Salah satu puisi lama yang berkembang dalam masyarakat Melayu Indonesia adalah gurindam. Asal katanya sendiri berasal dari bahasa Tamil (India), yaitu kirindam yang berarti asal mula, amsal, atau perumpamaan.

Badan Pegembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam Kamus Bahasa Indonesia untuk Pelajar (2011) menjelaskan, “Gurindam adalah sajak dua baris yang mengandung petuah atau nasihat.”

Gurindam sering disebut juga sajak dua seuntai. Sebenarnya gurindam adalah sebuah kalimat majemuk yang dibagi menjadi dua baris yang memiliki kesatuan yang utuh, saling berkaitan, dan memiliki hubungan sebab akibat.

Mari kita cermati pasal pertama Gurindam Dua Belas, buah karya seorang sastrawan yang namanya diabadikan di Provinsi Kepulauan Riau sebagai salah seorang Pahlawan Nasional. Beliau bernama Raja Ali Haji (1809-1872).

Barang siapa tiada memegang agama,

Sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama.

 

Barang siapa mengenal yang empat,

Maka ia itulah orang yang ma’rifat

 

Barang siapa mengenal Allah,

Suruh dan tegahnya tiada ia menyalah.

 

Barang siapa mengenal diri,

Maka telah mengenal akan Tuhan yang bahri.

 

Barang siapa mengenal dunia,

Tahulah ia barang yang teperdaya.

 

Barang siapa mengenal akhirat,

Tahulah ia dunia mudarat.

Supaya dapat memahami ciri-ciri gurindam, jawablah pertanyaan berikut!

Welcome to your Gurindam

Gurindam di atas terdiri dari …
Setiap bait gurindam tersebut terdiri dari ….
Jumlah suku kata paling banyak terdapat pada bait  ….
Pada akhir baris kesatu dan baris kedua terdapat pengulangan bunyi. Bunyi akhir baris kesatu dan baris kedua adalah ….
Setiap kalimat dalam setiap baris pertama diawali dengan kata barangkali. Kata barangkali tersebut untuk menyatakan ….

Untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap materi ini, hitunglah dengan rumus berikut:

 

Skor akhir = Jumlah jawaban Anda yang benar x 100
5

Arti tingkat penguasaan yang Anda capai

90%   –   100%   =  baik sekali

80%   –    89%    =  baik

70%   –    79%    =  cukup

<    70%     =  kurang

Pembahasan:
  1. Gurindam Dua Belas pasal pertama di atas terdiri dari enam bait.
  2. Setiap bait gurindam tersebut terdiri dari dua baris
  3. Jumlah suku kata paling banyak terdapat pada bait kesatu baris kedua. Lihat yang dicetak merah!

Ba-rang si-a-pa ti-a-da me-me-gang a-ga-ma     (10 suku kata)

Se-ka-li-ka-li ti-a-da bo-leh di-bi-lang-kan na-ma     (16 suku kata)

Ba-rang si-a-pa me-nge-nal yang em-pat    (10 suku kata)

Ma-ka ia i-tu-lah o-rang yang ma’-ri-fat     (12 suku kata)

Ba-rang si-a-pa me-nge-nal Al-lah,     (10 suku kata)

Su-ruh dan te-gah-nya ti-a-da ia me-nya-lah.     (13 suku kata)

Ba-rang si-a-pa me-nge-nal di-ri,     (10 suku kata)

Ma-ka te-lah me-nge-nal a-kan Tu-han yang bah-ri.     (14 suku kata)

Ba-rang si-a-pa me-nge-nal du-ni-a,     (11 suku kata)

Ta-hu-lah ia ba-rang yang te-per-da-ya.     (11 suku kata)

Ba-rang si-a-pa me-nge-nal a-khi-rat,     (11 suku kata)

Ta-hu-lah ia du-ni-a mu-da-rat.     (10 suku kata)

  1. Pada akhir baris kesatu dan baris kedua karmina di atas, mendapatkan pengulangan bunyi.

Perhatikan kata akhir setiap baris!

