Celaan dan Kehinaan yang Berkelanjutan

Tafsir Al-Qur’an

0
342

Tafsir Al-Qur’an: Abu Lahab adalah paman Nabi Muhammad ﷺ, Ia sangat memusuhi Nabi Muhammad ﷺ dan menyakitinya. Oleh karena itulah, Allah Subhaanahu wa Ta’aala mencelanya dengan celaan yang keras ini yang merupakan celaan dan kehinaan yang berkelanjutan untuknya sampai hari Kiamat.

Tentang Abu Lahab ini dalam tafsir Ibnu Katsir dipaparkan bahwa Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Salam, telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah, telah menceritakan kepada kami Al-A’masy, dari Amr ibnu Murrah, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas, bahwa Nabi ﷺ keluar menuju ke Lembah Batha, lalu menaiki bukit yang ada padanya dan berseru, “Awas ada musuh di pagi hari ini!” Maka orang-orang Quraisy berkumpul kepadanya dan beliau bersabda: “Bagaimanakah pendapat kalian jika aku sampaikan berita kepada kalian bahwa musuh akan datang menyerang kalian di pagi atau petang hari, apakah kalian akan percaya kepadaku?” Mereka menjawab, “Ya.” Nabi ﷺ bersabda, “Maka sesungguhnya aku memperingatkan kepada kalian akan datangnya azab yang keras.” Maka Abu Lahab berkata, “Celakalah kamu ini, karena inikah engkau mengumpulkan kami.” Maka Allah Swt. menurunkan firman-Nya: Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. (Al-Lahab: 1), hingga akhir surat

Menurut riwayat yang lain, disebutkan bahwa lalu Abu Lahab menepiskan kedua tangannya seraya berkata, “Celakalah kamu sepanjang hari ini, karena inikah engkau mengumpulkan kami?” Maka Allah Swt. menurunkan firman-Nya: Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. (Al-Lahab: 1)

Konteks riwayat pertama menunjukkan pengertian kutukan terhadap Abu Lahab, sedangkan konteks riwayat kedua menunjukkan pengertian pemberitaan tentang sikap Abu Lahab. Abu Lahab adalah salah seorang paman Rasulullah ﷺ nama aslinya ialah Abdul Uzza ibnu Abdul Muttalib, dan nama kunyahnya (gelarnya) ialah Abu Utaibah. Sesungguhnya dia diberi julukan Abu Lahab tiada lain karena wajahnya yang cerah. Dia adalah seorang yang banyak menyakiti Rasulullah Saw., sangat membenci dan meremehkannya serta selalu memojokkannya dan juga memojokkan agamanya.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Abul Abbas, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Abu Zanad, dari ayahnya yang mengatakan bahwa telah menceritakan kepadaku seorang lelaki yang dikenal dengan nama Rabi’ah ibnu Abbad, dari Banid Dail, pada mulanya dia adalah seorang jahiliah, lalu masuk Islam. Dia mengatakan bahwa ia pernah melihat Nabi ﷺ bersabda di masa Jahiliah di pasar Zul Majaz:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قُولُوا لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ تُفْلِحُوا

Hai manusia, ucapkanlah, “Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah,” niscaya kamu beruntung.

Sedangkan orang-orang berkumpul mengerumuninya. Dan di belakangnya terdapat seorang yang berwajah cerah, bermata juling, dan rambutnya berkepang. Orang itu mengatakan, “Sesungguhnya dia adalah orang pemeluk agama baru lagi pendusta.” Orang yang berwajah cerah itu selalu mengikuti Nabi ﷺ ke mana pun beliau pergi. Aku bertanya mengenainya, maka dijawab bahwa orang itu adalah pamannya sendiri, bernama Abu Lahab.

Kemudian Imam Ahmad meriwayatkannya pula melalui Syuraih, dari Ibnu Abuz Zanad, dari ayahnya, kemudian disebutkan hal yang semisal. Abu Zanad bertanya kepada Rabi’ah, “Apakah saat itu engkau masih anak-anak?” Rabi’ah menjawab, “Tidak, bahkan demi Allah, sesungguhnya aku di hari itu telah ‘aqil lagi dapat mengangkat qirbah.” Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad secara munfarid.

