Kekayaan dan Kemiskinan Adalah Ujian-Nya

Tafsir Al-Qur’an: Al-Fajr ayat ayat 15-20

0
231

Tafsir Al-Qur’an: Al-Fajr ayat ayat 15-20, Kekayaan dan kemiskinan adalah ujian dari Allah Subhaanahu wa Ta’aala kepada hamba-hamba-Nya. Sifat manusia yang apabila Allah meluaskan baginya dalam hal rezeki untuk mengujinya melalui rezeki itu, maka ia menganggap bahwa hal itu merupakan kemuliaan dari Allah Swt. untuk dirinya. Padahal kenyataanya tidaklah demikian, bahkan sebenarnya hal itu merupakan ujian dan cobaan. Demikian pula sebaliknya Allah menguji dan mencobanya dengan kesempitan rezeki, dia mengira bahwa hal itu merupakan penghinaan dari Allah Swt. kepadanya.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

فَأَمَّا الْإِنسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ -١٥- وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ -١٦- كَلَّا بَل لَّا تُكْرِمُونَ الْيَتِيمَ -١٧- وَلَا تَحَاضُّونَ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ -١٨- وَتَأْكُلُونَ التُّرَاثَ أَكْلاً لَّمّاً -١٩- وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبّاً جَمّاً -٢٠

Maka adapun manusia, apabila Tuhan mengujinya, lalu meemuliakan-Nya dan memberi-Nya kesenangan, maka dia berkata, “Tuhanku telah memuliakanku.”  Namun apabila Tuhan mengujinya, lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, “Tuhanku telah menghinaku.” Sekali-kali tidak! Bahkan kamu tidak memuliakan anak yatim, dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin, sedangkan kamu memakan harta warisan dengan cara mencampurbaurkan (yang halal dan yang haram), dan kamu mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan. (Q.S. Al-Fajr : 15-20)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Fa ammal iηsānu (adapun manusia), yakni manusia yang kafir, yaitu Ubay bin Khalaf. Ada yang mengatakan, Umayyah bin Khalaf.

Idzā mabtalāhu (apabila diuji), yakni apabila diberi cobaan.

Rabbuhū (oleh Rabb-nya) dengan kekayaan, kecukupan, dan penghidupan.

Fa akramahū (lalu Dia Memuliakannya), yakni Dia memperbanyak hartanya.

Wa na‘‘amahū (dan Memberinya kesenangan), yakni melapangkan penghidupannya.

Fa yaqūlu rabbī akraman (maka ia akan berkata, Rabb-ku telah memuliakan daku) dengan harta dan penghidupan.

Wa ammā idzā mabtalāhu (namun, apabila ia diuji oleh Rabb-nya), yakni apabila ia diberi cobaan oleh Rabb-nya dengan kefakiran.

Fa qadara ‘alaihi (lalu Dia menyempitkan untuknya), yakni menyedikitkan untuknya.

Rizqahū (rezekinya), yakni penghidupannya.

Fa yaqūlu rabbī ahānan (maka ia akan berkata, Rabb-ku telah menghinakan daku) dengan kefakiran dan penghidupan yang sempit.

Kallā (sekali-kali tidak). Ungkapan ini merupakan penolakan terhadap pandangan yang diungkapkan pada ayat sebelumnya. Kemuliaan yang Ku-berikan bukanlah berupa harta dan kekayaan, serta kehinaan yang Ku-timpakan bukan pula berupa kefakiran dan penyedikitan harta. Tetapi, kemuliaan yang Ku-berikan akan berupa makrifah dan taufik, serta kehinaan yang Ku-timpakan berupa pengingkaran dan penelantaran.

Bal lā tukrimūnal yatīm (bahkan sebenarnya kalian tidak memuliakan anak yatim), yakni kalian tidak mengetahui hak anak yatim. Di pangkuannya terdapat seorang anak yatim, tetapi ia tidak mengetahui hak anak yatim itu dan tidak pula berlaku baik terhadapnya.

Wa lā tahādl-dlūna (dan kalian tidak saling menganjurkan), yakni dan kalian tidak mendorong diri kalian dan orang lain.

‘Alā tha‘āmil miskīn (untuk memberi makan orang miskin), yakni untuk bersedekah kepada orang-orang miskin. Dan kalian benar-benar memakan harta warisan dengan cara mencampuradukkan.

Wa ta’kulūnat turātsā aklal lammā (dan kalian benar-benar memakan harta warisan dengan cara mencampuradukkan), yakni dengan cara yang keterlaluan.

