Lima Tanjakan dalam Meraih Taqwa, Lima Pemeliharaan dan Lima Dampak Menjauhi dan Mengumpulkan Keduniaan.

Makalah Keenam Belas : Lima Tanjakan dalam Meraih Taqwa

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وعن بعض الحكماء قولهم

Sebagian ulama ahli hikmah mengatakan, bahwa,

بين يدي التقوى خمس عقبات من جاوزها نال التقوى

“Di hadapan taqwa itu terdapat lima tanjakan, barangsiapa yang dapat melaluinya dia dapat meraih taqwa, yaitu:

أولها: اختيار الشدة على النعمة

Ia memilih sesuatu yang berat dan meninggalkan hidup bersenang-senang

وثانيها: اختيار الجهد على الراحة

Ia memilih capek dan meninggalkan santai

وثالثها: اختيار الذل على العز

Memilih kelemahan dan meninggalkan kegagahan

ورابعها: اختيار السكوت على الفضول

Memilih diam dan meninggalkan berbicara yang tidak bermanfaat

وخامسها: اختيار الموت على الحياة

Memilih maut dari pada hidup.”

Keterangan :

Yang dimaksud maut di sini, menurut ahli Allah adalah mengekang hawa nafsu. Barangsiapa yang dapat mengekang hawa nafsunya, maka ia hidup sejahtera.

Maut itu ada empat macam, yaitu:

Maut merah, yakni tidak menuruti hawa nafsu;

Maut putih, yakni dapat menahan lapar, sebab kondisi lapar itu bisa menyinari perut dan membuat hati menjadi putih (Higienis); dan orang yang bisa menahan rasa lapar itu akan hidup kecerdasannya;

Maut hijau, yakni memakai pakaian yang sangat sederhana, dan hal ini merupakan cerminan dari adanya qana’ah yang tinggi;

Maut hitam, yakni mampu menerima dengan lapang dada dan ikhlas atas perlakuan orang lain yang menyakitinya.

 

Makalah ketujuh Belas: Lima Pemeliharaan

وعن النبي عليه السلام

Dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

النجوى يحصن الأسرار

Menyimpan sesuatu rahasia dapat memelihara rahasia-rahasia yang lain

الصدقة تحصن الأموال

Sedekah dapat memelihara harta

والإخلاص يحصن الأعمال

Keikhlasan dapat memelihara amal

والصدق يحصن الأقوال

Jujur dapat memelihara ucapan

والمشورة تحصن الأراء

Musyawarah dapat memelihara pendapat-pendapat lain

Keterangan :

Berbisik itu dapat menyimpan rahasia, sementara mampu memelihara rahasia termasuk sebab dominan dalam mencapai kesuksesan. Nabi s.a.w. bersabda, “Mintalah pertolongan kepada Allah dalam usaha meraih suatu hajat dengan merahasiakannya, dikarenakan setiap orang yang mendapatkan nikmat pasti ada orang lain yang dengki kepadanya.”

Berkaitan dengan poin 2, Nabi s.a.w. bersabda, “Tiada hari saat matahari telah terbenam, kecuali ada dua malaikat yang berdo’a, ‘Ya Allah, berilah ganti kepada orang yang mau menginfaqkan hartanya dan berilah kebangkrutan kepada orang yang tidak mau menginfaqkan hartanya.‘” Allah pun lalu menurunkan ayat-Nya (QS. Al-Lail ayat 5-7)

Adapun orang yang membagikan (hartanya di jalan Allah) dan bertaqwa serta membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.” (Dari Abu Darda’, dari Nabi s.a.w.)

Berkaitan dengan ikhlas, ikhlas itu ada 3 tingkatan, yaitu:

Menyembunyikan amal dari perhatian orang lain. Dalam beribadah tidak ada tujuan lain kecuali melaksanakan perintah Allah dan menetapi ubudiyyah. Juga bukan ditujukan untuk meraih simpati orang lain supaya mendapat kasih sayang, pujian, harta, atau sesuatu lainnya dari mereka. Inilah tingkatan ikhlas yang tertinggi.

