Sungguh luar biasa, ayah ibu kita, kakek-kakek kita, leluhur dan nenek moyang kita dalam menanamkan pendidikan karakter kepada generasi berikutnya. Nilai-nilai moral, tradisi, pandangan hidup, norma, dan budaya ditanamkan dari waktu ke waktu dengan suatu bahasa yang bijak dan mengesankan, di antaranya ialah melalui peribahasa.

Peribahasa adalah kelompok kata atau kalimat yang mempunyai arti khusus dan memiliki struktur susunan yang tetap untuk menyampaikan suatu maksud mengenai keadaan, kelakuan, perbuatan, atau hal.

Pepatah, perumpamaan, pemeo, bidal, dan ungkapan merupakan jenis-jenis peribahasa yang kita kenal. Dan peribahasa tersebut ada yang memiliki arti lugas ada pula yang memiliki arti simbolis.

Sebagai tanda hormat dan kagum kita kepada leluhur atas warisan yang tak ternilai. Berikut saya sajikan peribahasa yang berkembang di masyarakat.

Di bagian awal ini ada baiknya kita ikuti soal latihan dulu. Berikutnya cermati peribahasa-peribahasa yang insya Allah banyak pembelajaran untuk kita.

Selamat belajar!

Pilih jawaban yang paling tepat!

Klik submit untuk mengetahui jawaban Ananda yang benar!

Welcome to your Peribahasa

Air diminum rasa…, nasi dimakan rasa sekam.
Antah berkumpul dengan antah, beras bersama ….
Alang berjawab, tepuk ….
Ampang sampai ke …, dinding sampai ke langit.
Anak cantik, menantu ….
Anak dipangku dilepaskan, beruk di rimba disusui.

Makna peribahasa tersebut adalah ….
Tabiat orang yang tidak akan berubah.

Peribahasa untuk mengungkapkan makna tersebut adalah ….
Asing maksud, asing sampai.

Makna peribahasa tersebut adalah ….
Laki-laki dan perempuan kalau sudah jodoh pasti akan bertemu juga.

Peribahasa untuk mengungkapkan makna tersebut adalah ….
Awak yang tiada pandai menari, dikatakan lantai berjungkat.

Makna peribahasa tersebut adalah ….

Untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap materi ini, hitunglah dengan rumus berikut:

Skor akhir = Jumlah jawaban Anda yang benar x 100
10

Arti tingkat penguasaan yang Anda capai

90%   –   100%   =  baik sekali

80%   –    89%    =  baik

70%   –    79%    =  cukup

<    70%     =  kurang

Pembahasan:

Air diminum rasa duri, nasi dimakan rasa sekam.

Tidak enak makan dan minum (biasanya karena terlalu bersedih/duka).

 

Antah berkumpul dengan antah, beras bersama beras.

Setiap orang selalu mencari orang yang sederajat.

 

Alang berjawab, tepuk berbatas.

Perbuatan baik dibalas dengan perbuatan baik, perbuatan jahat dibalas dengan perbuatan kejahatan pula.

 

Ampang sampai ke seberang, dinding sampai ke langit.

Persaudaraan yang telah putus karena persengketaan dan tidak mungkin dapat baik kembali.

 

Anak cantik, menantu molek.

Seseorang yang sedang dalam kebahagiaan atau mendapatkan keuntungan yang sangat banyak.

 

Anak dipangku dilepaskan, beruk di rimba disusui.

Selalu membereskan urusan orang lain tanpa mempedulikan urusan sendiri.

 

Asal ayam pulang ke lumbung, asal itik pulang ke pelimbahan.

Tabiat orang yang tidak akan berubah.

 

Asing maksud, asing sampai.

Tidak sesuai dengan yang diharapkan.

 

Asam di darat, ikan di laut bertemu di belanga.

Laki-laki dan perempuan kalau sudah jodoh pasti akan bertemu juga.

 

Awak yang tiada pandai menari, dikatakan lantai berjungkat.

Untuk menutupi kesalahannya, dicari alasan pada orang lain.

Peribahasa beserta Artinya:

Awak yang payah membelah ruyung, orang lain mendapat sagunya.

Kita yang bersusah payang, orang lain yang mendapat keuntungan.

 

Bagaimana ditanam begitulah dituai.

Tiap-tiap orang berbuat jahat, jahatlah balasannya,begitu sebaliknya.

 

Badan boleh dimiliki, hati jangan.

Ungkapan bahwa orang tersebut sudah memiliki kekasih, hatinya sudah ada yang memiliki. Secara fisik mau menuruti segala macam perintah yang menindas, namun di dalam hati tetap menentang.

 

Badan dapat dimiliki, hati tak dapat dimiliki.

