Makalah Kedelapan: Lima Kemuliaan Rasulullah

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وعن جمهور العلماء رحمة الله عليهم أجمعين أن الله تعالى أكرم نبيه محمدا صلعم بخمس كرمات

Jumhur ulama mengatakan bahwa Allah Ta’ala memuliakan Nabi-Nya, yaitu Nabi Muhamad ﷺ  dengan lima kemuliaan, yaitu:

أكرمه بالإسم

dalam hal nama (dengan panggilan Rasul)

والجسم

dalam hal tubuh (dengan disebut zat Rasul)

والعطاء

dalam hal pemberian (dengan pemberian tanpa permintaan)

والخطاء

dalam hal kesalahan (dengan pemberian ma’af sebelum berdosa)

والرضاء

dalam hal ridha (dengan keridhaan Allah)

أما الاسم فنداه بالرسالة ولم يناده بالاسم كما نادى جميع الأنبياء مثل آدم ونوح وإبراهيم وغيرهم

Dalam hal nama, maksudnya beliau dipanggil dengan sebutan Rasul dan tidak dipanggil dengan namanya sebagaimana saat Allah memanggil nabi-nabi lainnya, seperti Adam, Nuh, Ibrahim, dan sebagainya. Allah telah berfirman:

“Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang telah diturunkan kepadamu (dari Rabbmu).” (QS. Al-Maa-idah (5): 67)

وأما الجسم فإذا دعا النبي شيأ فأجاب هو نفسه عنه ولم يفعل ذلك لسائر الأنبياء

Yang dimaksud dengan jismi (zat Rasul) yaitu, apabila Nabi berdo’a, maka Allah mengabulkannya dengan washilah zat/ diri Rasul dan Allah tidak bermaksud yang demikian terhadap nabi-nabi yang lain

Disebutkan dalam satu riwayat bahwa Nabi ﷺ sukses mengembalikan mata Qatadah ke tempat semula yang tadinya keluar dan menggelantung di pipinya.

وأما العطاء فأعطاه بلا سؤال

Pemeberian tanpa permintaan maksudnya Allah memberikan sesuatu kepada nabi Muhammad tanpa meminta terlebih dahulu

Dalam hal pemberian, maksudnya merupakan Allah membagikan sesuatu kepada beliau meskipun tanpa ada permintaan lebih dahulu, Allah ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya Kami telah membagikan nikmat yang banyak kepadamu.” (QS. Al-Kautsar (108): 1)

وأما الخطاء فذكر العفو قبل ذنبه حيث قال عفا الله عنك؛

Adapun yang dimaksud dengan Al-katha’ adalah Allah memberikan ma’af kepada Nabi Muhammad sebelum adanya dosa

Allah berfirman: “Allah telah memaafkanmu.” (QS. At-Taubah (9): 43)

وأما الرضى فلم يرد عليه فديته ولا صدقته ولا نفقته؛ كما ردها على سائر الأنبياء

Adapun yang dimaksud dengan ridha ialah, bahwa Allah tidak menolak Nabi Muhammad   ﷺ

pada fidyahnya, sedekahnya, dan Allah pernah menolak nabi-nabi yang lain.

“Dan kelak Rabbmu pasti membagikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kita menjadi puas.” (QS. Adh-Dhuhaa (93): 5)

Disebutkan dalam satu riwayat bahwa beliau pernah menyembelih qurban untuk umat beliau dan membayar kifarat untuk seseorang dari kalangan umat beliau di karenakan menjalankan Interaksi suami-istri di siang bulan Ramadhan.

رَبَّنَا آتِنَا فِيْ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِيْ الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار

والْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِين

والسلام علىكم ورحمة الله و بركاته

 

 

Dari: “Nashaihul Ibad” Karya Ibnu Hajar Al Asqalany. Syarah oleh Muhammad Nawawi bin ‘Umar

 

 

Baca Makalah ke-9 : Klik di Sini ….

 

Facebook Comments