Beramal semata-mata dikarenakan Allah dengan tujuan supaya Allah membagikan balasan di akhirat nanti, seperti supaya dijauhkan dari siksa neraka, dimasukkan ke surga, dan diberi berbagai kenikmatan lainnya. Inilah tingkatan ikhlas nomor dua.

Beramal di karenakan Allah semata dengan berharap supaya Allah membagikan balasan di dunia, seperti supaya diluaskan rezekinya dan supaya dihindarkan dari hal-hal yang tidak disukainya. Inilah tingkatan ikhlas paling rendah

Adapun menjalankan amal dengan kriteria selain itu, maka merupakan riya’ yang sangat tercela.

Berkaitan dengan poin 4, dalam jelaskan firman Allah (QS. Al-Baqarah (2): 42), “Janganlah kalian mencampur-adukkan antara yang haq dan yang bathil.”

Ibnu ‘Abbas berkata, “Maksudnya merupakan janganlah kalian mencampur-adukkan antara kejujuran dan dusta.”

Orang yang dusta, omongannya tidak akan diterima Allah dan juga tidak akan diterima manusia. Ulama ahli bijak berkata: “Lebih bagus diam daripada berkata bohong. Ucapan yang jujur merupakan awal dari suatu kebahagiaan.”

Ahli balaghah berkata, “Orang yang jujur itu dihormati dan dicintai, sedang orang yang bohong terhina lagi direndahkan.”

Berkaitan dengan musyawarah, Nabi s.a.w. juga pernah bersabda, “Musyawarah itu akan mencegah terjadinya penyesalan dan celaan dari orang lain.”

‘Ali r.a. pernah berkata, “Sebaik-baik cara dalam pengambilan keputusan adalah dengan musyawarah dan seburuk-buruk langkah adalah kediktatoran.”

 

Makalah Kedelapan Belas: Lima Dampak Menjauhi dan Mengumpulkan Keduniaan

و قال النبي عليه السلام

Nabi bersabda,

إن فى جمع المال خمسة أشياء

“Sesungguhnya mengumpulkan harta itu memiliki lima dampak negatif.

العناء فى جمعه

Payah dalam mengumpulkannya

والشغل عن ذكر الله تعالى بإصلاحه

Lupa mengingat Allah karena sibuk mengatur harta

والخوف من سالبه وسارقه

Takut terhadap begal dan pencuri

واحتمال اسم البخيل لنفسه

Pantas menyandang gelar bakhil atau kikir untuk dirinya

ومفارقة الصالحين من أجله

Menjauhkan diri dari orang yang shaleh karena sibuk

وفى تفريقه خمسة أشياء

Dan menghindarkan diri dari mengumpulkan harta juga mengandung lima dampak positif

راحة النفس من طلبه

Senang hati dalam mencarinya

والفراغ لذكر الله من حفظه

Banyak waktu untuk mengingat Allah

والأمن من سالبه وسارقه

Merasa aman dari begal dan pencurinya

واكتساب اسم الكريم لنفسه

Pantas menyandang gelar Al Karim (orang yang mulia) di sisi Allah

ومصاحبة الصالحين لفراقه

Dapat bergaul dengan orang yang shaleh

Keterangan :

Ahli sastra berkata, “Kemurahan hati seseorang bisa menyebabkan ia dicintai oleh lawan-lawannya, sedangkan kebakhilan seseorang bisa menyebabkan ia dibenci oleh anak-anaknya.”

Sebagian ahli sastra lainnya berkata, “Sebaik-baiknya harta adalah bisa memperbudak (membeli hati) orang yang merdeka dan sebaik-baiknya perbuatan ialah yang berhak mendapat ucapan terima kasih dari orang lain.”

رَبَّنَا آتِنَا فِيْ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِيْ الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار

والْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِين

والسلام علىكم ورحمة الله و بركاته

 

 

Dari: “Nashaihul Ibad Karya Ibnu Hajar Al Asqalany. Syarah oleh Muhammad Nawawi bin ‘Umar

 

 

Baca Makalah ke-19 : Klik di Sini ….
Facebook Comments

Share This Article