Tiga Bukti Cinta Sejati, Tiga Catatan dan Tiga Ma’rifat dan Buahnya 

 

Makalah Ke-47 : Tiga Bukti Cinta Sejati

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وعن النبي صلاة والسلام أنه قال

Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

صدق المحبة فى ثلاث خصال

“Bukti cinta sejati itu ada tiga, yaitu:

أن يختار كلام حبيبه على كلام غيره

memilih kalam kekasihnyaa (Al-Qur’an) daripada kalam lain-Nya (hasil produk manusia)

ويختار مجالسة حبييه على مجالسة غيره

memilih bergaul dengan kekasih-Nya daripada bergaul dengan yang lain

ويختار رضى حبيبه على رضى غيره

memilih keridhaan kekasih-Nya daripada keridhaan yang lain.”

Demikian ini karena orang yang mencintai sesuatu itu, ia menjadi hambanya. Yahya bin Mu’adz sehubungan dengan pengertian ini telah mengatakan: “Setitik benih cinta kepada Allah lebih aku sukai daripada pahala mengerjakan ibadah tujuh puluh tahun.”

 

Makalah Ke-48 : Tiga Catatan

وعن وهب بن منبه اليماني رضي الله عنه

Wahab bin Munabbih Al-Yamani radiyallahu ‘anhu berkata:

مكتوب فى التوراة

“Dalam Kitab Taurat tertulis:

الحريص فقير وإن كان ملك الدنيا

Orang yang rakus adalah fakir, meskipun ia memiliki seluruh kekayaan dunia.

والمطيع مطاع وإن كان مملوكا

Orang yang taat kepada Allah akan ditaati manusia, meskipun ia seorang budak

والقانع غني وإن كان جائعا

Orang yang qana’ah adalah kaya, sekalipun ia sering kelaparan.”

Dikisahkan bahwa ada seorang tawanan wanita muslimah melarikan diri dari penjara negara orang kafir. Ia berjalan kaki sepanjang 200 farsakh (1 farsakh kurang lebih 8 km. -edt) dan tidak memakan apa-apa. Selanjutnya, ia ditanya bagaimana bisa kuat berjalan sekian jauhnya tanpa makan. Ia lantas menjawab: “Setiap aku lapar, aku membaca surat Al-Ikhlas sebanyak tiga kali.”

 

Makalah Ke-49 : Tiga Ma’rifat dan Buahnya 

وعن بعض الحكماء

Sebagian ulama ahli bijak berkata:

من عرف الله لم يكن له مع الخلق لذة

“Barang siapa berma’rifat terhadap Allah, tentu tidak merasa nikmat bergaul dengan mahluk-Nya

ومن عرف الدنيا لم يكن له فيها رغبة

Barang siapa berma’rifat terhadap dunia, tentu tidak akan menyukainya

ومن عرف عدل الله تعالى لم يتقدم إليه الخصماء

Barang siapa berma’rifat terhadap keadilan Allah, tentulah tidak akan terlibat dalam kasus sengketa.”

Ma’rifat terhadap dunia maksudnya memahami bahwa dunia pasti akan lenyap. Ma’rifat terhadap keadilan Allah maksudnya benar-benar yakin akan adanya keadilan Allah. Oleh karena itu, dia selalu mengalah, sehingga tidak pernah terlibat dalam sengketa.

Al-Hasan Al-Bashri radiyallahu ‘anhu telah mengatakan sehubungan dengan pengertian ini bahwa barang siapa mengenal Allah, pasti akan menyukai-Nya; dan barang siapa mengenal dunia, pasti akan membencinya. Hal yang sama dikatakan oleh Asy-Syafi’i radiyallahu ‘anhu melalui bait-bait syair berikut:

Dunia itu tiada lain bangkai yang diubah bentuknya

menjadi rebutan anjing-anjing yang siap melahapnya

Jika engkau menjauhinya

berarti engkau beroleh kedamaian dari ahlinya

tetapi jika engkau ikut merebutnya, engkau harus bersaing

dengan anjing-anjing lain yang mengejarnya

رَبَّنَا آتِنَا فِيْ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِيْ الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار

والْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِين

والسلام علىكم ورحمة الله و بركاته

Dari: “Nashaihul Ibad” Karya Ibnu Hajar Al Asqalany. Syarah oleh Muhammad Nawawi bin ‘Umar

Facebook Comments