a-ga-ma     (a)

na-ma     (a)

em-pat    (a)

ma’-ri-fat     (a)

Al-lah,     (a)

me-nya-lah.     (a)

di-ri,     (a)

bah-ri.     (a)

du-ni-a,     (a)

te-per-da-ya.     (a)

a-khi-rat,     (a)

mu-da-rat.     (a)

Jadi bunyi akhir baris kesatu dan baris kedua adalah a – a

  1. Setiap kalimat dalam setiap baris pertama diawali dengan kata barangkali. Kata barangkali tersebut untuk menyatakan syarat

Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji ini memiliki banyak hal yang menarik. Saya mencatat pada pasal tiga bait kelima, tertulis sebagai berikut:

Apabila perut terlalu penuh, (a)

Keluarlah fi’il yang tiada senonoh. (b)

Bait ini memiliki rima akhir tidak tetap. Atau bunyi akhir baris kesatu dan kedua berbeda (a – b), begitu pula dalam pasal empat bait kelima tertuls sebagai berikut:

Jika sedikitpun berbuat bohong, (a)

Boleh diumpamakan mulutnya itu pekung. (b)

Selain itu, hal yang menarik juga tentang jumlah suku kata. Di pasal pertama baris kedua terdapat sampai 16 suku kata. (Se-ka-li-ka-li ti-a-da bo-leh di-bi-lang-kan na-ma).    

Dan kita hitung jumlah suku kata yang terdapat dalam pasal sebelas berikut.

Hen-dak-lah ber-ja-sa,     (6 suku kata)

Ke-pa-da yang se-bang-sa.     (7 suku kata)

 

Hen-dak-lah ja-di ke-pa-la,     (8 suku kata)

Bu-ang pe-ra-ngai yang ce-la.     (8 suku kata)

 

Hen-dak-lah me-me-gang a-ma-nat,     (9 suku kata)

Bu-ang-lah khi-a-nat.     (6 suku kata)

 

Hen-dak ma-rah, (4 suku kata)

Da-hu-lu-kan huj-jah.     (6 suku kata)

 

Hen-dak di-ma-lu-i, (6 suku kata)

Ja-ngan me-ma-lu-i.     (6 suku kata)

 

Hen-dak ra-mai,     (4 suku kata)

Mu-rah-kan pe-ra-ngai.     (6 suku kata)

Kita dapat menyimpulkan bahwa jumlah suku kata dalam setiap baris Gurindam Dua Belas ini tidak tetap.

 

Berikut, kita akan mencermati Gurindam Dua Belas untuk pasal lainnya!

Pasal Dua

Barang siapa mengenal yang tersebut,

Tahulah ia makna takut.

 

Barang siapa meninggalkan sembahyang,

Seperti rumah tiada bertiang.

 

Barang siapa meninggalkan puasa,

Tidaklah mendapat dua termasa.

 

Barang siapa meninggalkan zakat,

Tiadalah hartanya beroleh berkat.

 

Barang siapa meninggalkan haji,

Tiadalah ia menyempurnakan janji.

 

Apabila kita memperhatikan semua baris pertama dalam pasal dua ini, semuanya diawali dengan kata barang siapa meninggalkan ….  Maka yang memiliki kata yang sama di setiap baris pertama baitnya itu disebut gurindam berangkai.

Selain gurindam berangkai ada juga yang disebut gurindam berkait, yaitu gurindam yang apabila bait sebelumnya berhubungan dengan bait bait berikutnya.

Kita cermati kembali pasal-pasal berikutnya.

 

Pasal Tiga

Apabila terpelihara mata,

Sedikitlah cita-cita.

 

Apabila terpelihara kuping,

Khabar yang jahat tiadaiah damping.

 

Apabila terpelihara lidah,

Niscaya dapat daripadanya paedah.

 

Bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan,

Daripada segala berat dan ringan.

 

Apabila perut terlalu penuh,

Keluarlah fi’il yang tiada senonoh.

 

Anggota tengah hendaklah ingat,

Di situlah banyak orang yang hilang semangat

 

Hendaklah peliharakan kaki,

Daripada berjaian yang membawa rugi.

