Mencintai Lima Perkara dan Lima Munajat  Yahya bin Muad Ar-Razi
Makalah Kedua Puluh Enam : Mencintai Lima Perkara

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

قال النبي عليه السلام

Nabi saw. bersabda,

سيأتي على أمتي زمان يحبون الخمس وينسون الخمس

“Akan datang kepada umatku suatu masa di mana umatku mencintai lima perkara, yaitu:

يحبون الدنيا وينسون الآخرة

Mereka mencinti duniawi, sedangkan mereka melupakan ukhrawi

ويحبون الحياة وينسون الموت

Mereka mencintai kehidupan, tetapi mereka melupakan kematian

ويحبون القصور وينسون القبور

Mereka mencintai gedung-gedung yang indah, tetapi mereka melupakan kuburan

ويحبون المال وينسون الحساب

Mereka mencintai harta, tetapi mereka lupa akan pertanggung jawabannya

ويحبون الخلق وينسون الخالق

Mereka mencintai makhluk, tetapi mereka melupakan khaliknya

Keterangan:

Setiap saat kita harus selalu dzikir menyebut nama Allah  dalam setiap pekerjaan yang baik membaca, “Bismillah,” jika selesai membaca “Alhamdulillah” ditambah dengan do’a-do’a antara lain adalah sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Barang siapa yang setiap harinya membaca do’a: ‘Allahumma baarik lii fil mauti wa fii maa ba’dal mauut,’ (Ya Allah, berilah berkah kepadaku sewaktu menjalani kematian dan sesudahnya) sebanyak 25 kali, niscaya Allah akan membagikan pahala (mati) syahid kepadanya meskipun dia meninggal di atas peraduannya.” (HR. Thabarani)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Zuhud ialah mencintai sesuatu yang dicintai Allah dan membenci sesuatu yang dibenci Allah; meninggalkan harta yang halal sebagaimana meninggalkan harta yang haram, sebab yang halalnya pasti akan dihisab, sedangkan yang haramnya pasti akan membuahkan siksa, menyayangi sesama orang Islam sebagaimana menyayangi diri sendiri, memelihara diri dari ucapan yang tidak bermanfaat sebagaimana memelihara diri dari ucapan yang haram, memelihara diri dari banyak makan sebagaimana memelihara diri dari makan bangkai yang amat busuk, memelihara diri dari aneka macam kesenangan dunia dan perhiasannya sebagaimana memelihara diri dari panasnya api; dan tidak panjang angan-angan. Inilah arti zuhud yang sebenarnya.” (HR. Dailami)

Suatu saat Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam melewati suatu majelis yang penuh dengan canda ria dan gelak tawa, setelah itu beliau bersabda kepada mereka yang ada dalam majelis tersebut, “Isilah majelis kalian ini dengan hal-hal yang bisa mengingatkan kepada pemutus kenikmatan duniawi.” Para sahabat lantas bertanya, “Apa yang dimaksud dengan pemutus kenikmatan duniawi itu?” Beliau menjawab: “Maut.”

 

Makalah Kedua puluh Tujuh : Lima Munajat Yahya bin Muad Ar-Razi

وقال يحيى بن معاذ الرازي رحمه الله فى المناجاة: إلهي

Yahya bin Muad Ar-Razi dalam munajat nya berkata sebagai berikut:

لا يطيب الليل إلا بمناجاتك

“Ya Tuhanku tidaklah indah malam itu, kecuali dengan munajat kepada-Mu

ولا يطيب النهار إلا بطاعتك

Tidaklah indah siang itu, kecuali dengan taat kepada-Mu

ولا تطيب الدنيا إلا بذكرك

Tidaklah indah dunia itu, kecuali dengan dzikir kepada-Mu

ولا تطيب الآخرة إلا بعفوك

Tidaklah indah akhirat itu, kecuali dengan ampunan-Mu

ولا تطيب الجنة إلا برؤيتك

Dan tidaklah indah surga itu, kecuali dengan melihat kepada-Mu.

