Badan Pegembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam Kamus Bahasa Indonesia untuk Pelajar (2011) menjelaskan, Talibun adalah bentuk puisi lama (Melayu) yang jumlah barisnya genap dan lebih dari empat. Biasanya terdiri atas 16 atau 20 baris serta mempunyai persamaan bunyi pada akhir baris.

Ada tiga hal yang bisa digarisbawahi dari arti talibun berdasar kamus tersebut. Dan ini merupakan ciri dari talibun.

Pertama, talibun adalah bentuk puisi lama.

Kita memaklumi bahwa puisi lama itu banyak jenisnya. Agar mudah mengingatnya kembali saya ingatkan tentang mengawali kata dari indra kita, yaitu: MATA SELSYAPA GUNA (MA = Mantra, TA = Talibun, SEL = Seloka, SYA = Syair, PA = Pantun, GU = Gurindam, NA = Karmina).

Kedua, jumlah barisnya genap dan lebih dari empat baris sampai dua puluh baris.

Ini artinya jumlah baris tiap bait antara enam baris sampai dua puluh baris dan harus genap (6, 8, 10, 12, 14, 16, 18, dan 20 baris)

Ketiga, bahwa talibun mempunyai persamaan bunyi pada akhir baris.

Apabila talibun berjumlah enam baris, maka tiga baris pertama merupakan sampiran dan tiga baris berikutnya merupakan isi (baris 1, 2, dan 3 sampiran. Baris 4, 5, dan 6 adalah isi. Bersajak a-b-c-a-b-c

Apabila talibun berjumlah delapan baris, maka empat baris pertama merupakan sampiran dan empat baris berikutnya merupakan isi (baris 1, 2, 3, dan 4 sampiran. Baris 5, 6, 7, dan 8 adalah isi. Bersajak a-b-c-d-a-b-c-d

Antara kalimat sampiran pertama dengan kalimat sampiran kedua, ketiga dan kalimat sampiran seterusnya harus saling berhubungan dan jangan sampai bertolak belakang atau tidak ada hubungan sama sekali. Sampiran pada talibun sebaiknya menggunaakaan perumpamaan alam dan lingkungan sekitar.

Isinya menjelaskan tentang suatu perkara yang diceritakan secara terperinci

Tiap baris terdiri dari 8 hingga 12 kata.

Menggunakan gaya bahasa yang luas dan menekankan pada bahasa pengulangan yang berima

Cermati, contoh talibun di bawah ini. Saya persembahkan talibun berikut dalam rangka memperingati Hari Lahir R.A Kartini.

R.A Kartini

Tokoh wanita yang satu ini

Sangat terkenal di Indonesia

Dalam memperjuangkan kaum ibu

Dialah Raden Ajeng Kartini

Keturunan dari Sri Sultan

Namanya membuat negeri harum

 

Kartini lahir dua puluh satu April

Tahun delapan belas tujuh sembilan

Di Kota Jepara yang termasyhur

Ayahnya menjabat sebagai bupati

Yang bernama R.M. Sosroningrat

Seorang kiai di Telukawur

 

Sebagai seorang bangsawan

Bersekolahlah Kartini kecil

Hingga ia berusia dua belas tahun

Dari ELS ia banyak membaca

Sampai roman beraliran feminis

Walau sekolahnya tidak bisa berlanjut

 

Kala itu yang namanya perempuan

Tinggal dirumah untuk dipingit

Tetapi Kartini tetap membaca buku

Diiringi gemar menulis surat

Dan melakukan korespondensi

Hingga memiliki cukup ilmu

 

Bahasa Belanda beliau fasih

Buku koran banyak dibaca

Beliau banyak memperoleh

Pola pikir yang menarik

Terhadap perempuan Eropa

Banyak hal yang bisa diperoleh

 

Kemudian ia mulai menempuh

Perjuangan bagi kaum perempuan

Karena kedudukan wanita pribumi

Memiliki status sosial cukup jauh

Wanita perlu memperoleh persamaan

Kesetaraan dan otonomi

 

Surat-surat yang kartini tulis

Wanita pribumi dan budaya jawa

Memiliki jarak begitu jauh

Kartini ingin mengubah kondisi

Melalui pentingnya pendidikan

Melalui emansipasi wanita maju

 

Cita-cita luhur R.A Kartini

Agar perempuan dapat bersekolah

Bebas memperoleh berbagai ilmu

Seperti wanita sekarang ini

Bebas memperoleh ijazah

Tidak terkekang jalani hidup

 

Gagasan-gagasan R.A Kartini

Dapat mengubah suatu pandangan

Mengenai hak suatu kaum

Tentang wanita dan laki-laki

Tentang makna keindahan

Tentang qodrati yang utuh

Demikian, semoga dapat menambah wawasan dalam khazanah kesusastraan Indonesia.

 

 

Cara Membuat Puisi Lama Jenis Seloka: di sini ….

 

Sumber:

Dr. J.S Badudu, Sari Kesustraan Indonesia

Badan Pegembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam Kamus Bahasa Indonesia untuk Pelajar (2011)

St. Takdir Alisyahbana, Puisi Lama

Yandianto.2004. Apresiasi Karya Sastra dan Pujangga Indonesia. Bandung. M2S Bandung

 

Facebook Comments

Share This Article