Keadaan Manusia yang Tertipu Oleh Hartanya

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Lail Ayat 11-16

0
223

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Lail Ayat 11-16. Keadaan sebagian manusia yang tertipu oleh hartanya dan peringatan kepada penduduk Mekah dengan azab Allah.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَمَا يُغْنِي عَنْهُ مَالُهُ إِذَا تَرَدَّى -١١- إِنَّ عَلَيْنَا لَلْهُدَى -١٢- وَإِنَّ لَنَا لَلْآخِرَةَ وَالْأُولَى -١٣- فَأَنذَرْتُكُمْ نَاراً تَلَظَّى -١٤- لَا يَصْلَاهَا إِلَّا الْأَشْقَى -١٥- الَّذِي كَذَّبَ وَتَوَلَّى -١٦

Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila dia telah binasa. Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk, dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akhirat dan dunia. Maka Kami memperingatkan kamu dengan neraka yang menyala-nyala. Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka, yang mendustakan (kebenaran) dan berpaling (dari iman). (Q.S. Al-Lail : 11-16)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wa mā yughnī ‘anhu māluhū (dan hartanya tiadalah bermanfaat baginya), yakni harta yang dia kumpulkan ketika di dunia.

Idzā taraddā (apabila ia telah binasa), yakni apabila ia telah mati. Menurut pendapat yang lain, apabila ia telah terjerumus ke dalam neraka.

Innā ‘alainā lal hudā (sesungguhnya tugas Kami-lah Memberi petunjuk), yakni Memberi penjelasan ihwal kebaikan dan keburukan.

Wa inna lanā lal ākhirata wal ūlā (dan sesungguhnya Kepunyaan Kami-lah akhirat dan dunia itu), yakni pahala dunia dan akhirat. Menurut yang lain, Kepunyaan Kami-lah akhirat dan dunia. Di akhirat berupa pahala dan kemuliaan, sedangkan di dunia berupa makrifah dan taufik.

Fa aηdzartukum (maka Kami Memperingatkan kalian), yakni Aku Menakut-nakuti kalian, hai penduduk Mekah, dengan al-Quran.

Nāraη talazh-zhā (dengan neraka yang menyala-nyala), yakni yang berkobar-kobar.

Lā yashlāhā (tidak ada yang memasukinya), yakni masuk ke dalam neraka.

Illal asyqā (kecuali orang yang paling celaka), yakni orang yang celaka menurut Ilmu Allah Ta‘ala.

Alladzī kadz-dzaba (yang mendustakan) tauhid. Ada yang berpendapat, melalaikan ketaatan kepada Allah Ta‘ala.

Wa tawallā (dan berpaling) dari iman. Menurut yang lain, dari tobat.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Dan tiadalah) huruf Maa di sini bermakna Nafi yakni tidaklah (berguna bagi dirinya harta miliknya apabila ia telah terjerumus) ke dalam neraka.
  2. (Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk) untuk membedakan antara jalan hidayah dan jalan kesesatan; dimaksud supaya ia mengerjakan perintah Kami dengan menempuh jalan yang pertama, dan ia Kami larang dari menempuh jalan yang kedua.
  3. (Dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akhirat dan dunia) maka barang siapa yang mencari keduanya tanpa meminta kepada Kami berarti dia telah sesat jalan.
  4. (Maka Kami memperingatkan kalian) maksudnya Kami pertakuti kalian hai penduduk Mekah (dengan neraka yang menyala-nyala) asal kata Talazhzhaa adalah Tatalazhzhaa, kemudian salah satu di antara kedua huruf Ta dibuang, sehingga jadilah Talazhzhaa. Akan tetapi ada juga suatu qiraat yang membaca sesuai dengan huruf asalnya.
  5. (Tidak ada yang masuk ke dalamnya) atau memasukinya (kecuali orang yang celaka) sekalipun lafal Al-Asyqaa ini menunjukkan arti yang paling celaka, akan tetapi makna yang dimaksud ialah orang yang celaka.
  6. (Yang mendustakan) Nabi saw. (dan berpaling) dari iman. Pengecualian yang terdapat pada ayat sebelum ayat ini merupakan takwil dari makna yang terkandung di dalam ayat lainnya yaitu, firman-Nya, “dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (Q.S. An-Nisa, 48) Dengan demikian berarti makna yang dimaksud dengan masuk neraka pada ayat 15 tadi adalah masuk untuk selama-lamanya, yakni untuk menjadi penghuni yang abadi.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa. (Al-Lail: 11)

Mujahid mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah bila yang bersangkutan mati. Abu Saleh dan Malik telah meriwayatkan dari Zaid ibnu Aslam, bahwa makna yang dimaksud ialah bila’ orang yang bersangkutan telah dilemparkan ke dalam neraka.

Qatadah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk. (Al-Lail: 12) Yakni menerangkan yang halal dan yang haram.

Selain Qatadah mengatakan bahwa barang siapa yang menempuh jalan petunjuk, akan sampailah ia kepada Allah.

Dan berpendapat demikian menjadikan ayat ini semakna dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

وَعَلَى اللَّهِ قَصْدُ السَّبِيلِ

Dan hak bagi Allah (menerangkan) jalan yang lurus. (An-Nahl: 9)

Artinya, jalan yang lurus itu akan menghantarkan kepada Allah. Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir.

