Pemilik Jiwa yang Suci Lagi Tenang

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Fajr ayat 21-26

0
332

Tafsir Al-Qur’an: Al-Fajr ayat 27-30. Penghargaan Allah Subhaanahu wa Ta’aala kepada manusia yang sempurna imannya, merasa tenang kepada Allah, memiliki jiwa yang suci lagi tenang yang selalu tetap tunduk patuh kepada kebenaran, beriman kepada-Nya dan membenarkan rasul-rasul-Nya, maka akan dikatakan kepadanya dengan mesra, “Wahai jiwa yang tenang!”  

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ -٢٧- ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً -٢٨- فَادْخُلِي فِي عِبَادِي -٢٩- وَادْخُلِي جَنَّتِي -٣٠

Wahai jiwa yang tenang! kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku. (Q.S. Al-Fajr : 27-30)

 .

Tafsir Ibnu Abbas

Yā ayyatuhan nafsul muthmainnah (wahai jiwa yang tenteram), yakni jiwa yang aman dari Azab Allah Ta‘ala, yang membenarkan tauhūdullāh, yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah Ta‘ala, yang sabar dalam menghadapi Cobaan Allah Ta‘ala, yang rida terhadap ketentuan Allah Ta‘ala, dan yang puas terhadap pemberian Allah Ta‘ala.

Irji‘ī ilā rabbiki (kembalilah kepada Rabb-mu), yakni kepada segala sesuatu yang dipersiapkan Allah Ta‘ala di dalam surga untukmu.

Rādliyatan (dalam keadaan rida) dengan pahala Allah Ta‘ala.

Mardliyyah (dan diridai) berkat tauhid.

Fad -khulī fī ‘ibādī (kemudian masuklah ke dalam kelompok hamba-hamba-Ku), yakni ke dalam rombongan wali-wali-Ku.

Wadkhulī jannatī (dan masuklah ke dalam surga-Ku) yang telah Kujanjikan kepadamu.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Hai jiwa yang tenang) atau yang aman, dimaksud adalah jiwa yang beriman.
  2. (Kembalilah kepada Rabbmu) perkataan ini diucapkan kepadanya sewaktu ia menjelang mati; yakni kembalilah kamu kepada perintah dan kehendak-Nya (dengan hati yang puas) akan pahala yang kamu terima (lagi diridai) di sisi Allah maksudnya, semua amal perbuatanmu diridai di sisi-Nya. Jiwa yang beriman itu merasa puas dan diridai; kedudukan kedua lafal ini menjadi kata keterangan keadaan; kemudian dikatakan kepadanya pada hari kiamat nanti:
  3. (“Maka masuklah ke dalam) jamaah (hamba-hamba-Ku) yang saleh.
  4. (Dan masuklah ke dalam surga-Ku”) bersama dengan hamba-hamba-Ku yang saleh.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi tafsiril Qur’an

  1. Wahai jiwa yang tenang[23]!

[23] Yaitu orang mukmin. Ia tenang kepada dzikrullah dan tenang mencintai-Nya.

  1. Kembalilah kepada Tuhanmu[24] dengan hati yang ridha[25] dan diridhai-Nya.

[24] Yang telah mengurus dan mendidikmu dengan nikmat-Nya serta melimpahkan ihsan-Nya kepadamu sehingga kamu termasuk wali-Nya.

[25] Kepada Allah dan karena pahala yang diberikan-Nya.

  1. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku,
  2. dan masuklah ke dalam surga-Ku[26].

[26] Ucapan ini ditujukan kepada ruh orang mukmin pada hari Kiamat dan ditujukan pula kepadanya ketika ia mati.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu. (Al-Fajr: 27-28)

Yaitu ke sisi-Nya, ke pahala-Nya, dan kepada apa yang telah disediakan oleh-Nya bagi hamba-hamba-Nya di dalam surga-Nya.

dengan hati yang puas lagi diridai. (Al-Fajr:28)

Yakni hati yang puas karena mendapat rida dari Allah Swt.

Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku. (Al-Fajr: 29)

Maksudnya, ke dalam golongan mereka yang diridai.

dan masuklah ke dalam surga-Ku. (Al-Fajr: 30)

Hal ini dikatakan kepada yang bersangkutan manakala dia menjelang ajalnya dan juga disaat hari kiamat. Sebagaimana para malaikat menyampaikan kepadanya berita gembira ini di saat ia menjelang ajalnya dan di saat ia dibangkitkan dari kuburnya.

Kemudian ulama tafsir berbeda pendapat tentang siapa yang melatar belakangi turunnya ayat ini. Maka menurut riwayat Ad-Dahhak, dari Ibnu Abbas, ayat ini diturunkan berkenaan dengan sahabat Usman ibnu Affan. Dan menurut riwayat yang bersumberkan dari Buraidah ibnul Hasib, ayat ini diturunkan berkenaan dengan Hamzah ibnu Abdul Muttalib r.a.

Al-Aufi telah meriwayatkan dari ibnu Abbas, bahwa dikatakan kepada arwah yang tenang di hari kiamat: Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu. (Al-fajr: 27-28) Maksudnya kepada temanmu masing-masing, yakni badannya masing-masing yang telah dihuninya ketika di dunia. dengan hati yang puas lagi diridai-Nya. (Al-Fajr: 28)

Diriwayatkan pula darinya bahwa dia membaca ayat ini dengan bacaan berikut: Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku. (Al-Fajr: 29-30)

Hal yang sama telah dikatakan oleh Ikrimah dan Al-Kalbi, dan pendapat ini dipilih oleh ibnu Jarir, tetapi pendapat ini garib. Dan pendapat yang paling jelas (kuat) adalah yang pertama karena ada firman Allah Swt. yang menyebutkan:

ثُمَّ رُدُّوا إِلَى اللَّهِ مَوْلاهُمُ الْحَقِّ

kemudian mereka (hamba Allah) dikembalikan kepada Allah, Penguasa mereka yang sebenarnya. (Al-An’am: 62)

Dan firman Allah Swt.:

وَأَنَّ مَرَدَّنا إِلَى اللَّهِ

Dan sesungguhnya kita kembali kepada Allah. (Al-Mu’min: 43)

Yakni kembali kepada hukum-Nya dan berdiri di hadapan-Nya.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Husain, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Abdur Rahman ibnu Abdullah Ad-Dusytuki. telah menceritakan kepadaku ayahku, dari ayahnya, dari Asy’as., dari Ja’far, dari Said ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridai -Nya. (Al-Fajr: 27-28)

Bahwa ayat ini diturunkan ketika Abu Bakar r.a. sedang duduk dihadapan Nabi ﷺ, lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah, alangkah baiknya hal ini.” Maka Rasulullah ﷺ menjawab,

أَمَا إِنَّهُ سَيُقَالُ لَكَ هَذَا

Ingatlah, sesungguhnya hal itu akan dikatakan kepadamu.

Kemudian Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id Al-Asyaj, telah menceritakan kepada kami Ibnu Yaman, dari Asy’as., dari Sa’id ibnu Jubair yang mengatakan bahwa ia membaca firman Allah Swt. berikut ini di hadapan nabi ﷺ: Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridai-Nya. (Al-Fajr: 27-28) Maka Abu Bakar r.a. berkata, bahwa sesungguhnya hal itu benar-benar baik. Maka nabi ﷺ bersabda kepadanya:

أَمَا إِنَّ الْمَلَكَ سَيَقُولُ لَكَ هَذَا عِنْدَ الْمَوْتِ

Ingatlah sesungguhnya malaikat akan mengatakan hal itu kepadamu di saat (engkau) meninggal

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh ibnu Jarir dari Abu Kuraib, dari ibnu Yaman dengan sanad yang sama. Dan hadis ini bepredikat mursal lagi hasan.

