Contoh Pantun. Dalam pembelajaran, pantun merupakan salah satu materi yang harus dikuasai peserta didik. Pantun memiliki peran dalam meningkatkan kemampuan menjaga alur berpikir secara asosiatif, bahwa makna suatu kata memiliki hubungan dengan kata lain bahkan dengan suatu kalimat. Kemampuan berpantun dapat menunjukkan kepiawaian seseorang dalam memainkan kata. Dan sejak kemunculannya, pantun biasa digunakan oleh masyarakat Melayu sebagai alat untuk memelihara bahasa dan mengakrabkan pergaulan antar sesama.

Dalam sejarahnya yang panjang, pantun memiliki tempat dan fungsi yang sangat kuat dalam kehidupan masyarakat. Dapat dijadikan sebagai penguat dalam menyampaikan pesan, banyak digunakan dalam permainan kanak-kanak, dalam percintaan, upacara-upacara adat, dan nyanyian.

Pantun sendiri berasal dari kata “patuntun” dalam bahasa Minangkabau, yang berarti “penuntun”. Dalam bahasa Jawa dikenal “parikan”, dalam bahasa Sunda dikenal “paparikan”, dan dalam bahasa Batak dikenal sebagai “umpasa” (baca uppasa). Pantun merupakan salah satu bagian dari puisi lama. Agar mudah mengingatnya, saya ingatkan tentang mengawali kata dari indra kita, yaitu: MATA SELSYAPA GUNA (MA = Mantra, TA = Talibun, SEL = Seloka, SYA = Syair, PA = Pantun, GU = Gurindam, NA = Karmina).

Badan Pegembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam Kamus Bahasa Indonesia untuk Pelajar (2011) menjelaskan, Pantun adalah bentuk puisi, tiap baitnya mempunyai empat baris yang bersajak (a-b-a-b), baris pertama dan baris kedua merupakan sampiran, baris ketiga dan keempat merupakan isi.

Kita nikmati pantun dengan terlebih dahulu mengerjakan latihan berikut.

Pilihlah pada jawaban yang paling tepat!

Setelah mengerjakan soal dapat di klik submit untuk mengetahui jawaban yang benar.

Welcome to your Pantun

Ada adat di dalam pantun

Tersirat banyak pula makna

Hendaknya jadi pemuda santun

Budi pekerti selalu dijaga

 

Ada orang sedang menenun

Untuk membuat kain selendang

Jadi orang haruslah santun

Agar semua menjadi sayang

 

Pantun di atas terdiri dari ….
Ada orang sedang berdiri

Di tengah taman ada merpati

Lihat dulu diri sendiri

Baru yang lain dicermati

 

Ada orang dari Jakarta

Membeli daku di tengah kota

Jangan rusak lingkungan kita

Agar bumi tetap terjaga

 

Dalam setiap bait pantun terdiri atas ….
Ananda cantik penyuka madu

Memakan madu denganlah nasi

Selalulah menuntut ilmu

Sebagai bekal diri ini

 

Jumlah suku kata pada larik pertama adalah ….
Angin bertiup dari timur

Membawa sejuk peneduh jiwa

Jangan bergantung pada umur

Ajal tak peduli muda dan tua

 

Arang dibuat dari kayu bakar

Dibakar untuk memasak nasi

Janganlah tuan suka bertengkar

Sucikan diri tenangkan hati

 

Pantun di atas bersajak akhir dengan pola ….
Angsa putih di dalam kalam

Berenang dengan bebek betina

Kupikirkan siang dan malam

Apakah mungkin diterima

 

Asam kudis sungguhlah asam

Asam dimakan sipit matanya

Akal budi bermacam-macam

Harus ditiru yang baiknya

 

Semua bentuk pantun terdiri atas dua bagian, yaitu sampiran dan isi. Adapun bagian isi terdapat pada baris ke ….

Pembahasan:

Pantun tersebut ada dua bait.

Bait adalah satu kesatuan dalam puisi yang terdiri atas beberapa baris. Bila dituliskan terlihat jelas dengan adanya pembeda spasi atau adanya pengelompokan baris.