Wa tuhibbūnal māla hubbaη jammā (dan kalian mencintai harta dengan kecintaan yang berlebih), yakni dengan kecintaan yang amat sangat.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Adapun manusia) yakni orang kafir (apabila dia diuji) dikenakan ujian (oleh Rabbnya lalu dimuliakan-Nya) dengan harta benda dan lain-lainnya (dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata, “Rabbku telah memuliakanku.”)
  2. (Adapun bila Rabbnya mengujinya lalu Dia membatasi) atau menyempitkan (rezekinya, maka dia berkata, “Rabbku menghinaku.”)
  3. (Sekali-kali tidak) kalimat ini merupakan hardikan, bahwa perkara yang sebenarnya tidaklah demikian, maksud dimuliakan itu dengan diberi kekayaan, dan dihina itu dengan diberi kemiskinan. Sesungguhnya seseorang itu menjadi mulia karena ketaatannya, dan menjadi terhina karena kemaksiatannya. Orang-orang kafir Mekah tidak memperhatikan hal ini (sebenarnya kalian tidak memuliakan anak yatim) artinya kalian tidak pernah berbuat baik kepada anak-anak yatim, padahal kalian kaya atau kalian tidak memberikan harta waris yang menjadi hak anak-anak yatim.
  4. (Dan kalian tidak mengajak) diri kalian atau orang lain (memberi makan) (orang miskin.)
  5. (Dan kalian memakan harta pusaka) harta peninggalan (dengan cara mencampur-aduk) tanpa segan-segan lagi, maksudnya kalian mencampur-baurkan harta warisan bagian wanita dan anak-anak dengan bagian kalian; atau kalian mencampur-baurkan harta warisan mereka dengan harta kalian sendiri.
  6. (Dan kalian mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan) sehingga kalian merasa sayang untuk menafkahkannya di jalan kebaikan. Menurut suatu qiraat pada keempat Fi’il tadi, yaitu Laa Tukrimuuna, Laa Tahaadhdhuuna, Ta’kuluuna, dan Tuhibbuuna, dibaca Laa Yukrimuuna, Laa Yahaadhdhuuna, Ya’kuluuna, dan Yuhibbuuna. Makna ayat-ayat di atas berdasarkan bacaan pertama.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi tafsiril Qur’an

  1. [10]Maka adapun manusia, apabila Tuhan mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia berkata, “Tuhanku telah memuliakanku”.

 [10] Allah Subhaanahu wa Ta’aala memberitahukan tentang tabiat manusia dari sisi kemanusiaannya, yaitu bahwa ia (manusia itu) jahil (tidak tahu) dan zalim; ia tidak mengetahui akibat dari sesuatu. Ia mengira, bahwa keadaannya itu akan tetap langgeng dan tidak akan berubah, dan mengira bahwa nikmat yang diberikan Allah kepadanya menunjukkan kemuliaannya di sisi-Nya dan dekat dengan-Nya. Sebaliknya, ketika ia dibatasi rezekinya, menurutnya berarti Allah menghinakannya. Maka pada ayat selanjutnya (ayat ke-17) Allah Subhaanahu wa Ta’aala membantah persangkaan tersebut. Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyalahkan orang-orang yang mengatakan bahwa kekayaan itu adalah suatu kemuliaan dan kemiskinan adalah suatu kehinaan seperti yang tersebut pada ayat 15 dan 16, padahal sebenarnya kekayaan dan kemiskinan adalah ujian dari Allah kepada hamba-hamba-Nya. Demikian pula bahwa kemuliaan dan kemiskinan bukanlah tergantung pada kaya atau miskin, bahkan tergantung pada taat (takwa) atau tidaknya seseorang, namun kebanyakan manusia tidak mengerti.

  1. Namun apabila Tuhan mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, “Tuhanku telah menghinakanku.”
  2. Sekali-kali tidak![11] Bahkan kamu tidak memuliakan anak yatim[12],

[11] Yakni tidak setiap orang yang diberi Allah nikmat berarti mulia di hadapan-Nya, dan tidak setiap orang yang dibatasi rezekinya berarti hina di hadapan-Nya. Bahkan sesungguhnya kaya dan miskin merupakan ujian dari Allah kepada hamba-hamba-Nya agar Dia melihat siap yang bersyukur kepada-Nya ketika mendapatkan nikmat, dan siapa yang bersabar ketika disempitkan rezekinya sehingga Allah akan memberinya pahala yang besar, atau bahkan ia mendapatkan azab karena tidak bersyukur atas nikmat itu dan tidak bersabar ketika disempitkan rezekinya. Di samping itu pula, sibuknya seorang hamba memikirkan kesenangan dirinya saja dan tidak peduli dengan keadaan orang lain yang membutuhkan merupakan perkara yang dicela Allah Subhaanahu wa Ta’aala sebagaimana firman Allah Ta’ala pada lanjutan ayat tersebut.

[12] Seperti tidak memberikan hak-haknya dan tidak berbuat baik kepadanya, padahal ia telah kehilangan bapaknya. Hal ini menunjukkan hilangnya sifat rahmat (kasih-sayang) dalam hatimu dan tidak suka kepada kebaikan.

  1. dan kamu tidak saling mengajak[13] memberi makan orang miskin[14],

[13] Baik diri kamu maupun orang lain.

