Karakteristik Stuktur Teks Drama

0
14269

Setelah   mempelajari materi ini, diharapkan mampu menelaah karakteristik stuktur teks drama.

Struktur drama yang berbentuk alur pada umumnya tersusun sebagai berikut.

  1. Prolog: Prolog adalah bagian pembukaan atau peristiwa pendahuluan dalam naskah drama. Bagian ini biasanya disampaikan oleh tukang cerita (dalang) yang berfungsi sebagai pengantar untuk menjelaskan  gambaran para  pemain, gambaran latar, konflik yang terjadi dan juga sinopsis lakon.
  2. Dialog: Dialog adalah percakapan yang melibatkan tokoh-tokoh drama yang diharapkan dapat menggambarkan kehidupan dan watak manusia, problematika yang dihadapi, dan cara manusia dapat menyelesaikan persoalan hidupnya.

Di dalam dialog tersaji urutan peristiwa yang dimulai dengan, orientasi, komplikasi, sampai dengan resolusi.

  • Orientasi, adalah bagian awal cerita yang menggambarkan situasi yang sedang sudah atau sedang terjadi.
  • Komplikasi, berisi tentang konflik-konflik dan pengembangannya: gangguan-gangguan, halangan-halangan dalam mencapai tujuan, atau kekeliruan yang dialami tokoh utamanya. Pada bagian ini pula dapat diketahui watak tokoh  utama (yang menyangkut protagonis dan antagonisnya).
  • Resolusi, adalah bagian klimaks (turning point) dari drama, berupa babak akhir cerita yang menggambarkan penyelesaian atas konflik-konflik yang dialami para tokohnya. Resolusi haruslah berlangsung secara logis dan memiliki kaitan yang wajar dengan kejadian
  1. Epilog: Epilog adalah bagian terakhir dari sebuah drama yang berfungsi untuk menyampaikan inti sari cerita atau menafsirkan maksud cerita oleh salah seorang aktor atau dalang pada akhir cerita.

Mari kita cermati drama berikut!

Babak I

Pagi-pagi, suasana  di kelas IX SMP Sambo Indah cukup ramai. Bermacam-macam tingkah kegiatan mereka. Ada yang mengobrol, ada yang membaca buku. Ada pula yang keluar masuk kelas.

Cahyo : “Ssst….Bu Indati datang!” (Para siswa segera beranjak duduk di tempatnya masing-masing)
Bu Indati : “Selamat pagi, Anak-anak!” (ramah)
Anak-anak : ”Selamat pagi, Buuuuuu!” (kompak).
Bu Indati : “Anak-anak, kemarin Ibu memberikan tugas Bahasa Indonesia  membuat pantun, semua sudah mengerjakan?”
Anak-anak : “Sudah Bu.”
Bu Indati : “Arga, kamu sudah membuat pantun?”
Agra : “Sudah dong Bu.”
Bu Indati : “Coba kamu bacakan untuk teman-temanmu.”
Agra : (tersenyum nakal)

“Jalan ke hutan melihat salak,

Ada pula pohon-pohon tua

Ayam  jantan terbahak-bahak

Lihat Inka giginya dua”

Anak-anak : (Tertawa terbahak-bahak).
Inka : (Cemberut, melotot pada Agra)
Bu Indati : “Arga, kamu nggak boleh seperti itu sama temannya.” (Agak kesal)  Kekurangan orang lain itu bukan untuk ditertawakan. Coba kamu buat pantun yang lain!”
Agra : “Iya Bu!” (masih tersenyum-senyum).

Babak II

Siang hari.Anak-anak SMP Sambo Indah pulang sekolah, Inka mendatangi Arga.

Inka : “Arga, kenapa sih kamu selalu usil? Kenapa kamu selalu mengejek aku? Memangnya kamu suka kalau diejek?” (cemberut)
Agra : (Tertawa-tawa) “Aduh…maaf deh! Kamu marah ya, In?”
Inka : “Iya dong. habis…kamu nakal. Kamu memang sengaja mengejek aku kan, biar anak-anak sekelas menertawakan aku.”
Agra : “Wah…jangan marah dong, aku kan cuma bercanda. Eh, katanya marah  itu bisa menghambat pertumbuhan gigi, nanti kamu giginya dua terus, hahaha…”
Danto : (Tertawa). ”Iya, Kak. Nanti ayam jago menertawakan kamu terus!”
Inka : “Huh! kalian jahat! (Berteriak) Aku nggak ngomong lagi sama kalian!” (Pergi)
Gendis : (Menghampiri Inka) “Sudahlah In, nggak usah dipikirkan. Arga kan memang usil dan nakal. Nanti kalau kita marah, dia malah tambah senang. Kita diamkan saja anak itu.