 

Apabila mencermati kata yang digunakan, pasal tiga ini lebih unik. Lihat kembali ke atas, bahwa gurindam ada yang disebut gurindam berangkai (contoh bait 1, 2, dan 3) dan gurindam berkait. (cermati mulai bait ke-3 dan seterusnya)

 

Pasal Empat

Hati itu kerajaan di daiam tubuh,

Jikalau zalim segala anggotapun rubuh.

 

Apabila dengki sudah bertanah,

Datanglah daripadanya beberapa anak panah.

 

Mengumpat dan memuji hendaklah pikir,

Di situlah banyak orang yang tergelincir.

 

Pekerjaan marah jangan dibela,

Nanti hilang akal di kepala.

 

Jika sedikitpun berbuat bohong,

Boleh diumpamakan mulutnya itu pekung.

 

Tanda orang yang amat celaka,

Aib dirinya tiada ia sangka.

 

Bakhil jangan diberi singgah,

Itulah perampok yang amat gagah.

 

Barang siapa yang sudah besar,

Janganlah kelakuannya membuat kasar.

 

Barang siapa perkataan kotor,

Mulutnya itu umpama ketor.

 

Di mana tahu salah diri,

Jika tidak orang lain yang berperi.

 

 

Pasal Lima

Jika hendak mengenai orang berbangsa,

Lihat kepada budi dan bahasa,

 

Jika hendak mengenal orang yang berbahagia,

Sangat memeliharakan yang sia-sia.

 

Jika hendak mengenal orang mulia,

Lihatlah kepada kelakuan dia.

 

Jika hendak mengenal orang yang berilmu,

Bertanya dan belajar tiadalah jemu.

 

Jika hendak mengenal orang yang berakal,

Di dalam dunia mengambil bekal.

 

Jika hendak mengenal orang yang baik perangai,

Lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai.

 

Pasal Enam

Ini Gurindam pasal yang keenam:

Cahari olehmu akan sahabat,

Yang boleh dijadikan obat.

 

Cahari olehmu akan guru,

Yang boleh tahukan tiap seteru.

 

Cahari olehmu akan isteri,

Yang boleh dimenyerahkan diri.

 

Cahari olehmu akan kawan,

Pilih segala orang yang setiawan.

 

Cahari olehmu akan ‘abdi,

Yang ada baik sedikit budi,

 

Pasal Tujuh

Apabila banyak berkata-kata,

Di situlah jalan masuk dusta.

 

Apabila banyak berlebih-lebihan suka,

Itulah landa hampirkan duka.

 

Apabila kita kurang siasat,

Itulah tanda pekerjaan hendak sesat.

 

Apabila anak tidak dilatih,

Jika besar bapanya letih.

 

Apabila banyak mencela orang,

Itulah tanda dirinya kurang.

 

Apabila orang yang banyak tidur,

Sia-sia sahajalah umur.

 

Apabila mendengar akan khabar,

Menerimanya itu hendaklah sabar.

 

Apabila menengar akan aduan,

Membicarakannya itu hendaklah cemburuan.

 

Apabila perkataan yang lemah-lembut,

Lekaslah segala orang mengikut.

 

Apabila perkataan yang amat kasar,

Lekaslah orang sekalian gusar.

 

Apabila pekerjaan yang amat benar,

Tidak boleh orang berbuat honar.

 

Pasal Delapan

Barang siapa khianat akan dirinya,

Apalagi kepada lainnya.

 

Kepada dirinya ia aniaya,

Orang itu jangan engkau percaya.

 

Lidah yang suka membenarkan dirinya,

Daripada yang lain dapat kesalahannya.

 

Daripada memuji diri hendaklah sabar,

Biar dan pada orang datangnya khabar.

 

Orang yang suka menampakkan jasa,

Setengah daripada syirik mengaku kuasa.

 

Kejahatan diri sembunyikan,

Kebaikan diri diamkan.

 

Keaiban orang jangan dibuka,

Keaiban diri hendaklah sangka.

