Sungguh, Azab Tuhanmu Sangat Keras

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al Buruuj ayat 12-16

0
15

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al Buruuj ayat 12-16. Kekuasaan Allah Subhaanahu wa Ta’aala untuk membalas musuh-musuh-Nya yang menindas wali-wali-Nya. Sungguh, azab Tuhanmu sangat keras.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

إِنَّ بَطْشَ رَبِّكَ لَشَدِيدٌ -١٢- إِنَّهُ هُوَ يُبْدِئُ وَيُعِيدُ -١٣- وَهُوَ الْغَفُورُ الْوَدُودُ -١٤- ذُو الْعَرْشِ الْمَجِيدُ -١٥- فَعَّالٌ لِّمَا يُرِيدُ -١٦

Sungguh, azab Tuhanmu sangat keras. Sungguh, Dialah yang memulai penciptaan (makhluk) dan yang menghidupkannya (kembali). Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih. Yang memiliki ‘Arsy, lagi Maha mulia. Maha Kuasa berbuat apa yang Dia kehendaki. (Q.S. Al-Buruj : 12-16)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Inna bath-sya rabbika (sesungguhnya Siksaan Rabb-mu), yakni Hukuman Rabb-mu terhadap orang-orang yang tidak beriman kepada-Nya.

La syadīd (benar-benar sangat dahsyat).

Innahū huwa yubdi-u (sesungguhnya Dia-lah yang memulai) penciptaan makhluk dari nutfah.

Wa yu‘īd (dan yang mengulangi) sesudah mati, sebagai makhluk yang baru.

Wa huwal ghafūru (dan Dia-lah Yang Maha Pengampun), yakni Yang Maha Pemberi Maaf kepada siapa saja yang bertobat dari kekafiran seraya beriman kepada-Nya.

Al-wadūd (lagi Maha Mencintai), yakni Maha Memperlihatkan Cinta-Nya kepada para penolong-Nya. Menurut satu pendapat, yang mencintai orang-orang yang taat kepada-Nya. Dan ada pula yang berpendapat, yang Menunjukkan Kasih sayang-Nya kepada orang-orang yang taat kepada-Nya.

Dzul ‘arsyi (Pemilik Arasy) dan singgasana.

Al-majīd (Yang Maha Mulia), yakni Yang Maha Baik lagi Maha Sempurna.

Fa‘ālul limā yurīd (Yang Maha Berbuat atas segala apa yang Dikehendaki-Nya), yakni sebagaimana Kehendak-Nya. Dan Dia pula yang menghidupkan dan mematikan. Sudah sampaikah kepadamu kisah tentang bala tentara,

.

Tafsir Jalalain

  1. (Sesungguhnya Azab Rabbmu) terhadap orang-orang kafir (benar-benar keras) sesuai dengan kehendak-Nya.
  2. (Sesungguhnya Dialah yang memulai) penciptaan makhluk (dan yang mengembalikan) makhluk menjadi hidup kembali, maka tiada sesuatu pun yang dapat menghalang-halangi apa yang dikehendaki-Nya.
  3. (Dan Dialah Yang Maha Pengampun) kepada orang-orang mukmin yang berbuat dosa (lagi Maha Pengasih) yakni Maha Belas Kasih kepada kekasih-kekasih-Nya dengan memberikan karamah kepada mereka.
  4. (Yang mempunyai Arasy) yakni Yang menciptakan dan Yang memilikinya (lagi Maha Agung) dibaca Rafa’ yakni Al-Majiidu, artinya Yang berhak menyandang kesempurnaan sifat-sifat Yang Maha Tinggi.
  5. (Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya) artinya tiada sesuatu pun yang dapat menghalang-halangi kehendak-Nya.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi tafsiril Qur’an

  1. Sungguh, azab Tuhanmu[18] sangat keras.

[18] Kepada para pelaku kejahatan dan dosa-dosa besar.

  1. Sungguh, Dialah yang memulai penciptaan (makhluk) dan yang menghidupkannya (kembali).
  2. Dialah Yang Maha Pengampun[19] lagi Maha Pengasih[20],

[19] Dia mengampuni semua dosa bagi orang yang bertobat kepada-Nya serta memaafkan kesalahan bagi orang yang meminta ampunan kepada-Nya dan kembali.