Babak III

Hari berikutnya, sewaktu istirahat pertama.

Agra : (Duduk tidak jauh dari Gendis) “Dis, nama kamu kok bagus sih. mengeja nama Gendis itu gimana?”
Gendis : “Apa sih, kamu mau mengganggu lagi, ya? Beraninya cuma sama anak perempuan.”
Agra : “Aku kan cuma bertanya, mengeja nama Gendis itu gimana. Masak gitu aja marah.”
Gendis : “Memangnya kenapa sih? (Curiga) Gendis ya mengejanya G-E-N-D-I-S dong!”
Agra : “Haaa…kamu itu gimana sih Dis. Udah SMP kok belum bisa mengeja  nama sendiri dengan  benar. Gendis itu mengejanya G-E-M-B-U-L. Itu  kayak pamannya Bobo, hahaha….”
Gendis : “Arga, kamu selalu begitu! Bisa nggak sih, sehari tanpa berbuat nakal? Lagi pula kamu cuma berani mengganggu anak perempuan. Dasar!” (Marah dan meninggalkan Agra).

Babak IV

Di perjalanan, hari sudah siang. Inka dan Gendis berjalan kaki pulang sekolah. Tiba-tiba di belakang mereka terdengar bunyi bel sepeda berdering-dering.

Agra : (Di atas sepeda) “Hoi…minggir…minggir…. Pangeran Arga yang ganteng ini mau lewat. Rakyat jelata diharap minggir.”
Inka &Gendis : (Menoleh sebal)
Agra : (Tertawa-tawa dan…. gubrak terjatuh) “Aduuuuh!”
Inka : “Rasakan kamu! (Berteriak) Makanya kalau naik sepeda itu lihat depan.”
Gendis : “Iya! Makanya kalau sama anak perempuan jangan suka nakal. Sekarang kamu kena batunya.”
Agra : (Meringis  kesakitan)  “Aduh…tolong, dong. Aku nggak bisa bangun nih.”
Inka : “Apa-apaan ditolong. Dia kan suka  menganggu kita kita. Biar tahu  rasa  sekarang. Lagi pula, paling dia cuma pura-pura. Nanti kita dikerjain  lagi .”
Agra : “Aduh…aku nggak pura-pura. Kakiku sakit sekali. (Merintih) Aku janji nggak akan ngerjain kalian lagi.”
Inka : (Menjadi merasa kasihan pada Agra) “Ditolong yuk, Dis.”
Gendis : “Tapi…”
Inka : “Sudahlah, kita kan nggak boleh dendam sama orang lain.  Bagaimanapun, Arga kan teman kita juga.”
Gendis : (Mengangguk dan mendekati Arga).
Inka : “Apanya yang sakit, Ga?”
Agra : “Aduh…kakiku sakit sekali. Aku nggak kuat berdiri nih.”
Inka : “Gini  aja  Dis,  kamu ke sekolah cari Pak Yan yang jaga sekolah. Pak Yan kan punya motor. Nanti Arga biar diantar pulang sama Pak Yan. Sekarang aku di sini menemai Arga.”
Gendis : (Bersemangat) “Ide yang bagus.” (Pergi menuju ke sekolah yang masih kelihatan dari tempat itu).
Agra : “In…. (Lirih) Maafkan aku, ya. Aku sering nggangguin kamu, Gendis, Anggun, dan teman-teman yang lain.”
Gendis : “Makanya kamu jangan suka ngerjain orang, apalagi mengolok-olok kekurangan mereka. Jangan suka meremehkan anak perempuan.  Nyatanya,  kamu  membutuhkan  mereka  juga, kan?”
Agra : “Iya deh, aku janji nggak akan ngerjain kalian lagi.”

Arga betul-betul  menepati janjinya.  Sejak  kejadian  itu, ia tak pernah mengganggu teman-temannya lagi. Arga pun jadi punya banyak sahabat, termasuk Inka dan Gendis. Mereka sering mengerjakan PR dan belajar bersama.

