Seloka merupakan salah satu bagian dari puisi lama. Agar mudah mengingatnya kembali saya ingatkan tentang mengawali kata dari indra kita, yaitu: MATA SELSYAPA GUNA (MA = Mantra, TA = Talibun, SEL = Seloka, SYA = Syair, PA = Pantun, GU = Gurindam, NA = Karmina).

Badan Pegembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam Kamus Bahasa Indonesia untuk Pelajar (2011) menjelaskan,  Seloka adalah sajak yang mengandung ajaran (sindiran dsb), biasanya terdiri atas empat larik yang bersajak a-a-a-a yang mengandung sampiran dan isi.

Seloka sendiri berasal dari bahasa Sansekerta, yang berarti bahasa berkait. Seloka disebut juga pantun berkait. Ciri keberkaitan inilah yang merupakan salah satu keindahan seloka. Seloka tidak cukup satu bait dan bait-bait pada seloka memiliki jalinan  yang tidak bisa dipisahkan. Bait kedua pada seloka berkait erat dengan bait pertama, bait ketiga berkait erat dengan bait kedua, bait keempat berkait erat dengan bait ketiga, dan seterusnya.

Keterkaitan ini ditandai dengan adanya pemakaian kalimat. Perhatikan contoh cara membuat seloka yang ditulis dengan warna-warna baris di bawah! Warna yang sama adalah kalimat yang diulang pada bait berikutnya. Kalimat baris kedua pada bait pertama dipakai lagi pada baris pertama bait kedua, baris keempat pada bait pertama ditulis kembali pada baris ketiga bait kedua.

Akibat curah hujan yang tinggi

Musibah banjir biasa terjadi

Pembuangan air tidak memadai

Wilayah-wilayah tergenangi

 

Musibah banjir biasa terjadi

Rusakkan tanggul akses trasnsportasi

Wilayah-wilayah tergenangi

Air bersih susah dicari

Cara membuat bait ketiga, kita salin baris kedua pada bait kedua di atas. Baris keduanya buat kalimat baru yang memiliki hubungan. Baris ketiga salin kembali baris keempat pada bait kedua tadi. Dan baris keempatnya, buat kalimat baru yang memiliki hubungan.

Perhatikan contoh bait ketiga berikut, dan cermati bait kedua di atas.

Rusakkan tanggul akses trasnsportasi

Sampah-sampah menyumbat aliran air

Air bersih susah dicari

Banyak kebutuhan tidak terpenuhi

Cara membuat bait keempat. kita salin baris kedua pada bait ketiga di atas. Baris keduanya buat kalimat baru yang memiliki hubungan. Baris ketiga salin kembali baris keempat pada bait ketiga tadi. Dan baris keempatnya, buat kalimat baru yang memiliki hubungan. Seperti inilah bait keempat.

Sampah-sampah menyumbat aliran air

Air meluap ke rumah tempat bernadi

Banyak kebutuhan tidak terpenuhi

Akhirnya datang berbagai penyakit

Sekarang, kita coba berlatih membuat bait kelima dengan melengkapi baris pertama dan baris ketiga!

. . . . (baris pertama)

Rumah menjadi daya tampung air

. . . . (baris ketiga)

Ini perlu segera diatasi

Gampang ya, cara membuat kalimat untuk baris pertama dan ketiga pada seloka. Kita tinggal menyalin baris kedua dan baris keempat pada bait sebelumnya. Dalam hal ini, lihat bait keempat di atas. Jadi, untuk bait kelima berbunyi:

Air meluap ke rumah tempat bernadi

Rumah menjadi daya tampung air

Akhirnya datang berbagai penyakit

Ini perlu segera diatasi

Cermati pula untuk bait-bait berikut ini!

Rumah menjadi daya tampung air

Karena pohon banyak ditebangi

Ini perlu segera diatasi

Agar banjir terantisipasi

 

Karena pohon banyak ditebangi

Tanah menyerap air terasa sulit

Agar banjir terantisipasi

Penebangan hutan mesti reboisasi

 

Tanah menyerap air terasa sulit

Sedang hujan mengguyur setiap hari

Penebangan hutan mesti reboisasi

Sampah bersih dari saluran air

 

Sedang hujan mengguyur setiap hari

Perlu membangun drainase alternatif 

Sampah bersih dari saluran air

Banjir besar semoga terhindari

 Untuk meneruskan membuat bait selanjutnya, kalimat kedua yang dicetak miring dijadikan baris pertama pada bait berikutnya. Dan baris keempat yang dicetak miring dijadikan baris ketiga pada bait berikutnya. Dan seterusnya seperti itu, sehingga antar bait memiliki keterkaitan.

Dari pembahasan di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa ciri-ciri seloka adalah:

  1. Baris kedua dan keempat pada bait pertama atau bait sebelumnya, dipakai sebagai baris pertama dan ketiga bait sesudahnya.
  2. Ada hubungan antara isi bait yang satu dengan isi bait berikutnya
  3. Berisikan ibarat atau kisahan berupa nasihat-nasihat yang mengandung gurauan, sindiran, bahkan ejekan.
  4. Biasanya ditulis dalam empat baris, tetapi ada juga yan ditulis lebih dari empat baris.
  5. Memiliki persajakan

Demikian, semoga dapat menambah wawasan dalam khazanah kesusastraan Indonesia.

 

 

Syair Bandung Lautan Api: di sini ….

 

Sumber:

Dr. J.S Badudu, Sari Kesustraan Indonesia

Badan Pegembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam Kamus Bahasa Indonesia untuk Pelajar (2011)

St. Takdir Alisyahbana, Puisi Lama

Yandianto.2004. Apresiasi Karya Sastra dan Pujangga Indonesia. Bandung. M2S Bandung

 

Facebook Comments