Puasa yang dalam bahasa Arab disebut shaum atau shiyâm, artinya menahan. Menahan dari sesuatu. Secara istilah syar’i arti shaum adalah menahan diri dari sesuatu yang membatalkannya, satu hari lamanya, mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari dengan niat dan beberapa syarat.

Shaum adalah beribadah kepada Allâh ‘Azza wa Jalla dengan menahan diri dari makan, minum, dan segala yang membatalkan  mulai terbit fajar (shadiq) sampai matahari tenggelam.

 Macam-Macam Shaum

Shaum ada dua macam : Shaum Wajib dan Shaum Sunat.

Shaum wajib ada tiga macam :
  1. Shaum Ramadlhan.
  2. Shaum kafaroh.
  3. Shaum nadzar.
Shaum Sunat
  1. Shaum Satu Hari dan Berbuka Satu Hari
  2. Shaum Hari Senin dan Kamis
  3. Shaum Tiga Hari dalam Setiap Bulan/ Ayyamul Bidh
  4. Shaum pada Bulan Muharram
  5. Shaum pada Bulan Sya’ban
  6. Shaum Hari Asyura
  7. Shaum Hari Arafah
  8. Shaum Enam Hari pada Bulan Syawal
Shaum Makruh
  1. Mengkhususkan Shaum pada Bulan Rajab
  2. Shaum Hari Jum’at dan Hari Sabtu
  3. Shaum di Hari syak (Ragu), yaitu Hari Ketiga Puluh Bulan Sya’ban, bila keadaan rukyah masih meragukan, kecuali bila bertepatan dengan hari kebiasaan bagi dia (berpuasa sunat).
Shaum yang Haram :
  1. Shaum pada Hari Raya Idul Fitri.
  2. Shaum pada Hari Raya Idul Adha.
  3. Shaum pada Hari Tasyriq tanggal 11, 12, dan 13 Dzul Hijjah, kecuali yang mempunyai kewajiban dan denda karena melaksanakan haji tamattu dan qiran.
Shaum atau Puasa Maksiat
  1. Puasa Mutih
  2. Puasa Patigeni
  3. Puasa untuk Mencari Kesaktian, dan lainnya.
Syarat Wajib Puasa Ada 4, yaitu:
  1. Islam.
  2. Baligh.
  3. Berakal sehat.
  4. Mampu berpuasa.
Fardhu/rukun atau Tata Cara Puasa, yaitu:
  1. Niat.
  2. Menahan diri dari makan dan minum.
  3. Menahan diri dari Jimak (hubungan intim).
  4. Menahan diri dari Sengaja muntah.
Yang Disunnahkan dalam Berpuasa:
  1. Menyegerakan berbuka (ketika waktunya datang).
  2. Mengakhirkan sahur.
  3. Meninggalkan perkaatan keji/ buruk.
Hal-hal yang Membatalkan Puasa, yaitu:
  1. Berhubungan badan pada kemaluan wanita, orang yang melakukannya wajib mengqadha’ dan membayar kafarat (denda), yaitu memerdekan budak. Jika tidak menemukan, maka berpuasa selama dua bulan berturut-turut, jika tidak mampu, maka memberi makan enam puluh orang miskin, jika tidak mampu juga, maka lepaslah kewajibannya.
  2. Keluarnya mani (sperma) karena berciuman, bersentuhan, atau onani, adapun jika keluarnya mani karena bermimpi, maka puasanya tidak batal.
  3. Makan dan minum dengan sengaja. Jika karena lupa, maka puasanya tetap sah.
  4. Mengeluarkan darah dari tubuh dengan cara hijamah (berbekam) atau donor darah. Adapun darah yang sedikit keluarnya untuk pemeriksaan laboratorium, atau keluarnya tidak disengaja seperti luka atau mimisan tidaklah merusak puasanya. (Sebagian pendapat hijamah tidak membatalkan puasa).
  5. Muntah dengan disengaja.

Jika ada debu yang terbang dan masuk ke kerongkongan, atau ketika berkumur-kumur atau istinyaq ada air masuk ke tenggorokannya, atau ia berkhayal hingga keluar mani, atau bermimpi basah, atau keluar darah atau muntah dengan tidak disengaja, maka puasanya tidak batal.

