Celaan Kepada yang Tidak Mau Beriman

Berita Akhirat: Surah Al-Insyiqaaq ayat 20-25

0
155

Berita Akhirat: Surah Al-Insyiqaaq ayat 20-25. Celaan kepada mereka karena tidak mau beriman padahal ayat-ayat begitu jelas.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

فَمَا لَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ -٢٠- وَإِذَا قُرِئَ عَلَيْهِمُ الْقُرْآنُ لَا يَسْجُدُونَ -٢١-  بَلِ الَّذِينَ كَفَرُواْ يُكَذِّبُونَ -٢٢- وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا يُوعُونَ -٢٣- فَبَشِّرْهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٍ -٢٤- إِلَّا الَّذِينَ آمَنُواْ وَعَمِلُواْ الصَّالِحَاتِ لَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ -٢٥

Maka mengapa mereka tidak mau beriman? Dan apabila Al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka tidak (mau) bersujud. Bahkan orang-orang kafir itu mendustakan(nya). Padahal Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan (dalam hati mereka). Maka sampaikanlah kepada mereka (ancaman) azab yang pedih. Tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka akan mendapat pahala yang tidak putus-putusnya. (Q.S. Al-Insyiqaq : 16-25)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Fa mā lahum (namun, mengapa mereka), yakni mengapa orang-orang kafir Mekah. Ada yang berpendapat, mengapa Bani ‘Abdi Yalail ats-Tsaqafi. Mereka berjumlah tiga orang, yaitu: Mas‘ud, Hubaib, dan Rabi‘ah.

Lā yu’minūn (tidak mau beriman) kepada Nabi Muhammad ﷺ dan Al-Qur’an.

Wa idzā quri-a ‘alaihim (dan apabila dibacakan kepada mereka), yakni apabila Nabi Muhammad ﷺ membacakan kepada mereka. Al-qur-ānu (Al-Quran) yang berisi perintah dan larangan.

Lā yasjudūn (mereka tidak mau bersujud), yakni mereka tidak mau tunduk kepada Allah Ta‘ala dengan bertauhid.

Balil ladzīna kafarū (bahkan orang-orang yang kafir), yakni orang-orang kafir Mekah dan orang-orang yang tidak beriman dari kalangan Bani ‘Abdi Yalail.

Yukadz-dzibūn (tetap saja mendustakan) Muhammad ﷺ dan Al-Qur’an .

Wallāhu a‘lamū bi mā yū‘ūn (padahal, Allah sangat mengetahui apa pun yang mereka sembunyikan), yakni apa pun yang mereka katakan dan mereka perbuat. Ada yang berpendapat, apa pun yang mereka dengar dan mereka sembunyikan di dalam hati mereka.

Fa basy-syirhum bi ‘adzābin alīm (karena itu, sampaikanlah kabar gembira kepada mereka berupa azab yang teramat pedih), yakni azab yang sangat menyakitkan, yang rasa sakitnya terkonsentrasi di dalam hati mereka, baik pada Perang Badr maupun di akhirat. Selanjutnya Allah Ta‘ala mengecualikan orang-orang yang beriman, Dia Berfirman:

Illal ladzīna āmanū (kecuali orang-orang yang beriman) kepada Nabi Muhammad ﷺ dan Al-Qur’an.

Wa ‘amilush shālihāti (serta mengerjakan amal-amal saleh), yakni mengerjakan ketaatan-ketaatan yang berhubungan dengan Rabb-nya.

Lahum ajrun (mereka akan mendapatkan ganjaran), yakni pahala di akhirat.

Ghairu mamnūn (yang tiada putus-putusnya), yakni yang tidak akan dikurangi dan tidak pula menjemukan. Menurut satu pendapat, tidak akan diungkit-ungkit. Menurut yang lain, kebaikan-kebaikan mereka tidak akan dikurangi sesudah mereka pikun dan mati.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Mengapa mereka) yakni orang-orang kafir itu (tidak mau beriman?) artinya apakah gerangan yang mencegah mereka hingga tidak mau beriman. Atau apakah yang menjadi alasan mereka sehingga tidak mau beriman, padahal bukti-bukti yang membimbing mereka untuk beriman sudah ada dan cukup?
  2. (Dan) mengapakah mereka (apabila dibacakan kepada mereka Alquran, mereka tidak mau bersujud?) atau mengapa mereka tidak mau tunduk, seumpamanya mereka beriman kepada Al-Qur’an, karena mengingat kemukjizatan yang terkandung di dalamnya.
  3. (Bahkan orang-orang kafir itu mendustakan) adanya hari berbangkit dan lain-lainnya.
  4. (Padahal Allah mengetahui apa yang mereka kumpulkan) di dalam catatan amal perbuatan mereka; yaitu berupa kekafiran, kedustaan dan amal-amal buruk lainnya.
  5. (Maka beri kabar gembiralah mereka) beritakanlah kepada mereka (dengan azab yang pedih) atau siksaan yang menyakitkan.
  6. (Kecuali) tetapi (orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh, bagi mereka pahala yang tidak putusputusnya) yakni pahala mereka tidak akan terputus dan tidak akan dikurangi serta tidak akan disebut-sebutkan sekalipun sangat banyak dan berlimpah ruah untuk selama-lamanya.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi tafsiril Qur’an

  1. Maka mengapa mereka[21] tidak mau beriman?[22]

[21] Yakni orang-orang kafir.

