Peribahasa yang mengandung nasihat, peringatan, atau sindiran disebut juga bidal. Bidal memiliki susunan kalimat yang begitu indah, memiliki rima dan irama. Walaupun demikian peribahasa ini memiliki makna lugas.

Ilustrasikan peribahasa berikut!

 Hidup dikandung adat, mati dikandung tanah.

Adat muda menanggung rindu, adat tua menahan ragam.

Lancar kaji karena diulang, pasah jalan karena diturut.

Berguru ke padang datar, dapat rusa belang kaki.

Biar lambat asal selamat, tak akan lari gunung dikejar.

Pembahasan di sini

Hidup dikandung adat, mati dikandung tanah.

Artiya:

Selama hidup orang harus taat kepada adat kebiasaan dalam masyarakat.

Contoh ilustrasi

Suatu negeri atau daerah memiliki adat kebiasaan yang berbeda-beda. Sebagai anggauta masyarkat negeri atau daerah tersebut, kita harus taat kepada adat kebiasaan untuk selamanya. Karena kalau tidak, akan terjadi benturan dengan adat kebiasaan dalam masyarakat.

 

Adat muda menanggung rindu, adat tua menahan ragam.

Artiya:

Orang muda harus bersabar, dalam meraih cita-cita.

Contoh ilustrasi

Suatu nasihat kepada anak muda agar bersabar dalam meraih cita-cita, bahwasanya dalam setiap meraih cita-cita pasti ada halangan, rintangan, bahkan ujian. Sifat sabar sangat diperlukan untuk terus berikhtiar. Keberhasilan yang dicita-citakan mungkin akan tercapai hanya tinggal satu atau dua langkah lagi.

 

Lancar kaji karena diulang, pasah jalan karena diturut.

Artiya:

Segala sesuatu harus dilakukan berulang ulang supaya paham.

Contoh ilustrasi

Peribahasa yang mengandung nasihat agar melakukan sesuatu harus berulang-ulang. Satu kali melakukan mungkin tidak mengerti sama sekali, kedua kalinya ada gambaran tentang maksud yang dikandungnya, ketiga kalinya agak paham, keempat kali, menjadi paham, kelima kali sangat paham. Dan seterusnya hingga memahami sekali.

 

Berguru ke padang datar, dapat rusa belang kaki.

Artiya:

Belajar harus sungguh-sungguh, jangan terputus di tengah jalan.

Contoh ilustrasi

Belajar merupakan kewajiban bagi umat manusia. Manusia tidak bisa hidup tanpa belajar. Karena apa pun yang ia lihat, apa pun yang ia dengar, dan apa pun yang ia rasakan merupakan proses belajar. Dalam belajar tidak boleh setengah-setengah, apalagi sampai terputus di tengah jalan.

 

Biar lambat asal selamat, tak akan lari gunung dikejar.

Artiya:

Dalam mengerjakan suatu pekerjaan haruslah berhati-hati supaya selamat.

Contoh ilustrasi

Suatu pekerjaan harus dikerjakan dengan rileks tidak boleh tergesa-gesa. Kehati-hatian dalam mengerjakan sesuatu menjadi salah satu faktor keselamatan kerja.

Berikut ini contoh mengilustrasikan Peribahasa:

Ilustrasi:

Manusia merupakan makhluk yang sempurna. Dengan akal dan pikiran yang diberikan-Nya manusia bisa menjadi makhluk yang paling pandai. Namun bagaimana pun pandainya manusia, pasti pernah mengalami kegagalan atau kesalahan.

Peribahasa yang memperingatkan hal tersebut, adalah ….

Sepandai-pandai tupai melompat, sekali waktu jatuh juga.

Artiya:

Sepandai-pandainya manusia, suatu saat pasti pernah melakukan kesalahan juga.

 

Ilustrasi:

Tuhan menciptakan manusia terdiri dari berbangsa-bangsa, bersuku-suku, dan berqabilah-qabilah. Dan bagi setiap individu dilahirkan dengan pendapat, kehendak, dan perasaan yang berbeda.

Dalam peribahasa diperingatkan ….

Lain dulang lain kaki, lain orang lain hati.

Artiya:

Setiap orang punya pendapat, kehendak dan perasaan yang berbeda.

 

Ilustrasi:

Berbicara keberuntungan atau nasib seseorang, semuanya tidak ada yang stabil. Suatu saat terus-terusan beruntung, tetapi di saat-saat tertentu mengalami rugi juga. Atau sebaliknya tidak akan terus menerus rugi, apabila dikejakan dengan sungguh-sungguh ternyata untung besar juga. Demikianlah nasib, untung dan rugi datang berganti kadang di atas, kadang di bawah.