Kemudian Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan pula kepada kami Al-Hasan ibnu Arafah, telah menceritakan kepada kami Marwan ibnu Syuja’ Al-Jazari, dari Salim Al-Aftas, dari Sa’id ibnu Jubair yang mengatakan bahwa ketika Ibnu Abbas meninggal dunia di Taif, datanglah suatu makhluk yang terbang yang tidak pernah terlihat sebelumnya berbentuk seperti Ibnu Abbas. Lalu makhluk yang terbang itu masuk ke dalam katilnya dan tidak pernah kelihatan lagi keluar dari padanya. Dan ketika jenazah Ibnu Abbas diletakkan di dalam liang lahatnya, maka terdengarlah ada yang membaca ayat berikut di pinggir kuburnya tanpa ada yang mengetahui siapa yang membacanya, yaitu firman-Nya: Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku. (Al-Fajr: 27-30)

Imam Tabrani meriwayatkannya dari Abdullah ibnu Ahmad, dari ayahnya, dari Marwan ibnu Syuja’, dari Salim ibnu Ajlan Al-Aftas dengan sanad yang sama, lalu disebutkan hal yang sama.

Al-Hafiz Muhammad ibnul Munzir Al-Harawi yang dikenal dengan Basyukr telah menyebutkan di dalam Kitabul ‘Aja’ib berikut sanadnya dari Qabbas ibnu Razin alias Abu Hasyim yang mengatakan, bahwa ia ditawan di negeri Romawi, lalu Raja Romawi mengumpulkan semua tawanan, dan ia menawarkan agamanya kepada kami, bahwa barangsiapa yang menolak maka akan dipenggal kepalanya.Maka murtadlah ketiga orang dari kalangan mereka, lalu datanglah orang yang ke empat; setelah ditawarkan kepadanya untuk murtad, ia menolak, maka dipenggallah kepalanya, lalu dijatuhkan (dilemparkan) ke sebuah sungai di sana.

Kemudian kepala orang itu pada mulanya tenggelam ke dalam air, tidak lama kemudian muncul mengambang dan ia memandang kepada ketiga orang temannya yang telah murtad itu dan mengatakan kepada mereka, bahwa hai Fulan, Fulan dan Fulan, dengan menyebutkan nama-nama mereka satu per satu. Lalu ia melanjutkan, bahwa Allah Swt. telah berfirman di dalam kitab-Nya: Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku. (Al-Fajr: 27-30) Kemudian kepala orang itu tenggelam kembali ke dalam air.

Abu Hasyim melanjutkan kisahnya, bahwa pada saat itu juga hampir semua orang Nasrani masuk Islam, dan singgasana raja terjatuh; dan ketiga orang yang tadinya murtad bertobat, lalu kembali lagi kepada agama Islam.

Abu Hasyim melanjutkan bahwa tidak lama kemudian datanglah tebusan para tawanan pasukan kaum muslim yang dikirim oleh khalifah Abu Ja’far Al-Mansur, sehingga kami pun bebas.

Al-Hafiz ibnu Asakir di dalam biografi Rawwahah binti Abu Amr Al-Auza’i, telah meriwayatkan dari ayahnya, bahwa telah menceritakan kepadaku Sulaiman ibnu Habib Al-Muharibi, telah menceritakan kepadaku Abu Umamah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda kepada seorang lelaki:

قُلِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ نَفْسًا بِكَ مُطَمْئِنَةً تُؤْمِنُ بِلِقَائِكَ وَتَرْضَى بِقَضَائِكَ وَتَقْنَعُ بِعَطَائِكَ

Katakanlah, “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada Engkau jiwa yang hanya tenang kepada Engkau, beriman kepada hari bersua dengan Engkau, dan rida dengan keputusan Engkau dan menerima dengan tulus pemberian Engkau.

Kemudian Ibnu Asakir meriwayatkan dari Abu Sulaiman ibnu Wabar, bahwa ia telah mengatakan bahwa hadis Rawwahah ini adalah hadis yang tunggal (seorang budak wanita).

Demikianlah akhir Surah Al-Fajr. Maha benar Allah dengan segala firman-Nya. Dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

.

««««« juz 29 «««««                        ««««««« juz 30 «««««

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here