Diciptakan dalam Bentuk yang Sebaik-baiknya

Tafsir Al-Qur’an: Surah At-Tiin

0
151

Tafsir Al-Qur’an: Surah At-Tiin (Buah Tin). Surah ke-95. Terdiri dari 8 ayat. Turun sesudah Surah Al-Buruj. Ayat 1-5: Manusia diciptakan Allah Subhaanahu wa Ta’aala dalam bentuk yang sebaik-baiknya.

Malik dan Syu’bah telah meriwayatkan dari Adiy Ibnu Sabit, dari Al-Barra ibnu Azib, bahwa Nabi ﷺ acapkali membaca surah Wat Tini Waz Zaituni dalam shalat perjalanannya, dan aku belum pernah mendengar seseorang yang lebih indah suara dan bacaannya daripada beliau ﷺ

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ -١- وَطُورِ سِينِينَ -٢- وَهَذَا الْبَلَدِ الْأَمِينِ -٣- لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ -٤- ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ -٥

Demi (buah) tin dan (buah) zaitun, dan demi Bukit Sinai, dan demi kota (Mekah) ini yang aman, sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka). (Q.S. At Tiin : 1-5)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wat tīni waz zaitūn (demi [buah] tin dan [buah] zaitun), yakni Allah Ta‘ala Bersumpah dengan buah tin kalian ini, dan dengan buah zaitun kalian ini. Menurut satu pendapat, at-Tin dan az-Zaitun adalah dua buah masjid yang terdapat di Syam. Ada pula yang berpendapat, at-Tin dan az-Zaitun adalah dua buah gunung yang terdapat di Syam. At-Tin adalah gunung tempat berdirinya Baitul Maqdis, sedang az-Zaitun adalah gunung tempat di mana kota Damaskus berada.   dan demi Gunung Sinai,

Wa thūri sīnīn (dan demi Gunung Sinai), yakni dan Allah Ta‘ala Bersumpah dengan Gunung Tsubair, yaitu sebuah gunung yang terletak di daerah Madyan. Di gunung itulah Allah Ta‘ala Berbicara dengan Nabi Musa a.s.. Dalam dialek an-Nabthi, setiap jabal (gunung) disebut ath-thūr. Dan kata sīnīn adalah gunung yang pepohonannya bagus.

Wa hādzal baladil amīn (dan demi negeri ini yang aman), yakni dan Allah Ta‘ala juga Bersumpah dengan negeri ini, negeri Mekah. Siapa pun yang memasukinya maka ia akan aman dari huru-hara.

La qad khalaqnal iηsāna (sesungguhnya Kami telah Menciptakan manusia) yang kafir, yaitu al-Walid bin al-Mughirah. Ada yang mengatakan, Kaldah bin Usaid.

Fī ahsani taqwīm (dalam sosok yang sebaik-baiknya), yakni makhluk yang paling seimbang. Dan inilah yang menjadi tujuan sumpah di atas.

Tsumma radadnāhu (kemudian Kami Kembalikan ia) di akhirat.

Asfala sāfilīn (ke tempat yang serendah-rendahnya), yakni ke dalam neraka. Menurut satu pendapat,

la qad khalaqnal iηsāna (sesungguhnya Kami telah Menciptakan manusia), yakni anak Adam;

fī ahsani taqwīm (dalam sosok yang sebaik-baiknya), yakni dalam bentuk yang sebaik-baiknya manakala masa mudanya telah sempurna;

tsuma radadnāhu asfala sāfilīn (kemudian Kami Kembalikan ia ke tempat yang serendah-rendahnya), yakni ke usia pikun. Pada usia itu kebaikannya tidak akan dicatat lagi, kecuali apa yang telah ia perbuat pada masa muda di saat ia masih kuat.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Demi Tin dan Zaitun) keduanya adalah nama buah, atau dapat juga keduanya diartikan nama dua buah gunung yang menumbuhkan kedua buah tersebut.
  2. (Dan demi bukit Sinai) nama sebuah bukit tempat sewaktu Allah swt. berfirman kepada Nabi Musa. Arti lafal Siiniina ialah yang diberkahi atau yang baik karena memiliki banyak pohon yang menghasilkan buah.
  3. (Dan demi kota ini yang aman) yaitu kota Mekah, dinamakan kota aman karena orang-orang yang tinggal di dalamnya merasa aman, baik pada zaman jahiliah maupun di zaman Islam.
  4. (Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia) artinya semua manusia (dalam bentuk yang sebaik-baiknya) artinya baik bentuk atau pun penampilannya amatlah baik.
  5. (Kemudian Kami kembalikan dia) maksudnya sebagian di antara mereka (ke tempat yang serendah-rendahnya) ungkapan ini merupakan kata kiasan bagi masa tua, karena jika usia telah lanjut kekuatan pun sudah mulai melemah dan pikun. Dengan demikian ia akan berkurang dalam beramal, berbeda dengan sewaktu masih muda; sekalipun demikian dalam hal mendapat pahala ia akan mendapat imbalan yang sama sebagaimana sewaktu ia beramal di kala masih muda.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi tafsiril Qur’an

  1. Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun[1],

[1] Yang dimaksud dengan Tin menurut sebagian mufassir ialah tempat tinggal Nabi Nuh, yaitu Damaskus yang banyak pohon Tin; dan Zaitun ialah Baitul Maqdis yang banyak tumbuh pohon Zaitun. Allah Subhaanahu wa Ta’aala bersumpah dengan kedua pohon itu karena banyaknya manfaat pada pohon dan buahnya, dan karena biasa tumbuh di negeri Syam; negeri tempat kenabian Isa putera Maryam’alaihis salam.