Peribahasa yang menyatakan hal tersebut adalah ….

Untung bagaikan roda pedati, sekali ke bawah sekali ke atas.

Artiya:

Keberuntungan atau nasib manusia tiada tetap, kadang di bawah dan kadang di atas.

 

Ilustrasi:

Manusia tidak dapat menawar untuk hidup selamanya atau menawar ingin segera mati. Kematian merupakan suatu hal yang sudah ditentukan. Tidak bisa berlari darinya walau dihalangi besi baja, dirintangi kawat berduri atau dihalau dengan teknologi modern. Kalau sudah tiba waktunya, pasti tiba juga.

Peribahasa untuk mengungkapkan hal tersebut, adalah ….

Dimana lalang habis, disitu api padam.

Artiya:

Hidup dan mati tidak dapat ditentukan, jika sudah saatnya pasti kita akan mati.

 

Ilustrasi:

Kemajuan tidak dapat diperoleh hanya dengan angan-angan atau khayalan kosong tanpa adanya ikhtiar. Ikhtiar merupakan sarana dan alat untuk menuju kepada kemajuan. Tuhan telah menciptakan kesuksesan atau kemajuan dan manusia wajib berikhtiar untuk mendapatkannya.

Peribahasa yang menyatakan hal tersebut adalah ….

Malu bertanya sesat di jalan.

Artiya:

Kalau tidak mau berikhtiar tidak akan mendapat kemajuan.

 

Ilustrasi:

Peribahasa ini menyindir seseorang yang mudah sekali berjanji. Tetapi ia selalu ingkar terhadap apa yang telah diucapkannya.

Murah dimulut, mahal ditimbangan.

Artiya:

Mudah sekali berjanji tetapi tidak pernah menepati.

 

Ilustrasi:

Kalau tidak diawasi, ia tenang-tenang saja dan melalikan pekerjaan atau bahkan tidak bekerja sama sekali. Tetapi suatu ketika tatkala ia mendapat teguran, baru ia mau bekerja dengan baik.

Dibujuk ia menangis, ditendang ia tertawa.

Artiya:

Mau bekerja dengan baik jika sudah mendapat teguran.

 

Ilustrasi:

Seorang suami tatkala usahanya sedang maju dan mendapatkan kesenangan dapat hidup rukun dengan istrinya. Tetapi tatkala suami sedang mengalami kesusahan, yang menjadi istri tidak mau tahu permaslahan yang dihadapi suami.

Ilustrasi tersebut disindir dalam peribahasa ….

Ada uang abang disayang, tak ada uang abang ditendang.

Artiya:

Hanya mau bersama disaat senang saja tetapi tidak mau tahu disaat sedang susah

 

Ilustrasi:

Andaikan orang lain dalam berperkara, ia selalu aktif terlibat dan ikut campur dalam urusan orang tersebut. Sedangkan urusannya sendiri banyak diabaikan dan dilupakan.

Peribahasanya adalah ….

Anak dipangku dilepaskan, beruk dirimba disusukan.

Artiya:

Membereskan perkara orang lain, sedang urusannya sendiri dilupakan.

 

Ilustrasi:

Peribahasa ini berisi sindiran bagi orang yang selalu memperhatikan kesalahan, kekurangan, dan kelemahan orang lain. Sedang ia sendiri tidak berintrospeksi tentang kesalahan dan kekurangan yang banyak diperbuatnya.

Gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan tampak.

Artiya:

Kesalahan/ aib sendiri yang besar tidak tampak. Kesalahan kecil orang lain terlihat jelas.

 

Demikian, semoga Ananda sehat selalu! Dan postingan dapat menambah wawasan Ananda.

Facebook Comments
style type="text/css"> #main-header .et_mobile_menu .menu-item-has-children > a { background-color: transparent; position: relative; } #main-header .et_mobile_menu .menu-item-has-children > a:after { font-family: 'ETmodules'; text-align: center; speak: none; font-weight: normal; font-variant: normal; text-transform: none; -webkit-font-smoothing: antialiased; position: absolute; } #main-header .et_mobile_menu .menu-item-has-children > a:after { font-size: 16px; content: '\4c'; top: 13px; right: 10px; } #main-header .et_mobile_menu .menu-item-has-children.visible > a:after { content: '\4d'; } #main-header .et_mobile_menu ul.sub-menu { display: none !important; visibility: hidden !important; transition: all 1.5s ease-in-out;} #main-header .et_mobile_menu .visible > ul.sub-menu { display: block !important; visibility: visible !important; }