Keterangan:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya dunia itu dilaknat,  sesuatu yang ada padanya juga dilaknat, kecuali dzikir kepada Allah, sesuatu yang dicintai-Nya, orang ‘alim; dan orang yang menuntut ilmu.” (HR. Nasa’i dan Ibnu Majah)

Adapun munajatnya ‘Ali radiallahu ‘anhu adalah sebagai berikut, ““Bukankah Engkau telah mendengar dengan kekuatan-Mu wahai Tuhan yang menjadi kekuatan atas do’a orang yang lemah yang ditimpa musibah, yang tenggelam dalam lautan kebingungan penuh dengan keprihatinan.

Aku berseru dengan penuh rendah diri setiap hari dalam kesungguhan berdo’a kepada-Mu. Sungguh terasa sempit bagiku dunia ini, sementara penduduk dunia tidak mengetahui obatku, maka ambillah tanganku, dikarenakan aku benar-benar memohon keselamatan dengan ampunan-Mu.

Aku datang kepada-Mu dengan diiringi cucuran air mata. Oleh karena itu, kasihanilah tangisku ini dikarenakan malu kepada-Mu. Aku terlalu banyak noda dan dosa kepada-Mu. Aku sekarang berada dalam kebingungan, sedangkan Engkau merupakan Dzat Pembebas kebingungan. Aku sakit, sedangkan Engkau merupakan obat penawar sakitku.

Ya Allah, bangkitkan diriku ini dengan penuh harapan. Aku katakan kepada-Mu, wahai Tuhanku, aku senantiasa berharap supaya Engkau mau memenuhi harapanku. Balasan yang layak untukku tiada lain Engkau menyiksaku. Akan tetapi, aku berlindung dengan anugerah-Mu yang bagus.

Wahai tumpuan harapanku, Engkau telah mengistimewakan junjunganku (Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam) dengan pemberian ma’af atas diriku, dikarenakan aku sekarang berada di tengah musibah yang menimpaku.”

Adapun yang dimaksudkan dengan “ambillah tanganku” merupakan terimalah do’aku ini.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Saat Allah menurunkan Nabi Adam ‘alaihis salaam dari surga ke bumi, maka segala sesuatu yang ada di sekitar Nabi Adam ‘alaihi salaam (sewaktu di surga) turut berduka cita, kecuali emas dan perak. Allah pun lalu berfirman kepada keduanya, ‘Aku jadikan kalian berdua bertetangga dengan seorang hamba dari hamba-Ku, setelah itu Aku turunkan dia dari sampingmu, maka semua yang ada di kanan kirinya turut bersedih, kecuali kalian berdua.’ Selanjutnya, emas dan perak itu berkata, “Wahai Tuhan kami dan Pelindung kami, Engkau Maha Mengetahui bahwasanya Engkau telah menjadikan kami bertetangga dengan Adam saat ia taat kepada-Mu. Saat ia berbuat dosa, maka kami tidak bersedih.’ Selanjutnya, Allah berfirman kepada emas dan perak, ‘Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, sungguh Aku akan memuliakan kalian berdua sehingga segala sesuatu tak akan diperoleh, kecuali dengan kalian berdua.’” (HR. Dailami)

رَبَّنَا آتِنَا فِيْ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِيْ الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار

والْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِين

والسلام علىكم ورحمة الله و بركاته

 

 

dari: “Nashaihul Ibad” Karya Ibnu Hajar Al Asqalany. Syarah oleh Muhammad Nawawi bin ‘Umar

Baca Bab VI : Klik di Sini ….
Facebook Comments
style type="text/css"> #main-header .et_mobile_menu .menu-item-has-children > a { background-color: transparent; position: relative; } #main-header .et_mobile_menu .menu-item-has-children > a:after { font-family: 'ETmodules'; text-align: center; speak: none; font-weight: normal; font-variant: normal; text-transform: none; -webkit-font-smoothing: antialiased; position: absolute; } #main-header .et_mobile_menu .menu-item-has-children > a:after { font-size: 16px; content: '\4c'; top: 13px; right: 10px; } #main-header .et_mobile_menu .menu-item-has-children.visible > a:after { content: '\4d'; } #main-header .et_mobile_menu ul.sub-menu { display: none !important; visibility: hidden !important; transition: all 1.5s ease-in-out;} #main-header .et_mobile_menu .visible > ul.sub-menu { display: block !important; visibility: visible !important; }