Perintah Memerhatikan Alam Semesta

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Ghasyiyah ayat 17-20

0
309

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Ghasyiyah ayat 17-20, Perintah memerhatikan alam semesta, dan bahwa di sana terdapat bukti kekuasaan Allah Subhaanahu wa Ta’aala dan keesaan-Nya.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

أَفَلَا يَنظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ -١٧- وَإِلَى السَّمَاء كَيْفَ رُفِعَتْ -١٨- وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ -١٩- وَإِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ -٢٠

Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana diciptakan, dan langit bagaimana ia ditinggikan?Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan? (Q.S. Al-Ghasyiyah : 17-20)

.

Tafsir Ibnu Abbas

A fa lā yaηzhurūna (tidakkah mereka merenungkan), yakni tidakkah orang-orang kafir Mekah merenungkan.

Ilal ibili kaifa khuliqat (unta, bagaimana ia diciptakan) dengan kekuatan dan kehebatannya? Ia bisa memikul beban yang tidak bisa dipikul oleh (hewan) lainnya.

Wa ilas samā-i kaifa rufi‘at (dan langit, bagaimana ia ditinggikan) di atas makhluk? Dan tak ada sesuatu pun yang dapat mencapainya.

Wa ilal jibāli kaifa nushibat (dan gunung-gunung, bagaimana ia dipancangkan) di atas bumi? Dan tak ada sesuatu pun yang bisa menguncangkannya.

Wa ilal ardli kaifa suthihat (serta bumi, bagaimana ia dihamparkan), yakni dibentangkan di atas air? Semua itu merupakan tanda Kekuasaan Allah Ta‘ala untuk mereka.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Maka apakah mereka tidak memperhatikan) dengan perhatian yang dibarengi keinginan mengambil pelajaran; yang dimaksud adalah orang-orang kafir Mekah (unta bagaimana dia diciptakan?)
  2. (Dan langit, bagaimanakah ia ditinggikan?)
  3. (Dan gunung-gunung, bagaimana ia dipancangkan?)
  4. (Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?) maksudnya dijadikan sehingga terhampar. Melalui hal-hal tersebutlah mereka mengambil kesimpulan tentang kekuasaan Allah swt. dan keesaan-Nya. Pembahasan ini dimulai dengan menyebut unta, karena unta adalah binatang ternak yang paling mereka kenal daripada yang lain-lainnya. Firman Allah “Suthihat” jelas menunjukkan bahwa bumi itu rata bentuknya. Pendapat inilah yang dianut oleh para ulama Syara’. Jadi bentuk bumi bukanlah bulat seperti bola sebagaimana yang dikatakan oleh para ahli ilmu konstruksi. Masalah ini sama sekali tidak ada sangkutpautnya dengan salah satu rukun syariat.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi tafsiril Qur’an

  1. [19]Maka tidakkah mereka memperhatikan unta, bagaimana diciptakan?[20]

[19] Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman mendorong orang-orang yang tidak membenarkan Rasul ﷺ dan selain mereka agar memikirkan makhluk Allah untuk menunjukkan keesaan-Nya.

[20] Yakni tidakkah mereka memperhatikan penciptaannya yang indah, dan bagaimana Allah Subhaanahu wa Ta’aala menundukkannya untuk hamba-hamba-Nya serta menundukkan hewan itu untuk manfaat yang mereka perlukan.

  1. Dan langit, bagaimana ditinggikan?
  2. Dan gunung-gunung bagaimana ditegakkan?[21]

[21] Dengan bentuknya yang besar sehingga tidak terjadi kegoncangan pada bumi. Allah Subhaanahu wa Ta’aala juga menyimpan berbagai manfaat yang besar di dalamnya.

  1. Dan bumi bagaimana dihamparkan?[22]

[22] Sehingga dengan keadaannya yang bulat dapat ditempati manusia, digarap tanahnya dan dibuatkan bangunan di atasnya serta dilalui jalan-jalannya untuk mencapai suatu tempat yang mereka tuju. Dari sana seharusnya mereka mengetahui akan kekuasaan Allah Subhaanahu wa Ta’aala dan keesaan-Nya. Menurut penyusun tafsir Al Jalaalain, didahulukan ‘unta’ dari yang lainnya, karena unta lebih sering mereka gunakan daripada selainnya (sehingga mudah diperhatikan).

.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Swt. berfirman, memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya untuk memperhatikan makhluk-makhluk-Nya yang menunjukkan akan kekuasaan dan kebesaran-Nya.

Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan? (Al-Ghasyiyah: 17)

Karena sesungguhnya unta itu hewan yang menakjubkan dan bentuknya aneh. Ia sangat kuat dan keras, tetapi sekalipun demikian ia jinak untuk angkutan yang berat dan tunduk pada penuntun (pengendali) yang lemah. Dagingnya dapat dimakan, bulunya dapat dimanfaatkan, dan air susunya dapat diminum. Disebutkan unta secara khusus karena kebanyakan orang-orang Arab memakai unta sebagai hewan kendaraan.

