Peta Konsep dari Isi Buku Fiksi/Nonfiksi

0
9651

Kecilnyaaku.com: Setelah  mempelajari  materi  ini, diharapkan  mampu membuat  peta konsep dari isi buku Fiksi/Nonfiksi yang dibaca.

Kita awali dengan manfaat membuat catatan tentang isi buku.

Catatan  tentang  isi  buku  atau  bacaan  itu sangat penting.  Ada suatu peribahasa yang mengatakan bahwa “Ilmu itu liar, maka ikatlah dengan mencatatnya.”  Mencatat merupakan salah cara manusia meningkatkan efektivitasnya dalam mempelajari sesuatu. Cara ini dilakukan untuk menutupi kelemahan keterbatasan daya ingat.

Mencatat informasi dari sebuah sumber atau bacaan itu banyak sekali manfaatnya, di antaranya:  (1) sebagai dokumen yang mungkin suatu saat diperlukan, (2) sebagai informasi yang membantu meningkatkan kemampuan belajar anda, (3) untuk memudahkan mengingat kembali, (4) sebagai bahan kutipan dalam mengerjakan tugas dan makalah, dan (5) bahan untuk diskusi dengan teman yang membantu anda mengemukakan ide dan gagasan dengan bahasa anda.

Ini merupakan suatu tantangan terbesar dalam mengelola informasi yang sedemikian banyak? Kita pasti setuju bahwa, kemampuan mengelola informasi akan lebih penting daripada informasi atau pengetahuan itu sendiri, karena informasi dan pengetahuan akan terus berkembang sedangkan kemampuan untuk mengelola informasi, begitu kita menguasainya, akan tetap melekat pada kita sampai akhir nanti. Salah satu teknik paling dasar untuk mengelola informasi adalah kemampuan untuk mencatat dengan efektif.

Sekarang kita sadar, bahwa mencatat telah terbukti banyak manfaatnya. Apalagi kalau kita  bermaksud membahas kembali isi bacaan itu. Kita perlu melakukan persiapan, di antaranya berupa catatan tentang pokok-pokok isi buku yang akan didiskusikan. Catatan yang kita buat akan lebih mudah dibahas kembali apabila disajikan dalam bentuk peta konsep.

Peta Konsep Isi Buku

Isi  buku  pada  umumnya  terdiri  atas  beberapa  bab dan di dalam  setiap  bab  terbagi  pula  ke  dalam  beberapa sub bab.  Pada setiap sub-babnya juga  kembali dirinci ke dalam beberapa bagian lagi. Pembahasan isi buku seperti itu akan lebih mudah apabila disajikan ke dalam  suatu  pemetaan  yang  sering  disebut  dengan  peta konsep.

Berikut contoh-contoh penyajiannya.

Isi Buku Apresiasi Sastra

Bab 1

Bab 2

Bab 3

Bab 4

Bab 5

Pendahuluan

1. Pengertian kesusastraan

2. Manfaat karya sastra

3. Jenis-jenis karya sastra

 

Puisi

1. Pengertian puisi

2. Karakteristik puisi

3. Jenis-jenis puisi

4. Cara menulis puisi

Prosa

1. Pengertian prosa

2. Karakteristik prosa

3. Jenis-jenis prosa

4. Cara menulis prosa

Drama

1. Pengertian drama

2. Karakteristik drama

3. Jenis-jenis drama

4. Cara mementaskan

Penutup

 

Dengan pemetaan seperti itu, isi keseluruhan buku itu bisa tergambarkan dengan jelas; begitu pun dengan susunan dan perinciannya.

Isi setiap bab dalam sebuah buku dapat lebih diperjelas dengan peta konsep seperti di atas. Satu bab disajikan dalam satu bagan sehingga sistematikanya bisa lebih terperinci. Hubungan antarbagiannya pun akan lebih mudah dipahami.

Peta konsep menempatkan gagasan yang paling umum pada posisi paling atas, kemudian diikuti oleh gagasan-gasasan yang lebih kecil ke bawahnya secara hirarkis.

Akan tetapi, untuk buku-buku cerita semacam novel ataupun buku kumpulan cerpen/dongeng,  akan  lebih  mudah  dipahami  apabila disajikan dalam bentuk bagan alur. Dengan begitu  rangkaian  cerita  yang  ada  pada  buku  itu  akan  lebih  jelas dan mudah terpahami.

  • Pengenalan Cerita
  • Penanggalan Peristiwa
  • Terjadinya Konflik
  • Penyelesaian Konflik
  • Penutup

Pada  setiap  bagiannya  itu,  kemudian  diisi  dengan  catatan-catatan  ringkas.  Misalnya,  pada  bagian  pengenalan:  1)  apa  yang  disampaikan  pengarangnya,  2) gambaran tentang tokoh siapa, dan 3) di mana cerita itu bermula.

Pada bagian pengenalan peristiwa, perlu dicatat tentang latar belakang masalah yang  dihadapi  tokoh  utamanya.  Pada  bagian  konflik,  diceritakan  masalah  yang  dialami tokoh utama, penyebab, dan reaksi yang dilakukan tokoh tersebut.

Bagaimana cara mencatat hal-hal atau informasi yang penting? Selama ini mungkin kita termasuk orang yang tidak mau repot membuat catatan. Kalau pun mencatat, mungkin hanya alakadarnya di dalam buku bacaan tersebut, memberi tanda khusus, menggarisbawahi atau menstabilo. Namun, semua itu membuat buku menjadi tidak bersih. Juga tidak semua buku dapat dicoret karena bukan milik sendiri.

Ada cara yang aman untuk membuat catatan misalnya dengan membuat kartu catatan berukuran kecil. Segala hal yang ingin dicatat, akan ditulis pada lembaran kartu tersebut. Walaupun catatan dengan kartu mudah tercecer, namun hal itu dapat diatasi dengan menyediakan map atau kotak penyimpanan khusus sesuai dengan kategori.

Dan justru membuat catatan dengan kartu tersebut akan mudah diatur berdasarkan kepentingan kita, mudah dibuat variasi warna kartu, dan mudah dibawa saat diperlukan.

Kegiatan 9.4

  • Bentuklah kelompok. Bacalah sekurang-kurangnya sebuah buku fiksi dan nonfiksi!
  • Catatlah setiap  bagian  penting  dari  setiap  buku  tersebut  dalam  bentuk peta konsep.
  • Catat pula identitas buku itu secara jelas, seperti judul, penulis/ pengarang, penerbit, dan ketebalannya.
  • Secara bergiliran   dengan   kelompok   lain,   presentasikan   peta   konsep yang  telah  dibuat    Sebaiknya,  anda  menggunakan  media  presentasi, seperti LCD.
  • Mintalah kelompok lain untuk memberikan komentar berdasarkan aspek-aspek seperti : kejelasan, kelengkapan, dan keruntunan sistematikanya.

Aspek

Isi Komentar

a. Kejelasan

b. Kelengkapan

c. Keruntunan

Materi tersebut merupakan rumusan materi RPP Kelas VIII KD 4.17. Semoga ada manfaatnya.

Salam literasi.

Sumber: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2017. Buku Bahasa Indonesia SMP/MTs. Kelas VIII Edisi Revisi 2017.

.

««««« berliterasi «««««                        ««««« bersastra «««««

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here