Tiga Pesan Allah Kepada Nabi ‘Uzair dan Tiga Jawaban Setan

 

Makalah Ke-22 : Tiga Pesan Allah Kepada Nabi ‘Uzair

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

قيل أوحى الله تعالى إلى عزير النبي قال: يا عزير

Diriwayatkan bahwa Allah telah berfirman kepada Nabi ‘Uzair: “Wahai ‘Uzair,

إذا أذنبت ذنبا صغيرا فلا تنظر إلى صغره وانظر إلى من الذي أذنبت له

Jika engkau melakukan dosa kecil, maka janganlah engkau melihat kecilnya dosa, tapi lihatlah kepada Dzat yang engkau durhakai

وإذا أصابك خير يسير فلا تنظر إلى صغره وانظر إلى من الذي رزقك

Jika engkau memperoleh kebaikan sedikit, janganlah engkau melihat kecilnya kebaikan, tetapi lihatlah kepada Dzat yang telah memberikan rezeki itu kepadamu

وإذا أصابك بلية فلا تشكوني إلى خلقي كما لا أشكوك إلى ملائكتي إذا صعدت إليّ مساويك

Jika engkau tertimpa musibah, maka janganlah engkau mengadukan Aku kepada makhluk-Ku, sebab Aku juga tidak pernah mengadukanmu kepada para malaikat-Ku ketika engkau berbuat maksiat kepada-Ku.”

Imam Ibnu ‘Uyainah berkata, “Orang yang mengeluh kepada orang lain namun hatinya mampu bersabar dan ridha menerima semua ketetapan Allah, maka orang itu tidak dikatakan berkeluh-kesah, sebab pernah ketika Malaikat Jibril bertanya: ‘Apa yang engkau rasakan?’, Nabi ﷺ yang saat itu sedang sakit menjelang wafatnya menjawab: ‘Wahai Jibril, aku sedang tertimpa kecemasan dan kesusahan.'”

 

Makalah Ke-23 : Tiga Jawaban Setan

وعن حاتم الأصم: ما من صباح إلا ويقول الشيطان لي ما تأكل؟ وما تلبس؟ وأين تسكن؟ فأقول له

Hatim Al-Asham berkata: “Setiap pagi setan selalu bertanya kepadaku tentang tiga hal: ‘Apa yang engkau makan? Apa yang engkau pakai? Di mana tempat tinggalmu?’ Aku menjawab

آكل الموت

‘Aku sedang memakan (membayangkan pahitnya) mati

وألبس الكفن

yang aku pakai adalah kain kafan

وأسكن القبر

tempat tinggalku adalah kuburan

Mendengar jawabanku itu setan langsung lari menjauhiku.”

Nama lengkap Hatim Al-Asham adalah Abu ‘Abdurrahman Hatim bin Ulwan. Ada juga yang menyebutnya Hatim bin Yusuf. Ia seorang ulama besar dalam bidang tashawwuf, berasal dari negeri Khusaran. Hatim Al-Asham artinya Hatim yang tuli. Dijuluki demikian karena kisah berikut: Suatu saat ada seorang wanita datang kepada Hatim untuk menanyakan sesuatu masalah. Tiba-tiba wanita tersebut kentut, sehingga merah wajahnya karena merasa malu. Untuk menutupi rasa malu wanita tersebut, Hatim berkata: “Keraskan suaramu, aku kurang bisa mendengar.” Mendengar ucapan Hatim itu, wanita tersebut merasa senang dan rasa malunya pun hilang, karena ia yakin kentutnya pasti tidak terdengar oleh Hatim, padahal pendengaran Hatim masih normal, hanya saja ia berpura-pura tuli agar wanita itu tidak kecewa karena malu. Sejak saat itulah ia selalu dipanggil oleh masyarakatnya dengan sebutan Hatim Al-Asham (orang yang tuli).

رَبَّنَا آتِنَا فِيْ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِيْ الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار

والْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِين

والسلام علىكم ورحمة الله و بركاته

Dari: “Nashaihul Ibad” Karya Ibnu Hajar Al Asqalany. Syarah oleh Muhammad Nawawi bin ‘Umar

Facebook Comments