Makalah 26 : Dua Perbuatan Tercela

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

قِيْل : كُفْرَانُ النِعْمَةِ لُؤْم

Dikatakan, Kufur ni’mah adalah tercela,

أي عدم شكرالنعمة دليل على دناءة النفس

maksudnya adalah dengan tidak adanya syukur ni’mat menunjukkan rendahnya nafsu

وَصُحْبَةُ الأَحْمَقِ  وهي واضع الشيء فى غيرمحله مع العلم بقبحه شُؤْم  أي غير مبارك

dan berteman dengan orang bodoh, yaitu orang yang menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya padahal ia mengetahui akan keburukan sesuatu tersebut. (adalah keburukan) yaitu tidak membawa berkah.

Oleh karena itu janganlah berteman dengannya disebabkan karena buruknya akhlak/ keadaan tingkah lakunya karena sesungguhnya tabi’at itu dapat menular

..

Makalah 27 : Dua Kerugian

قال الشاعر: من بحر الكامل المجزوّ

يَا مَنْ بِدُنْيَاهُ اشْتَغَلْ … قَدْ غَرَّهُ طُوْلُ الأَمَل

أَوَ لَمْ يَزَلْ فِىْ غَفْلَةٍ … حَتَّى دَنَا مِنْهُ الأَجَل

المَوْتُ يَأتِيْ بَغْتَةً … وَالقَبْرُ صُنْدُوقُْ العَمَل

إِصْبِرْ عَلى أَهْوَالِهَا … لاَ موْتَ إِلاَّ بِالأَجَل

Disebutkan dalam syair….Wahai yang disibukkan oleh dunia Sungguh panjangnya angan-angan telah menenggelamkan mereka Bukankah mereka selalu dalam keadaan lupa kepada Allah Hingga dekatlah ajal bagi mereka Sesungguhnya kematian datangnya mendadak Dan kubur adalah tempat penyimpanan amal.

وروى الديلمي أنّه صلى الله عليه وسلم قال

Addailami meriwayatkan hadits dari Rasulullah ﷺ yang bersabda,

تَرْكُ الدُّنْيا أمَرُّ مِنَ الصَّبْروأشَدُّ مِنْ حَطْمِ السَّيُوفِ في سَبِيلِ الله

“Meninggalkan kenikmatan dunia lebih pahit dari pada sabar, dan lebih berat dari pada memukulkan pedang di jalan Allah.

وَلاَ يَتْرُكُهَا أَحَدٌ إِلاَّ أَعْطَاهُ اللهُ مِثْلَ مَا يعُطِى الشُهَدَاءَ

Dan tiada sekali-kali orang mau meninggalkan kenikmatan dunia melainkan Allah akan memberi sesuatu seperti yang diberikan kepada para Syuhada’.

وَتَرْكُهَا قِلَّةُ الأَكْلِ وَالشَبْعِ وَبغُضُ الثَنَاءِ مِ نَ النَاسِ

Dan meninggalkan kenikmatan dunia adalah dengan menyedikitkan makan dan kekenyangan, dan membenci pujian manusia

فإنه من أحب الثناء من الناس أحب الدنيا ونعيمها

karena sesungguhnya orang yang suka dipuji oleh manusia adalah termasuk mencintai dunia dan kenikmatannya.

ومن سره النعيم كل النعيم فليدع الدنيا والثناء من الناس

Dan barang siapa menginginkan kenikmatan yang sesungguhnya maka hendaklah ia meninggalkan kenikmatan dunia dan pujian dari manusia”.

وروى ابن ماجه أنه صلى الله عليه وسلم قال

Dan Ibnu Majah telah meriwayatkan sesungguhnya RasuluLlah ﷺ bersabda,

من كانت نِيَّتُهُ الآخِرَةَ جَمَعَ اللهُ شَمْلَهُ وَجَعَلَ غِنَاهُ في قَلْبِهِ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا رَاغِمَةً

“Barang siapa yang niatnya adalah untuk akhirat, niscaya Allah akan mengumpulkan kekuatan baginya dan Allah membuat hatinya menjadi kaya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina.

وَمَنْ كانت نِيَّتُهُ الدُّنْيَا فَرَّقَ اللهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ وَجَعَلَ فَقْرَهُ بين عَيْنَيْهِ ولم يَأْتِهِ مِنَ الدُّ نْيَا إِلاَّ مَا كُتِبَ لَه

Dan barang siapa yang niatnya dunia maka Allah akan menceraiberaikan segala urusannya, dan Allah menjadikan kefakiran di depan kedua belah matanya dan tiadalah dunia akan mendatanginya kecuali apa yang telah tertulis untuknya.”

رَبَّنَا آتِنَا فِيْ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِيْ الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار

والْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِين

والسلام علىكم ورحمة الله و بركاته

Dari: “Nashaihul Ibad” Karya Ibnu Hajar Al Asqalany. Syarah oleh Muhammad Nawawi bin ‘Umar

Facebook Comments