  1. demi gunung Sinai[2],

[2] Bukit Sinai adalah tempat Nabi Musa ‘alaihis salam diajak bicara oleh Allah Subhaanahu wa Ta’aala dan menerima wahyu dari-Nya. Sinin artinya yang diberkahi atau indah karena pohon-pohon yang berbuah.

  1. dan demi negeri (Mekah) yang aman ini[3],

[3] Yang merupakan negeri tempat kenabian Muhamad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Subhaanahu wa Ta’aala bersumpah dengan tempat-tempat yang mulia tersebut yang dari sana dibangkitkan nabi-nabi yang utama dan mulia. Isi sumpahnya adalah apa yang disebutkan dalam ayat selanjutnya.

  1. Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya[4],

[4] Yakni sempurna dan seimbang fisiknya serta sesuai letak anggota badannya. Namun sayang, nikmat yang besar ini tidak disyukuri oleh kebanyakan manusia. Kebanyakan mereka berpaling dari sikap syukur, sibuk dengan permainan dan yang melalaikan, dan lebih senang dengan perkara yang hina dan rendah, sehingga Allah Subhaanahu wa Ta’aala mengembalikan mereka ke tempat yang paling rendah, yaitu neraka yang merupakan tempat para pelaku maksiat yang durhaka.

  1. kemudian Kami kembalikan Dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka)[5],

[5] Ada pula yang menafsirkan dengan masa tua, pikun dan lemah.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Demi Tin dan Zaitun (At-Tin: 1)

Ulama tafsir berbeda pendapat sehubungan dengan tafsir surah ini, ada beberapa pendapat yang cukup banyak di kalangan mereka mengenainya. Menurut suatu pendapat, yang dimaksud dengan tin adalah sebuah masjid di kota Dimasyq. Menurut pendapat yang lainnya adalah buah tin. Dan menurut pendapat yang lainnya lagi adalah nama sebuah gunung penuh dengan buah tin.

Al-Qurtubi mengatakan bahwa tin adalah nama masjid As-habul Kahfi. Dan telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas oleh Al-Aufi, bahwa tin di sini adalah masjid Nabi Nuh yang ada di puncak Bukit Al-Judi. Mujahid mengatakan bahwa makna yang dimaksud adalah pohon tin kalian ini.

Sedangkan mengenai zaitun, menurut Ka’bul Ahbar, Qatadah, Ibnu Zaid, dan yang lainnya, hal ini adalah nama sebuah masjid yang terletak di kota Yerussalem (Baitul Maqdis). Mujahid dan Ikrimah mengatakan bahwa makna yang dimaksud adalah buah zaitun yang kalian peras ini.

dan demi Bukit Sinai. (At-Tin: 2)

Ka’bul Ahbar dan yang lainnya yang bukan hanya seorang mengatakan bahwa ini adalah nama bukit yang di tempat itu Allah berbicara langsung kepada Musa a.s.

dan demi kota (Mekah) ini yang aman. (At-Tin: 3)

Makna yang dimaksud adalah kota Mekah, menurut Ibnu Abbas, Mujahid, Ikrimah, Al-Hasan, Ibrahim An-Nakha’i, Ibnu Zaid, dan Ka’bul Ahbar; tiada perbedaan pendapat di kalangan mereka dalam hal ini.

Sebagian para imam mengatakan bahwa ketiganya merupakan nama tiga tempat yang pada masing-masingnya Allah telah mengutus seorang nabi dari kalangan Ulul ‘Azmi para pemilik syariat-syariat yang besar.

Yang pertama ialah tempat yang dipenuhi dengan tin dan zaitun, yaitu Baitul Maqdis, Allah telah mengutus Isa putra Maryam padanya. Yang kedua adalah Tur Sinai, yakni nama bukit yang padanya Allah berbicara langsung kepada Musa ibnu Imran. Dan yang ketiga ialah Mekah alias kota yang aman; yang barang siapa memasukinya, pasti dia dalam keadaan aman; di tempat inilah Allah Swt. mengutus Nabi Muhammad ﷺ.

Mereka mengatakan bahwa pada akhir kitab Taurat nama ketiga tempat ini disebutkan, “Allah datang dari Bukit Sinai, yakni tempat yang padanya Allah berbicara langsung kepada Musa a.s. ibnu Imran. Dan muncul di Sa’ir, nama sebuah bukit di Baitul Maqdis, yang padanya Allah mengutus Isa. Dan tampak di bukit-bukit Faran, yakni bukit-bukit Mekah yang darinya Allah Swt. mengutus Nabi Muhammad ﷺ.

Maka Allah Swt. menyebutkan nama-nama ketiga tempat itu seraya memberitakan tentang mereka yang diutus-Nya secara tertib dan menurut urutan zamannya. Untuk itulah hal ini berarti Allah bersumpah dengan menyebut yang mulia, lalu yang lebih mulia darinya, kemudian yang lebih mulia dari keseluruhannya.

sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. (At-Tin: 4)

Dan inilah subjek sumpahnya, yaitu bahwa Allah Swt. telah menciptakan manusia dalam bentuk yang paling baik dan rupa yang paling sempurna, tegak jalannya dan sempurna, lagi baik semua anggota tubuhnya.

Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya. (At-Tin: 5)

Yakni neraka, menurut Mujahid, Abul Aliyah, Al-Hasan, Ibnu Zaid, dan lain-lainnya. Yakni kemudian sesudah penciptaan yang paling baik lagi paling indah itu, tempat kembali mereka adalah ke neraka, jika mereka tidak taat kepada Allah dan tidak mengikuti rasul-rasul-Nya.

Untuk itulah maka disebutkan dalam firman berikutnya:  ….

.

««««« juz 29 «««««                        ««««««« juz 30 «««««

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here