Tiga Sandaran yang Rapuh, dan Tiga Buah Ma’rifat, Tiga Landasan Pokok, dan Tiga Tanda Cinta

 

Makalah Ke-43 : Tiga Sandaran yang Rapuh

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وعن بعض الحكماء

Seorang ulama bijak mengatakan:

من اعتصم بعقله أي اعتمد ضل

“Barang siapa hanya berpegang teguh pada akalnya, niscaya ia akan sesat jalannya

ومن استغنى بماله قل

Barang siapa mengandalkan hartanya, berarti dia orang yang miskin, karena betapapun banyak harta yang dimilikinya, ia tidak akan merasa puas dengannya

ومن عز بمخلوق ذل

Barang siapa menggantungkan kemuliaannya kepada mahluk, dia adalah orang yang terhina.”

 

Makalah Ke-44 : Tiga Buah Ma’rifat

وعن بعض الحكماء

Sebagia ulama ahli bijak mengatakan:

ثمرة المعرفة ثلاث خصال

“Buah ma’rifat (benar-benar mendalami dan memahami sifat-sifat Allah) itu ada tiga, yaitu:

الحياء من الله تعالى

malu kepada Allah

والحب فى الله

cinta kepada-Nya

والأنس بالله

rindu bersua dengan-nya

 

Makalah Ke-45 : Tiga Landasan Pokok

وعن النبي عليه السلام أنه قال

Rasulullah ﷺ bersabda:

المحبة أساس المعرفة

“Cinta kepada Allah adalah landasan ma’rifat

والعفة علامة اليقين

Iffah (memelihara diri dari meminta-minta) adalah tanda yakin kepada Allah

ورأس اليقين التقوى والرضى بتقدير الله تعالى

Adapun pokok keyakinan adalah taqwa dan ridha kepada taqdir Allah.”

Ma’rifat kepada Allah artinya mengenal betul siapa Allah, maka yang bersangkutan pasti akan rajin beribadah menyembah-Nya. Orang yang mempunyai pekerti ‘iffah (menjaga kehormatan) pasti tidak akan mengemis kepada manusia meskipun dia memerlukan bantuan. Karena dia yakin bahwa semua mahluk hidup telah ditanggung rizkinya oleh Allah dan bahwa rizki yang datang kepadaya, semata-mata karena diperuntukkan oleh Allah buatnya. Semuanya itu akan membuatnya merasa puas dengan takdir Allah; dia senang menerimanya apa pun yang terjadi.

 

Makalah Ke-46 : Tiga Tanda Cinta

وعن سفيان بن عيينة رضي الله تعالى قال

Sufyan bin Uyainah radiyallahu ‘anhu berkata:

من أحب الله أحب من أحبه الله تعالى

“Barang siapa mencintai Allah, maka ia pasti mencintai orang yang dicintai Allah

ومن أحب من أحب الله تعالى أحب ما أحب فى الله تعالى

Barang siapa mencintai orang yang dicintai Allah, maka ia akan mencintai sesuatu karena Allah semata

ومن أحب ما أحب فى الله تعالى أحب أن لا يعرفه الناس

Barang siapa mencintai sesuatu karena Allah, maka ia akan senang jika amalnya tidak diketahui oleh orang lain.”

Cinta kepada Allah itu ada dua macam, yaitu:

  1. Yang bersifat harus; faktor ini yang membangkitkan seorang hamba mengerjakan perintah-perintah-Nya, menjauhi larangan-larangan-Nya, dan ridha dengan taqdir-Nya.
  2. Yang bersifat anjuran; faktor inilah yang menggerakkan pelakunya rajin mengerjakan hal-hal yang disunnahkan dan menjauhi hal-hal yang syubhat. Ash-Shiddiq telah mengatakan bahwa barang siapa yang merasakan manisnya cinta kepada Allah, niscaya tidak akan memburu duniawi dan merasa asing bila bergaul dengan orang lain.

 

رَبَّنَا آتِنَا فِيْ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِيْ الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار

والْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِين

والسلام علىكم ورحمة الله و بركاته

Dari: “Nashaihul Ibad” Karya Ibnu Hajar Al Asqalany. Syarah oleh Muhammad Nawawi bin ‘Umar

Facebook Comments