Hal-Hal Yang Boleh Dilakukan Oleh Orang Yang Berpuasa
  1. Mandi untuk mendinginkan badan
  2. Berkumur dan memasukkan air ke hidung dengan tidak berlebih-lebihan
  3. Hijamah/ berbekam, (sebagian pendapat hijamah membatalkan puasa)
  4. Bercumbu dan berciuman bagi mereka yang mampu menahan dirinya
  5. Bangun setelah waktu Shubuh tiba dalam keadaan junub
  6. Melanjutkan puasa hingga waktu sahur
  7. Bersiwak, memakai wangi-wangian, minyak rambut, celak mata, obat tetes mata dan suntikan.
Puasa Ramadhan Itu Wajib Karena Ada Salah Satu dari :
  1. Sempurnanya bulan sya’ban 30 hari
  2. Melihat bulan sabit (hilal), pada haknya orang yang melihat hilal meskipun orang itu fasiq
  3. Tetapnya melihat hilal pada hak orang yang tidak melihat hilal dengan adilnya persaksian
  4. Kabar dari orang yang adil riwayatnya, bisa dipercaya dengan kabarnya tadi baik kebenarannya timbul dari hati atau tidak, atau tidak bisa dipercaya dengan kabar nyata jikalau ternyata kebenarannya timbul dari hati
  5. Menyangka masuknya bulan ramadhan dengan ijtihad, bagi orang yang masih samar tentang masuknya bulan puasa.
Hukum Orang yang Tidak Berpuasa

Haram hukumnya tidak berpuasa pada bulan ramadhan bagi orang yang tidak memiliki udzur. Adapun wanita yang sedang haid dan nifas, atau orang yang dibutuhkan untuk tidak berpuasa guna menyelamatkan jiwa seseorang, diharuskan untuk tidak berpuasa.

Disunatkan bagi seorang musafir yang diperbolehkan untuk mengqashar shalat untuk tidak berpuasa. Jika puasa tersebut memberatkannya. Begitu juga bagi orang sakit yang khawatir akan bahaya karena berpuasa.

Diperbolehkan tidak berpuasa bagi orang mukim yang menempuh perjalanan pada siang harinya, juga bagi wanita hamil atau sedang menyusui, jika keduanya khawatir akan keselamatan diri dan bayinya, dan kesemuanya wajib mengqadha saja. Namun apabila wanita hamil dan yang sedang menyusui tidak berpuasa karena mengkhawatirkan keselamatan anaknya saja, maka selain qadha harus memberi makan seorang miskin untuk setiap hari keduanya tidak berpuasa.

Siapa yang tidak mampu berpuasa karena sudah tua atau karena sakit yang tidak ada harapan untuk sembuh, maka ia memberi makan satu orang miskin untuk setiap hari dimana ia tidak berpuasa dan tidak perlu mengqadhanya.

Orang yang mengakhirkan qadha puasanya karena adanya suatu udzur hingga datang Ramadhan tahun berikutnya, maka ia hanya berkewajiban untuk mengqadha saja. Namun jika hal tersebut terjadi tidak karena udzur, di samping mengqadha ia harus memberi makan satu orang miskin untuk setiap hari ia tidak berpuasa.

Bagi yang meninggalkan qadha puasa ramadhan karena suatu udzur, kemudian meninggal dunia, maka dia tidak berkewajiban apa-apa. Namun jika hal tersebut tidak karena udzur, maka diberikan makan satu orang miskin untuk setiap harinya dan disunatkan bagi keluarga dekatnya, berpuasa untuk menggantikan puasa qadha Ramadhan yag ditinggalkan, atau puasa nazar yang belum sempat ia tunaikan, juga disunatkan melaksanakan nazar ketaatannya kepada Allah.

Siapa saja tidak berpuasa karena adanya udzur, kemudian udzur tersebut hilang pada siang hari bulan Ramadhan, maka ia harus menahan diri dari makan dan minum.

Apabila seorang kafir masuk islam, atau seorang wanita suci dari haidnya, atau orang yang sakit kemudian sembuh, atau seorang musafir kembali, atau seorang anak kecil mulai baligh, atau seorang gila kembali waras pada siang hari bulan Ramadhan sedangkan ketika itu mereka tidak berpuasa, mereka wajib mengqadhanya meskipun mereka melaksanakan puasa sisa waktu hari tersebut.

 

Sumber:

Tafsir Al-‘Usyr Al-Akhir dari Al-Qur’an Al-Karim Juz 28, 29, 30.

Safinatun Naja

Sullam Taufiq

Taqrib

Facebook Comments

Share This Article