 

Pasal Sembilan

Tahu pekerjaan tak baik, tetapi dikerjakan,

Bukannya manusia yaituiah syaitan.

 

Kejahatan seorang perempuan tua,

Itulah iblis punya penggawa.

 

Kepada segaia hamba-hamba raja,

Di situlah syaitan tempatnya manja.

 

Kebanyakan orang yang muda-muda,

Di situlah syaitan tempat bergoda.

 

Perkumpulan laki-laki dengan perempuan,

Di situlah syaitan punya jamuan.

 

Adapun orang tua yang hemat,

Syaitan tak suka membuat sahabat

 

Jika orang muda kuat berguru,

Dengan syaitan jadi berseteru.

 

Pasal Sepuluh

Dengan bapa jangan durhaka,

Supaya Allah tidak murka.

 

Dengan ibu hendaklah hormat,

Supaya badan dapat selamat.

 

Dengan anak janganlah lalai,

Supaya boleh naik ke tengah balai.

 

Dengan kawan hendaklah adil,

Supaya tangannya jadi kapil.

 

Pasal Duabelas

Raja mufakat dengan menteri,

Seperti kebun berpagarkan duri.

 

Betul hati kepada raja,

Tanda jadi sebarang kerja.

 

Hukum ‘adil atas rakyat,

Tanda raja beroleh ‘inayat.

 

Kasihkan orang yang berilmu,

Tanda rahmat atas dirimu.

 

Hormat akan orang yang pandai,

Tanda mengenal kasa dan cindai.

 

Ingatkan dirinya mati,

Itulah asal berbuat bakti.

 

Akhirat itu terlalu nyata,

Kepada hati yang tidak buta.

 

Keterangan :

Balai : rumah tempat menanti raja

Bahri : lautan

Berperi : berkata-kata

Cindai : kain sutra yang berbunga-bunga

Damping : dekat, karib, atau akrab

Fi’il :  perbuatan

Hujjah : alasan

Inayat : pertolongan atau bantuan

Kafill : majikan

Ketor : tempat ludah (ketika makan sirih)

Ma’rifat : tingkat penyerahan diri kepada Tuhan yang setahap demi setahap sampai pada tingkat keyakinan yang kuat

Menyalah : melakukan kesalahan

Pekong : (pekung) penyakit kulit yang berbau busuk

Penggawa : kepala pasukan, kepala desa

Perangai : sifat batin manusia yang mempengaruhi segenap pikiran dan perbuatan

Senonoh : perkataan atau perbuatan yang tidak sopan

Tegah : menghentikan

Termasa : tamasya

 

Berdasarkan pencermatan dari Gurindan Dua Belas tersebut, dapat disimpulkan bahwa,

Ciri-ciri gurindam adalah:

  • Setiap bait terdiri dari 2 baris
  • Umumnya memiliki rima a-a
  • Jumlah suku kata dalam setiap baris umumnya antara 8 -14 suku kata.
  • Berisi suatu nasihat
  • Baris pertama menyatakan suatu pikiran, peristiwa, masalah, soal, isi kejadian, atau syarat. Sedangkan baris kedua berisi jawab, keterangan, solusi, akibat, perjanjian, atau makna dari yang disebutkan pada baris pertama.

Gurindam merupakan salah satu bagian dari puisi lama. Dan untuk memudahkan mengingatnya, saya mengawali kata dari indra kita, yaitu: MATA SELSYAPA GUNA (MA = Mantra, TA = Talibun, SEL = Seloka, SYA = Syair, PA = Pantun, GU = Gurindam, NA = Karmina).

Demikian, semoga dapat menambah wawasan dalam khazanah kesusastraan Indonesia.

Sumber:

Dr. J.S Badudu, Sari Kesustraan Indonesia

Badan Pegembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam Kamus Bahasa Indonesia untuk Pelajar (2011)

Raja Ali Haji, Gurindam Dua Belas

St. Takdir Alisyahbana, Puisi Lama

Yandianto.2004. Apresiasi Karya Sastra dan Pujangga Indonesia. Bandung. M2S Bandung

Facebook Comments