Tiga Pengertian Zuhud, Tiga Pembungkus Agama dan Tiga Asas Zuhud

Makalah Ke-33 : Tiga Pengertian Zuhud

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وعن ابن عباس رضي الله عنهما أنه قال

‘Ibnu ‘Abbas radiyallahu ‘anhu berkata

الزهد ثلاثة أحرف

“Zuhud (az-zuhud) terdiri dari tiga huruf,

زاي وهاء ودال

yaitu: zaa’, haa’, dan daal

فالزاي زاد للمعاد

Zaa’ maksudnya zaadun li ma’aad (bekal untuk kembali ke akhirat, yakni taqwa);

والهاء هدى للدين

Haa’ maksudnya hudan lid diin (petunjuk untuk mengikuti Islam)

والدال دوام على الطاعة

dan daal maksudnya dawaam ‘alath thoo’ah (terus-menerus dalam melakukan ketaatan)

Makalah Ke-34 : Tiga Pengertian Zuhud yang Lain

وقال فى موضع أخر

Dalam kesempatan lain Ibnu ‘Abbas mengatakan:

الزهد ثلاثة أحرف

“Zuhud (az-zuhdu) terdiri dari tiga huruf, yaitu: zaa’, haa’, dan daal.

الزاي ترك الزينة

Zaa’ maksudnya tarkuz ziinah (menginggalkan kemegahan dan kemewahan);

والهاء ترك الهوى

Haa’ maksudnya tarkul hawaa (menginggalkan kesenangan hawa nafsu)

والدال ترك الدنيا

dan daal maksudnya tarkud dun-yaa (menjauhi keduniawian).”

Makalah Ke-35 : Tiga Pembungkus Agama dan Tiga Asas Zuhud

وعن حامد اللفاف رحمه الله أنه قال أتاه رجل فقال له أوصني

Hamid Al-Laqaf radiyallahu ‘anhu pernah didatangi seorang lelaki, lalu berkata kepadanya: “Berilah aku nasihat.”

فقال له اجعل لدينك غلافا كغلاف المصحف

Hamid berkata: “Buatlah pembungkus untuk agamamu seperti pembungkus buku.”

قيل له: ما غلاف الدين

Lelaki tadi kemudian bertanya: “Apa yang dimaksud dengan pembungkus agama itu.”

قال

Hamid menjawab: “Pembungkus agama itu adalah:

ترك الكلام إلا ما لا بد منه

tidak berbicara sebatas yang perlu saja

وترك الدنيا إلا ما لا بد منه

meninggalkan duniawi, kecuali sebatas yang perlu saja

وترك مخالطة الناس إلا ما لا بد منه

dan tidak bergaul dengan manusia, kecuali sebatas yang perlu saja

ثم اعلم أن أصل الزهد

Selanjutnya, ketahuilah bahwa azas zuhud itu adalah

الإجتناب عن المحارم، كبيرها وصغيرها

menjauhi semua yang haram, baik yang besar maupun yang kecil

وأداء جميع الفرائض، يسيرها وعسيرها

mengerjakan semua yang difardhukan, baik yang mudah maupun yang sulit

وترك الدنيا على أهلها، قليلها وكثيرها

dan meninggalkan keduniaan, baik yang sedikit maupun yang banyak.”

Nabi Sulaiman dan Luqman pernah berkata: “Apabila berbicara ia bagaikan perak, maka diam itu bagaikan emas.” Maksudnya, apabila perkataan seseorang dalam kebaikan nilainya seperti perak, maka diam dari berkata buruk nilainya seperti emas.

Menurut Syekh ‘Abdul Qadir Jailani, manusia itu terbagi menjadi empat, yaitu:

  1. Orang yang tidak mempunyai lisan dan tidak mepunyai hati. Ini adalah tipe orang durhaka, lalai dan jahil. Hati-hatilah jangan sampai Anda seperti mereka dan jangan bergaul bersama mereka, sebab mereka itu layak mendapat azab.
  2. Orang yang berlisan tetapi tidak berhati. Kata-kata orang seperti ini mengandung hikmah tetapi ia sendiri tidak pernah mengamalkannya. Ia mengajak manusia untuk beriman dan beramal shalih serta bertakwa kepada Allah, sementara dia sendiri mengkufuri dan menjauhi Allah. Oleh karena itu, jauhilah mereka supaya anda tidak tertipu oleh keindahan perkataan mereka yang bisa membuat diri anda terbakar oleh api kemaksiatan mereka atau terjerumus oleh kebusukan hati mereka.
  3. Orang yang memiliki hati tetapi tidak memiliki lisan. Ini adalah tipe orang mukmin yang disembunyikan oleh Allah dari pandangan mahluk-Nya. Allah membukakan mata hatinya hingga dapat melihat kekurangan dirinya, menerangi hatinya dan mengenalkan kepadanya bencana banyak bergaul dengan orang lain dan musibah yang diakibatkan oleh banyak bicara. Sebenarnya dia adalah kekasih Allah yang disembunyikan dalam pemeliharaan-Nya, padahal dia memiliki banyak kebaikan dalam dirinya. Gaulilah oleh Anda orang yang seperti ini dan berkhidmadlah kepadanya, niscaya Allah pun akan mencintai Anda.
  4. Orang yang mau belajar dan mengajar serta mengamalkan ilmunya. Ia betul-betul mengenal Allah dan memahami ayat-ayat-Nya. Allah memberinya ilmu yang tidak diketahui oleh banyak orang dan Allah melapangkan dadanya untuk menerima bermacam-macam ilmu. Oleh karena itu, hati-hatilah anda jangan sampai menyelisihinya, menjauhinya dan meninggalkan nasihatnya.”

Perlu diketahui pada dasarnya zuhud itu adalah menjauhi semua yang diharamkan, baik yang besar maupun yang kecil. Sikap ini akan mewariskan sifat wara’ (hati-hati). Menunaikan semua yang difardhukan, baik yang mudah maupun yang sulit. Sikap ini akan mewariskan tobat dan kembali ke jalan Allah sehingga hati pelakunya akan beroleh penerangan dan terhindar dari kesyubhatan, terlebih lagi dari hal-hal yang diharamkan. Terakhir adalah membiarkan urusan duniawi ditangani oleh ahlinya, baik yang kecil maupun yang besar. Sikap ini melahirkan qana’ah (menerima apa adanya), tawakkal dan percaya kepada apa yang ada di sisi Allah serta tidak mengharapkan apa yang ada di tangan orang lain.

 

رَبَّنَا آتِنَا فِيْ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِيْ الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار

والْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِين

والسلام علىكم ورحمة الله و بركاته

Dari: “Nashaihul Ibad” Karya Ibnu Hajar Al Asqalany. Syarah oleh Muhammad Nawawi bin ‘Umar

Facebook Comments

Share This Article