Tiga Ciri Manusia Paling Bahagia, Tiga Penyebab Kerusakan dan Tiga Ciri Keberuntugan

 

Makalah Ke-17 : Tiga Ciri Manusia Paling Bahagia

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وقيل: أسعد الناس من له

Dikatakan bahwa manusia yang paling bahagia adalah orang yang memiliki:

قلب عالم

hati yang meyakini bahwa Allah senantiasa bersamanya

وبدن صابر

jiwa raga yang sabar;

وقناعة بما فى اليد

dan sikap qana’ah dengan apa yang dimiliki.

Qana’ah adalah menerima pemberian Allah dengan hati rido dan tidak risau dengan apa yang luput darinya.

Makalah Ke-18 : Tiga Penyebab Kerusakan

وعن إبراهيم النخعي إنما هلك من هلك قبلكم بثلاث خصال

Ibrahim An-Nakha’iy mengatakan: “Penyebab rusaknya orang-orang sebelum kalian ada tiga hal, yaitu:

بفضول الكلام

karena terlalu banyak bicara

وفضول الطعام

karena terlalu banyak makan; dan

وفضول المنام

karena terlalu banyak tidur.”

Makalah Ke-19 : Tiga Ciri Keberuntugan

وعن يحيى بن معاذ الرازي: طوبى

Yahya bin Mu’adz pernah berkata: “Sungguh beruntung orang yang:

لمن ترك الدنيا قبل أن تتركه

meninggalkan harta sebelum harta meninggalnya

وبني قبره قبل أن يدخله

membangun kuburan sebelum ia mamasukinya; dan

وأرضى ربه قبل أن يلقاه

membuat ridha Tuhan sebelum ia menemui-Nya.”

Yang dimaksud dengan meninggalkan harta sebelum harta meninggalkan dirinya adalah harta tersebut digunakan untuk berbagai kebaikan sebelum harta tersebut lenyap dari dirinya.

Yang dimaksudkan dengan membangun kubur sebelum ia memasukinya adalah senantiasa melakukan amal yang bisa membuat dirinya nyaman di alam kubur kelak, yakni amal shalih dan ketaatan kepada Allah.

Yang dimaksudkan dengan membuat ridha Tuhannya adalah melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Yang dimaksudkan dengan sebelum menemui-Nya adalah sebelum dia mati.

 

Makalah Ke-20 : Tiga Sunah yang Harus Dimiliki Setiap Muslim

وعن علي: من لم يكن عنده

‘Ali radiyallahu ‘anhu pernah mengatakan,  “Barang siapa memiliki

سنة الله

sunnatullah

وسنة رسوله

sunnah Rasul-Nya

وسنة أوليائه

Dan sunnah para wali.

فليس فى يده شيء

maka dia tidak punya kebaikan sedikit pun.”

قيل له: ما سنة الله

Ketika ‘Ali radiyallahu ‘anhu ditanya apa yang dimaksud dengan sunnatullah itu,

قال: كتمان السر

‘Ali radiyallahu ‘anhu menjawab: “Menyembunyikan rahasia.”

وقيل: ما سنة الرسول

‘Ali radiyallahu ‘anhu ditanya lagi: “Apa yang dimaksud dengan sunnah Rasul itu?”

قال: إحتمال الأذى عن الناس

‘Ali radiyallahu ‘anhu menjawab: “Bersikap ramah kepada sesama manusia.

” ‘Ali radiyallahu ‘anhu lalu ditanya: “Apa yang dimaksud dengan sunnah para wali itu?” ‘Ali menjawab: “Sabar dalam menghadapi perlakuan yang menyakitkan hati.”

‘Ali radiyallahu ‘anhu juga berkata:

وكانوا من قبلنا يتواصون بثلاث خصال ويتكاتبون بها

“Orang-orang sebelum kami juga biasa saling mengingatkan dan berkirim surat dengan tiga hal berikut ini:

من عمل لآخرته كفاه الله أمر دينه ودنياه

Barang siapa beramal untuk kepentingan akhiratnya, maka Allah akan memelihara urusan agama dan dunianya.

ومن أحسن سريرته أحسن الله علانياته

Barang siapa yang baik batinnya, maka Allah akan memperbaiki lahirnya

ومن أصلح ما بينه وبين الله أصلح الله ما بينه وبين الناس

Barang siapa yang ikhlas amal ibadahnya kepada Allah, maka Allah akan menjamin kebaikan hubungan antara dia dan sesama manusia.”

رَبَّنَا آتِنَا فِيْ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِيْ الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار

والْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِين

والسلام علىكم ورحمة الله و بركاته

Dari: “Nashaihul Ibad” Karya Ibnu Hajar Al Asqalany. Syarah oleh Muhammad Nawawi bin ‘Umar

Facebook Comments