Sebab Manusia Bahagia dan Celaka

Tafsir Al-Qur'an: Surah Al-‘Ashr

0
159

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-‘Ashr (Masa) Surah ke-103. Turun sesudah Surah Al-lnsyirah. Terdiri dari 3 ayat. Menjelaskan sebab manusia bahagia dan celaka di dunia ini dan sungguh rugi orang yang tidak memanfaatkan waktunya untuk beriman dan beramal saleh.

Disebutkan bahwa Amr ibnul As menjadi delegasi untuk menjumpai Musailamah Al-Kazzab. Demikian itu terjadi sesudah Rasulullah ﷺ diutus dan sebelum Amr masuk Islam.

Musailamah berkata kepadanya, “Apakah yang telah diturunkan kepada temanmu sekarang ini?” Amr menjawab bahwa telah diturunkan kepadanya surat yang pendek, tetapi padat akan makna. Maka Musailamah bertanya, “Surat apakah itu?” Amr membacakan firman-Nya:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَالْعَصْرِ -١- إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ -٢- إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ -٣

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran. (Q.S. Al-‘Ashr: 1-3)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wal ‘ashr (demi masa), yakni Allah Ta‘ala Bersumpah dengan cengkraman masa, yaitu kesulitan-kesulitan. Menurut yang lain, Allah Ta‘ala Bersumpah dengan shalat Asar.

Innal iηsāna (sesungguhnya manusia) yang kafir.

La fī khusr (benar-benar berada dalam kerugian), yakni benar-benar berada dalam ketertipuan dan hukuman dengan hilangnya keluarga dan tempat tinggal mereka di dalam surga. Ada yang berpendapat, benar-benar dalam kekurangan amal sesudah mereka pikun dan mati.

Illal ladzīna āmanū (kecuali orang-orang yang beriman) kepada Nabi Muhammad ﷺ dan al-Quran.

Wa ‘amilush shālihāti (dan mengerjakan amal saleh), yakni mengerjakan ketaatan-ketaatan antara diri mereka dengan Rabb-nya.

Wa tawāshau bil haqqi (dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran), yakni saling menganjurkan agar bertauhid. Ada yang mengemukakan, saling menganjurkan kepada al-Quran.

Wa tawāshau bish shabr (dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran), yakni saling menganjurkan untuk menunaikan Ketentuan-ketentuan Allah Ta‘ala serta menjauhi kemaksiatan-kemaksiatan kepada-Nya, dan juga bersabar dalam menghadapi berbagai kesulitan dan musibah. Orang-orang yang dikecualikan ini tidak akan mengalami kerugian.

Maka Musailamah berpikir sejenak, kemudian ia mengatakan bahwa telah diturunkan pula kepadanya hal yang semisal. Amr ibnul As bertanya, “Apakah itu?” Musailamah berkata,

يَا وَبْر يَا وَبْر، إِنَّمَا أَنْتِ أُذُنَانِ وصَدْر، وَسَائِرُكِ حَفْزُ نَقْز

“Hai kelinci, hai kelinci, sesungguhnya engkau hanyalah dua telinga dan dada, sedangkan anggota tubuhmu yang lain kecil mungil.”

Kemudian Musailamah berkata, “Bagaimanakah menurut pendapatmu, hai Amr?” Amr menjawab, “Demi Allah, sesungguhnya engkau benar-benar mengetahui bahwa aku pasti meyakinimu sebagai pendusta.”

Penulis mengatakan bahwa ia pernah melihat kitab yang berjudul Musawil Akhlak karya tulis Abu Bakar Al-Kharaiti menyebutkan dalam juz kedua sesuatu dari kisah ini atau yang lebih mendekatinya.

Al-Wabar artinya kelinci, bagian yang paling menonjol darinya adalah sepasang telinga dan dadanya, sedangkan anggota tubuh yang lain kecil mungil lagi jelek. Maka Musailamah bermaksud menyusun igauan ini untuk menandingi Al-Qur’an. Akan tetapi, hal tersebut tidak mampu mempengaruhi penyembah berhala di masanya dan tidak pula dapat mengelabuinya.

