Manusia yang Ingkar dan Bakhil

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al ‘Aadiyaat ayat 6-11

0
244

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al ‘Aadiyaat ayat 6-11. Sikap manusia yang ingkar kepada Tuhannya dan bakhil dengan hartanya.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

إِنَّ الْإِنسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌ -٦- وَإِنَّهُ عَلَى ذَلِكَ لَشَهِيدٌ -٧- وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ -٨- أَفَلَا يَعْلَمُ إِذَا بُعْثِرَ مَا فِي الْقُبُورِ -٩- وَحُصِّلَ مَا فِي الصُّدُورِ -١٠- إِنَّ رَبَّهُم بِهِمْ يَوْمَئِذٍ لَّخَبِيرٌ -١١

Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar (tidak bersyukur kepada Tuhannya), dan sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya, dan sesungguhnya cintanya kepada harta sangat berlebihan.  Maka tidakkah dia mengetahui apabila yang ada di dalam kubur dikeluarkan. dan apa yang tersimpan di dalam dada dilahirkan, sungguh Tuhan mereka pada hari itu Maha teliti terhadap keadaan mereka. (Q.S. Al-‘Adiyat : 6-11)

.

Dari Tafsir Ibnu Abbas

Innal iηsāna (sesungguhnya manusia), yakni manusia yang kafir: Qirth bin ‘Abdillah bin ‘Amr. Ada yang berpendapat, Abu Hubabah.

Li rabbihī la kanūd (benar-benar sangat ingkar kepada Rabb-nya), yakni benar-benar sangat kafir kepada Nikmat Rabb-nya, (penafsiran ini) berdasarkan dialek Kandah. Menurut satu pendapat, sangat durhaka kepada Rabb-nya, (penafsiran ini) berdasarkan dialek Khadlra Maut. Menurut pendapat yang lain, sangat bakhil, (penafsiran ini) berdasarkan dialek Bani Malik bin Kinanah. Dan apa pula yang berpendapat, al-kanūd adalah orang yang tidak memberi kepada pembantunya, membuat budaknya lapar, makan sendirian, dan tidak mau membantu orang yang ditimpa musibah di antara kaumnya sendiri.

Wa innahū ‘alā dzālika la syahīd (dan sesungguhnya Dia Maha menyaksikan hal itu), yakni sesungguhnya Allah Ta‘ala benar-benar Mencatat perbuatannya itu.

Wa innahū (dan sesungguhnya ia), yakni Qirth.

Li hubbil khairi la syadīd (sangat bakhil saking cintanya kepada harta), yakni ia sangat mencintai hartanya yang banyak dengan kecintaan yang luar biasa.

A fa lā ya‘lamu (maka tidakkah ia mengetahui), yakni tidakkah Qirth mengetahui. Menurut yang lain, tidakkah Abu Hubabah mengetahui.

Idzā bu‘tsira mā fil qubūr (apa yang ada di dalam kubur apabila dibangkitkan), yakni apabila orang-orang mati yang ada di dalam kubur dikeluarkan.

Wa hush-shila mā fish shudūr (dan dilahirkanlah apa yang ada di dalam dada), yakni dan diperlihatkan (semua) kebaikan, keburukan, kebakhilan, dan kedermawanan yang ada di dalam setiap hati.

Inna rabbahum bihim (sesungguhnya Rabb mereka terhadap mereka) dan perbuatan mereka.

Yauma-idzin (pada hari itu), yakni pada hari kiamat.

La khabīr (benar-benar Maha Tahu). 

.

Tafsir Hidayatul Insan bi tafsiril Qur’an

  1. Sungguh, manusia itu sangat ingkar, (tidak berterima kasih) kepada Tuhannya[3],

[3] Inilah isi sumpahnya, yaitu bahwa manusia benar-benar berat melakukan kebaikan yang menjadi kewajibannya kepada Tuhannya. Tabi’atnya berat memenuhi hak-hak secara sempurna yang menjadi kewajibannya, bahkan malas dan enggan mengeluarkan kewajibannya baik yang terkait dengan harta maupun perbuatan, kecuali orang yang Allah berikan hidayah, sehingga ia keluar dari sifat itu kepada sifat senang memenuhi hak-hak.

