Mantra merupakan salah satu jenis puisi lama. Seperti yang kita ketahui bahwa puisi lama itu terdiri dari:  mantra, talibun, seloka, pantun, syair, gurindam, dan karmina. Agar mudah mengingatnya, kita singkat dengan kata: MATA SELSYAPA GUNA (MA = Mantra, TA = Talibun, SEL = Seloka, SYA = Syair, PA = Pantun, GU = Gurindam, NA = Karmina).

Badan Pegembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam Kamus Bahasa Indonesia untuk Pelajar (2011) menjelaskan, Mantra adalah 1) perkataan atau ucapan yang dipercaya memiliki kekuatan gaib (misal dapat menyembuhkan atau mendatangkan celaka), misalnya mantra itu dibacakan oleh kepala suku. 2) susunan kata berunsur puisi (seperti rima, irama) yang dianggap mengandung kekuatan gaib, biasanya diucapkan oleh dukun atau pawang untuk menandingi kekuatan gaib yang lain.

Contoh mantera yang kita kenal adalah mantera “Jelangkung.” Mantra tersebut digunakan untuk kegiatan ritual dengan suatu tujuan yang biasanya berorientasi kepada keuntungan individual dari tiap yang membacanya. Jelangkung merupakan suatu permainan magis yang dimainkan oleh beberapa orang. Pemain tersebut membacakan sebuah mantra yang dapat mendatangkan arwah.

Seperti inilah mantera Jelangkung.

“Jalangkung, Jalambek

Di sini ada pesta kecil-kecilan

Jalangkung Jalangset

Datang ga dijemput

Pulang tak diantar ”

Kalimat mantera tersebut mengandung magis bahasa. Melalui kalimat-kalimat yang bersajak dengan persamaan atau pertentangan bunyi dan kekuatan diksi yang sifatnya misterius, maka bahasa mantera memiliki kekuatan gaib. Cermati kembali mantra di atas.  Terdapat kalimat, “Di sini ada pesta kecil-Kecilan.”  Kalimat tersebut berisi tantangan atau undangan kepada kekuatan gaib agar hadir di hadapan pembacanya. Bahasa yang digunakan banyak menggunakan bahasa yang bersifat esoterik, yaitu bahasa khusus yang dipakai antara pembicara dan lawan bicara.

Mantera ada yang berisi tantangan terhadap suatu kekuatan gaib, ada juga mantra yang berisi bujukan kepada kekuatan gaib agar tidak merusak manusia atau alam. Jenis-jenis mantera yang lainnya seperti mantera menarik cinta seorang laki-laki atau perempuan, mantera untuk mengobati suatu penyakit, mantera untuk berburu, mantra pengusir, mantera penambah kekutan, mantera ketika menanam atau panen, dan lain-lain.

J.S. Badudu (dalam Dian, 2009: 9) dan Zakaria (dalam Saprianto, 2011: 8) menjelaskan bahwa Mantera adalah ucapan-ucapan dukun atau pawang yang mengandung magis bahasa.  Mantera merupakan puisi tua, keberadaannya dalam masyarakat Melayu pada mulanya bukan sebagai karya sastra, melainkan lebih banyak berkaitan dengan adat dan kepercayaan.

Ciri-ciri Mantra:
  • Jumlah barisnya tidak tentu
  • Memiliki persajakan
  • Dipercaya memiliki kekuatan ghaib yang dipercaya dapat memberikan semacam tenaga atau kekuatan yang laur biasa dan tidak terjangkau akal pikiran manusia
  • Bersifat misterius
  • Umumnya bermajas metafora
  • Adanya perulangan
  • Bersifat Esoferik

Demikian, semoga dapat menambah wawasan dalam khazanah kesusastraan Indonesia.

 

Contoh Talibun Pengertian dan Ciri-cirinya: di sini ….

 

 

Sumber:

Dr. J.S Badudu, Sari Kesustraan Indonesia

Badan Pegembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam Kamus Bahasa Indonesia untuk Pelajar (2011)

St. Takdir Alisyahbana, Puisi Lama

Yandianto.2004. Apresiasi Karya Sastra dan Pujangga Indonesia. Bandung. M2S Bandung

 

Facebook Comments