Dua Pencarian dan Dua Modal yang Berbeda Hasilnya

Makalah 6 : Dua Pencarian

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

عَنْ عَلِيٍّ رضي الله عنه ( وكرم وجهه )

Dari ‘Aly radiyallahu ‘anhu wa Karramallaahu wajhah,

مَنْ كَانَ فِى طَلَبِ العِلْمِ كَانَتْ الجَنَّةُ فِىْ طَلَبِهِ

Barang siapa yang mencari ilmu maka surgalah sesungguhnya yang ia cari

وَمَنْ كَانَ فِىْ طَلَبِ المَعْصِيَةِ كَانَتْ النَارُ فِى طَلَبِهِ

Dan barang siapa yang mencari ma’siyat, maka sesungguhnya nerakalah yang ia cari.

أي من اشتغل فى العلم النافع الذى لا يجوز للبالغ العاقل جهله كان فى الحقيقة طالبا للجنة ولرضا الله تعالى، ومن كان مريدا للمعصية كان فى الحقيقة طالبا للنار ولسخط الله تعالى

Artinya barang siapa yang menyibukkan diri dengan mencari ilmu yang bermanfaat, yang mana tidak boleh tidak bagi orang yang aqil baligh untuk mengetahuinya, maka pada hakekatnya ia mencari surga dan mencari ridho Allah SWT. Dan barang siapa yang menginginkan ma’siyat, maka pada hakekatnya nerakalah yang ia cari, dan kemarahan Allah Ta’ala.

 

Makalah 7 : Dua Pencarian

عَنْ يَحْيَى بْنِ مُعَاذٍ رضي الله عنه

Dari Yahya bin Muadz radiyallahu ‘anhu

مَا عَصَى اللهَ كَرِيْم

Tidak akan durhaka kepada Allah orang-orang yang mulia

أي حميد الفعال، وهو من يكرم نفسه بالتقوى وبالإحتراس عن المعاصى

Yaitu orang yang baik tingkah lakunya, yaitu mereka yang memuliakan dirinya dengan menghiasinya dengan taqwa dan menjaga diri dari ma’siyat.

وَلا آثرَ الدُنْيَا( أي لا قدّمها ولا فضّلها ) عَلَى الآخِرَةِ حَكِيْمٌ

Dan tidak akan memilih dunia dari pada akhirat orang-orang yang bijaksana

أي مصيبٌ فى أفعاله، وهو من يمنع نفسه من مخالفة عقله السليم

Artinya orang bijak / hakiim tidak akan mendahulukan atau mengutamakan urusan dunia dari pada urusan akhirat. Adapun orang hakiim adalah orang yang mencegah dirinya dari pada bertentangan dengan kebenaran akal sehatnya.”

 

Makalah 8 : Dua Modal yang Berbeda Hasilnya

عَنِ الأَعْمَشِ ( اسمه سايمان بن مهران الكوفي ) رضي الله عنه:

Dari A’Masy, nama lengkapnya adalah Abu Sulaiman bin Mahran AL-Kuufy radiyallahu ‘anhu

مَنْ كَانَ رَأْسُ مَالِهِ التَقْوَى كَلَّتْ الأَلسُنُ عَنْ وَصْفِ رِبحِ دِيْنِهِ

Barang siapa yang bermodalkan taqwa, maka lisannya malas untuk menyebutkan bahwa dia telah beruntung

وَمَنْ كَانَ رَأْسُ مَالِهِ الدُنْيَا كَلَّتْ الأَلْسُنُ عَنْ وَصْ فِ خُسْرَانِ دِيْنِهِ

Dan barang siapa yang bermodalkan dunia, maka lisannya malas untuk menyebutkan bahwa dia rugi dalam hal agamanya.

والمعنى من تمسك على التقوى بامتثال أوامر الله تعالى واجتناب المعاصى بأن أسّس أفعاله بموافقات الشرع فله حسنات كثيرة لا تحصى، ومن تمسك على أمورمخالفات للشرع فله سيئاتٌ كثيرة عجزت الألسن عن ذكر ذلك بالعدد

Artinya barang siapa yang bermodalkan taqwa dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya dimana dasar dari amal perbuatannya adalah selalu bersesuaian dengan syari’at, maka baginya pasti mendapatkan kebaikan yang sangat besar tanpa dapat dihitung dalam hal kebaikan yang diperolehnya. Dan kebalikannya barang siapa yang perbuatannya selalu berseberangan dengan hukum syari’at, maka baginya kerugian yang sangat besar bahkan lidahpun sampai tidak dapat menyebutkannya.

 

رَبَّنَا آتِنَا فِيْ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِيْ الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار

والْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِين

والسلام علىكم ورحمة الله و بركاته

Dari: “Nashaihul Ibad” Karya Ibnu Hajar Al Asqalany. Syarah oleh Muhammad Nawawi bin ‘Umar

Facebook Comments