Para seniman atau pujangga menunjukkan keahliannya dalam berseni dalam Majalah Poedjangga Baroe (Pujangga Baru)

1933

Armijn Pane

Amir Hamzah

Sultan Takdir Alisjahbana

Mendirikan sebuah majalah

Yang diberi nama Pujangga Baru

Kelahirannya muncul atas banyaknya sensor

Balai Pustaka terhadap karya tulis sastrawan

Terhadap karya yang menyangkut rasa nasionalisme

Pujangga Baru adalah sastra intelektual, nasionalistik dan elitis

Majalah Poedjangga Baru menjadi wadah pujangga

Yang ingin mewujudkan keahlian dalam berseni

Mengoordinir para penulis yang hasil karyanya

Tidak bisa diterbitkan Balai Poestaka

Kelahiran Poedjangga Baru

Titik tolak kebangkitan kesusastraan

Ciri-ciri Angkatan Pujangga Baru

berorientasi pada kepentingan masyarakat

bebas dalam menentukan bentuk dan isi

menampakkan kebangkitan kaum muda

mulai memancarkan jiwa yang dinamis

bersifat nasional dan universal

memasuki kehidupan modern

tidak terikat dengan tradisi

terjadi akulturasi budaya

Romantik idealisme

soal emansipasi wanita

Puisinya bukan pantun lagi

memuat soal kebangunan bangsa

Isinya masih tendensius dan didaktis

berbahasa Indonesia yang hidup dalam masyarakat

pengaruh asing yang cukup kuat dari negeri Belanda

menggambarkan pertentangan kehidupan orang-orang kota

gaya bahasanya sudah bukan perumpamaan klise, pepatah, peribahasa

Puisi Pujangga Baru

Terlihat ada dua unsur

Unsur estetik dan unsur ekstra Estetik

Unsur estetik puisi

simetris

teratur rapi

gaya sajak polos

mempunyai persajakan akhir

kebanyakan berupa puisi empat seuntai

tiap-tiap barisnya terdiri atas dua periodus

tidak mempergunakan kata-kata kiasan yang bermakna ganda

gaya ekpresinya beraliran romantis

hubungan antar kalimatnya jelas

pilihan katanya nan indah

terdiri atas sebuah gatra

tiap gatranya dua kata

kata-katanya serebral

 

Unsur Ekstra Estetik

masalah percintaan dan masalah individu manusia

curahan perasaan atau curahan jiwa

tentang kehidupan masyarakat kota

sifat didaktis masih tampak kuat

nasionalisme dan cita-cita

keagamaan menonjol

Sumbangan angkatan Pujangga Baru

Pembaharuan di bidang puisi

Roman dalam bentuk novel

Tulisan esai dan kritik

Penulis dan Karya Sastra Pujangga Baru

Sutan Takdir Alisjahbana

Layar Terkembang

Dian Tak Kunjung Padam

Tebaran Mega – kumpulan sajak

Anak Perawan di Sarang Penyamun

HAMKA

Tenggelamnya Kapal van der Wijck

Di Bawah Lindungan Ka’bah

Didalam Lembah Kehidoepan

Tuan Direktur

Sanusi Pane

Kertajaya

Puspa Mega

Madah Kelana

Pancaran Cinta

Sandhyakala Ning Majapahit

Roestam Effendi

Bebasari

Pertjikan Permenungan

Sariamin Ismail

Kalau Tak Untung

Pengaruh Keadaan

Anak Agung Pandji Tisna

I Swasta Setahun di Bedahulu

Ni Rawit Ceti Penjual Orang

Sukreni Gadis Bali

Tengku Amir Hamzah

Setanggi Timur

Nyanyi Sunyi

Begawat Gita

Armijn Pane

Belenggu

Jiwa Berjiwa

Gamelan Djiwa

Djinak-djinak Merpati

Kisah Antara Manusia

Karim Halim (Palawija)

J.E.Tatengkeng (Rindoe Dendam)

Fatimah Hasan Delais (Kehilangan Mestika)

Said Daeng Muntu (Pembalasan, Karena Kerendahan Boedi )

Polemik Pujangga Baru

Sanusi Pane

Tengku Amir Hamzah

Memotori Kelompok “Seni untuk Seni”

Berorientasi ke timur

Yang spiritualistik

Mementingkan olah ruhani

Armijn Pane

Rustam Effendi

Sutan Takdir Alisjahbana

Memotori Kelompok “Seni untuk Pembangunan Masyarakat”

Berorientasi ke barat

Yang intelektualistik

Individualistuik

Materialistik

Punya idealisme tinggi akan kemajuan sains dan dunia

Kemudian

Armijn Pane

Amir Hamzah

Kihajar Dewantara

Lebih menginginkan adanya sintesis

Barat yang sifistikated dan timur yang sufistik

Pada zaman pendudukan Jepang

Majalah Pujangga Baru ini dilarang

dengan alasan karena kebarat-baratan

Namun setelah Indonesia merdeka

Terbit lagi pada tahun 1948

Dengan pemimpin Redaksi

Sutan Takdir Alisjahbana

dan beberapa tokoh angkatan 45

Seperti Asrul Sani, Rivai Apin dan S. Rukiah

 

Demikian, semoga dapat menambah wawasan dalam khazanah kesusastraan Indonesia.

Sumber:

Aminudin.2015. Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru Aglesindo.

K.S, Yudiono. 2010. Pengantar Sejarah Sastra Indonesia. Jakarta: PT Grasindo

Mahayana, Maman. S. 2007. Ekstrinsikalitas Sastra Indonesia. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Redaksi PM.2012. Sastra Indonesia Paling Lengkap. Depok. Pustaka Makmur

Rosidi, Ajip. 1991. Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia. Bandung, Binacipta.

Facebook Comments

Share This Article