“Kekasihku (Rasulullah ) mewasiatkan kepadaku tiga perkara yang tidak aku tinggalkan sampai aku meninggal: puasa tiga hari setiap bulan, shalat Dhuha, dan shalat witir sebelum tidur.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Subhanallah, sungguh luar biasa ajaran Islam yang telah disampaikan sekitar 1500-an tahun yang lalu. Sungguh sunnah Rasulullah ﷺ untuk ayyamul bidh atau hari-hari putih pada tanggal 13, 14, dan 15 yaitu saat kondisi bulan sedang purnama dan memancarkan cahayanya secara penuh dan sempurna.

Dan sungguh bukan merupakan suatu kebetulan bahwa puasa tiga hari setiap bulan pada Ayyamul Bidh yang selalu dilakukan (sunah muakkad) oleh teladan sempurna Rasulullah ﷺ memberikan makna dan hikmah yang sangat besar bagi manusia.

Selama beberapa dekade terakhir ini, terdapat banyak laporan-laporan ilmiah yang meneliti pengaruh bulan purnama dan gelap terhadap perilaku manusia. Dari berbagai Penelitian Ilmu Pegetahuan memastikan bahwa bulan dan semua benda-benda langit termasuk bintang, planet dan satelitnya bersama dengan atribut-atribut kasarnya (berwujud), memancarkan frekuensi-frekuensi halus  (tak kasat mata).  Atribut-atribut fisik dan frekuensi-frekuensi halus ini mempengaruhi kita dalam berbagai tingkatan pada tingkat fisik maupun non-fisik. Termasuk pengaruh terhadap perilaku manusia dan terhadap Kehidupan di Bumi.

Salah satu laporan yang dilakukan oleh Yayasan Penelitian Ilmu Pegetahuan Spiritual (SSRF) menganalisa meningkatnya aktivitas pikiran, peningkatan kunjungan ke bagian gawat darurat umum rumah sakit atau  bagian kejiwaan dan orang-orang yang mengeluh tentang tingginya tingkat tekanan fisik dan mental.

Frekuensi-frekuensi yang dipancarkan bulan mempengaruhi frekuensi-frekuensi dari tubuh mental, yaitu pikiran manusia. Maksud ‘pikiran’ disini adalah perasaan, emosi dan hasrat keinginan kita. Pikiran terdiri dari pikiran sadar dan pikiran bawah sadar. Dalam pikiran bawah sadar kita memiliki sejumlah impresi/ kebiasaan yang tertanam dan menentukan sifat alami serta kepribadian kita. Namun, kita tidak menyadari adanya pemikiran atau impresi di dalam pikiran bawah sadar kita. Impresi-impresi ini telah terkumpul selama beberapa kehidupan.

Lebih lanjut SSRF menyatakan. “Pada saat bulan purnama terdapat penurunan dalam raja-tama akibat meningkatnya iluminasi. Namun karena frekuensi bulan lebih aktif pada waktu bulan purnama, peningkatan aktifitas dari pikiran teramati tergantung pada jenis-jenis impresi dari pikiran bawah sadar yang terpicu, peningkatan aktivitas pikiran dapat berkisar dari meningkatnya pemikiran-pemikiran yang ada secara acak hingga tentang pemikiran tertentu.”

Ketika bulan berada dalam keadaan bulan purnama ataupun bulan mati, kekuatan tarikan gravitasional dari bulan dan matahari tergabung. Bulan memberikan gaya tarik pada Bumi seperti pada hari-hari biasanya, tetapi tidak sekuat di hari terjadinya bulan purnama dan bulan mati.

Terlepas dari semua itu, yang jelas telah disunnahkan puasa tiga hari setiap bulan pada Ayyamul Bidh, yaitu tanggal 13, 14, dan 15 dari bulan Hijriyah. Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata,

أَوْصَانِي خَلِيلِي بِثَلَاثٍ لَا أَدَعُهُنَّ حَتَّى أَمُوتَ صَوْمِ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَصَلَاةِ الضُّحَى وَنَوْمٍ عَلَى وِتْرٍ

Kekasihku (Rasulullah ) mewasiatkan kepadaku tiga perkara yang tidak aku tinggalkan sampai aku meninggal: puasa tiga hari setiap bulan, shalat Dhuha, dan shalat witir sebelum tidur. (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu anhuma, dia berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda kepadaku,

صُمْ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ، فَإِنَّ الْحَسَنَةَ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا, وذَلِكَ مِثْلُ صِيَامِ الدَّهْرِ

Puasalah tiga hari dari tiap bulan. Sesungguhnya amal kebaikan itu ganjarannya sepuluh kali lipat, sehingga ia seperti puasa sepanjang masa.