Firman Allah Swt:

dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akhirat dan dunia. (Al-Lail: 13)

Yaitu semuanya adalah milik Kami, dan Akulah yang mengatur pada keduanya.

Maka Kami memperingatkan kamu dengan neraka yang menyala-nyala. (Al-Lail: 14)

Mujahid mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah yang apinya bergejolak.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja’far, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari  Samak ibnu Harb, bahwa ia pernah mendengar An-Nu’man ibnu Basyir mengatakan dalam khotbahnya, bahwa aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda dalam khotbahnya:

أُنْذِرُكُمُ النَّارَ [أَنْذَرْتُكُمُ النَّارَ، أَنْذَرْتُكُمُ النَّارَ] حَتَّى لَوْ أَنَّ رَجُلًا كَانَ بِالسُّوقِ لَسَمِعَهُ مِنْ مَقَامِي هَذَا. قَالَ: حَتَّى وَقَعَتْ خَميصة كَانَتْ عَلَى عَاتِقِهِ عِنْدَ رِجْلَيْهِ

Aku memperingatkan kalian dengan neraka! Yakni dengan suara yang lantang; sehingga andaikata seseorang berada di pasar, tentulah dia mendengar suara itu dari tempat dudukku sekarang ini. An-Nu’man melanjutkan, bahwa sehingga selendang yang beliau kenakan di pundaknya terjatuh ke kakinya.

Imam Ahmad mengatakan telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja’far, telah menceritakan kepadaku Syu’bah alias Abu Ishaq; ia pernah mendengar An-Nu’man ibnu Basyir berkata dalam khotbahnya, bahwa ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ أَهْوَنَ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ رجلٌ تُوضَعُ فِي أَخْمَصِ قَدَمَيْهِ جَمْرَتَانِ يَغْلِي مِنْهَا دِمَاغُهُ

Sesungguhnya ahli neraka yang paling ringan siksaannya di hari kiamat ialah seorang lelaki yang diletakkan dua buah bara api neraka di kedua telapak kakinya, yang karenanya otaknya mendidih.

Imam Bukhari telah meriwayatkan hadis ini.

Imam Muslim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar ibnu Abu Syaibah, telah menceritakan kepada kami Abu Usamah, dari Al-A’masy, dari Abu Ishaq, dari An-Nu’man ibnu Basyir yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

إِنَّ أَهْوَنَ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا مَنْ لَهُ نَعْلَانِ وَشِرَاكَانِ مِنْ نَارٍ يَغلي مِنْهُمَا دِمَاغُهُ كَمَا يَغْلي المِرْجَل، مَا يَرَى أَنَّ أَحَدًا أَشَدَّ مِنْهُ عَذَابًا، وَإِنَّهُ لَأَهْوَنُهُمْ عَذَابًا

Sesungguhnya ahli neraka yang paling ringan siksanya ialah seseorang yang mengenakan dua terompah dan dua talinya dari api, yang karenanya ia mendidih sebagaimana panci berisi air mendidih. Seakan-akan bila dilihat tiada seorangpun yang lebih berat siksanya daripada dia, padahal sesungguhnya dia adalah ahli neraka yang paling ringan siksanya.

Firman Allah Swt:

Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka. (Al-Lail: 15)

Yaitu tiada yang dijerumuskan ke dalamnya sehingga diliputi oleh api neraka dari segala penjurunya kecuali hanya orang yang paling celaka. Kemudian dijelaskan oleh firman berikutnya:

yang mendustakan. (Al-Lail: 16)

Maksudnya, hatinya mendustakan hal tersebut.

dan berpaling. (Al-Lail: 16)

Yakni semua anggota tubuhnya tidak mau mengamalkannya.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hasan Ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Sa’id Al-Maqbari, dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwaRasulullah ﷺ telah bersabda:

لَا يَدْخُلُ النَّارَ إِلَّا شَقِيٌّ. قِيلَ: وَمَنِ الشَّقِيُّ؟ قَالَ: الَّذِي لَا يَعْمَلُ بِطَاعَةٍ، وَلَا يَتْرُكُ لِلَّهِ مَعْصِيَةً

Tiada yang masuk neraka selain orang yang celaka. Ketika ditanyakan kepada beliau ”Siapakah orang yang celaka itu?” Maka beliau menjawab: Orang yang tidak mau mengamalkan ketaatan kepada Allah dan tidak mau meninggalkan perbuatan durhaka kepada-Nya.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yunus dan Syuraih, keduanya mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Falih, dari Hilal ibnu Ali, dari Ata ibnu Yasar, dari Hurairah yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

كُلُّ أُمَّتِي تَدْخُلُ الْجَنَّةَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَّا مَنْ أَبَى. قَالُوا: وَمَنْ يَأْبَى يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى

Semua umatku akan masuk surga di hari kiamat nanti, terkecuali orang yang membangkang. Ketika mereka bertanya, “Siapakah orang yang membangkang itu, wahai Rasulullah?” Maka beliau menjawab: Barang siapa yang taat kepadaku, niscaya masuk surga; dan barang siapa durhaka kepadaku, berarti dia membangkang.

Imam Bukhari meriwayatkan hadis ini dari Muhammad ibnu Sinan, dari Falih dengan sanad yang sama.

Hanya Allah Yang Maha Mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

.

««««« juz 29 «««««                        ««««««« juz 30 «««««

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here