Makalah Ke-21 : Tiga Faktor Pembentuk Kepribadian

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وعن علي

‘Ali radiyallahu ‘anhu pernah berkata:

كن عند الله خير الناس

Jadilah manusia yang paling baik di sisi Allah

وكن عند النفس شر الناس

Jadilah manusia paling buruk dalam pandangan dirimu

وكن عند الناس رجلا من الناس

Jadilah manusia biasa di hadapan orang lain.”

Syekh ‘Abdul Qadir Jailani berkata,  “Bila engkau bertemu dengan seseorang, hendaknya engkau memandang dia itu lebih utama daripada dirimu dan katakan dalam hatimu: “Boleh jadi dia lebih baik di sisi Allah daripada diriku ini dan lebih tinggi derajatnya.”

Jika dia orang yang lebih kecil dan lebih muda umurnya dari pada dirimu, maka katakanlah dalam hatimu: ‘Boleh jadi orang kecil ini tidak banyak berbuat dosa kepada Allah, sedangkan aku adalah orang yang telah banyak berbuat dosa, maka tidak diragukan lagi kalau derajat dirinya jauh lebih baik dari pada aku.’

Bila dia orang yang lebih tua, maka hendaknya engkau mengatakan dalam hati: ‘Orang ini telah lebih dahulu beribadah kepada Allah dari pada diriku.’

Jika dia orang ‘Alim, maka katakan dalam hatimu: ‘Orang ini telah diberi oleh Allah sesuatu yang tidak bisa aku raih, telah mendapatkan apa yang tidak bisa aku dapatkan, telah mengetahui apa yang tidak aku ketahui, dan telah mengamalkan ilmunya.’

Bila dia orang bodoh, maka katakan dalam hatimu: ‘Orang ini durhaka kepada Allah karena kebodohannya, sedangkan aku durhaka kepada-Nya, padahal aku mengetahuinya. Aku tidak tahu dengan apa umurku akan Allah akhiri atau dengan apa umur orang bodoh itu akan Allah akhiri (apakah dengan husnul khatimah atau su’ul khatimah).’

Bila dia orang kafir, maka katakan dalam hatimu: ‘Aku tidak tahu bisa jadi dia akan masuk Islam, lalu menyudahi seluruh amalnya dengan amal shalih, dan bisa jadi aku terjerumus menjadi kafir, lalu menyudahi seluruh amalku dengan amal yang buruk.'”

Dalam padangan Islam semua manusia itu sama, tidak dibeda-bedakan karena status sosial, harta, tahta, keturunan, atau latar belakang pendidikannya. Manusia yang paling mulia derajatnya di sisi Allah adalah yang paling tinggi kadar ketaqwaannya di antara mereka. Oleh karena itu, sebagian ulama berdo’a dengan do’a berikut:

“Ya Allah, jadikanlah aku orang yang pandai bersabar dan bersyukur; jadikanlah aku seorang yang hina menurut pandangan diriku sendiri; dan jadikanlah aku orang yang besar menurut pandangan orang lain.”

 

رَبَّنَا آتِنَا فِيْ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِيْ الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار

والْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِين

والسلام علىكم ورحمة الله و بركاته

Dari: “Nashaihul Ibad” Karya Ibnu Hajar Al Asqalany. Syarah oleh Muhammad Nawawi bin ‘Umar

Facebook Comments