Menentang Kebenaran dan Mendustakannya

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al Balad ayat 5-10

0
188

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Balad ayat 5-10, Menceritakan kaum kafir Mekah yang menentang kebenaran dan mendustakan Rasulullah ﷺ.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

أَيَحْسَبُ أَن لَّن يَقْدِرَ عَلَيْهِ أَحَدٌ -٥- يَقُولُ أَهْلَكْتُ مَالاً لُّبَداً -٦- أَيَحْسَبُ أَن لَّمْ يَرَهُ أَحَدٌ -٧- أَلَمْ نَجْعَل لَّهُ عَيْنَيْنِ -٨- وَلِسَاناً وَشَفَتَيْنِ -٩- وَهَدَيْنَاهُ النَّجْدَيْنِ -١٠

Apakah manusia itu menyangka bahwa sekali-kali tiada seorang pun yang berkuasa atasnya? Dia mengatakan. “Aku telah menghabiskan harta yang banyak.” Apakah dia menyangka bahwa tiada seorang pun yang melihatnya? Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah, dan dua buah bibir. Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan. (Q.S. Al Balad : 5-10)

.

Tafsir Ibnu Abbas

A yahsabu (apakah ia mengira), yakni apakah orang kafir menyangka dalam kekuatan dan kesukarannya itu.

Al lay yaqdiru ‘alaihi ahad (bahwa tak ada seorang pun yang berkuasa atas dirinya), yakni untuk menghukum dan menyiksanya. Yang dimaksud adalah Allah Ta‘ala.  Ia berkata, Aku telah menghabiskan harta yang banyak.

Yaqūlu (ia berkata), yakni Kaldah bin Usaid berkata. Menurut yang lain, al-Walid bin al-Mughirah berkata.

Ahlaktu mālal lubadā (Aku telah menghabiskan harta yang banyak), yakni aku telah mengeluarkan harta yang banyak dalam memusuhi Nabi Muhammad ﷺ, tetapi semua itu tak bermafaat sedikit pun bagi diriku.

A yahsabu (apakah ia mengira), yakni apakah orang kafir menyangka.

Al lam yarahū ahad (bahwa tak ada seorang pun yang memperhatikannya), yakni bahwa Allah Ta‘ala tidak Memperhatikan perbuatannya, baik ia mengeluarkan harta ataupun tidak. Kemudian Allah Ta‘ala Mengungkapkan Anugerah-Nya kepada manusia, Dia Berfirman:

A lam naj‘al lahū ‘ainain (bukankah Kami telah Menjadikan dua mata untuknya), hingga ia bisa melihat.   dan satu lidah serta dua bibir?

Wa lisānan (satu lidah) yang membuatnya bisa berbicara.

Wa syafataīn (serta dua bibir) seraya membuatnya bisa membuka dan menutup keduanya.

Wa hadaināhun najdaīn (dan Kami pun telah Menunjukkan dua jalan kepadanya), yakni Kami telah Menjelaskan kepadanya dua jalan: jalan kebaikan dan jalan keburukan.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Apakah manusia itu menyangka) atau apakah manusia menduga, bahwa dia itu adalah kuat. Yang dimaksud adalah Asyad dari kalangan kaum Quraisy ia terkenal kekuatannya (bahwa) huruf An di sini adalah bentuk Takhfif dari Anna, sedangkan Isimnya tidak disebutkan, lengkapnya Annahuu (sekali-kali tiada seorang pun yang berkuasa atas dirinya?) Allahlah yang berkuasa atas dirinya.
  2. (Dia mengatakan, “Aku telah menghabiskan) untuk memusuhi Muhammad (harta yang banyak”) maksudnya banyak mengeluarkan harta untuk memusuhinya.
  3. (Apakah dia menyangka bahwa) dirinya (tiada seorang pun yang melihatnya?) artinya melihat apa-apa yang telah dibelanjakannya itu, sehingga ada orang yang mengetahui berapa jumlah harta yang telah dibelanjakannya. Allahlah yang mengetahui berapa jumlah yang telah dibelanjakannya itu, dan jumlah sedemikian itu tidak berarti apa-apa di sisi-Nya, bahkan Dia kelak akan membalas perbuatannya yang buruk dan keji itu.
  4. (Bukankah Kami telah menjadikan) Istifham atau kata tanya di sini mengandung arti Taqrir (baginya dua buah mata,)
  5. (lidah dan dua buah bibir?)
  6. (Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan) maksudnya Kami telah menjelaskan kepadanya jalan kebaikan dan jalan keburukan.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi tafsiril Qur’an

