Tiga Resep Menjadi Orang yang Dicintai, Tiga Hal Pokok, dan Tiga Hal yang Dapat Melalaikan Manusia

 

Makalah Ke-4 : Tiga Resep Menjadi Orang yang Dicintai

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

عَنْ عُثْمَانَ رَضِيَ اللهُ عَنْه

‘Utsman radiyallahu ‘anhu berkata

مَنْ تَرَكَ الدُنْيَا أَحَبَّهُ اللهُ تَعَالَى

“Barang siapa yang menjauhi keduniawian, niscaya akan dicintai oleh Allah

وَمَنْ تَرَكَ الذُنوْبَ أَحَبَّهُ المَلاَئِكَة

Barang siapa yang menjauhi dosa-dosa, akan dicintai oleh para malaikat

وَمَنْ حَسَمَ الطَمَعَ عَنِ المُسْلِمِيْنَ

Barang siapa yang meninggalkan ketamakan terhadap milik orang lain, niscaya akan dicintai oleh seluruh umt islam.”

Menjauhi keduniawian maksudnya tidak bermegah-megahan, mengurangi makan-minum, dan tidak suka kepada pujian manusia. Hal ini membuat pelakunya dicintai Allah, sebab pelakunya jauh dari riya’ dan sifat sombong.

Orang yang meninggalkan dosa akan dicintai malaikat, sebab ia tidak membuat sibuk malaikat pencatat keburukan.

Orang yang meninggalkan sifat tamak terhadap milik orang lain akan dicintai semua orang, sebab dia tidak menjadi beban pihak orang lain.

 

Makalah Ke-5 : Tiga Hal Pokok

عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْه  وكرم وجهه

Dari Ali radiyallahu ‘anhu wa karrama wajhah berkata,

إنَّ مِنْ نَعِيْمِ الدُنْيَا يَكْفِيْكَ الإِسْلاَمُ نِعْمَة

“Dari sekian banyak nikmat dunia, cukuplah Islam sebagai nikmat bagimu

وَإنَّ مِنَ الشُغْلِ يَكْفِيْكَ الطَاعَةُ شُغْلا

Dari sekian banyak kesibukan, cukuplah ketaatan sebagai kesibukan bagimu

وَإِنَّ مِنَ العِبْرَة يَكْفِيْكَ المَوْتُ عِبْرَة

Dari sekian banyak pelajaran, cukuplah kematian sebagai pelajaran bagimu.”

Kenikmatan Allah yang paling besar untuk manusia adalah Allah menciptakan manusia dari tidak ada menjadi ada, serta membebaskan manusia dari kekufuran kepada cahaya Islam.

 

Makalah Ke-6 : Tiga Hal yang Dapat Melalaikan Manusia

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْه

Ibnu Mas’ud radiyallahu ‘anhu berkata,

كَمْ مِنْ مُسْتَدْرَجٍ (أي مأخوذ قليلا قليلا) بِالنِعْمَةِ (بإكثارها) عَلَيْهِ

“Berapa banyak manusia yang dihukum secara berangsur-angsur melalui kesenangan yang diberikan kepadanya

وكَمْ مِنْ مَفْتُوْنٍ (أي ممتحَن بالبلاء) بِالثَنَاءِ (أي بكثرة ثناء الناس) عَلَيْهِ

Betapa banyak manusia yang mendapat cobaan melalui pujian orang lain kepadanya

وكَمْ مِنْ مَغْرُوْرٍ أي مطمئن قلبه فى الدنيا وغافل عن الآخرة بِالتَسَتُّرِ  أي بستر الله عيوبه عَلَيْهِ

Betapa banyak manusia yang teperdaya karena kelemahannya disembunyikan oleh Allah.”

رَبَّنَا آتِنَا فِيْ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِيْ الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار

والْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِين

والسلام علىكم ورحمة الله و بركاته

Dari: “Nashaihul Ibad” Karya Ibnu Hajar Al Asqalany. Syarah oleh Muhammad Nawawi bin ‘Umar

Facebook Comments

Share This Article