَّ يُوكِلُ اللَّهُ بِهِ مَلَكَيْنِ يَكْتُبَانِ حَسَنَاتِهِ وَسَيِّئَاتِهِ، فَإِذَا حَضَره الموتُ ارْتَفَعَ ذَانِكَ الْمَلَكَانِ، وَجَاءَهُ مَلَكُ الْمَوْتِ فَقَبَضَ رُوحَهُ، فَإِذَا دَخَلَ قَبْرَهُ رَدَّ الرُّوحَ فِي جَسَدِهِ، ثُمَّ ارْتَفَعَ مَلَكُ الْمَوْتِ، وَجَاءَهُ مَلَكا الْقَبْرِ فَامْتَحَنَاهُ، ثُمَّ يَرْتَفِعَانِ، فَإِذَا قَامَتِ السَّاعَةُ انْحَطَّ عَلَيْهِ مَلَكُ الْحَسَنَاتِ وَمَلَكُ السَّيِّئَاتِ، فَانْتَشَطَا كِتَابًا مَعْقُودًا فِي عُنُقِهِ، ثُمَّ حَضَرَا مَعَهُ: واحدٌ سَائِقًا وَآخَرُ شَهِيدًا”، ثُمَّ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: {لَقَدْ كُنْتَ فِي غَفْلَةٍ مِنْ هَذَا} [ق:22] قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {لَتَرْكَبُنَّ طَبَقًا عَنْ طَبَقٍ} قَالَ: “حَالًا بَعْدَ حَالٍ”. ثُمَّ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “إِنَّ قُدَّامَكُمْ لَأَمْرًا عَظِيمًا لَا تَقدرُونه، فَاسْتَعِينُوا بِاللَّهِ الْعَظِيمِ

Sesungguhnya anak Adam itu benar-benar dalam kelalaian dari kewajiban yang ia ciptakan untuknya. Sesungguhnya Allah Swt. apabila hendak menciptakannya berfirman kepada malaikat, “Tulislah rezekinya, tulislah ajalnya, tulislah jejaknya, tulislah apakah dia orang yang celaka ataukah orang yang bahagia.” Kemudian malaikat itu naik. Dan Allah mengutus kepadanya malaikat lain yang ditugaskan-Nya untuk menjaganya hingga ia lahir, kemudian malaikat itu naik. Dan Allah menugaskan kepadanya dua malaikat yang akan mencatat semua kebaikan dan keburukannya, maka apabila ia didatangi oleh ajalnya, kedua malaikat itu naik. Lalu datanglah kepadanya malaikat maut dan mencabut rohnya. Apabila ia telah dimasukkan ke dalam kuburnya, maka rohnya dikembalikan ke jasadnya, setelah itu malaikat maut naik. Lalu ia didatangi oleh dua malaikat kubur yang mengujinya, setelah itu keduanya naik. Maka apabila hari kiamat tiba, turunlah kepadanya malaikat pencatat kebaikan dan malaikat pencatat keburukan, lalu keduanya mengambil kitab catatannya masing-masing yang ada pada leher orang yang bersangkutan, kemudian keduanya hadir bersamanya, yang satu menggiringnya dan yang satu lagi menjadi saksinya. Kemudian Allah Swt. berfirman, “Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini” (Qaf: 22). Rasulullah membaca firman-Nya:  sesungguhnya kalian melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan). (Al-Insyiqaq: 19) Kemudian beliau bersabda: Keadaan demi keadaan. Kemudian Nabi bersabda lagi: Sesungguhnya di hadapan kalian benar-benar terdapat urusan yang besar yang kalian tidak akan mampu menanggulanginya, maka mintalah pertolongan kepada Allah Yang Mahaagung.

Hadis ini munkar, sanadnya terdapat orang-orang yang berpredikat daif, tetapi maknanya sahih; hanya Allah jualah Yang Maha Mengetahui.

Kemudian Ibnu Jarir sesudah mengemukakan pendapat semua ulama ahli qurra dan ahli tafsir sehubungan dengan makna ayat ini mengatakan bahwa takwil yang benar adalah pendapat orang yang mengatakan bahwa sesungguhnya kamu Muhammad akan melalui keadaan demi keadaan, dan urusan demi urusan yang berat-berat. Makna yang dimaksud sekalipun Khitab-nya hanya ditujukan kepada Rasulullah ﷺ, tetapi pengertiannya mencakup semua manusia. Bahwa mereka di hari kiamat akan mengalami banyak penderitaan karena menghadapi keadaan-keadaan dan peristiwa-peristiwanya yang amat menakutkan.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

.

««««« juz 29 «««««                        ««««««« juz 30 «««««

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here