  1. dan sesungguhnya dia (manusia) menyaksikan (mengakui) keingkarannya[4],

[4] Yakni manusia mengakui sikapnya itu. Bisa juga kata “hu” di ayat tesebut kembalinya kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aala, sehingga artinya, “Sungguh, manusia itu sangat ingkar, (tidak berterima kasih) kepada Tuhannya, padahal Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyaksikannya.” Sehingga di dalamnya terdapat ancaman bagi orang yang ingkar kepada nikmat Tuhannya.

  1. dan sesungguhnya cintanya kepada harta benar-benar berlebihan[5].

[5] Sehingga ia menjadi bakhil dan membuatnya tidak memenuhi kewajibannya, mengutamakan hawa nafsunya daripada memenuhi hak Tuhannya. Ini semua tidak lain karena terbatas pandangannya hanya melihat dunia saja dan lalai terhadap akhirat. Oleh karena itulah, di ayat selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta’aala mendorongnya agar takut kepada hari akhirat.

  1. Maka tidakkah dia[6] mengetahui apabila apa yang di dalam kubur dikeluarkan[7],

[6] Orang yang tertipu ini.

[7] Yaitu orang-orang yang telah mati untuk dibangkitkan dan dikumpulkan.

  1. dan apa yang tersimpan di dalam dada[8] dilahirkan?

[8] Seperti kekufuran dan keimanan, niat yang buruk dan niat yang baik

  1. Sungguh, Tuhan mereka pada hari itu Mahateliti terhadap keadaan mereka[9].

[9] Dia melihat amal mereka yang tampak maupun yang tersembunyi, yang samar maupun yang jelas dan akan memberikan balasan terhadapnya. Dikhususkan dengan ‘pada hari itu’ meskipun sesungguhnya Allah Subhaanahu wa Ta’aala mengetahui mereka di setiap waktu, karena yang dimaksud dengannya adalah pembalasan terhadap amal yang tegak atas pengetahuan Allah Subhaanahu wa Ta’aala dan penglihatan-Nya.

.

Dari Tafsir Jalalain

  1. (Sesungguhnya manusia itu) yang dimaksud adalah manusia yang kafir (sangat ingkar kepada Rabbnya) artinya ia mengingkari semua nikmat-Nya yang telah dilimpahkan kepadanya.
  2. (Dan sesungguhnya manusia itu terhadap hal tersebut) terhadap keingkarannya (menyaksikan sendiri) atau dia menyaksikan bahwa dirinya telah berbuat ingkar.
  3. (Dan sesungguhnya karena cintanya kepada kebaikan) maksudnya cinta atas harta benda (dia sangat bakhil) artinya lantaran sangat mencintai harta, jadilah ia seorang yang amat bakhil atau kikir.
  4. (Maka apakah dia tidak mengetahui apabila dibangkitkan) dibangunkan dan dikeluarkan (apa yang ada dalam kubur) yakni orang-orang mati yang dikubur di dalamnya.
  5. (Dan dilahirkan) atau ditampakkan dan dikeluarkan (apa yang ada dalam dada) maksudnya, apa yang tersimpan di dalam kalbu berupa kekafiran dan keimanan.
  6. (Sesungguhnya Rabb mereka pada hari itu Maha Mengetahui keadaan mereka) karena itu Dia akan memberikan balasan kepada mereka atas kekafiran mereka. Di sini Dhamir diulangi penyebutannya dalam bentuk jamak, hal ini tiada lain karena memandang segi makna yang dikandung lafal Al-Insaan. Jumlah ayat ini menunjukkan pengertian Maf’ul bagi lafal Ya’lamu; artinya sesungguhnya Kami akan memberikan balasan kepadanya pada saat itu. Berta’alluqnya lafal Khabiirun kepada lafal Yaumaidzin memberikan pengertian, bahwa hari itu adalah hari pembalasan, karena sesungguhnya Allah selama-lamanya Maha Mengetahui.

.

Dari Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Swt:

sesungguhnya manusia itu sangat ingkar tidak berterima kasih kepada Tuhannya. (Al-‘Adiyat: 6)

Inilah subjek sumpahnya, dengan pengertian bahwa sesungguhnya manusia itu benar-benar mengingkari nikmat-nikmat Tuhannya.

