Dampak dari perlakuan Jepang terhadap rakyat Indonesia membuat banyaknya karya Sastra di Masa Jepang yang menggambarkan keadaan dan penderitaan yang dialami pada waktu itu.

 

±3,5 tahun

terasa begitu lama

sebagai Negara terjajah

tetapi waktu yang amat singkat

bagi pertumbuhan suatu kebudayaan

sastra Indonesia di masa Jepang

dengan waktu sesingkat itu

memiliki peranan sastra

bagi lahirnya

sebuah angkatan

yang disebut angkatan ‘45

Sastra di masa Jepang

memiliki tempat tersendiri

dalam sejarah sastra Indonesia

sastra di zaman Jepang

masa pemasakan jiwa revolusi

penempaan pengalaman hidup

dengan berbagai penderitaan

memungkinkan timbulnya keragaman

menjadikan kedewasaan sastra kemudian

walau tidak dipandang sebagai angkatan tersendiri

tetapi

Idrus

Chairil Anwar

Usmar Ismail

Rosihan Anwar

banyak pengarang Angkatan 45

berakar pada sastra Indonesia

di masa Jepang

Hadirnya saudara tua

janji muluk menyenangkan

berawal penuh harapan

dengan kata dan slogan

Asia untuk bangsa Asia

Dai-Nippon Indonesia sama-sama

kemakmuran bersama Asia Timur Raya

kemerdekaan Indonesia di kemudian hari

Asia sudah bangun

dan lain-lain

tetapi kemudian

mulai resah dan sangsi

akhirnya perasaan dan semangatnya

tertuju pada kemerdekaan tanah air

Bagi beberapa pengarang

yang sejak semula sangsi dan curiga

 tidak mudah menerima propaganda Jepang

karya Idrus dalam Corat Coret di Bawah Tanah

merupakan protes secara sinis pada keadaan

banyak sajak yang sejak semula tidak termakan

 janji-janji dan slogan-slogan propaganda Jepang

Pada waktu Jepang berkuasa

hampir semua perkumpulan dilarang

penerbitan majalah sangat terbatas

Pujangga Baru tidak lagi terbit

Majalah sastra dan kebudayaan ketika itu

majalah resmi yang diterbitkan Pusat kebudayaan

Panca Raya, dan Panji Pustaka.

perkembangan bahasa Indonesia pada waktu

mengalami kemajuan yang sangat pesat

Bahasa Belanda dilarang oleh Jepang

sedangkan bahasa Jepang

belum banyak dikuasai

Karakteristik sastra di masa Jepang

sederhana dan mengena

memiliki unsur tendens

yang membantu perang Jepang

yang berubah sifat menjadi propaganda

pujian dan simpati dengan kegagahan tentara Jepang

pujian terhadap pejuang Indonesia yang mulai bangkit

keraguan dan kebingungan menghadapi situasi

kritik berisi kecaman terhadap ketidak adilan

menyatakan maksud dalam bentuk simbolik

rasa kebangsaan bersama-sama berjuang

bergenre puisi, cerpen, dan drama

rasa benci dendam dan berontak

sikap tawakal kepada Tuhan

bersifat realitas dan kritis

sikap berkepala dua

Ada dua macam sastra pada waktu itu

sastra yang tersiar

yang berhasil disiarkan

sesudah adanya sensor

Pusat Kebudayaan Jepang

dan sastra yang tersimpan

tidak kompromi dengan Pusat Kebudayaan

sastra yang tertulis masa itu

baru disiarkan sesudah Proklamasi

tiap macam sastra

memiliki variasi tersendiri

Beberapa pengarang di masa Jepang

Rosihan Anwar

Beliau sejak permulaan

tidak terpengaruh propaganda Jepang

Karyanya:

Lukisan

Raja Kecil

Seruan Lepas

Manusia Baru

Radio Masyarakat

Lahir dengan Batin

Bajak Laut dari Selat Malaka

Semenanjung Awal Abad ke-18

Kisah di Waktu Pagi

Untuk Saudara

Bertanya

Damba

 

Usmar Ismail

Api

Citra

Pamanku

Mekar Melati

Puntung Berasap

Asokamala Dewi

 Tempat yang Kosong

Permintaan Terakhir

Pujangga dan Cita-Cita

Mutiara dari Nusa Laut

Enam Jam di Yogya

Dosa Tak Berampun

Taufan di Atas Asia

Jeritan Hidup Baru

Liburan Seniman

Kudengar Azan

Kita berjuang

Darah dan Do’a

atau Long March Siliwangi

Amal Hamzah

Topan

Teropong

Sine Nomine

Untaian Bunga

Pembebasan Pertama

kumpulan Seroja Gangga

Musik Diwaktu Malam

Kenangan Kasih

Bingkai Retak

Tuan Amin

Gita Cinta

Bimbang

El Hakim

Dewi Reni

Insan Kamil

Intelek Istimewa

Taufan di Atas Asia

Rogaya dan Mambang Laut

Rintisan Filsafat

Chairil Anwar

Doa

Aku

1943

Rumahku

Siap Sedia

Diponegoro

Berhadapan Mata

Kepada Peminta-minta

Pidato Chairil Anwar Tahun 1943

Idrus

Aki

Sanyo

Okh..okh

Surabaya

Corat-Coret di Bawah Tanah

Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma

Kejahatan Membalas Dendam

Kisah Sebuah Celana Pendek

Kota Harmoni

Heiho

 

Bung Usman

Hendak Tinggi

Nursyamsu

Sunyi

Pandai Besi

Jeritan Malam

Lagu Perpisahan

Membayar Utang

Maria Amin

Tuan Turutlah Merasakan

Aku Menyingkir

Penuh Rahasia

Kapal Udara

Anas Ma’ruf

Antara Kita

Zaman Baru

Tabah Berjihad

Nyalakan Terus

Kenali Diri Sendiri

 

 

Demikian, semoga dapat menambah wawasan dalam khazanah kesusastraan Indonesia.

Sumber:

Aminudin.2015. Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru Aglesindo.

K.S, Yudiono. 2010. Pengantar Sejarah Sastra Indonesia. Jakarta: PT Grasindo

Mahayana, Maman. S. 2007. Ekstrinsikalitas Sastra Indonesia. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Redaksi PM.2012. Sastra Indonesia Paling Lengkap. Depok. Pustaka Makmur

Rosidi, Ajip. 1991. Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia. Bandung, Binacipta.

Facebook Comments

Share This Article