Orang yang selalu menuruti perintah, tapi dalam hatinya melawan.

 

Barangsiapa menggali lubang, ia juga terperosok ke dalamnya.

Bermaksud mencelakakan orang lain, tetapi dirinya juga ikut terkena celaka.

 

Datang tidak berjemput, pulang tidak berantar.

Tidak diperlakukan sebagaimana mestinya.

 

Dekat tak tercapai, jauh tak antara.

Sesuatu yang dekat tetapi tidak bisa diambil karena tiada upaya.

 

Dibakar tak hangus, direndam tak basah.

Sangat kikir, sangat kuasa.

 

Di mana kayu bengkok, di sana musang mengintai.

Orang yang sedang lengah mudah dimanfaatkan oleh musuhnya.

 

Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati

meninggalkan nama.

Orang terkenal jika ia mati dalam beberapa lama masih disebut-sebut orang namanya.

 

Garam di laut asam digunung, bertemu dalam belanga.

Laki-laki dan perempuan kalau sudah jodoh bertemu juga.

 

Gayung bersambut, kata berjawab.

Menangkis serangan orang, menjawab perkataan orang.

 

Guru kencing berdiri, murid kencing berlari.

Kelakuan orang bawahan selalu mencontoh kelakuan atasannya.

 

Hancur badan di kandung tanah, budi baik dikenang juga.

Budi bahasa yang baik tidak mudah dilupakan orang.

 

Harapkan guntur di langit, air di tempayan dicurahkan.

Mengharapkan sesuatu yang belum tentu, barang yang sudah ada dilepaskan.

 

Hasrat hati memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai.

Keinginan atau cita-cita yang mustahil dapat dicapai.

 

Hancur badan di kandung tanah, budi baik dikenang jua.

Budi pekerti, amal kebaikan, akan selalu dikenang meski seseorang sudah meninggal dunia.

 

Jika ditampar sekali kena denda emas, dua kali setampar emas pula, lebih baik ditampar betul-betul.

Setiap perbuatan jahat itu sama saja akibatnya, meski besar ataupun kecil.

 

Kalau pandai menggulai, badar jadi tenggiri.

Kalau pandai mengatur, barang yang kurang baikpun menjadi bagus.

 

Karena nila setitik, rusak susu sebelanga.

Karena kejahatan atau kesalahan yang kecil, hilang kebaikan yang telah diperbuat.

 

Kalau tidak angin bertiup, tidak akan pohon bergoyang.

Sesuatu hal yang terjadi tentu ada penyebabnya.

 

Karena mata buta, karena hati mati.

Menjadi celaka karena terlalu menuruti hawa nafsunya.

 

Kalau dipanggil dia menyahut, kalau dilihat dia bersua.

Bisa menyampaikan maksud dengan cara yang tepat.

 

Kecil-kecil anak, kalau besar menjadi onak.

Waktu masih kecil membuat hati senang, kalau sudah besar membuat kesusahan bagi kedua orang tuanya.

 

Menggantang asap, mengukir langit.

Melakukan perbuatan sia-sia atau berangan-angan yang hampa belaka.

 

Nasi tak dingin, pinggan tak retak.

Orang selalu mengerjakan sesuatu dengan hati-hati

 

Orang mau seribu daya, bukan seribu dali.

Jika menghendaki sesuatu, pasti akan mendapatkan jalan, jika tidak menghendaki, pasti mencari

alasan.

 

Pangsa menunjukkan bangsa, umpama durian.

Kita bisa melihat perangai seseorang melalui tutur katanya.

 

Putih kapas dapat dibuat, putih hati berkeadaan.

Kebaikan hati yang bisa dilihat dari tingkah lakunya.

 

Seberat-berat mata memandang, berat juga bahu memikul.

Apapun penderitaan orang yang melihat, masih lebih menderita orang yang mengalaminya.

 

Sekali air pasang, sekali tepian beranjak, Sekali air di dalam, sekali pasir berubah.

Setiap terjadi perubahan pimpinannya, berubah pula aturannya

 

Tua-tua keladi, makin tua makin menjadi.

Orang tua yang bersikap seperti anak muda, terutama dalam masalah percintaan.

 

Tong penuh tidak berguncang, tong setengah yang berguncang.

Orang yang berilmu tidak akan banyak bicara, tetapi orang bodoh biasanya banyak bicara seolah-olah tahu banyak hal.

 

Yang buta peniup lesung, yang peka peelpas bedil.

Masing-masing ada faedahnya, asal diletakkan pada tempatnya

 

Demikian, semoga Ananda sehat selalu! Dan semoga postingan ini dapat menambah wawasan Ananda.

Facebook Comments

Share This Article