Tatkala iman terdiri dari dua kelompok, kelompok yang pertama sabar dan kelompok yang kedua adalah syukur. Maka pantaslah bagi seorang hamba yang ingin menasihati dirinya sendiri agar mencintai keselamatan dan mengutamakan kebahagiaannya untuk tidak menyia-nyiakan dua dasar yang agung ini. Juga menjadikan perjalanan menuju Allah, selalu berada di dua jalur yang lurus ini. Agar kelak pada hari kiamat, Allah menghimpunnya bersama kelompok yang terbaik di antara dua kelompok ini.

Bulan Ramadhan adalah anugerah Allah Yang Agung. Disyari’atkannya berpuasa Ramadhan adalah suatu kenikmatan yang sangat besar. Bahkan Allah menjadikan puasa Ramadhan sebagai salah satu dari lima rukun Islam. Ramadhan dengan keistimewaannya dapat mendorong seorang hamba untuk mensyukurinya.

Dengan Ramadhan, bagi seorang hamba beriman berharap agar semakin bertambah keimanannya hingga mencapai derajat taqwa. Semakin besar keagungan nikmat datangnya bulan Ramadhan yang hadir dalam hati sanubari, akan semakin benar-benar bersyukur.

Syukur berkaitan erat dengan taqwa. Tiada orang yang mampu mencapai derajat taqwa tanpa bersyukur. Sebaliknya, syukur akan mengantarkan seorang hamba mencapai ketaqwaan. Maka pantaslah Allah menutup beberapa ayat tentang puasa Ramadhan dengan firman-Nya,

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur`an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (Al-Baqarah:185).

Syukur adalah pujian kepada zat pemberi nikmat atas kebaikan yang Dia berikan. Syukur seorang hamba berkisar pada tiga pilar. Bukan syukur kalau ketiga pilar ini tidak terkumpul. Yaitu mengakui nikmat dalam hati, menceritakan (dengan lisan) sebagai tanda bersyukur kepada Allah, dan mempergunakannya untuk taat kepada Allah.

Syukur berkaitan erat dengan hati, lisan, dan anggauta badan. Karena hati itu untuk mengetahui dan mencintai. Syukur berkaitan erat dengan lisan yaitu untuk menyanjung dan memuji. Dan syukur berkaitan dengan anggauta tubuh yaitu untuk melakukan ketaatan serta mencegah maksiat. (Dr. Ahmad Farid dalam Olahraga Hati)

Sedangkan menurut Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam Madarijus Salikin (2/244), “Syukur terbangun di atas lima pondasi, yaitu ketundukan kepada Sang Pemberi nikmat, mencintai-Nya, mengakui nikmat-Nya, memuji-Nya atas anugerah nikmat tersebut, dan tidak menggunakannya dalam perkara yang dibenci-Nya. Inilah lima pondasi yang merupakan asas syukur dan pondasi bangunannya. (Ketahuilah!) setiap orang yang membahas masalah syukur dan mendefinisikan batasannya, maka pembahasannya kembali kepada lima pondasi tersebut dan berporos kepadanya”, demikianlah tutur

Lebih lanjutnya Ibnul Qoyyim rahimahullah menjelaskan, bahwa pokok syukur adalah mengakui nikmat dari Sang Pemberi nikmat dalam bentuk tunduk, merendahkan diri kepada-Nya, dan mencintai-Nya. Maka, barangsiapa yang tidak mengenal nikmat, bahkan masa bodoh dengannya, maka ia tidak mensyukurinya. Barangsiapa yang mengenal nikmat, namun tidak mengenal Sang Pemberi nikmat, maka ia tidak mensyukurinya juga.

Barangsiapa yang mengenal nikmat dan Sang Pemberi nikmat, akan tetapi mengingkarinya, sebagaimana seseorang mengingkari nikmat Sang Pemberi nikmat, maka berarti ia telah mengkufurinya.

Barangsiapa yang mengenal nikmat dan Sang Pemberi nikmat, dan ia mengakuinya tidak mengingkarinya, namun ia tidak tunduk kepada-Nya, tidak mencintai-Nya, tidak ridha kepada-Nya dan tidak ridha dengan nikmat tersebut, maka ia pun tidak mensyukurinya.

Barangsiapa yang mengenal nikmat dan Sang Pemberi nikmat, dan ia tunduk kepada-Nya, mencintai-Nya, ridha kepada-Nya dan ridha dengan nikmat tersebut, ia pun menggunakannya dalam perkara yang dicintai-Nya dan dalam ketaatan kepada-Nya, maka inilah profil orang yang mensyukuri nikmat! (Thoriqul Hijratain, Ibnul Qoyyim, hal. 175).

Demikianlah. Segala puji bagi Allah. Dia Maha Kuasa terhadap segala sesuatu yang Dia kehendaki. Semoga Allah menganugerahi kepada saya dan Anda dengan melihat wajah-Nya yang mulia.  Jika terdapat kesalahan dan kekurangan, saya memohon ampunan kepada-Nya. Kesalahan dan kekurangan adalah khilaf dan kedha’ifan saya. Dan sungguh Allah yang memiliki asmaaul husna.

 

رَبَّنَا آتِنَا فِيْ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِيْ الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار

والسلام علىكم ورحمة الله و بركاته

 

 

Facebook Comments

Share This Article