Dalam setiap bait, terdiri atas empat larik/baris

Jumlah suku kata pada larik pertama adalah sepuluh suku kata. (A-nan-da can-tik pe-nyu-ka ma-du)

Pantun berikut bersajak akhir dengan pola a-b a-b

Angin bertiup dari timur (a)

Membawa sejuk peneduh jiwa (b)

Jangan bergantung pada umur (a)

Ajal tak peduli muda dan tua (b)

 

Arang dibuat dari kayu bakar (a)

Dibakar untuk memasak nasi (b)

Janganlah tuan suka bertengkar (a)

Sucikan diri tenangkan hati (b)

 

Semua bentuk pantun terdiri atas dua bagian, yaitu sampiran dan isi. Sampiran ada pada baris pertama dan kedua, adapun bagian isi terdapat pada baris ketiga dan keempat.

Jadi, ciri-ciri pantun adalah:

  • Terdiri atas empat larik (atau empat baris bila dituliskan),
  • Setiap baris terdiri dari 8-12 suku kata
  • Bersajak akhir dengan pola a-b a-b dan a-a-a-a (tidak boleh a-a-b-b, atau a-b-b-a).
  • Terdiri dari sampiran (baris kesatu dan kedua) dan isi (baris ketiga dan keempat) dan biasanya tidak punya hubungan dengan bagian kedua yang menyampaikan maksud selain untuk mengantarkan rima/sajak.

Antologi pantun yang pertama dibukukan diberi judul Perhimpunan Pantun-pantun Melayu. Dibukukan oleh Haji Ibrahim Datuk Kaya Muda Riau, seorang sastrawan yang hidup sezaman dengan Raja Ali Haji.

Jenis pantun dapat dikelompokkan berdasarkan isinya:

Pantun anak-anak: pantun bersuka cita dan pantun berduka cita.

Pantun orang muda: pantun berkenalan, pantun berkasih-kasihan, pantun perceraian, pantun beriba hati, pantun nasib/ dagang.

Pantun orang tua: pantun nasihat, pantun adat, pantun agama.

Pantun jenaka

Pantun teka-teki

Contoh Pantun Adat

Menanam kelapa di pulau Bukum

Tinggi sedepa sudah berbuah

Adat bermula dengan hukum

Hukum bersandar di Kitabullah

 

Contoh Pantun Agama

Banyak bulan perkara bulan

Tidak semulia bulan puasa

Banyak tuhan perkara tuhan

Tidak semulia Tuhan Yang Maha Esa

 

Contoh Pantun Budi

Bunga cina di atas batu

Daunnya lepas ke dalam ruang

Adat budaya tidak berlaku

Sebabnya emas budi terbuan

 

Contoh Pantun Jenaka

Elok berjalan kota tua

Kiri kanan berbatang sepat

Elok berbini orang tua

Perut kenyang ajaran dapat

 

Contoh Pantun Kepahlawanan

Kalau orang menjaring ungka

Rebung seiris akan pengukusnya

Kalau orang tercorong ke muka

Ujung keris akan penghapusnya

 

Contoh Pantun Kias

Ayam sabung jangan dipaut

Jika ditambat kalah laganya

Asam di gunung ikan di laut

Dalam belangga bertemu juga

 

Contoh Pantun Nasihat

Kayu cendana di atas batu

Sudah diikat dibawa pulang

Adat dunia memang begitu

Benda yang buruk memang terbuang

 

Pergi ke Cina membeli kecap

Pergi ke Aceh membeli ragi

Jika ada salah dan hilap

Tolong jangan diambil hati

Demikian, semoga dapat menambah wawasan dalam khazanah kesusastraan Indonesia.

Sumber:

Badan Pegembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam Kamus Bahasa Indonesia untuk Pelajar (2011)

Dr. J.S Badudu, Sari Kesustraan Indonesia

Mutia Dwi Pangesti. Buku pintar Pantun dan Peribahasa Indonesia, Pustaka Nusantara Indonesia.

St. Takdir Alisyahbana, Puisi Lama

Yandianto.2004. Apresiasi Karya Sastra dan Pujangga Indonesia. Bandung. M2S Bandung

Facebook Comments