Teks Drama dari Karya yang Sudah Ada

0
6480

Sahabat, teks drama itu dapat dibuat sendiri, berdasarkan imajinasi dan pengalaman sendiri. Juga dapat dibuat berdasarkan karya yang sudah ada. Misalnya dari novel, cerita pendek, dongeng, atau cerita yang lainnya. Kita senang membaca novel, cerita pendek, dongeng, atau cerita yang lainnya, bukan?

Sahabat, membuat naskah drama dari karya yang sudah ada tidaklah begitu sulit.  Hal ini karena ide cerita, alur, latar, dan unsur-unsur lainnya sudah ada. Kita tinggal mengubah formatnya ke dalam bentuk dialog. Seperti yang kita ketahui bahwa ciri utama drama adalah betuk penyajiannya berbentuk dialog yang modelnya sebagai berikut:

  1. Penulisan dialog harus diawali dengan nama tokoh yang diletakkan di bagian kiri baris;
  2. Di depan nama tokoh, digunakan tanda baca titik dua (:) untuk mengungkapkan dialog tokoh.
  3. Ucapan tokoh yang berupa kalimat langsung ditulis setelah nama dipisahkan dengan titik dua tersebut;
  4. Dalam naskah drama terdapat narasi yang menunjukkan latar, suasana, lakuan para tokoh. Penjelasan keadaan pentas dan lakuan tokoh yang dicetak miring dan diapit tanda kurung.
  5. Penulisan perpindahan babak, adegan, atau setting drama ditulis tersendiri atau tidak digandeng dengan dialog tokoh.
  6. Pada awal kisahan biasanya disertakan prolog sebagai pengantar cerita dan epilog sebagai penutup cerita.

Dan satu hal yang tidak boleh dilupakan, bahwa dalam dialog itu ada tiga unsur, yakni tokoh, wawancang, dan kramagung.

  1. Tokoh adalah pelaku yang mengujarkan dialog itu.
  2. Wawancang adalah  dialog  itu  sendiri  atau  percakapan  yang  diujarkan  oleh tokoh.
  3. Kramagung adalah  petunjuk  perilaku,  tindakan,  atau  perbuatan  yang  harus  dilakukan oleh tokoh.

Perhatikan cuplikan novel berikut!

Waktu matahari rembang petang, keempat beranak itu pun bersedialah akan pulang,  dibebani  oleh  sahabatnya  sesarat-saratnya  dengan  bermacam-macam  hasil humanya, ditambah lagi dengan mentimun, dan kacang goreng pemberian anak-anaknya kepada si Samin dan Si Ramlah.

”Saya rasa baik seberangkan  kami  dahulu,  kemudian  baharu  jemput  beban  ini,” kata Mak Samin kepada suaminya, waktu mereka itu sampai di tepi sungai.

”Menyeberangi sungai yang kecil ini hendak dua tiga kali pula? Ayuh, dukung si  Ramlah! Berikan ke sini bebanmu itu semuanya kubawa. Boleh kita sekali  menyeberang.”

”Saya  khawatir  kalau-kalau kita  dilanggar  banjir  karena  sejak  tengah  hari tadi, saya dengar guruh berbunyi dan lihatlah di hului itu sangat hitamnya.”

”Ah, dukunglah si Ramlah! Bukannya aku ini tidak sekali dua menyeberang sungai yang sedang banjir.”

”Tapi….,” kata Mak si Samin.

”Tapi, dapat juga aku menyeberang,”  kata  Pak Samin memotong perkataan istrinya.

Keempat anak itu pun menyeberanglah. Mak si Samin, dengan mendukung si Ramlah dari sebelah hulu, dipegang dengan tangan kanan oleh Pak Samin serta si Samin di sebelah kiri, berg antung sambil mengapung-apungkan diri pada tangan kiri bapaknya.

(Sumber:Si Samin karya Mohammad Kasim, 1957)

.

Seluruh  rangkaian cerita yang ada dalam cuplikan novel di atas, dapat kita ubah ke dalam  bentuk  dialog berikut:

Para pelaku

Pak Samin       : Berwatak keras, sedikit angkuh..

Bu Samin        : Lembut dan penurut pada suami.

Samin              : Periang, senang mengoceh.

Ramlah            : Adik Samin, berusia sekitar tiga tahunan.