  1. Apakah dia (manusia) itu mengira bahwa tidak ada sesuatu pun yang berkuasa atasnya?
  2. Dan mengatakan, “Aku telah menghabiskan harta yang banyak.” [5]

[5] Ia bersikap melampaui batas dan berbangga diri dengan harta yang dikeluarkannya dalam jumlah besar untuk memuaskan hawa nafsunya. Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyebut di ayat ini mengeluarkan harta untuk memuaskan hawa nafsu dan bermaksiat dengan ‘ihlaak’ (membinasakan atau menghabiskan), karena pengeluaran tersebut tidak bermanfaat bagi orang yang mengeluarkannya, bahkan hanya membuatnya menyesal, rugi, kelelahan dan membuat hartanya berkurang. Berbeda dengan orang yang mengeluarkan hartanya untuk mencari keridhaan Allah di jalan-jalan kebaikan, maka ia akan mendapatkan keuntungan dari infaknya itu dan Allah Subhaanahu wa Ta’aala akan menggantinya dengan berlipat ganda.

  1. [6]Apakah dia mengira bahwa tidak ada sesuatu pun yang melihatnya?[7]

[6] Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman mengancam orang yang berbangga ini dengan mengeluarkan harta untuk memuaskan hawa nafsunya itu.

[7] Yakni apakah ia mengira ketika berbuat demikian, bahwa Allah Subhaanahu wa Ta’aala tidak akan melihatnya dan menghisab amalnya baik yang kecil maupun yang besar? Bahkan Allah Subhaanahu wa Ta’aala melihatnya, menjaga amalnya dan menyerahkannya kepada para malaikat yang mencatatnya (Al Kiraamul Kaatibuun) untuk kemudian diberikan balasan.

  1. [8]Bukankah Kami telah menjadikan untuknya sepasang mata[9],

[8] Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyebutkan nikmat-nikmat-Nya agar dia mengakuinya.

[9] Untuk keindahan dan untuk melihat.

  1. dan lidah dan sepasang bibir?[10]

[10] Untuk berbicara dan keperluan lainnya. Ini contoh nikmat dunia. Pada ayat selanjutnya, Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyebutkan nikmat agama.

  1. Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan[11],

[11] Yakni kebaikan dan kejahatan serta mana petunjuk dan mana kesesatan. Hal ini merupakan nikmat yang sangat besar yang seharusnya seorang hamba mau memenuhi hak-hak Allah Subhaanahu wa Ta’aala, bersyukur kepada-Nya atas nikmat-nikmat-Nya dan tidak menggunakan nikmat tersebut untuk bermaksiat kepada-Nya. Namun sayang, sebagaimana diterangkan pada ayat selanjutnya, ia tidak mau melakukannya.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Swt:

Apakah manusia itu menyangka bahwa sekali-kali tiada seorang pun yang berkuasa atasnya? (Al-Balad: 5)

Al-Hasan Al-Basri mengatakan bahwa makna firman-Nya: Apakah manusia itu menyangka bahwa sekali-kali tiada seorang pun yang berkuasa atasnya? (Al-Balad: 5) Yaitu yang akan mengambil hartanya.

Qatadah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Apakah manusia itu menyangka halnya sekali-kali tiada seorang pun yang berkuasa atasnya? (Al-Balad: 5) Ibnu Adam mengira bahwa Allah tidak akan menanyai harta ini, dari manakah dia memperolehnya dan ke manakah dia membelanjakannya?

As-Saddi telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Apakah manusia itu menyangka bahwa sekali-kali tiada seorang pun yang berkuasa atasnya? (Al-Balad: 5) Sebagai jawabannya ada, yaitu Allah Swt.