Muhammad ibnu Ishaq mengatakan, telah menceritakan kepadaku Husain ibnu Abdullah ibnu Ubaidillah ibnu Abbas yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rabi’ah ibnu Abbas Ad-Daili mengatakan, “Sesungguhnya saat ia bersama ayahnya telah berusia remaja melihat Rasulullah ﷺ mendatangi tiap kabilah, sedangkan di belakang beliau terdapat seorang lelaki yang bermata juling, berwajah cerah, dan berambut lebat. Rasulullah ﷺ berdiri di hadapan kabilah, lalu bersabda:

يَا بَنِي فُلَانٍ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ آمُرُكُمْ أَنْ تَعْبُدُوا اللَّهَ لَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَأَنْ تُصَدِّقُونِي وَتَمْنَعُونِي حَتَّى أُنَفِّذَ عَنِ اللَّهِ مَا بَعَثَنِي بِهِ

Hai Bani Fulan, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian aku memerintahkan kepada kalian untuk menyembah Allah dan janganlah kalian persekutukan Dia dengan sesuatu pun; benarkanlah aku dan belalah aku hingga aku dapat melaksanakan semua yang diutuskan oleh Allah kepadaku.

Apabila Rasulullah ﷺ selesai dari ucapannya, maka lelaki itu berkata dari belakangnya, “Hai Bani Fulan, orang ini menginginkan agar kalian memecat Lata dan ‘Uzza serta jin teman-teman kalian dari kalangan Bani Malik ibnu Aqyasy dan mengikuti bid’ah dan kesesatan yang disampaikannya. Maka janganlah kalian dengar dan jangan pula kalian ikuti.”

Aku bertanya kepada ayahku, “Siapakah orang ini?” Ayahku menjawab, bahwa dia adalah pamannya yang dikenal dengan nama Abu Lahab. Imam Ahmad dan Imam Tabrani telah meriwayatkan pula dengan lafaz yang sama.

Dan Di antara tanda kekuasaan Allah Subhaanahu wa Ta’aala, adalah Allah menurunkan surah Al Lahab (Gejolak Api). Padahal ketika itu Abu Lahab dan istrinya belum binasa, dan Dia memberitahukan, bahwa keduanya akan disiksa di neraka, termasuk bagian daripadanya adalah bahwa berarti ia tidak akan masuk Islam, ternyata terjadi demikian sebagaimana yang diberitakan oleh Allah Subhaanahu wa Ta’aala Tuhan Yang Mengetahui yang gaib dan nyata.

Allah berfirman:

تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ -١- مَا أَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ -٢- سَيَصْلَى نَاراً ذَاتَ لَهَبٍ -٣- وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ -٤- فِي جِيدِهَا حَبْلٌ مِّن مَّسَدٍ -٥

Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut. (Q.S. Al Lahab : 1-5)

.

Tafsir Ibnu Abbas:

Tabbat yadā abī lahabin (binasalah kedua tangan Abu Lahab). Ayat ini diturunkan setelah Allah Ta‘ala Berfirman kepada Nabi-Nya saw., Dan berikanlah peringatan kepada keluargamu yang terdekat (Q.S. 26 asy-Syu‘arā’: 214). Sesudah beliau menyeru mereka (untuk berkumpul), berkatalah beliau kepada mereka, Ucapkanlah oleh kalian, lā ilāha illallāh (Tidak ada tuhan melainkan Allah)! Mendengar seruan itu, berkatalah paman beliau, saudara laki-laki ayah beliau dari pihak ibu yang bernama ‘Abdul ‘Uzza yang berkunyah, Abu Lahab, Celakalah engkau, hai Muhammad! Hanya untuk inikah engkau mengundang kami? berkaitan dengan inilah Allah Ta‘ala menurunkan ayat, tabbat yadā abī . lahabin (binasalah kedua tangan Abu Lahab), yakni tersesatlah kedua tangan Abu Lahab dari segala kebaikan.

Wa tabb (dan dia sungguh-sungguh binasa), yakni sungguh-sungguh telah tersesat dari tauhid.

Mā aghnā ‘anhu (tiadalah berguna bagi dia) di akhirat.

Māluhū (harta bendanya), yakni banyaknya harta benda yang dimiliki ketika di dunia.

Wa mā kasab (dan segala apa yang telah diusahakannya), yakni banyaknya anak-anak dia.

Sa yashlā (kelak dia akan masuk), yakni kelak dia akan masuk di akhirat.

Nāraη dzāta lahab (ke dalam api yang berkobar-kobar), yakni api yang menyala dan bergejolak.

