Lima Hal yang Paling Utama dan Lima Intisari Zuhud, dan Lima Hal Munajat Ahli Ibadah
Makalah Kedua Puluh Tiga : Lima Hal yang Paling Utama

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وقال عمر رضي الله عنه

Umar ra. Mengatakan:

رأيت جميع الأخلاء فلم أر خليلا أفضل من حفظ اللسان

Aku memperhatikan semua teman-teman. Tetapi tidak ada teman yang lebih utama kecuali dapat memelihara lisan

ورأيت جميع اللباس فلم أر لباسا أفضل من الورع

Aku memperhatikan pakaian tatapi aku tidak melihat pakaian yang lebih utama kecuali wara’

ورأيت جميع المال فلم أر مالاً أفضل من القناعة

Aku melihat semua harta tetapi aku tidak melihat yang lebih utama kecuali hidup qana’ah

ورأيت جميع البر فلم أر برا أفضل من النصيحة

Aku melihat semua kebaikan, tetapi aku tidak melihat yang lebih utama kecuali nasihat

ورأيت جميع الأطعمة فلم أر طعاما ألذ من الصبر

Aku melihat semua makanan, tetapi aku tidak melihat yang lebih utama kecuali sabar

Keterangan :

Menurut Ibrahim bin Adham, yang dimaksud dengan wara’ adalah meninggalkan semua hal yang syubhat. Adapun meninggalkan semua yang tidak bermanfaat, itu namanya meninggalkan hal yang sudah semestinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jadilah orang yang wara’, niscaya engkau akan menjadi orang yang paling bagus dalam beribadah.”

Qana’ah adalah tidak mencari-cari sesuatu yang tidak ada pada dirinya dan merasa cukup dengan apa yang ada padanya.

Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jadilah orang yang wara’, niscaya engkau akan menjadi orang yang paling bagus dalam beribadah. Jadilah orang yang qana’ah, niscaya engkau akan menjadi orang yang paling pandai bersyukur kepada Allah. Cintailah orang lain sebagaimana engkau mencintai dirimu sendiri, niscaya engkau akan menjadi orang mukmin yang sempurna. Berbuat baiklah dalam hidup bertetangga, niscaya engkau akan menjadi seorang muslim yang bagus. Kurangilah tertawa, sebab banyak tertawa dapat membuat hati menjadi mati.”

Berkaitan dengan perintah untuk berbuat baik kepada orang lain. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hati itu diciptakan cenderung untuk mencintai orang yang berbuat baik kepadanya dan cenderung membenci orang yang telah berbuat buruk kepadanya.”

Dalam kebaikan terdapat keridhaan manusia, sedang dalam taqwa terdapat keridhaan Allah. Barang siapa sukses meraih keduanya, sungguh telah sempurna kebahagiaan dan nikmat yang diraihnya. Orang baru disebut sabar apabila dirinya telah memenuhi tiga kriteria (saat mendapat qadha’ yang tidak disukainya), yaitu:

mampu mengendalikan diri dari membenci qadha’ tersebut;

mampu mengendalikan lisannya dari ucapan yang buruk; dan

mampu mengendalikan anggota badannya dari memukul, menyobek-nyobek pakaian, mencoreng-coreng muka, menaburi kepalanya dengan debu, dan lain-lain (tindakan yang tidak bagus dilakukan).

 

Makalah kedua Puluh Empat : Lima Intisari Zuhud

وعن بعض الحكماء أنه قال الزهد خمس خصال

Sebagian ulama ahli hikmah mengatakan bahwa zuhud itu mengandung lima hal

الثقة بالله

Penuh keyakinan kepada Allah

والتبري عن الخلق

Berbuat baik kepada sesama makhluk

والإخلاص فى العمل

Ikhlas dalam ber’amal

واحتمال الظلم

Sabar saat dizhalimi orang lain

والقناعة فى اليد

Qana’ah terhadap rezeki yang diterima

Keterangan:

Yahya bin Mu’adz berkata, “Seseorang tidak akan bisa mencapai tingkatan zuhud yang sempurna, kecuali ia telah mempunyai tiga faktor dasar, yaitu:

beramal semata-mata dikarenakan Allah;

berkata tanpa ada kecenderungan rakus terhadap harta keduniaan; dan

mulia tanpa mempunyai pangkat keduniaan.”

