Badan Pegembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam Kamus Bahasa Indonesia untuk Pelajar (2011) menjelaskan bahwa Karmina  adalah “Pantun kilat terdiri atas dua baris, baris pertama merupakan sampirannya dan baris kedua isinya; pantun dua seuntai.”

Cermati contoh karmina berikut!

Pergi melaut siang-siang

Akang kentut gak bilang-bilang

 

Agar lebih memahami contoh karmina, jawablah pertanyaan berikut!

Welcome to your Karmina

Karmina di atas terdiri dari … baris
Karmina memiliki sampiran dan isi. Kalimat yang merupakan sampiran terdapat pada baris ….
Antara sampiran dan isi … hubungan makna.
Karmina disebut juga pantun kilat, maka jumlah suku kata dalam setiap baris pun seperti pantun, yaitu terdiri dari ….
Pada akhir baris kesatu dan baris kedua karmina di atas, mendapatkan pengulangan bunyi. Bunyi akhir baris kesatu dan baris kedua ….

Untuk mengetahui tingkat kecermatan Anda dalam membaca contoh karmina di atas hitunglah dengan rumus berikut:

Skor akhir = Jumlah jawaban Anda yang benar x 100
5

Arti tingkat kecermatan yang Anda capai

90%   –   100%   =  baik sekali

80%   –    89%    =  baik

70%   –    79%    =  cukup

<    70%     =  kurang

 

Pembahasan:

Bait karmina di atas terdiri dari dua baris

Pergi melaut siang-siang (baris kesatu)

Akang kentut tidak bilang-bilang (baris kedua)

 

Baris kesatu (Pergi melaut siang-siang) merupakan sampiran, sedangkan baris kedua (Akang kentut tidak bilang-bilang) merupakan isi.

Antara kalimat Pergi melaut siang-siang (baris kesatu) dan kaliamat Akang kentut tidak bilang-bilang (baris kedua) tidak ada hubungan makna sama sekali. Kalimat sampiran adalah kalimat yang bebas-bebas saja. Walaupun demikian berkaitan dengan pertanyaan terakhir. Kalimat sampiran harus memperhatikan isi pesan yang ingin disampaikan pada baris kedua. Karena karmina mengandung a – a.

Sedikit penjelasan mengenai rima yang dikutif dari Kamus Besar Bahasa Indonesia Luar Jaringan (Luring) yang dimaksud ri-ma  adalah “Pengulangan bunyi yang berselang baik di larik sajak maupun pada akhir larik sajak yang berdekatan.”

Ada beberapa jeins rima, yaitu:

Rima akhir yaitu, rima yang terdapat pada akhir larik sebuah sajak.

Rima berpeluk yaitu, rima akhir pada bait berlarik genap, yang larik pertamanya berima dengan larik ketiga dan larik keduanya berima dengan larik keempat.

Rima dalam yaitu, rima antara dua kata atau lebih di satu larik sajak.

Rima ganda yaitu, rima yang terdiri atas dua dua suku kata, tetapi hanya suku kata pertama yang mendapat tekanan (misal di bahasa Inggris motion dan potion berima ganda)

Rima tengah yaitu, rima antara suku kata pada posisi yang sama yang terdapat pada dua kata di satu larik sajak

Kita kembali mencermati contoh karmina di atas.

Pergi melaut siang-siang

Akang kentut tidak bilang-bilang

Baris pertama karmina tersebut terdiri dari 9 suku kata yaitu, per-gi me-la-ut si-ang-si-ang. Sedangkan baris kedua terdiri dari 10 suku kata yaitu, a-kang ken-tut ti-dak bi-lang-bi-lang.

Jumlah 9 dan 10 suku kata adalah jumlah ketentuan karmina yang tidak boleh kurang dari 8 suku kata dan tidak boleh lebih dari 12 suku kata dalam setiap barisnya.

Jadi dapat disimpulkan bahwa karmina memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  • Terdiri dari dua baris
  • Memiliki sampiran dan isi. Kalimat yang merupakan sampiran terdapat pada baris kesatu sedangkan bagian isi terdapat pada baris kedua.
  • Antara sampiran dan isi tidak ada hubungan makna.
  • Jumlah suku kata antara 8 – 12 suku kata/baris
  • Memiliki rima a – a

 

Sebelum kita menyimpulkan pengertian karmina menurut redaksi kita, ada beberapa hal yang perlu digaris bawahi bahwa:

Karmina merupakan bagian dari puisi lama. Dan untuk memudahkan mengingatnya, saya mengawali kata dari indra kita, yaitu: MATA SELSYAPA GUNA (MA = Mantra, TA = Talibun, SEL = Seloka, SYA = Syair, PA = Pantun, GU = Gurindam, NA = Karmina).

Karmina disebut pula pantun kilat karena mirip dengan pantun, tetapi hanya dua baris. Sampiran dan isi.

Berdasarkan isinya yang berkembang di masyarakat karmina ada yang mengandung sindiran, guyonan, ungkapan perasaan, memberi nasihat, selingan percakapan, rayuan, perintah, ada yang bersifat epik (bertema kepahlawanan), dan sebagainya.

Dalam budaya Betawi, karmina sering dipergunakan dalam acara-acara penting, seperti lamaran, pernikahan, atau pesta budaya.

Contoh karmina

Satu dua tiga empat

Siapkan bekal untuk akhirat

 

Lima enam tujuh delapan

Belajarlah demi masa depan

 

Empat kali empat enam belas

Sempat tidak sempat harus dibalas

 

Bagian tubuh terdapat hati

Tuntutlah ilmu sebelum mati

 

Beli baju di pasar baru

Hormatilah ibu bapak guru

 

Masa kecil mandi di baskom

Aku senang kecilnyaaku.com

 

Anak kecil asah belati

Banyak dzikir tenangkan hati

 

Pagi-pagi berangkat ke pasar

Persoalan kecil jangan dibesar-besar

 

Bulan ramadhan bulan puasa

Tetaplah maju jangan putus asa

 

Dahulu ketan sekarang ketupat

Dahulu preman sekarang ustadz

 

Dahulu besi sekarang parang

Dahulu benci sekarang sayang

 

Ke hutan membawa patik

Tidak nyangka gue cantik

 

Sudah gaharu cendana pula

Sudah tahu bertanya pula

 

Di tengah jalan ada tugu

Sudah kubilang jangan mengganggu

 

Seperti genting asal mula

Sudah tak ganteng tak shalat pula

 

Ke Bandung beli bubur

Walau kampungan tetapi jujur

 

Demikian, semoga dapat menambah wawasan dalam khazanah kesusastraan Indonesia.

Sumber:

Badan Pegembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam Kamus Bahasa Indonesia untuk Pelajar (2011)

Dr. J.S Badudu, Sari Kesustraan Indonesia

St. Takdir Alisyahbana, Puisi Lama

Facebook Comments

Share This Article