Golongan Kanan dan Golongan Kiri

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Balad Ayat 17-20

0
408

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Balad Ayat 17-20. Orang-orang yang beriman dan saling berpesan adalah golongan kanan dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami adalah golongan kiri.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

ثُمَّ كَانَ مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا بِالْمَرْحَمَةِ -١٧- أُوْلَئِكَ أَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ -١٨- وَالَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِنَا هُمْ أَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ -١٩- عَلَيْهِمْ نَارٌ مُّؤْصَدَةٌ -٢٠

Dan dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang. Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan ini) adalah golongan kanan. Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, mereka itu adalah golongan kiri. Mereka berada dalam neraka yang ditutup rapat. (Q.S. Al Balad : 17-20)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Tsumma kāna (kemudian ia pun), yakni selain itu, ia pun ….

Minal ladzīna āmanū (termasuk orang-orang yang beriman) kepada Nabi Muhammad ﷺ dan al-Quran, yang keimanannya semata-mata hanya antara mereka dan Rabb-nya.

Wa tawāshau (serta saling berpesan), yakni saling menganjurkan.

Bish shabri (untuk bersabar) dalam menjalankan kewajiban-kewajiban dari Allah Ta‘ala dan dalam menghadapi kesulitan.

Wa tawāshau (dan saling berpesan), yakni saling menganjurkan.

Bil marhamah (untuk berkasih sayang), yakni untuk menyayangi orang-orang fakir dan miskin.  Mereka adalah orang-orang golongan kanan.

Ulā-ika (mereka), yakni yang memiliki sifat seperti itu.

Ash-hābul maimanah (adalah orang-orang golongan kanan), yakni para penghuni surga yang kitabnya diberikan dari sebelah kanan mereka.  Sedangkan orang-orang yang kafir kepada Ayat-ayat Kami, mereka adalah golongan kiri.

Wal ladzīna kafarū bi āyātinā (sedangkan orang-orang yang kafir kepada Ayat-ayat Kami), yakni kepada Nabi Muhammad ﷺ dan Al-Quran. Mereka adalah Kaldah dan kawan-kawannya.

Hum ash-hābul masy-amah (mereka adalah golongan kiri), yakni para penghuni neraka yang kitabnya diberikan dari sebelah kiri mereka.  Untuk mereka adalah neraka yang terkunci.

‘Alaihim nārum mu’shadah (untuk mereka adalah neraka yang terkunci), yakni tertutup rapat.

.

Disebutkan dalam Tafsir Jalalain, (Kemudian dia adalah) lafal ayat ini di’athafkan kepada lafal Iqtahama; dan lafal Tsumma menunjukkan makna urutan penyebutan atau Tartiibudz Dzikr. Artinya dia sewaktu menempuh jalan yang sulit itu (termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan) yakni sebagian di antara mereka berpesan kepada sebagian yang lain (untuk bersabar) di dalam menjalankan amal ketaatan dan menjauhi perbuatan kemaksiatan (dan saling berpesan untuk berkasih sayang) terhadap semua makhluk.

(orang-orang kiri itu berada dalam neraka yang ditutup rapat) dapat dibaca Mu’shadah dan Muushadah, artinya neraka yang tertutup rapat.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi tafsiril Qur’an

  1. Kemudian menjadi termasuk orang-orang yang beriman[15] dan saling berpesan untuk bersabar[16] dan saling berpesan untuk berkasih sayang[17].

[15] Dengan hati mereka kepada semua yang wajib diimani, dan mengerjakan amal saleh dengan anggota badan mereka baik yang berupa ucapan maupun perbuatan; yang wajib maupun yang sunat.

[16] Untuk tetap taat kepada Allah, menjauhi maksiat dan menerima tanpa keluh kesah takdir Allah yang perih serta melakukan semua itu dengan lapang dada dan jiwa yang tenang.

[17] Kepada makhluk, seperti memberi orang yang membutuhkan, mengajarkan orang yang tidak tahu, membantu mereka untuk maslahat agama dan dunia mereka, mencintai kebaikan untuk mereka seperti mencintai kebaikan untuk dirinya sendiri, membenci sesuatu yang tidak disukai menimpa mereka sebagaimana ia membenci hal itu menimpa dirinya.

  1. Mereka (yang telah disebutkan sifat-sifatnya itu) adalah golongan kanan[18].

[18] Karena mereka mengerjakan perintah-perintah Allah, baik yang terkait dengan hak-hak-Nya maupun yang terkait dengan hak hamba-hamba-Nya, serta mereka tinggalkan larangan Allah Subhaanahu wa Ta’aala. Inilah tanda kebahagiaan dan keberuntungan.

  1. Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami[19], mereka itu adalah golongan kiri.

[19] Menolak perkara-perkara yang telah disebutkan; tidak beriman kepada Allah dan tidak beramal saleh serta tidak sayang kepada hamba-hamba Allah.