Adapun yang dimaksud dengan zuhud yang sebenarnya adalah seperti yang disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Zuhud terhadap dunia itu bukanlah mengharamkan yang halal, juga bukan menyia-nyiakan harta, akan tetapi zuhud itu merupakan engkau tidak menggantungkan diri di sesuatu yang ada di dirimu, akan tetapi lebih percaya di sesuatu yang ada di tangan Allah. Juga lebih banyak mengharapkan pahala sewaktu menerima musibah dan engkau lebih suka menerima musibah sekalipun musibah itu menimpa selama hidupmu (sebab pahalanya besar).” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah, dari Abu Dzar)

Syekh Junaid berkata, “Yang disebut zuhud merupakan hati selalu merasa ridha sekalipun usahanya gagal.”

Sufyan Ats-Tsauri berkata, “Zuhud adalah tidak panjang angan-angan dalam urusan duniawi, bukan denagn makanan yang tidak enak dan bukan pula mengenakan pakaian yang sangat sederhana.”

Orang yang zuhud tentu tidak akan bangga dengan keduniaan yang dimilikinya, juga tidak akan meratapi apa yang luput darinya.

 

Makalah kedua Puluh Lima : Lima Hal Munajat Ahli Ibadah

وعن بعض العباد أنه قال فى المناجاة

Sebagian ahli ibadah berkata dalam munajatnya sebagai berikut:

إلهي طول الأمل غرني

“Ya Tuhanku, panjangnya lamunan dalam urusan dunia telah membuat aku tertipu

وحب الدنيا أهلكني

Cintaku kepada dunia membuat aku rusak

والشيطان أضلني

Setan-setan telah membuat aku sesat

والنفس الأمارة بالسوء عن الحق منعتني

Nafsu amarah (yang menyuruh aku berpaling dari kebenaran) telah melarangku berbuat baik

وقرين السوء على المعصية أعانني

Dan menjadi sahabat yang telah membantuku berbuat maksiat

فأغثني يا غياث المستغيثين، فإن لم ترحمني فمن ذا الذي يرحمني غيرك

Namun demikian, tolonglah aku, wahai Dzat yang selalu membagikan pertolongan kepada mereka yang memohonnya. bila Engkau tidak berkenan mencurahkan rahmat kepadaku, siapa lagi yang bisa mencurahkan rahmat kepadaku selain Engkau?”

Keterangan:

Allah telah mengecam panjang angan-angan sebagaimana firman-Nya, “Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong). Kelak mereka akan mengetahui (karena perbuatan mereka).” (QS. Al Hijr (15):3)

Berkaitan dengan hubbud dunya (cinta duni) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang hatinya telah dilapisi oleh kecintaan duniawi, maka ia akan selalu diliputi oleh tiga hal, yaitu: kesengsaraan yang tidak ada habisnya; rakus yang tidak berkesudahan; dan angan-angan yang tidak ada ujungnya.” (HR. Thabarani)

‘Ali radiallahu anhu berkata, “Yang aku khawatirkan terhadap kalian merupakan dua hal, yaitu mengikuti hawa nafsu dan panjang angan-angan, sebab mengikuti hawa nafsu akan menghalangi dari kebenaran, sedangkan panjang angan-angan akan menyebabkan lupa akhirat.”

Abu Sulaiman Ad-Darani berkata, “Amal yang paling utama adalah memerangi hawa nafsu.”

Adi bin Zaid berkata dalam syair:

Janganlah engkau bertanya mengenai identitas seseorang

Akan tetapi tanyakan siapa teman dekatnya

Sebab setiap teman itu

Suka mengikuti perbuatan orang yang ditemaninya

رَبَّنَا آتِنَا فِيْ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِيْ الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار

والْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِين

والسلام علىكم ورحمة الله و بركاته

 

 

dari: “Nashaihul Ibad” Karya Ibnu Hajar Al Asqalany. Syarah oleh Muhammad Nawawi bin ‘Umar

Baca Makalah ke-26 : Klik di Sini ….
Facebook Comments

Share This Article