Dia mengatakan, “Aku telah menghabiskan harta yang banyak.” (Al-Balad: 6)

Yakni anak Adam mengatakan bahwa dirinya telah membelanjakan harta yang banyak jumlahnya  menurut Mujahid, Al-Hasan, Qatadah. As-Saddi, dan yang lainnya.

Apakah dia menyangka bahwa tiada seorang pun yang melihatnya. (Al-Balad: 7)

Mujahid mengatakan bahwa apakah dia mengira bahwa Allah Swt. tidak melihatnya? Hal yang sama dikatakan oleh yang lainnya dari kalangan ulama Salaf.

Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata. (Al-Balad: 8)

yang dengan kedua matanya itu dia melihat.

dan lidah. (Al-Balad: 9)

yang dengannya dia berbicara, lalu dapat mengungkapkan apa yang terkandung di dalam hatinya.

dan dua buah bibirnya. (Al-Balad: 9)

yang membantunya untuk berbicara dan makan serta menjadi anggota yang memperindah penampilan wajah dan mulutnya.

Al-Hafiz Ibnu Asakir di dalam auto biografi Abur Rabi’ Ad-Dimasyqi telah meriwayatkan dari Mak-hul, bahwaNabi ﷺ pernah bersabda:

يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى يَا ابْنَ آدَمَ قَدْ أَنْعَمْتُ عَلَيْكَ نِعَمًا عِظَامًا لَا تُحْصِي عَدَدَهَا وَلَا تُطِيقُ شُكْرَهَا، وَإِنَّ مِمَّا أَنْعَمْتُ عَلَيْكَ أَنْ جَعَلْتُ لَكَ عَيْنَيْنِ تَنْظُرُ بِهِمَا وَجَعَلْتُ لَهُمَا غِطَاءً، فَانْظُرْ بِعَيْنَيْكَ إِلَى مَا أَحْلَلْتُ لَكَ، وَإِنْ رَأَيْتَ مَا حَرَّمْتُ عَلَيْكَ فَأَطْبِقْ عَلَيْهِمَا غِطَاءَهُمَا، وَجَعَلْتُ لَكَ لِسَانًا وَجَعَلْتُ لَهُ غُلَافًا فَانْطِقْ بِمَا أَمَرْتُكَ وَأَحْلَلْتُ لك، فإن عرض عليك مَا حَرَّمْتُ عَلَيْكَ فَأَغْلِقْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ. وَجَعَلْتُ لَكَ فَرْجًا وَجَعَلْتُ لَكَ سِتْرًا، فَأَصِبْ بِفَرْجِكَ ما أحللت لك، فإن عرض عليك ما حرمت عليك فأرخ عليك سترك، ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَا تَحْمِلُ سُخْطِي وَلَا تطيق انتقامي

Allah SWT. berfirman, “Hai anak Adam, Aku telah memberikan nikmat-nikmat yang besar kepadamu, yang tidak dapat kamu hitung bilangannya, dan kamu tidak akan mampu mensyukurinya. Dan sesungguhnya di antara nikmat yang Aku berikan kepadamu ialah Aku jadikan bagimu dua buah mata yang dengan keduanya kamu dapat melihat, dan Aku jadikan bagi keduanya kelopak. Maka gunakanlah keduanya untuk memandang apa yang telah Kuhalalkan bagimu, dan jika kamu melihat apa yang telah Kuharamkan bagimu, maka katupkanlah kedua kelopaknya. Dan Aku telah menjadikan bagimu lisan dan Kujadikan pula baginya penutupnya. Maka berbicaralah dengan apa yang telah Kuperintahkan kepadamu dan apa yang telah Kuhalalkan bagimu. Dan jika ditawarkan kepadamu apa yang telah Kuharamkan bagimu, maka tutuplah lisanmu (diamlah). Dan Aku telah menjadikan kemaluan bagimu, dan Aku telah menjadikan pula baginya penutup, maka gunakanlah kemaluanmu terhadap apa yang telah Kuhalalkan bagimu. Dan jika ditawarkan kepadamu apa yang telah Kuharamkan bagimu, maka turunkanlah penutupnya. Hai anak Adam, sesungguhnya Engkau tidak akan mampu menanggung murka-Ku dan tidak akan mampu menahan pembalasan (azab)-Ku.”