[14] Karena bakhil kepada harta dan cinta yang berlebihan kepadanya.

  1. sedangkan kamu memakan harta warisan dengan cara mencampurbaurkan (yang halal dan yang haram)[15],

[15] Tidak menyisakan sedikit pun darinya.

  1. dan kamu mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Tentang sifat manusia yang apabila Allah meluaskan baginya dalam hal rezeki untuk mengujinya melalui rezeki itu, maka ia menganggap bahwa hal itu merupakan kemuliaan dari Allah Swt. untuk dirinya. Padahal kenyataanya tidaklah demikian, bahkan sebenarnya hal itu merupakan ujian dan cobaan, sebagaimana yang disebutkan di dalam firman-Nya:

أَيَحْسَبُونَ أَنَّما نُمِدُّهُمْ بِهِ مِنْ مالٍ وَبَنِينَ نُسارِعُ لَهُمْ فِي الْخَيْراتِ بَلْ لَا يَشْعُرُونَ

Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa) Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar. (Al-Mu’minun: 55-56)

Demikian pula sebaliknya Allah menguji dan mencobanya dengan kesempitan rezeki, dia mengira bahwa hal itu merupakan penghinaan dari Allah Swt. kepadanya. Maka disanggah oleh firman-Nya:

Sekali-kali tidak (demikian). (Al-Fajr: 17)

Yakni sebenarnya tidaklah seperti yang diduganya baik dalam keadaan mendapat kesukaan maupun dalam keadaan mendapat kedukaan;karena sesungguhnya Allah memberi harta kepada siapa yang disukai-Nya dan juga kepada orang yang tidak disukai-Nya, dan Dia menyempitkan rezeki terhadap orang yang disukai-Nya dan juga terhadap orang yang tidak disukai-Nya. Dan sesungguhnya pokok pangkal permasalahan dalam hal ini bergantung kepada ketaatan yang bersangkutan kepada Allah Swt. dalam dua keadaan tersebut. Apabila ia diberi kekayaan, hendaknya ia bersyukur kepada Allah atas karunia-Nya itu; dan apabila mendapat kemiskinan, hendaknya ia bersabar dan tetap menjalankan ketaatan kepada Allah Swt.

Sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim. (Al-Fajr: 17)

Di dalam ayat ini terkandung makna perintah untuk memuliakan anak yatim, sebagaimana yang disebutkan di dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abdullah ibnul Mubarak, dari Sa’id ibnu Ayyub, dari Yahya ibnu Sulaiman, dari Yazid ibnu Abu Gayyas., dari Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ yang telah bersabda,

خَيْرُ بَيْتٍ فِي الْمُسْلِمِينَ بَيْتٌ فِيهِ يَتِيمٌ يُحْسَنُ إِلَيْهِ، وَشَرُّ بَيْتٍ فِي الْمُسْلِمِينَ بَيْتٌ فِيهِ يَتِيمٌ يُسَاءُ إِلَيْهِ- ثُمَّ قَالَ بِأُصْبُعِهِ- أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِي الْجَنَّةِ هَكَذَا

Sebaik-baik rumah dikalangan kaum muslim adalah rumah yang di dalamnya terdapat anak yatim yang diperlakukan dengan baik, dan seburuk-buruk rumah di kalangan kaum muslim adalah rumah yang di dalamnya terdapat anak yatim yang di perlakukan dengan buruk. Kemudian Nabi Saw. berisyarat dengan kedua jari tangannya, lalu bersabda: Aku dan orang yang menjamin anak yatim berada di dalam surga seperti ini.

Abu Daud mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnus Sabah ibnu Sufyan, telah menceritakan kepada Kami Abdul Aziz (yakni Ibnu Abu Hazim), telah menceritakan kepadaku ayahku, dari Sahl (yakni Ibnu Sa’id) bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda,

أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ كَهَاتَيْنِ فِي الْجَنَّةِ  وَقَرَنَ  بَيْنَ إصبعيه: الوسطى والتي تلي الإبهام

Aku dan orang yang menjamin anak yatim seperti kedua jari ini di dalam surga. Yakni berdekatan, seraya mengisyaratkan kedua jarinya, yaitu telunjuk dan jari tengahnya.

dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin. (Al-Fajr:18)

Yaitu tidak memerintahkan orang lain untuk memberi santunan kepada orang-orang fakir dan miskin dan sebagian dari mereka tidak menganjurkan hal ini kepada sebagian yang lainnya.

dan kamu memakan harta pusaka dengan cara mencampur-adukan (yang halal dan yang haram). (Al-Fajr: 19).

Yang dimaksud dengan turas ialah harta warisan, yakni memakannya tanpa mempedulikan dari arah mana dihasilkannya, baik dari cara halal maupun cara haram.

dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan. (Al-Fajr: 20)

Yakni kecintaan yang banyak; sebagian ulama mengartikannya kecintaan yang berlebihan.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

.

««««« juz 29 «««««                        ««««««« juz 30 «««««

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here