Wamra-atuh (dan istrinya), yaitu Ummu Jamilah binti Harb bin Umayyah akan menyertai dia.

Hammālatal hathab (si pembawa kayu bakar), yakni tukang mengadu domba. Ummu Jamilah adalah seseorang yang suka kesana-kemari untuk mengadu domba antara kaum Muslimin dan kaum kafirin. Menurut satu pendapat, Ummu Jamilah suka membawa duri serta menebarkannya di jalan menuju mesjid yang biasa dilalui Nabi Muhammad saw. dan kaum Muslimin.

Fī jīdihā hablun (di lehernya ada tali), yakni di lehernya, di dalam neraka.

Mim masad (dari sabut), yakni rantai dari besi. Menurut yang lain, di lehernya ada tali dari sabut yang dulu mencekiknya hingga mati.

Dari Tafsir Jalalain:

“(Binasalah) atau merugilah (kedua tangan AbuLahab) maksudnya diri Abu Lahab; di sini diungkapkan dengan memakai kata-kata kedua tangan sebagai ungkapan Majaz, karena sesungguhnya kebanyakan pekerjaan yang dilakukan oleh manusia itu dikerjakan dengan kedua tangannya; Jumlah kalimat ini mengandung makna doa (dan sesungguhnya dia binasa) artinya dia benar-benar merugi. Kalimat ayat ini adalah kalimat berita; perihalnya sama dengan perkataan mereka: Ahlakahullaahu Waqad Halaka, yang artinya: “Semoga Allah membinasakannya; dan sungguh dia benar-benar binasa.” Ketika Nabi saw. menakut-nakutinya dengan azab, ia berkata, “Jika apa yang telah dikatakan oleh anak saudaraku itu benar, maka sesungguhnya aku akan menebus diriku dari azab itu dengan harta benda dan anak-anakku.” Lalu turunlah ayat selanjutnya, yaitu:

(Tidaklah berfaedah kepadanya harta benda dan apa yang ia usahakan) maksudnya apa yang telah diusahakannya itu, yakni anak-anaknya. Lafal Aghnaa di sini bermakna Yughnii, artinya tidak akan berfaedah kepadanya harta dan anak-anaknya.

(Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak) yang besar nyalanya; kata-kata ini pun dijadikan pula sebagai julukan namanya, karena ia mempunyai muka yang berbinar-binar memancarkan sinar merah api.

(Dan begitu pula istrinya) lafal ini di’athafkan kepada Dhamir yang terkandung di dalam lafal Yashlaa, hal ini diperbolehkan karena di antara keduanya terdapat pemisah, yaitu Maf’ul dan sifatnya; yang dimaksud adalah Umu Jamil (pembawa) dapat dibaca Hammalaatun dan Hammaalatan (kayu bakar) yaitu duri dan kayu Sa’dan yang banyak durinya, kemudian kayu dan duri itu ia taruh di tengah jalan tempat Nabi saw. lewat.

(Yang di lehernya) atau pada lehernya (ada tali dari sabut) yakni pintalan dari sabut; Jumlah ayat ini berkedudukan menjadi Haal atau kata keterangan dari lafal Hammaalatal Hathab yang merupakan sifat dari istri Abu Lahab. Atau kalimat ayat ini dapat dianggap sebagai Khabar dari Mubtada yang tidak disebutkan.

Dalam Tafsir Al Qur’an “Hidayatul Insan bi tafsiril Qur’an dijelaskan bahwa pembawa kayu bakar dalam bahasa Arab adalah kiasan bagi penyebar fitnah. Isteri Abu Lahab yang bernama Ummu Jamil sama seperti suaminya sangat keras permusuhannya kepada Nabi Muhammad ﷺ, disebut sebagai pembawa kayu bakar karena dia selalu menyebarkan fitnah untuk memperburuk citra Nabi Muhammad ﷺ dan kaum Muslim. Ada pula yang menafsirkan, bahwa pembawa kayu bakar di sini maksudnya pembawa duri, yakni karena ia biasa menaruh duri di jalan yang dilalui Nabi Muhammad ﷺ. Ada pula yang menafsirkan, bahwa ia (istri Abu Lahab) akan membawa kayu bakar untuk menimpakan kepada suaminya di neraka dengan berkalungkan tali dari sabut.

Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

.

««««« juz 29 «««««                        ««««««« juz 30 «««««

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here