[20] Ibnu Abbas berkata, “Dia Al Habiib (yang dicintai).” Ada yang berpendapat, bahwa Al Waduud adalah, Yang cinta kepada orang yang bertobat dan kembali kepada-Nya. Syaikh As Sa’diy berkata, “Dia dicintai oleh para pecintanya dengan kecintaan yang tidak diserupai oleh sesuatu pun. Sebagaimana tidak ada sesuatu yang menyerupai-Nya dalam sifat-sifat keagungan dan keindahan, makna dan perbuatan, maka kecintaan-Nya di hati makhluk pilihan-Nya mengikuti hal itu, tidak diserupai oleh sesuatu pun di antara macam-macam kecintaan. Oleh karena itu, kecintaan kepada-Nya merupakan pokok ibadah, ia adalah kecintaan yang mendahului semua kecintaan dan mengalahkannya, jika yang lain tidak mengikutinya (kecintaan-Nya), maka yang demikian menjadi azab bagi pemiliknya. Dia adalah Al Waduud; yang cinta kepada para kekasih-Nya sebagaimana firman-Nya Ta’ala, “Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya.” (Terj. Al Maa’idah: 54) Dan mahabbah adalah kecintaan yang murni. Dalam ayat ini terdapat rahasia yang halus karena disertakan Al Waduud dengan Al Ghafuur untuk menunjukkan bahwa orang-orang yang berdosa ketika mereka bertobat kepada Allah dan kembali, maka Dia akan mengampuni dosa mereka dan akan mencintai mereka. Tidaklah dikatakan, bahkan hanya diampuni dosa mereka dan tidak dikembalikan kecintaan (Allah kepada mereka) seperti yang dikatakan sebagian orang yang keliru. Bahkan Allah lebih berbahagia dengan tobat hamba-Nya ketika bertobat daripada seorang yang berkendaraan unta dengan makanan, minuman dan segala yang dibutuhkan di atasnya, lalu hewan itu hilang di tengah padang sahara yang dapat membuatnya binasa, ia pun berputus asa darinya dan tidur dalam naungan sebuah pohon sambil menunggu kematiannya, tetapi ketika ia dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba hewannya berada di dekat kepalanya, ia pun segera memegang talinya. Maka Allah Subhaanahu wa Ta’aala lebih gembira dengan tobat seorang hamba daripada orang itu ketika menemukan kembali hewan kendaraannya, padahal itu adalah kegembiraan yang paling besar yang bisa dilakukannya. Maka segala pujian, sanjungan dan kecintaan yang tulus bagi Allah, alangkah besar dan banyak kebaikan-Nya dan alangkah banyak ihsan serta alangkah luas pemberian-Nya!”

  1. Yang memiliki ‘Arsy[21], lagi Maha mulia,

[21] Yakni Pemilik ‘Arsy yang besar yang di antara kebesarannya adalah adalah bahwa ‘Arsy itu meliputi langit, bumi dan kursi. Kursi dibanding ‘Arsy tidak lain seperti gelang besi yang diletakkan di padang pasir yang luas di bumi sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam kitab ‘Al ‘Arsy. Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyebutkan ‘Arsy secara khusus karena besarnya dan karena ia merupakan makhluk paling khusus yang dekat dengan-Nya. Hal ini jika kata majiid huruf terakhirnya dibaca kasrah sehingga menjadi sifat bagi ‘Arsy itu, tetapi jika dibaca dhammah, maka majiid adalah sifat bagi Allah Subhaanahu wa Ta’aala. Arti majiid adalah luasnya sifat dan agungnya.

  1. Mahakuasa berbuat apa yang Dia kehendaki[22].

[22] Yakni apabila Dia menghendaki sesuatu, maka Dia berkuasa melakukannya. Jika Dia menginginkan sesuatu, maka Dia hanya berfirman, “Terjadilah.” Maka terjadilah hal itu. Adapun makhluk, jika mereka menghendaki sesuatu, maka terhadap kehendaknya itu butuh pembantunya dan ada penghalangnya, sedangkan Allah Subhaanahu wa Ta’aala tidak ada yang membantu untuk melaksanakan kehendak-Nya dan tidak ada yang menghalangi kehendak-Nya.

 .

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Swt. berfirman:

Sesungguhnya azab Tuhanmu benar-benar keras. (Al-Buruj: 12)

Sesungguhnya azab dan pembalasan Allah terhadap musuh-musuh-Nya yang telah mendustakan rasul-rasul-Nya dan menentang perintah-Nya benar-benar keras, besar. lagi kuat. Karena sesungguhnya Allah Swt. memiliki kekuatan Yang Maha Kokoh, yang segala sesuatu yang dikehendaki-Nya pasti terjadi menurut apa yang dikehendaki-Nya dalam sekejap atau lebih cepat dari itu. Untuk itulah maka disebutkan dalam firman berikutnya:

Sesungguhnya Dialah yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali). (Al-Buruj: 13)

Yakni kekuatan dan kekuasaan-Nya yang sempurna dapat menciptakan makhluk dan menghidupkannya kembali seperti semula. tanpa ada yang dapat menghalang-halangi atau mencegah-Nya.

Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih.  (Al-Buruj:14)

Dia memberi ampun dosa orang yang bertobat kepada-Nya dan tunduk patuh pada-Nya betapapun besarnya dosa yang bersangkutan. Makna al-wadud menurut Ibnu Abbas dan lain-lainnya ialah Maha Pengasih.

Yang mempunyai ‘Arasy. (Al-Buruj:15)

Yaitu yang memiliki ‘Arasy yang besar lagi tinggi di atas semua makhluk.

Lafaz al-majid ada dua qiraat mengenainya, ada yang membacanya rafa karena menganggapnya menjadi sifat dari Ar-Rabb; sedangkan bacaan lainnya ialah jar karena menganggapnya menjadi sifat dari ‘Arasy. Kedua-duanya dibenarkan.

Mahakuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya. (Al-Buruj:16)

Artinya, apa pun yang hendak dilakukan-Nya tiada hambatan bagi keputusan-Nya; dan tiada yang menanyakan apa yang dikerjakan-Nya karena kebesaran, keperkasaan, kebijaksanaan, dan keadilan-Nya. Sebagaimana yang diriwayatkan kepada kami dari Abu Bakar As-Siddiq r.a. ketika dikatakan kepadanya saat ia menjelang ajalnya, “Apakah tabib telah memeriksamu?” Abu Bakar menjawab, “Ya.” Mereka bertanya, ‘”Apakah yang dikatakan olehnya?” Abu Bakar menjawab, ”Dia berkata kepadaku ‘Sesungguhnya Aku Maha Kuasa berbuat apa yang Kukehendaki’.”

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

.

««««« juz 29 «««««                        ««««««« juz 30 «««««

Leave a Reply

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here