Kecelakaanlah Bagi Setiap Pengumpat Lagi Pencela

Tafsir Al Qur'an: Surah Al-Humazah

0
189

Tafsir Al Qur’an: Surah Al-Humazah (Pengumpat) Surah ke-104. 9 ayat. Turun sesudah Surah Al-Qiyamah. Ayat 1-9: Celaan bagi setiap pengumpat lagi pencela sebagaimana tercelanya orang yang menimbun hartanya sehingga tidak berinfak, dan akibat yang akan mereka peroleh.

Allah SWT. berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَيْلٌ لِّكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍ -١- الَّذِي جَمَعَ مَالاً وَعَدَّدَهُ -٢- يَحْسَبُ أَنَّ مَالَهُ أَخْلَدَهُ -٣- كَلَّا لَيُنبَذَنَّ فِي الْحُطَمَةِ -٤- وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْحُطَمَةُ -٥- نَارُ اللَّهِ الْمُوقَدَةُ -٦- الَّتِي تَطَّلِعُ عَلَى الْأَفْئِدَةِ -٧- إِنَّهَا عَلَيْهِم مُّؤْصَدَةٌ -٨- فِي عَمَدٍ مُّمَدَّدَةٍ -٩

Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya dan mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya, sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Hutamah. Dan tahukan kamu apakah Hutamah itu? (Yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan, yang (membakar) sampai ke hati. Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka, (sedangkan mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang. (Q.S. Al-Humazah : 1-9)

.

Tafsir Ibnu Abbas:

Wailun (kecelakaanlah), yakni azab yang beratlah. Menurut satu pendapat, Wail adalah sebuah lembah di dalam neraka Jahannam yang berisi nanah dan darah. Dan ada pula yang berpendapat, Wail adalah sebuah sumur yang ada di dalam neraka.

Li kulli humazatin (bagi setiap pengumpat), yakni orang yang suka menggunjing orang lain di belakang mereka.

Lumazah (lagi pencela), yakni orang yang suka mengecam, malaknat, dan berbicara kotor di hadapan orang lain. Ayat ini berkenaan dengan al-Akhnas bin Syuraiq. Menurut yang lain, berkenaan dengan al-Walid bin al-Mughirah al-Makhzumi yang suka mempergunjingkan perilaku Nabi Muhammad ﷺ di belakang beliau, dan juga suka mencela Nabi Muhammad ﷺ di hadapan beliau.

Alladzī jama‘a mālan (yang suka mengumpulkan harta) di dunia.

Wa ‘addadah (dan menghitung-hitungnya), yakni menghitung-hitung hartanya. Menurut yang lain, menghitung-hitung jumlah untanya.  Ia mengira bahwa hartanya dapat mengekalkannya,

Yahsabu (ia mengira), yakni ia menyangka.

Anna mālahū akhladah (bahwa hartanya dapat mengekalkannya), yakni dapat membuatnya kekal di dunia.

Kallā (sekali-kali tidak). Ungkapan ini merupakan penyangkalan. Tegasnya, harta yang ia miliki tidak akan membuatnya kekal.

La yumbadzanna (sesungguhnya ia benar-benar akan dilemparkan), yakni benar-benar akan dijerumuskan.

Fil huthamah (ke dalam Huthamah).  Dan tahukah kamu, apa Huthamah itu?

Wa mā adrāka (dan tahukah kamu), hai Muhammad!

Mal huthamah (apa Huthamah itu)? Ungkapan ini bertujuan untuk membesarkan perihal Huthamah. Kemudian Dia Menjelaskan Huthamah kepada beliau, dengan Firman-Nya:

Nārullāhil mūqadah ([itulah] Api Allah yang dinyalakan), yakni yang diperuntukkan bagi orang-orang kafir.

Allatī that-thali‘u ‘alal af-idah (yang membakar sampai ke hati), yakni yang melalap segala sesuatu hingga ke dalam hati.  Sesungguhnya ia ditutup rapat atas mereka,

Innahā (sesungguhnya ia), yakni api itu.

‘Alaihim (atas mereka), yakni atas orang-orang kafir.

Mu’shadah (ditutup rapat), yakni dikunci.

Fī ‘amadim mumaddadah ([sedang mereka] diikat pada tiang-tiang yang panjang), yakni yang tingkatan-tingkatannya membentang hingga ke tiang-tiang. Menurut satu pendapat, yang dasarnya sangat dalam.