  1. Mereka berada dalam neraka yang ditutup rapat[20].

 [20] Sehingga mereka tidak dapat keluar darinya dan berada dalam kesempitan, penderitaan dan siksa, wal ‘iyaadz billah.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Swt.:

Dan dia termasuk orang-orang yang beriman. (Al-Balad: 17)

Yaitu selain dari semua sifat tersebut yang baik lagi suci, dia adalah seorang yang mukmin hatinya dan mengharapkan pahala amalnya itu hanya karena Allah Swt. Sebagaimana yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

وَمَنْ أَرادَ الْآخِرَةَ وَسَعى لَها سَعْيَها وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولئِكَ كانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُوراً

Dan barang siapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh, sedangkan ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik. (Al-Isra: 19)

Dan firman Allah Swt.

مَنْ عَمِلَ صالِحاً مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثى وَهُوَ مُؤْمِنٌ

Dan barang siapa mengerjakan amal yang saleh, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan ia dalam keadaan beriman. (Al-Mukmin: 40), hingga akhir ayat.

Adapun firman Allah Swt.:

dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang. (Al-Balad: 17)

Yakni dia termasuk orang-orang mukmin yang gemar mengerjakan amal saleh lagi saling berpesan untuk bersabar dalam menghadapi gangguan manusia dan tetap bersikap penyayang kepada mereka, sebagaimana yang disebutkan di dalam sebuah hadis:

الْمُتَوَاصِينَ بِالصَّبْرِ عَلَى أَذَى النَّاسِ وَعَلَى الرَّحْمَةِ بِهِمْ كَمَا جَاءَ فِي الحديث الشريف الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ، ارْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمُكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Tuhan Yang Maha Penyayang. Sayangilah orang-orang yang ada di bumi, maka orang-orang yang ada di langit akan menyayangimu.

Di dalam hadits lain disebutkan:

لَا يَرْحَمُ اللَّهُ مَنْ لَا يَرْحَمُ النَّاسَ

Allah tidak menyayangi orang yang tidak menyayangi manusia.

Abu Daud mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar ibnu Abu Syaibah, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Abu Najih, dari Ibnu Amir, dari Abdullah ibnu Amr yang meriwayatkan hadits ini:

مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيَعْرِفْ حَقَّ كَبِيرِنَا فَلَيْسَ مِنَّا

Barang siapa yang tidak menyayangi orang-orang kecil kami dan tidak menghormati hak orang-orang besar kami, maka dia bukan dari golongan kami.

Firman Allah Swt.:

Mereka adalah golongan kanan. (Al-Balad: 18)

Yaitu orang-orang yang memiliki sifat-sifat tersebut di atas adalah golongan kanan. Kemudian disebutkan dalam firman berikutnya:

Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, mereka itu adalah golongan kiri. (Al-Balad: 19)

Yakni termasuk golongan kiri.

Mereka berada dalam neraka yang ditutup rapat. (Al-Balad: 20)

Mereka dimasukkan ke dalamnya, lalu ditutup rapat-rapat sehingga tidak ada jalan selamat bagi mereka dan tidak pula ada jalan keluar bagi mereka darinya.

Abu Hurairah, Ibnu Abbas, Ikrimah, Sa’id ibnu Jubair, Mujahid, Muhammad ibnu Ka’b Al-Qurazi, Atiyyah Al-Aufi, Al-Hasan, Qatadah, dan As-Saddi telah mengatakan sehubungan dengan makiia firman Allah Swt.: yang ditutup rapat. (Al-Balad: 20) Maksudnya, ditutup rapat; Ibnu Abbas mengatakan bahwa semua pintunya ditutup. Mujahid mengatakan bahwa asuddul bab dengan dialek Quraisy artinya aku menutup pintu. Hal ini kelak akan dijelaskan hadis yang menerangkannya dalam tafsir surat Al-Humazah.

Ad-Dahhak mengatakan bahwa firman-Nya: yang ditutup rapat. (Al-Balad: 20) Yakni diberi tembok di sekelilingnya, tidak ada jalan keluar darinya.

Qatadah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: yang ditutup rapat. (Al-Balad: 20) Yaitu tertutup rapat, sehingga tidak ada cahaya, tidak ada celah, dan tidak ada pula jalan keluar darinya untuk selama-lamanya.

Abu Imran Al-Juni mengatakan bahwa apabila hari kiamat terjadi, maka Allah Swt. memerintahkan kepada Malaikat Zabaniyah untuk menghimpunkan semua orang yang bertindak sewenang-wenang dan semua setan serta semua orang yang dahulunya ketika di dunia kejahatan-nya ditakuti oleh manusia. Lalu mereka diikat dengan rantai besi. Kemudian Allah memerintahkan (kepada malaikat-Nya) untuk memasukkan mereka ke dalam neraka Jahanam, setelah itu neraka Jahanam ditutup rapat-rapat menyekap mereka di dalamnya.

Abu Imran Al-Juni melanjutkan, bahwa maka demi Allah, telapak kaki mereka sama sekali tidak dapat menetap selama-lamanya. Dan demi Allah, mereka di dalam neraka Jahanam sama sekali tidak dapat melihat langit selama-lamanya. Dan demi Allah, kelopak mata mereka sama sekali tidak dapat dikatupkan dan tidak dapat merasakan tidur untuk selama-lamanya. Dan demi Allah, mereka di dalamnya sama sekali tidak pernah merasakan sejuknya minuman untuk selama-lamanya. Demikianiah menurut apa yang telah diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

.

««««« juz 29 «««««                        ««««««« juz 30 «««««

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here