Disebutkan bahwa Syuraih Al-Qadi pernah mengatakan, “Marilah kita keluar untuk melihat unta bagaimana ia diciptakan, dan bagaimana langit ditinggikan. Yakni bagaimana Allah Swt. meninggikannya dari bumi dengan ketinggian yang tak terperikan ini,” sebagaimana yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

أَفَلَمْ يَنْظُرُوا إِلَى السَّماءِ فَوْقَهُمْ كَيْفَ بَنَيْناها وَزَيَّنَّاها وَما لَها مِنْ فُرُوجٍ

Maka apakah mereka tidak melihat akan langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikit pun? (Qaf: 6)

Adapun firman Allah Swt:

Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? (Al-Ghasyiyah: 19)

Yakni dijadikan tegak dan berdiri kokoh untuk menjadi penyeimbang agar bumi diam dan tidak mengguncangkan para penduduknya, kemudian Allah Swt. menjadikan padanya banyak manfaat dan bahan-bahan mineral yang terkandung di dalamnya.

Dan bumi bagaimana ia dihamparkan? (Al-Ghasyiyah: 20)

Yaitu dihamparkan, digelarkan, dan dijadikan sebagai tempat yang layak untuk dihuni. Dan seorang Badui (kampung) dengan kecerdikan akalnya dapat menyimpulkan melalui pemandangan yang disaksikan oleh mata kepalanya sendiri, yaitu unta kendaraannya, langit yang ada di atasnya, gunung-gunung yang terpampang di hadapannya, dan bumi yang menjadi tempat berpijaknya, bahwa terciptanya semuanya itu berkat kekuasaan Penciptanya. Dia tiada lain adalah Tuhan Yang Mahabesar, Yang Maha Pencipta, Yang Menguasai, dan Yang mengatur semuanya. Dan bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah selain Dia.

Demikian pula Damam mengucapkan sumpahnya setelah mengajukan beberapa pertanyaan kepada Rasulullah ﷺ sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Disebutkan bahwa:

telah menceritakan kepada kami Hasyim ibnul Qasim, telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibnul Mugirah dan Sabit, dari Anas yang telah mengatakan bahwa dahulu kami dilarang mengajukan pertanyaan mengenai sesuatu masalah kepada Rasulullah ﷺ Maka kala itu kami sangat senang bila datang seorang lelaki Badui yang cerdas, lalu menanyakan kepada Rasulullah ﷺ beberapa masalah, maka kami mendengarkannya. Kemudian datanglah seorang lelaki Badui, lalu bertanya, “Wahai Muhammad, sesungguhnya telah datang kepada kami utusanmu dan mengatakan kepada kami bahwa sesungguhnya engkau adalah utusan Allah?” Nabi ﷺ menjawab “Benar.” Maka lelaki Badui itu bertanya,

فَمَنْ خَلَقَ السَّمَاءَ؟ قَالَ: “اللَّهُ”. قَالَ: فَمَنْ خَلَقَ الْأَرْضَ؟ قَالَ: “اللَّهُ”. قَالَ: فَمَنْ نَصَبَ هَذِهِ الْجِبَالَ وَجَعَلَ فِيهَا مَا جَعَلَ؟ قَالَ: “اللَّهُ”. قَالَ: فَبِالَّذِي خَلَقَ السَّمَاءَ وَالْأَرْضَ وَنَصَبَ هَذِهِ الْجِبَالَ، آللهُ أَرْسَلَكَ؟ قَالَ: “نَعَمْ”. قَالَ: وَزَعَمَ رسولُك أَنَّ عَلَيْنَا خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي يَوْمِنَا وَلَيْلَتِنَا. قَالَ: “صَدَقَ”. قَالَ: فَبِالَّذِي أَرْسَلَكَ، آللَّهُ أَمَرَكَ بِهَذَا؟ قَالَ: “نَعَمْ”. قَالَ: وَزَعَمَ رَسُولُكَ أَنَّ عَلَيْنَا زَكَاةً فِي أَمْوَالِنَا؟ قَالَ: “صَدَقَ”. قَالَ: فَبِالَّذِي أَرْسَلَكَ، آللَّهُ أَمَرَكَ بِهَذَا؟. قَالَ: “نَعَمْ”. قَالَ: وَزَعَمَ رَسُولُكَ أَنَّ عَلَيْنَا حَجّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا. قَالَ: “صَدَقَ”. قَالَ: ثُمَّ وَلَّى فَقَالَ: وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ لَا أَزِيدُ عَلَيْهِنَّ وَلَا أَنْقُصُ مِنْهُنَّ شَيْئًا. فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “إِنَّ صَدَقَ ليدخُلَنّ الْجَنَّةَ