Waktu itu pukul tiga sore. Sepasang suami istri dan dua orang anaknya berjalan menuju  sebuah  sungai.  Mereka  hendak  menyeberang.  Sang  istri  menjinjing  tas  besar  yang  berisi  bermacam-macam  sayuran  dan  menggendong  anaknya  yang  perempuan.  Sementara  itu,  suaminya  tak  ketinggalan  pula  memikul  karung.  Seorang  anak  lelaki  berjalan  mengikuti  mereka.  Tampak  ia  sedang  mengunyah  jagung bakar.

Bu Samin : ”Saya rasa sebaiknya anak-anak kita seberangkan dulu. Kemudian Bapak  jemput  lagi  barang-barang  ini.”  (Meletakkan  tas  besar  di  pinggir sungai. Napasnya terengah-engah karena merasa berat).
Pak Samin :

”Ah,  masa  menyeberang  sungai  sekecil  ini  mesti  dua  tiga  kali.

Ayo, gendong si Ramlah biar aku yang membawa barang-barang itu. Biar saya yang menggendong si Ramlah. Sekali menyeberang pun  pasti  semuanya  terbawa.”  (Meraih  tas  besar  yang  masih  dipegang Bu Samin).

Bu Samin : ”Saya  khawatir  kalau-kalau  kita  dihadang  banjir.  Sejak  tengah  hari  tadi,  saya  dengar  guruh  berbunyi  dan  lihatlah  di  hulu  itu  tampak  hitam.”  (Menunjuk  ke  arah  hulu  sungai  dengan  penuh  khawatir)
Pak Samin : ”Ah,  tenang  saja.  Gendong  si  Ramlah!  Aku  kan  menyeberang  sungai ini bukan sekali dua kali. Sering walaupun dalam keadaan banjir.” (Menarik tangan istrinya).
Bu Samin : ”Tapi….” (Berusaha menahan langkah).
Pak Samin : ”Tapi, dapat juga aku menyeberang, kan?”

 Keempat  beranak  itu  pun  akhir  menyeberang.  Mak  Samin  menggendong  si  Ramlah  sambil  dipegang  Pak  Samin.  Sementara  itu,  tangan  kiri  Pak  Samin  memegang  si  Samin.  Mereka  berempat  menyeberang  sungai  dengan  perlahan-lahan.

Kegiatan 8.8

Hal-hal yang harus kita lakukan pada kegiatan ini adalah:

Bacalah cerpen berikut dengan baik!

Kena Batunya

oleh: Veronica Widyastuti

”Ssst….Bu Isti datang,” kata Cahyo. Langsung saja anak-anak kelas IX SMP Sambo Indah beranjak duduk ke tempatnya masing-masing.

”Selamat pagi, Anak-anak!” sapa Bu Isti dengan ramah.

”Selamat pagi, Buuuuuu!” Anak-anak menjawab dengan kompak.

”Anak-anak, kemarin Ibu memberikan tugas Bahasa Indonesia membuat pantun, semua sudah mengerjakan?”

”Sudah Bu.”

”Arga, kamu sudah membuat pantun?”

”Sudah dong, Bu.”

”Coba, kamu bacakan untuk teman-temanmu.”

Dengan wajah nakalnya, Arga membacakan pantunnya sambil tersenyum-senyum. ”Jalan ke hutan melihat salak. Ada pula pohon-pohon tua Ayam jantan terbahak-bahak Lihat Inka giginya dua”

”Huahaha….” Kontan saja anak-anak sekelas tertawa terbahak-bahak. Hanya satu orang yang tidak tertawa. Inka cuma cemberut sebal sambil melihat Arga.

”Arga, kamu nggak boleh seperti itu sama temannya,” tegur Bu Isti. ”Kekurangan orang lain itu bukan untuk ditertawakan. Coba kamu buat pantun yang lain.”

”Iya Bu,” jawab Arga sambil masih tersenyum-senyum.

Itulah Arga, anak paling bandel di kelas empat. Ada saja ulah usilnya untuk mengganggu teman-temannya, terutama teman-teman perempuan di kelasnya.

Pernah suatu hari Anggun kelabakan mencari buku PR matematikannya, padahal Pak Widodo, guru matematikannya, sudah masuk kelas dan siap meneliti PR anak-anak. Anggun kebingungan sampai hampir menangis. Eh, ternyata buku itu ditemukan oleh Pak Widodo di laci meja guru. Tentu saja hal itu merupakan ulah Arga yang selalu usil.