[22] Padahal bukti-buktinya begitu jelas.

  1. Dan apabila Al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka tidak (mau) bersujud,
  2. bahkan orang-orang kafir itu mendustakan(nya)[23].

[23] Setelah jelas kebenarannya.

  1. Padahal Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan (dalam hati mereka).
  2. Maka sampaikanlah kepada mereka (ancaman) azab yang pedih,
  3. Tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka akan mendapat pahala yang tidak putus-putusnya[24].

[24] Di antara sekian manusia itu ada segolongan yang Allah berikan hidayah, mereka beriman kepada Allah dan menerima apa yang dibawa para rasul, mereka pun beriman dan mengerjakan amal saleh. Mereka inilah yang mendapatkan pahala yang tidak putus-putusnya; untuk mereka pahala yang kekal.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Swt.:

Mengapa mereka tidak mau beriman? Dan apabila Al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka tidak bersujud. (Al-Insyiqaq: 20-21)

Yakni apakah yang menghalang-halangi mereka untuk beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta hari kemudian, dan mengapa mereka apabila dibacakan kepada mereka Al-Qur’an yang merupakan ayat-ayat dan kalam Allah, lalu mereka tidak mau bersujud menghormati dan mengagungkan-Nya?

bahkan orang-orang kafir itu mendustakan (nya). (Al-Insyiqaq: 22)

Yaitu sudah menjadi watak mereka mendustakan kebenaran, mengingkari dan menentangnya.

Padahal Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan (dalam hati mereka). (Al-Insyiqaq: 23)

Mujahid dan Qatadah mengatakan bahwa Allah mengetahui apa yang tersimpan dalam hati mereka.

Maka beri kabar gembiralah mereka dengan azab yang pedih. (Al-Insyiqaq: 24)

Yakni maka beritakanlah kepada mereka, hai Muhammad, bahwa Allah Swt. telah menyediakan bagi mereka azab yang pedih.

Tetapi orang-orang yang beriman dan beramal saleh. (Al-Insyiqaq: 25)

Ini merupakan isti’sna munqati, yakni tetapi orang-orang yang hatinya beriman. dan beramal saleh. (Al-Insyiqaq: 25) dengan seluruh anggota tubuhnya. bagi mereka pahala. (Al-Insyiqaq: 25) Yaitu di hari kemudian di akhirat.

yang tidak putus-putusnya. (Al-Insyiqaq: 25)

Ibnu Abbas mengatakan, makna yang dimaksud ialah tidak dikurangi. Mujahid dan Ad-Dahhak mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah tidak terhitung banyaknya. Kesimpulan dari kedua pendapat menunjuk-kan bahwa pahala yang diterima oleh mereka di negeri akhirat tidak putus-putusnya. Seperti yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

عَطاءً غَيْرَ مَجْذُوذٍ

Sebagai karunia yang tiada putus-putusnya. (Hud: 108)

As-Saddi mengatakan bahwa sebagian ulama mengatakan sehubungan dengan makna gairu mamnun ini, bahwa makna yang dimaksud ialah tidak dikurangi. Sebagian yang lain menyebutkan bahwa makna yang dimaksud ialah pahala yang tidak dikaruniakan kepada mereka. Tetapi pendapat yang terakhir ini yang berasal dari sebagian ulama banyak disanggah oleh bukan hanya seorang dari kalangan ulama. Karena sesungguhnya Allah Swt. itu memberikan karunia-Nya kepada ahli surga dalam semua keadaan, saat, dan detik mereka. Dan sesungguhnya mereka dimasukkan ke dalam surga oleh Allah Swt. hanyalah semata-mata berkat karunia dan rahmat-Nya, bukan karena amal perbuatan yang telah mereka kerjakan. Maka Dia berhak memberikan karunia-Nya kepada mereka selama-lamanya. Dan segala puji hanyalah bagi Allah semata selama-lamanya. Karena itulah mereka (ahli surga) diberi ilham untuk bertasbih dan bertahmid kepada-Nya, sebagaimana mereka diberi ilham untuk bernapas. Dan akhir doa mereka ialah; “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.”

Demikian, akhir Surah Al-Insyiqaaq. Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

.

««««« juz 29 «««««                        ««««««« juz 30 «««««

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here