“Lalu siapakah yang menciptakan langit?” Nabi ﷺ menjawab, “Allah.” Lelaki itu bertanya, “Siapakah yang menciptakan bumi?” Nabi ﷺ menjawab, “Allah.” Lelaki itu bertanya, “Siapakah yang memancangkan gunung-gunung ini dan yang menciptakan segala sesuatu yang ada padanya?” Nabi ﷺ menjawab, “Allah.” Lelaki Badui itu bertanya, “Maka demi Tuhan Yang telah menciptakan langit, bumi, dan Yang telah memancangkan gunung-gunung ini, apakah benar Allah telah mengutusmu?” Nabi ﷺ menjawab, “Benar.” Lelaki itu bertanya, “Utusanmu mengira bahwa diwajibkan atas kami mengerjakan shalat lima waktu setiap harinya?” Nabi ﷺ Menjawab, ”Benar.” Lelaki itu bertanya, “Maka demi Tuhan Yang telah mengutusmu, apakah Allah telah memerintahkan demikian kepadamu?” Nabi ﷺ menjawab, “Ya.” Lelaki itu bertanya, “Dan utusanmu mengira bahwa kami diwajibkan membayar zakat harta benda kami?” Nabi ﷺ manjawab, “Benar.” Lelaki itu bertanya, “Maka demi Tuhan Yang telah mengutusmu, apakah Allah yang memerintahkan demikian kepadamu?” Nabi ﷺ menjawab, “Ya.” Lelaki Badui itu bertanya, “Dan utusanmu mengira bahwa diwajibkan atas kami berhaji ke Baitullah bagi yang mampu mengadakan perjalanannya?” Nabi ﷺ menjawab, “Benar.” Kemudian lelaki Badui itu pergi dan berkata, “Demi Tuhan Yang telah mengutusmu dengan membawa kebenaran, aku tidak akan menambahi sesuatu pun dari hal tersebut dan tidak pula menguranginya barang sedikit pun.” Maka Nabi ﷺ bersabda: Jika dia benar, niscaya dia masuk surga.

Imam Muslim telah meriwayatkan hadis ini dari Amr An-Naqid, dari Abun Nadr alias Hasyim ibnul Qasim dengan sanad yang sama, dan Imam Bukhari memberinya komentar. Imam Turmuzi dan Imam Nasai meriwayatkannya melalui hadis Sulaiman ibnul Mugirah dengan sanad yang sama.

Imam Ahmad, Imam Bukhari, Imam Abu Daud, Imam Nasai, dan Imam Ibnu Majah meriwayatkan hadis ini melalui Al-Lais ibnu Sa’d, dari Sa’id Al-Maqbari, dari Syarik ibnu Abdullah ibnu Abu Namir, dari Anas dengan sanad yang sama secara panjang lebar. Dan di akhir hadisnya disebutkan bahwa telah menceritakannya kepadaku Dammam ibnu Sa’labah saudara lelaki Bani Sa’id ibnu Bakr.

Al-Hafiz Abu Ya’la mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ishaq, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Ja’far, telah menceritakan kepadaku Abdullah ibnu Dinar, dari Ibnu Umar yang telah menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ sering menceritakan tentang seorang wanita yang hidup di masa Jahiliah yang berada di atas sebuah bukit bersama anak laki-lakinya sedang menggembalakan ternak kambing. Maka anaknya bertanya “Hai Ibu, siapakah yang telah menciptakan engkau?” Ibunya menjawab, “Allah.” Ia bertanya, “Siapakah yang menciptakan ayahku?” Si ibu menjawab, “Allah.” Ia bertanya, “Siapakah yang menciptakan diriku?” Si ibu menjawab, “Allah.” Si anak bertanya, “Siapakah yang menciptakan langit?” Si ibu menjawab, “Allah.” Si anak bertanya, “Siapakah yang menciptakan bumi?” Si ibu menjawab, “Allah.” Ia bertanya, “Siapakah yang menciptakan gunung?” Si ibu menjawab, “Allah.” Ia bertanya, “Siapakah yang menciptakan kambing ini?” Si ibu menjawab, “Allah.” Maka si anak berkata, “Sesungguhnya aku benar-benar mendengar Allah mempunyai kedudukan yang penting di atas segalanya,” lalu ia menjatuhkan dirinya dari atas gunung itu sehingga tubuhnya hancur. Ibnu Umar mengatakan, “Rasulullah ﷺ sering menceritakan kisah ini kepada kami.” Ibnu Dinar mengatakan bahwa Abdullah ibnu Umar sering menceritakan kisah ini kepada kami. Tetapi di dalam sanad hadis ini terdapat kelemahan. Abdullah ibnu Ja’far yang disebutkan dalam sanad hadis ini adalah Al-Madini, seorang yang dinilai lemah oleh putranya sendiri (yaitu Imam Ali ibnul Madini) dan juga oleh yang lainnya.

Demikian, Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 .

««««« juz 29 «««««                        ««««««« juz 30 «««««

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here