Dari Abdullah bin ‘Amru bin Al-‘Ash, Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya,

وَإِنَّ بِحَسْبِكَ أَنْ تَصُومَ كُلَّ شَهْرٍ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ فَإِنَّ لَكَ بِكُلِّ حَسَنَةٍ عَشْرَ أَمْثَالِهَا فَإِنَّ ذَلِكَ صِيَامُ الدَّهْرِ كُلِّهِ

Dan sesungguhnya cukuplah bagimu berpuasa tiga hari dari setiap bulan. Sesungguhnya amal kebajikan itu ganjarannya sepuluh kali lipat, seolah ia seperti berpuasa sepanjang tahun. (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan al-Nasai)

Diriwayatkan dari Abi Dzarr Radhiyallahu ‘Anhu berkata, Rasulullah ﷺ bersabda kepadaku,

يَا أَبَا ذَرٍّ إِذَا صُمْتَ مِنْ الشَّهْرِ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ فَصُمْ ثَلَاثَ عَشْرَةَ وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ

Wahai Abu Dzarr, jika engkau ingin berpuasa tiga hari dari salah satu bulan, maka berpuasalah pada hari ketiga belas, empat belas, dan lima belas.  (HR. At Tirmidzi dan al-Nasai. Hadits ini dihassankan oleh al-Tirmidzi dan disetujui oleh Al-Albani dalam al-Irwa’ no. 947)

Diriwayatkan oleh Imam Nasa’i dengan isnad yang baik.

وَعَنْ أَبِي ذَرٍّ رضي الله عنه قَالَ: أَمَرَنَا رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَنْ نَصُومَ مِنْ اَلشَّهْرِ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ: ثَلَاثَ عَشْرَةَ, وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ   رَوَاهُ النَّسَائِيُّ, وَاَلتِّرْمِذِيُّ, وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ

Abu Dzar Radliyallaahu ‘anhu berkata, “Rasulullah memerintahkan kita untuk shaum tiga hari dalam sebulan, yaitu pada tanggal 13,14, dan 15.”  Riwayat Nasa’i dan Tirmidzi. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban. (Bulughul Maram : Hadits No. 702)

Puasa Tiga Hari Setiap bulan dinamai ayyamul bidh karena terkait dengan kisah Nabi Adam ‘alaihis salam ketika diturunkan ke muka bumi.

Riwayat Ibnu Abbas menjelaskan,

ثُمَّ سَبَبُ التَّسْمِيَةِ بِأَيَّامِ الْبِيضِ مَا رُوِيَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ قَالَ إِنَّمَا سُمِيَتْ بِأَيَّامِ الْبِيضِ لِأَنَّ آدَمَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لَمَّا أُهْبِطَ إِلَى الْأَرْضِ أَحْرَقَتْهُ الشَّمْسُ فَاسْوَدَّ فَأَوْحَى اللهُ تَعَالَى إِلَيْهِ أَنْ صُمْ أَيَّامَ الْبِيضِ فَصَامَ أَوَّلَ يَوْمٍ فَأبْيَضَّ ثُلُثُ جَسَدِهِ فَلَمَّا صَامَ الْيَوْمَ الثَّانِيَّ اِبْيَضَّ ثُلُثُ جَسَدِهِ فَلَمَّا صَامَ الْيَوْمَ الثَّالِثَ اِبْيَضَّ جَسَدُهُ كُلُّهُ

Sebab dinamai ‘ayyamul bidh’ adalah riwayat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, dinamai ayyamul bidh karena ketika Nabi Adam ‘alaihis salam diturunkan ke muka bumi, matahari membakarknya sehingga tubuhnya menjadi hitam. Allah Subhaanahu wa Ta’ala kemudian mewahyukan kepadanya untuk berpuasa pada ayyamul bidh (hari-hari putih); ‘Berpuasalah engkau pada hari-hari putih (ayyamul bidh)’. Lantas Nabi Adam ‘alaihis salam pun melakukan puasa pada hari pertama, maka sepertiga anggota tubuhnya menjadi putih. Ketika beliau melakukan puasa pada hari kedua, sepertiga anggota yang lain menjadi putih. Dan pada hari ketiga, sisa sepertiga anggota badannya yang lain menjadi putih.”

Pendapat lain menyatakan,

وَقِيلَ سُمِّيَتْ بِذَلِكَ لِأَنَّ لَيَالِي أَيَّامِ الْبِيضِ مُقْمِرةٌ وَلَمْ يَزَلِ الْقَمَرُ مِنْ غُرُوبِ الشَّمْسِ إِلَى طُلَوعِهَا فِي الدُّنْيَا فَتَصِيُر اللَّيَالِي وَالْأَيَّامُ كُلُّهَا بِيضًا

Dikatakan, hari itu dinamai ayyamul bidh karena malam-malam tersebut terang benderang oleh rembulan dan rembulan selalu menampakkan wajahnya mulai matahari tenggelam sampai terbit kembali di bumi. Karenanya malam dan siang pada saat itu menjadi putih (terang), (Lihat Badruddin Al-‘Aini Al-Hanafi, ‘Umdatul Qari` Syarhu Shahihil Bukhari, juz XVII, halaman 80)

Demikianlah, Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq. Mohon ma’af atas segala kekhilafan.

رَبَّنَا آتِنَا فِيْ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِيْ الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار

والسلام علىكم ورحمة الله و بركاته

Facebook Comments

Share This Article