Agra : (Bicara sendiri) “Ternyata kalau aku nggak nakal, sahabatku tambah  banyak,” pikir Arga. ”Ternyata juga, punya banyak sahabat itu  menyenangkan. Kalau mereka ulang tahun  kan aku jadi sering ditraktir, hihihi….”

(Dikutif dari Buku Bahasa Indonesia SMP/MTs. Kelas VIII Edisi Revisi 2017. Adaptasi dari cerpen ”Kena Batunya”, Veronica Widyastuti)

Naskah drama di atas terdiri dari empat babak. Babak merupakan bagian dari lakon drama. Andaikan naskah tersebut dipentaskan, maka batas setiap babak ditandai dengan turunnya layar atau matinya penerangan lampu. Selama lampu dimatikan atau layar ditutup, biasanya ada perubahan penataan yang menggambarkan setting yang berbeda.

Dalam setiap babak tersebut ada beberapa adegan yang merupakan bagian dari rangkaian suasana dalam babak.

Teks drama tersebut memiliki struktur yang lengkap. Terdiri dari prolog, dialog (orientasi, komplikasi, resolusi), dan epilog.

Contoh prolog tergambar misalnya pada babak I: Pagi-pagi, suasana di kelas  IX  SMP Sambo Indah cukup ramai.  Bermacam-macam tingkah kegiatan mereka. Ada yang mengobrol, ada yang membaca buku. Ada pula yang keluar masuk kelas.

Adanya nama tokoh dan ucapan tokoh seperti Cahyo berkata, “Ssst….Bu Indati datang!” menandakan adanya dialog. Dialog awal tersebut merupakan dialog bagian orientasi yang menggambarkan situasi yang mulai terjadi.

Dalam naskah terdapat banyak narasi yang menunjukkan latar, suasana, lakuan para tokoh.  Seperti (Para siswa segera beranjak duduk di tempatnya masing-masing). Penjelasan keadaan pentas dan lakuan tokoh tersebut dicetak miring dan diapit tanda kurung.

Ketika Arga sambil tersenyum nakal membacakan sebuah pantun, mulailah terjadi konflik. Konflik tersebut terus terjadi sampai awal babak IV.

Diakhir babak IV mulailah terjadi penurunan konflik dan terjadi perubahan sikap pelaku. Inka berkata, “Sudahlah, kita kan nggak boleh dendam sama orang lain. Bagaimanapun, Arga kan teman kita juga.” Dan seterusnya.

Drama di atas juga memiliki struktur epilog yang ditunjukkan dengan: Arga betul-betul  menepati janjinya. Sejak  kejadian  itu, ia tak pernah mengganggu teman-temannya lagi. Arga pun jadi punya banyak sahabat, termasuk Inka dan Gendis. Mereka sering mengerjakan PR dan belajar bersama.

Di bagian akhir cerita Arga bicara sendiri, “Ternyata kalau aku nggak nakal, sahabatku tambah  banyak,” pikir Arga. ”Ternyata juga, punya banyak sahabat itu  menyenangkan. Kalau mereka ulang tahun kan aku jadi sering ditraktir, hihihi….”

Percakapan seorang pemain dengan dirinya sendiri itu disebut monolog.

Arga tersenyum nakal, anak-anak tertawa terbahak-bahak, dan Inka cemberut, melotot pada Agra. Hal tersebut menunjukkan ekspresi gerak-gerik wajah untuk menunjukkan emosi yang dialami pemain yang disebut dengan mimik.

Apabila ekspresi gerak-gerik wajah tersebut dipadukan dengan gerak-gerik tubuh untuk menunjukkan emosi yang dialami, maka hal itu disebut pantomimik. Selain itu ada juga yang disebut dengan gestur, yaitu gerak-gerak besar, yaitu gerakan tangan kaki, kepala, dan tubuh pada umumnya yang dilakukan pemain.

Adanya bloking dalam drama tersebut ditunjukan oleh Gendis yang pergi menuju ke sekolah yang masih kelihatan dari tempat itu. Bloking adalah aturan berpindah tempat dari tempat yang satu ke tempat yang lain agar penampilan pemain tidak menjemukan.

Demikianlah yang bisa disampaikan. Semoga ada manfaatnya.

.

««««« berliterasi «««««                        ««««« bersastra «««««

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here