Imam Tabrani menyebutkan melalui jalur Hammad ibnu Salamah, dari Sabit, dari Ubaidillah ibnu Hafs yang menceritakan bahwa dahulu pernah ada dua orang sahabat Rasulullah ﷺ apabila keduanya bersua satu sama lainnya, maka keduanya tidak berpisah sebelum salah seorangnya membacakan surat Al-‘Asr kepada yang lainnya sampai akhir surat, lalu baru yang seorang mengucapkan salam kepada yang lainnya, salam perpisahan.

Imam Syafii rahimahullah telah mengatakan bahwa seandainya manusia merenungkan makna surat ini, niscaya surat ini akan membuat mereka mendapat keluasan.

(Demi masa) atau zaman atau waktu yang dimulai dari tergelincirnya matahari hingga terbenamnya; maksudnya adalah waktu shalat Asar.

Kata ‘Ashr’ di ayat bisa juga diartikan waktu ‘Ashr atau shalat Ashar. Allah Subhaanahu wa Ta’aala bersumpah dengan masa yang mencakup malam dan siang; yang merupakan tempat terjadinya perbuatan hamba dan amal mereka, bahwa setiap manusia akan rugi, yakni tidak beruntung sebagaimana diterangkan dalam ayat selanjutnya. Kerugian ada beberapa macam; ada kerugian yang mutlak dan ada kerugian yang hanya sebagiannya saja. Kerugian yang mutlak adalah kerugian di dunia dan akhirat; di dunia mendapatkan kesengsaraan, kebingungan dan tidak mendapatkan petunjuk, sedangkan di akhirat mendapatkan neraka jahannam. Allah Subhaanahu wa Ta’aala meratakan kerugian kepada semua manusia kecuali orang yang memiliki empat sifat; iman, amal saleh, saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.

Al-Asr artinya zaman atau masa yang padanya Bani Adam bergerak melakukan perbuatan baik dan buruk. Malik telah meriwayatkan dari Zaid ibnu Aslam bahwa makna yang dimaksud adalah waktu asar. Tetapi pendapat yang terkenal adalah yang pertama. Allah Swt. bersumpah dengan menyebutkan bahwa,

(Sesungguhnya manusia itu) yang dimaksud adalah jenis manusia (benar-benar berada dalam kerugian) di dalam perniagaannya.

Maka dikecualikan dari jenis manusia yang terhindar dari kerugian, yaitu orang-orang yang beriman hatinya dan anggota tubuhnya mengerjakan amal-amal yang saleh.

Mereka tidak termasuk orang-orang yang merugi di dalam perniagaannya (dan nasihat-menasihati) artinya sebagian di antara mereka menasihati sebagian yang lainnya (supaya menaati kebenaran) yaitu iman (dan nasihat-menasihati dengan kesabaran) yaitu di dalam menjalankan amal ketaatan dan menjauhi kemaksiatan.

Orang-orang yang beriman, yaitu beriman kepada apa yang diperintahkan Allah untuk diimani, dan iman tidak dapat terwujud kecuali dengan ilmu (belajar), sehingga ia merupakan bagian yang menyempurnakannya. Dalam ayat ini terdapat dalil untuk mendahulukan ilmu sebelum beramal.

Amal saleh mencakup semua perbuatan yang baik yang tampak maupun yang tersembunyi; yang terkait dengan hak Allah maupun hak manusia, yang wajib maupun yang sunat.

Saling menasihati untuk kebenaran, yaitu iman dan amal saleh, yakni saling menasihati untuk melakukan hal itu dan mendorongnya.

Saling menasihati untuk kesabaran, yakni bersabar untuk tetap menaati Allah, bersabar untuk tetap menjauhi larangan Allah dan bersabar terhadap taqdir Allah yang pedih. Kedua hal yang sebelumnya, yaitu iman dan amal saleh dapat menyempurnakan diri seseorang, sedangkan kedua hal yang setelahnya dapat menyempurnakan orang lain. Dengan keempat perkara itulah seseorang akan selamat dari kerugian dan memperoleh keberuntungan.

Ibnu Katsir menyebutkan, yaitu tabah menghadapi musibah dan malapetaka serta gangguan yang menyakitkan dari orang-orang yang ia perintah melakukan kebajikan dan ia larang melakukan kemungkaran.

Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab dalam Al Ushul Ats Tsalaatsah berdalih dengan surah ini untuk menerangkan kewajiban seorang muslim, yaitu ilmu, amal, dakwah dan sabar.

Hanya Allah Yang Maha Mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

.

««««« juz 29 «««««                        ««««««« juz 30 «««««

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here