Siang itu, pulang sekolah, Inka mendatangi Arga dengan wajah cemberut. ”Arga, kenapa sih kamu selalu usil?

Kenapa kamu selalu mengejek aku? Memangnya kamu suka kalau diejek?” tanya Inka gusar.

Arga cuma tertawa-tawa. ”Aduh…maaf deh! Kamu marah ya, In?”

”Iya dong. Habis…kamu nakal. Kamu memang sengaja mengejek aku kan, biar anak-anak sekelas mentertawakan aku.”

”Wah,…jangan marah dong, aku kan cuma bercanda. Eh, katanya marah itu bisa menghambat pertumbuhan gigi, nanti kamu giginya dua terus, hahaha…” Arga tertawa. Danto yang berada di dekat Arga juga ikut tertawa.

”Huh! Kalian jahat!” teriak Inka. ”Aku nggak ngomong lagi sama kalian!” Inka meninggalkan kedua anak yang masih tertawa nakal itu.

”Sudahlah In, nggak usah dipikirin. Arga kan memang usil dan nakal. Nanti kalau kita marah, dia malah tambah senang. Kita diamkan saja anak itu,” hibur Gendis, sahabat Inka.

Hari berikutnya, Gendis yang menjadi korban kenakalan Arga. Siang itu, sewaktu istirahat pertama, Arga duduk di dekat Gendis dan bertanya, ”Dis, nama kamu kok bagus sih. Mengeja nama Gendis itu gimana?”

”Apa sih, kamu mau mengganggu lagi, ya? Beraninya cuma sama anak perempuan.”

”…aku kan cuma bertanya, mengeja nama Gendis itu gimana. Masak gitu aja marah.”

”Memangnya kenapa sih?” tanya Gendis dengan curiga. ”Gendis ya mengejanya G-E-N-D-I-S dong!”

”Haaa…kamu itu gimana sih Dis. Udah SMP kok belum bisa mengeja nama sendiri dengan benar. Gendis itu mengejanya G-E-M-B-U-L. Itu kayak pamannya Bobo, hahaha….” Arga tertawa, diikuti teman-temannya.

Gendis yang memang merasa badannya gemuk jadi sewot. ”Arga, kamu selalu begitu! Bisa nggak sih, sehari tanpa berbuat nakal? Lagian kamu cuma berani nakalin anak perempuan. Dasar!” Gendis pun pergi dengan marah.

Suatu hari, di siang yang panas, Inka dan Gendis berjalan kaki pulang sekolah. Tiba-tiba di belakang mereka terdengar bunyi bel sepeda berdering-dering.

”Hoi,…minggir…minggir…. Pangeran Arga yang ganteng ini mau lewat. Rakyat jelata diharap minggir.”

Inka dan Gendis cuma menoleh sebal. Arga melewati mereka dengan tertawa keras. Tahu-tahu…gubrak! Karena kurang hati-hati, sepeda Arga menabrak sebuah pohon yang ada di pinggir jalan.

”Rasakan kamu! Teriak Inka. ”Makanya kalau naik sepeda itu lihat depan.”

”Iya,” tambah Gendis. ”Makanya kalau sama anak perempuan jangan suka nakal. Sekarang kamu kena batunya.”

Sementara Arga cuma meringis kesakitan. ”Aduh…tolong dong. aku nggak bisa bangun nih?”

”Apa-apaan ditolong. Dia kan suka nggangguin kita. Biar tahu rasa sekarang. Lagian, paling dia cuma pura-pura. Nanti kita dikerjain lagi.”

”Aduh,…aku nggak pura-pura. Kakiku sakit sekali,” rintih Arga. ”Aku janji nggak akan ngerjain kalian lagi.” Akhirnya Inka tak tahan juga melihat Arga yang meringis kesakitan dan tidak bisa berdiri.

”Ditolong yuk, Dis.”

” Tapi …”

”Sudahlah, kita kan nggak boleh dendam sama orang lain. Bagaimanapun, Arga kan teman kita juga.” Gendis mengangguk. Kedua anak itu lalu mendekati Arga.

”Apanya yang sakit, Ga?”

”Aduh…kakiku sakit sekali. aku nggak kuat berdiri nih.””Gini aja Dis, kamu ke sekolah cari Pak Yan yang jaga sekolah. Pak Yan kan punya sepeda motor. Nanti Arga biar diantar pulang sama Pak Yan. Sekarang aku di sini menemai Arga.”