Firman Allah Swt:

Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan. (Al-Balad: 10)

Yakni dua jalan. Sufyan As-Sauri telah meriwayatkan dari Asim, dari Zur, dari Abdullah ibnu Mas’ud sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan. (Al-Balad: 10) Artinya kebaikan dan keburukan. Hal yang sama telah diriwayatkan dari Ali, Ibnu Abbas, Mujahid, Ikrimah, Abu Wa-il, Abu Saleh, Muhammad ibnu Ka’b, Ad-Dahhak, Ala Al-Khurrasani, dan lain-lainnya.

Abdullah ibnu Wahb mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ibnu Lahi’ah, dari Yazid ibnu Abu Habib, dari Sinan ibnu Sa’d, dari Anas ibnu Malik yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda,

هُمَا نَجْدَانِ فَمَا جَعَلَ نَجْدَ الشَّرِّ أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنْ نَجْدِ الْخَيْرِ

Keduanya adalah dua jalan, lalu apakah yang menyebabkan jalan keburukan lebih disukai olehmu daripada jalan kebaikan?

Sinan Ibnu Sa’d meriwayatkan hadis ini secara tunggal, dan dikatakan pula bahwa dia adalah Sa’d ibnu Sinan, dinilai siqah oleh Ibnu Mu’in. Imam Ahmad, Imam Nasai, dan Al-Juzjani mengatakan bahwa hadisnya tidak dapat diterima. Imam Ahmad mengatakan bahwa ia meninggalkan hadisnya karena hadisnya idtirab. Dan dia telah meriwayatkan lima belas hadits yang semuanya berpredikat munkar. Imam Ahmad mengatakan bahwa ia tidak mengenal suatu hadits pun dari hadisnya yang menyerupai dengan hadis Al-Hasan Al-Basri dan tidak pula menyerupai hadits Anas ibnu Malik

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ya’qub, telah menceritakan kepada kami Ibnu Aliyyah, dari Abu Raja yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Al-Hasan mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan. (Al-Balad: 10) Telah diceritakan kepada kami bahwa Nabi ﷺ pernah bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّهُمَا النَّجْدَانِ نَجْدُ الْخَيْرِ وَنَجْدُ الشَّرِّ، فَمَا جَعَلَ نَجْدَ الشَّرِّ أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنْ نَجْدِ الْخَيْرِ

Hai manusia, sesungguhnya keduanya adalah dua jalan, yaitu jalan kebaikan dan jalan keburukan, maka apakah yang membuat jalan keburukan lebih disukai olehmu daripada jalan kebaikan?

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Habib ibnusy Syahid, Ma’mar, Yunus ibnu Ubaid dan Abu Wahb, dari Al-Hasan secara mursal. Hal yang sama telah diriwayatkan dari Qatadah secara mursal.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu lsam Al-Ansari, telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad Az-Zubairi, telah menceritakan kepada kami Isa ibnu Affan, dari ayahnya, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman Allah Swt: Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan. (Al-Balad: 10) Yakni kedua Puting susu.

Telah diriwayatkan pula dari Ar-Rabi’ ibnu Khaisam, Qatadah, dan Abu Hazim hal yang semisal. Ibnu Jarir meriwayatkannya dari Abu Kuraib, dari Waki, dari Isa ibnu Aqqal dengan sanad yang sama. Kemudian Ibnu Jarir mengatakan bahwa yang benar adalah pendapat yang pertama. Hal ini semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya dalam ayat yang lain, yaitu:

إِنَّا خَلَقْنَا الْإِنْسانَ مِنْ نُطْفَةٍ أَمْشاجٍ نَبْتَلِيهِ فَجَعَلْناهُ سَمِيعاً بَصِيراً إِنَّا هَدَيْناهُ السَّبِيلَ إِمَّا شاكِراً وَإِمَّا كَفُوراً

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes air mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir. (Al-Insan: 2-3)

Hanya Allah Yang Maha Mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

.

««««« juz 29 «««««                        ««««««« juz 30 «««««

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here