Makalah Ke-40 : Tiga Hal yang Paling Baik

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وعن ابن عباس رضي الله عنهما حين سئل: ما خير الأيام؟ وما خيرالشهور؟ وما خير الأعمال

Ibnu ‘Abbas radiyallahu ‘anhu ketika ditanya tentang hari, bulan dan amalan yang paling baik,

فقال:

ia menjawab:

خير الأيام يوم الجمعة

“Hari yang paling baik adalah hari Jum’at

وخير الشهور شهررمضان

Bulan yang paling baik adalah bulan Ramadhan

وخير الأعمال الصلوات الخمس لوقتها

Amalan yang paling baik adalah menjalankan shalat fardhu tepat pada waktu utamanya.”

فمضى على ذلك ثلاثة أيام فبلغ عليا رضي الله عنه أن ابن عباس رضي الله عنهما سئل عن ذلك فأجاب بكذا فقال علي رضي الله عنه لو سئل العلماء والحكماء والفقهاء من المشرق إلى المغرب لما أجابوا بمثل ما أجاب به ابن عباس

Selanjutnya, Ibnu ‘Abbas meninggal dunia pada hari Jum’at. Tiga hari sesudah kematiannya, sampailah berita kepada ‘Ali bin Abi Thalib radiyallahu ‘anhu tentang jawaban Ibnu ‘Abbas radiyallahu ‘anhu ketika ditanya tentang hal itu, pasti mereka akan menjawab seperti jawaban Ibnu ‘Abbas

إلا أني أقول

 kecuali aku, Jika aku ditanya hal tersebut, pasti aku akan menjawab sebagai berikut:

خير الأعمال ما يقبل الله تعالى منك

‘Amal yang paling baik adalah amal yang diterima oleh Allah

وخير الشهور ما تتوب فيه إلى الله توبة نصوحا

bulan yang paling baik adalah bulan yang di dalamnya engkau bertobat kepada Allah dengan taubat nashuha; dan

وخير الأيام ما تخرج فيه من الدنيا إلى الله تعالى مؤمنا بالله

sebaik-baik hari adalah hari saat engkau pergi meninggalkan dunia dan kembali kepada Allah dalam keadaan beriman kepada-Nya.”

Ibnu ‘Abbas mengatakan bahwa yang disebut dengan taubat nashuha adalah hatinya menyesali dosa yang pernah dikerjakan; lisannya memohon ampunan kepada Allah; raganya berhenti dari segala macam perbuatan dosa; dan berjanji tidak akan melakukan lagi kemaksiatan yang dilarang oleh Allah.

Ada lagi yang mengatakan bahwa taubat nashuha adalah taubat yang sesudah taubat itu tidak mengulangi berbuat maksiat, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan.

Ada lagi yang mengatakan bahwa taubat  nashuha adalah taubat yang mewariskan kebahagiaan di dunia dan di akhirat bagi pelakunya.

وقال شاعر

Hal yang senada diungkapkan oleh seorang penyair hikmah berikut melalui bait-bait syair gubahannya:

أما ترى كيف يبلينا الجديدان • ونحن نلعب فى سر وإعلان

Tidakkah kulihat bencana yang ditimpakan oleh masa kepada kita, 

menghanyutkan kita dalam permainannya baik sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan

لا تركنن إلى الد نيا ونعمتها • فإن أوطانها ليست بأوطان

Jangan sekali-kali kau tergiur oleh duniawi dan perhiasannya,

karena dunia bukan tempat kita sebenarnya

واعمل لنفسك من قبل الممات فلا • تغررك كثرة أصحاب وإخوان

Banyak beramallah demi kemaslahatan dirimu sebelum kematian menjemput

jangan terperdaya dengan teman dan saudara yang banyak kaumiliki

Al-Imam Ghazali R.A, menurut suatu pendapat, telah mengatakan dalam pesan-pesannya melalui bait-bait syair berikut:

Jika kau ingin berharta banyak, ucapanmu didengar oleh orang

dicintai oleh semua wanita dan disenangi oleh semua laki-laki

Kekayaan datang kepadamu

membuat kamu bahagia, disegani, dihormati, lagi berharta banyak

terhindar dari bencana dan rencana jahat, baik dari musuh

maupun teman yang berpura-pura memihakmu

Bacalah ‘Ya hayyu ya qoyyumu’ sebanyak seribu kali sepanjang malam

atau siang dan malam hari

Sesungguhnya nasihatku ini jauh lebih berharga

daripada apa pun yang berharga

Amalkanlah dengan tetap, jangan kautinggalkan

niscaya kau akan meraih kedudukan yang tertinggi

رَبَّنَا آتِنَا فِيْ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِيْ الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار

والْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِين

والسلام علىكم ورحمة الله و بركاته

Dari: “Nashaihul Ibad” Karya Ibnu Hajar Al Asqalany. Syarah oleh Muhammad Nawawi bin ‘Umar

Facebook Comments