”Ide yang bagus,” kata Gendis semangat. Ia segera berjalan cepat-cepat menuju ke sekolah yang masih kelihatan dari tempat itu.

“In…,” kata Arga lirih. “Maafkan aku, ya. Aku sering nggangguin kamu, Gendis, Anggun, dan teman-teman yang lain.

“Makanya kamu jangan suka ngerjain orang, apalagi mengolok-olok kekurangan mereka. Jangan suka meremehkan anak perempuan. Nyatanya, kamu membutuhkan mereka juga kan?”

”Iya deh, aku janji nggak akan ngerjain kalian lagi.”

Arga betul-betul menepati janjinya. Sejak kejadian itu, ia tak pernah mengganggu teman-temannya lagi. Arga pun jadi punya banyak sahabat, termasuk Inka dan Gendis. Mereka sering mengerjakan PR dan belajar bersama.

”Ternyata kalau aku nggak nakal, sahabatku tambah banyak,” pikir Arga. ”Ternyata juga, punya banyak sahabat itu menyenangkan. Kalau mereka ulang tahun kan

aku jadi sering ditraktir, hihihi….”

.

Bentuklah kelompok. Ubahlah cerpen tersebut ke dalam bentuk drama dengan memperhatikan struktur dan kaidahnya sebagaimana yang telah dipelajari terdahulu.

Judul drama                : ….

Sumber (cerpen)          : ….

Tokoh-tokoh

  1. . . . .
  2. . . . .
  3. dst.

Struktur Pengembangan

Struktur Teks Drama

Pengembangan Dialog

a. Prolog
b. Orientasi
c. Komplikasi
d. Resolusi
e. Epilog

. . . .

Lakukanlah silang baca dengan kelompok lain!

Mintalah mereka untuk memberikan tanggapan berdasarkan kreativitas pengembangan, kelengkapan struktur, serta ketepatan kaidah kebahasaannya!

Nama kelompok

Aspek

Kreativitas Pengembangan

Kelengkapan Struktur

Ketepatan Kaidah Kebahasaan

.

Naskah Drama dengan Orisinalitas Ide

Naskah drama dengan orisinalitas ide maksudnya adalah naskah drama yang dibuat sendiri, berdasarkan imajinasi dan pengalaman sendiri, sehingga hasilnya lebih orisinal.

Sahabat, tantangan kita pada kesempatan ini adalah membuat sebuah naskah drama, walaupun hanya untuk satu babak. Kita pasti bisa kan?

Untuk membuat naskah drama, silahkan ikuti langkah-langkah berikut:

  1. Menentukan topik, yakni berupa suatu peristiwa yang menarik dan memiliki konflik yang kuat.
  2. Menentukan tokoh-tokoh  yang  terlibat  di  dalamnya  serta
  3. Membuat kerangka alur, yang menarik dan tidak mudah ditebak (penuh kejutan).
  4. Mengembangkan kerangka itu ke dalam dialog-dialog dengan memperhatikan struktur dan kaidah kebahasaannya yang tepat.
  • Struktur drama  meliputi  prolog,  dialog,  dan    Dalam  dialog  ada  bagian orientasi, komplikasi, dan resolusi.
  • Kaidah kebahasaan  ditandai  oleh  kalimat-kalimat  langsung  dengan  pilihan  kata yang menggambarkan karakter tokoh dan situasi percakapannya.

Kita coba melakukan kegiatan 8.9 yang ada dalam buku.

Secara berkelompok, buatlah naskah  drama.  Karya  tersebut  harus  benar-benar hasil imajinasi ataupun pengalaman bersama. Perhatikan pula struktur dan kaidah kebahasaannya, sebagaimana yang telah kita pelajari.

Mintalah tanggapan atau saran dari kelompok yang lain tentang naskah drama tersebut, terutama berkenaan dengan daya tarik cerita, orsinalitas tema, kelengkapan struktur, dan ketepatan kaidah kebahasaannya.

Kelompok penanggap: …..

Aspek Tanggapan Isi Tanggapan
1. Daya tarik cerita
2. Orsinalitas tema
3. Kelengkapan struktur
4. Ketepatan kaidah kebahasaan

.

Materi ini merupakan pengembangan materi sesuai RPP untuk KD 4.16. Buku sumber: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2017. Buku Bahasa Indonesia SMP/MTs. Kelas VIII Edisi Revisi 2017.

Semoga ada manfaatnya.

.

««««« berliterasi «««««                        ««««« bersastra «««««

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here