.

Menurut  Tafsir Jalalain lafal Al-Wail ini adalah kalimat kutukan, atau nama sebuah lembah di neraka Jahanam (bagi setiap pengumpat lagi pencela) artinya yang banyak mengumpat dan banyak mencela. Ayat ini diturunkan berkenaan dengan orang-orang yang suka mengumpat Nabi ﷺ dan orang-orang mukmin, seperti Umaiyah bin Khalaf, Walid bin Mughirah dan lainlainnya.

(Yang mengumpulkan) dapat dibaca Jama’a dan Jamma’a (harta dan menghitung-hitungnya) dan menjadikannya sebagai bekal untuk menghadapi bencana dan malapetaka.

(Dia menduga) karena kebodohannya (bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya) dapat menjadikannya hidup kekal dan tidak mati.

(Sekali-kali tidak!) kalimat ini mengandung makna sanggahan. (Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan) menjadi

Jawab Qasam dari lafal yang tidak disebutkan; artinya sesungguhnya dia benar-benar akan dicampakkan (ke dalam Huthamah) dan segala sesuatu yang dimasukkan ke dalamnya pasti hancur berkeping-keping.

(Dan tahukah kamu) atau apakah kamu mengetahui (apa Huthamah itu?)

(Yaitu api yang disediakan Allah yang dinyalakan) yang dinyalakan dengan besarnya.

(Yang naik) maksudnya panasnya naik membakar (sampai ke hati) lalu membakarnya; rasa sakit yang diakibatkan api neraka jauh lebih memedihkan daripada api lainnya, karena api neraka sangat lembut dan dapat memasuki pori-pori, lalu membakar hati.

(Sesungguhnya api itu atas mereka) di dalam ayat ini Dhamir dijamakkan karena memandang dari segi makna (ditutup rapat-rapat) dapat dibaca Mu`shadah dan Muushadah; artinya mereka dibakar dengan api itu dalam keadaan ditutup rapat.

(Pada tiang-tiang) dapat dibaca ‘Amadin dan ‘Umudin (yang panjang) lafal ini menjadi sifat dari lafal sebelumnya; dengan demikian maka api itu berada dalam tiang-tiang tersebut.

.

Tafsir Al Qur’an “Hidayatul Insan bi tafsiril Qur’an

“Kata ‘wail’ merupakan kata siksaan, ancaman dan kerasnya azab, atau sebuah lembah di neraka Jahannam.

Humazah artinya yang mencela manusia dengan isyarat dan perbuatannya, sedangkan lumazah adalah yang mencela dengan ucapannya. Di antara sifat para pengumpat (penggunjing) lagi pencela adalah seperti yang disebutkan dalam ayat selanjutnya, yaitu tidak ada maksud selain mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya, tidak suka berinfak di jalur-jalur kebaikan, menyambung tali silaturrahim, dan sebagainya.

Disebut ‘Huthamah’ karena ia memecahkan segala sesuatu yang dilempar ke dalamnya.

(sedang mereka diikat) pada tiang-tiang yang panjang, Bisa juga diartikan ‘dalam tiang-tiang yang panjang’ yakni tiang-tiang di balik pintu yang panjang, agar mereka tidak bisa keluar darinya. Kita berlindung kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aala dari neraka dan meminta kepada-Nya ampunan dan ‘afiyah (penjagaan).

.

Tafsir Ibnu Katsir

Al-hammaz dan al-lammaz, bedanya: Kalau yang pertama melalui ucapan, sedangkan yang kedua melalui perbuatan. Makna yang dimaksud ialah tukang mencela orang lain dan menjatuhkan mereka. Penjelasan mengenai maknanya telah disebutkan di dalam tafsir firman-Nya:

هَمَّازٍ مَشَّاءٍ بِنَمِيمٍ

yang banyak mencela, yang kian kemari menghambur hasutan. (Al-Qalam:11)

Qatadah mengatakan bahwa humazah lumazah mencela orang lain dengan lisan dan matanya, dan suka mengumpat serta menjatuhkan orang lain. Mujahid mengatakan bahwa humazah dengan tangan dan mata, sedangkan lumazah dengan lisan. Hal yang sama telah dikatakan oleh Ibnu Zaid.