Ibnu Abbas, Mujahid, Ibrahim An-Nakha’i, Abul Jauza, Abul Aliyah, Abud Duha, Sa’id ibnu Jubair, Muhammad ibnu Qais, Ad-Dahhak, Al-Hasan, Qatadah, Ar-Rabi’ ibnu Anas, dan Ibnu Zaid telah mengatakan bahwa al-kanud artinya pengingkar. Al-Hasan mengatakan bahwa al-kanud artinya orang yang mengingat-ingat musibah dan melupakan nikmat-nikmat Allah yang diberikan kepadanya.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Ubaidillah, dari Israil, dari Ja’far ibnuz Zubair, dari Al-Qasim, dari Abu Umamah yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ sehubungan dengan makna firman-Nya: Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar tidak berterima kasih kepada Tuhannya. (Al-‘Adiyat: 6)

Beliau bersabda, bahwa al-kanud artinya orang yang makan sendirian dan memukul budaknya serta menolak kehadirannya. Ibnu Abu Hatim telah meriwayatkannya pula melalui jalur Ja’far ibnuz Zubair, tetapi dia orangnya tidak terpakai hadisnya, dan sanad hadis ini lemah. Ibnu Jarir telah meriwayatkannya pula melalui hadis Hirriz ibnu USmam, dari Hamzah ibnu Hani’, dari Abu Umamah secara mauquf.

dan sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya. (Al-‘Adiyat: 7)

Qatadah dan Sufyan As-Sauri mengatakan bahwa sesungguhnya Allah benar-benar menyaksikan hal tersebut. Dapat pula ditakwilkan bahwa damir yang ada merujuk kepada manusia, ini menurut Muhammad ibnu Ka’b Al-Qurazi. Dengan demikian, berarti maknanya ialah sesungguhnya manusia itu benar-benar menyaksikan sendiri (mengakui) akan keingkaran dirinya melalui sepak terjangnya, yakni terlihat jelas hal itu dari ucapan dan perbuatannya, sebagaimana yang disebutkan dalam firman-Nya:

مَا كانَ لِلْمُشْرِكِينَ أَنْ يَعْمُرُوا مَساجِدَ اللَّهِ شاهِدِينَ عَلى أَنْفُسِهِمْ بِالْكُفْرِ

Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan masjid-masjid Allah, sedangkan mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. (At-Taubah: 17)

Adapun firman Allah Swt.:

dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta. (Al-‘Adiyat: 8)

Yakni sesungguhnya kecintaannya kepada harta benda benar-benar sangat berat. Sehubungan dengan makna ayat ini, ada dua pendapat; pendapat pertama mengatakan bahwa sesungguhnya manusia itu sangat mencintai harta. Pendapat yang kedua mengatakan bahwa sesungguhnya karena kecintaannya kepada harta, dia menjadi seorang yang kikir. Kedua makna sama-sama benarnya.

Kemudian Allah Swt. menganjurkan kepada manusia untuk berzuhud terhadap duniawi dan menganjurkan mereka untuk menyukai pahala akhirat. Yang hal ini diungkapkan-Nya melalui peringatan terhadap mereka tentang apa yang akan terjadi sesudah kehidupan dunia ini, yaitu banyak peristiwa yang menakutkan yang akan dihadapinya.

Maka apakah dia tidak mengetahui apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur? (Al-‘Adiyat: 9)

Maksudnya, dikeluarkan orang-orang yang telah mati dari dalam kuburnya.

dan dilahirkan apa yang ada di dalam dada. (Al-‘Adiyat: 10)

Ibnu Abbas dan lain-lainnya mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah apabila dilahirkan dan ditampakkan apa yang selama itu mereka sembunyikan dalam diri dan hati mereka.

sesungguhnya Tuhan mereka pada hari itu Maha Mengetahui keadaan mereka. (Al-‘Adiyat: 11)

Tuhan mereka benar-benar mengetahui semua yang diperbuat dan yang dikerjakan oleh mereka, dan Dia kelak akan membalaskannya terhadap mereka dengan balasan yang sempurna; Dia tidak akan berbuat aniaya barang seberat zarrah pun terhadap seseorang.

Hanya Allah Yang Maha Mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

.

««««« juz 29 «««««                        ««««««« juz 30 «««««

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here