Malik telah meriwayatkan dari Zaid ibnu Aslam, bahwa makna yang dimaksud ialah memakan daging orang lain, yakni mengumpat. Kemudian sebagian dari ulama mengatakan bawah orang yang dimaksud ialah Al-Akhnas ibnu Syuraiq, dan pendapat yang lain mengatakan selain dia. Mujahid mengatakan bahwa makna ayat ini umum.

yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya.

Yakni menghimpun sebagiannya dengan sebagian yang lain dan menghitung-hitung jumlahnya, sebagaimana yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

Serta mengumpulkan (harta benda), lalu menyimpannya. (Al-Ma’arrij: 18)

Demikianlah menurut As-Saddi-dan Ibnu Jarir.

Muhammad ibnu Ka’b telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: menghimpun harta dan menghitung-hitungnya. (Al-Humazah: 2) Yaitu di siang hari terlena dengan harta bendanya dan merasa asyik dengannya; dan apabila malam hari tiba, maka ia tidur bagaikan bangkai yang telah membusuk.

dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya.

Manusia itu mengira bahwa dengan mengumpulkan harta, maka hidupnya di dunia ini akan kekal, maka disanggah oleh firman selanjutnya:

Sekali-kali tidak!

Yakni perkara yang sebenarnya tidaklah seperti yang mereka kira dan mereka dugakan. Kemudian disebutkan oleh firman selanjutnya keadaan yang sebenarnya, yaitu:

Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Hutamah.

Sesungguhnya orang yang menghimpun harta dan yang menghitung-hitungnya itu akan dicampakkan ke dalam Hutamah. Dan Hutamah adalah nama lain dari neraka, dinamakan demikian karena ia meremukredamkan orang yang dimasukkan ke dalamnya. Untuk itulah maka disebutkan dalam firman berikutnya:

Dan tahukah kamu apa Hutamah itu? (yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan, yang (membakar) sampai ke hati.

Sabit Al-Bannani mengatakan bahwa api neraka Hutamah membakar mereka sampai ke hatinya, sedangkan mereka dalam keadaan tetap hidup. Dan bilamana azab mencapai puncaknya, maka mereka hanya dapat menjerit dan menangis merasakan sakitnya yang tiada terperikan. Muhammad ibnu Ka’b Al-Qurazi mengatakan bahwa api neraka Hutamah membakar semua anggota tubuh penghuninya; dan apabila api itu sampai ke hatinya dan mencapai batas tenggorokannya, maka kembalilah api itu ke tubuhnya.

Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka.

Yakni bila mereka semua telah berada di dalamnya, maka pintunya ditutup rapat, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam tafsir surat Al-Balad.

Ibnu Murdawaih mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Muhammad, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Siraj, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Harzad, telah menceritakan kepada kami Syuja’ ibnu Asyras, telah menceritakan kepada kami Syarik, dari Asim, dari Abu Saleh, dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi Saw. sehubungan dengan makna firman-Nya: Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka. (Al-Humazah: 8) Artinya, ditutup rapat.

Hadis ini telah diriwayatkan oleh Abu Bakar ibnu Abu Syaibah, dari Abdullah ibnu Asad, dari Ismail ibnu Khalid, dari Abu Saleh dan dianggap sebagai perkataan Abu Hurairah tidak sampai kepada Nabi Saw.

(sedangkan mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang.

Atiyyah Al-Aufi mengatakan bahwa tiang-tiang itu dari besi.

As-Saddi mengatakan dari api.

Syabib ibnu Bisyr telah meriwayatkan dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: (sedangkan mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang. (Al-Humazah: 9) Yakni pintu-pintu yang diberi palang.

Qatadah mengatakan di dalam qiraat Abdullah ibnu Mas’ud, bahwa sesungguhnya mereka di dalamnya dikunci semua pintunya dengan palang-palang yang panjang.

Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa mereka dimasukkan ke dalam pasungan, sedangkan di leher mereka ada belenggunya, lalu ditutup rapatlah semua pintunya. Qatadah mengatakan bahwa kami berbincang-bincang bahwa mereka diazab di dalam neraka. Dan pendapat inilah yang dipilih oleh Ibnu Jarir.

Abu Saleh telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: (sedangkan mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang. (Al-Humazah: 9) Yaitu belenggu-belenggu yang berat.

Hanya Allah Yang Maha Mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

.

««««« juz 29 «««««                        ««««««« juz 30 «««««

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here