Image dari: Fixabay

Peribahasa ada yang memiliki arti lugas, ada pula yang memiliki arti simbolis. Jenis peribahasa yang memiliki arti simbolis ini disebut perumpamaan. Peribahasa jenis perumpamaan ini mengandung perbandingan yang menggunakan kata seperti, bagai, bak, ibarat, atau laksana.

Sebagaimana diketahui bahwa peribahasa pada umumnya memiliki struktur susunan yang tetap. Dan untuk menguji tingkat penguasaan terhadap peribahasa jenis perumpamaan, berikut disajikan latihan soal serta contoh-contoh peribahasa jenis perumpamaan.

Lengkapi perumpamaan di bawah ini!

Klik submit untuk mengetahui perolehan jawaban Anda yang benar.

Welcome to your Perumpamaan

… mendapat durian runtuh.
… alu pencukil duri.
… musang berbulu ayam.
… burung dalam sangkar.
… seekor balam, mata terlepas badan terkurung.
Seperti pungguk merindukan ….
Bagai makan buah ….
Bagai air di daun talas.

Makna peribahasa tersebut adalah ….
Bercerai berai karena kehilangan tumpuan.

Untuk menyatakan makna tersebut adalah ….
Bagai anjing menyalak di ekor gajah.

Makna peribahasa tersebut adalah ….

Untuk mengetahui tingkat penguasaan anda terhadap materi ini, hitunglah dengan rumus berikut:

Skor akhir = Jumlah jawaban Anda yang benar x 100
10

Arti tingkat penguasaan yang Anda capai

90%   –   100%   =  baik sekali

80%   –    89%    =  baik

70%   –    79%    =  cukup

<    70%     =  kurang

Pembahasan :

Bagai mendapat durian runtuh.

Mendapat keuntungan yang tidak disangka-sangka tanpa harus bersusah payah mendapatkannya.

 

Bak alu pencukil duri.

Mengerjakan sesuatu pekerjaan yang sia-sia hasilnya.

 

Seperti musang berbulu ayam.

Pura-pura berbuat baik untuk menyembunyikan kesalahannya.

 

Laksana burung dalam sangkar.

Seseorang yang terikat oleh keadaan

 

Ibarat seekor balam, mata terlepas badan terkurung.

Ibarat wanita pingitan.

 

Seperti pungguk merindukan bulan.

mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin tercapai

 

Bagai Makan Buah Simalakama.

Bagai seseorang yang dihadapkan pada dua pilihan yang sangat sulit untuk dipilih.

 

Bagai air di daun talas.

Selalu berubah-ubah atau tidak tetap pendiriannya.

 

Bercerai berai karena kehilangan tumpuan.

Bagai anak ayam kehilangan induk.

 

Bagai anjing menyalak di ekor gajah.

Si lemah hendak melawan orang berkuasa, tentu saja kalah.

Cermati peribahasa jenis perumpamaan berikut!.

Bagaikan air dengan minyak.

Tidak dapat bersatu.

 

Bagaikan api makan ilalang kering, tiada dapat dipadamkan lagi.

Orang yang tidak mampu menolak bahaya yang menimpanya.

 

Bagai anjing tersepit pagar.

Orang yang tidak pernah tahu membalas budi orang yang menolongnya, malahan membuat sakit hatinya.

 

Bagai api dengan asap.

Persahabatan yang sangat erat.

 

Bagai ayam dimakan tungau.

Tidak sehat badannya, lagi kurus dan pucat wajahnya.

 

Bagai bara dalam sekam.

Perbuatan jahat yang tak tampak.

 

Bagaikan burung di dalam sangkar.

Seseorang yang merasa hidupnya dikekang.

 

Bagai bulan kesiangan.

Pucat dan lesu.

 

Bagai di sayat dengan sembilu.

Rasa hati yang sangat pedih.

 

Bagai duri dalam daging.

Selalu terasa tidak menyenangkan hati dan mengganggu pikiran.

 

Bagai guna-guna alu, sesudah menumbuk dicampakkan,

Jika sudah tidak berguna biasanya dibuang begitu aja.

 

Bagai itik pulang petang.

Sangat lambat jalannya.

 

Bagai kerbau dicocok hidung.

Menurut saja apa yang menjadi keinginan orang.

 

Bagai melulus baju sempit, bagai terbuang ke sisiran.

Seseorang yang senang karena terlepas dari kesusahan.

 

Bagai mencincang air.

Mengerjakan perbuatan yang sia-sia.

 

Bagai menegakkan benang basah.

Melakukan pekerjaan yang mustahil dapat dilaksanakan.

 

Bagai mentimun dengan durian.

Orang yang lemah / miskin melawan orang kaya / kuat.

 

Bagai menulis di atas air.

Melakukan perkerjaan yang sangat sukar atau membawa mustahil secara hasil.

 

Bagai musang berbulu ayam.

Orang jahat bertingkah laku sebagai orang baik.

 

Bagai musuh dalam selimut.

Musuh dalam kalangan / golongan sendiri.

 

Bagai pagar makan tanaman.

Orang yang merusak barang / sesuatu yang diamanatkan kepadanya.

 

Bagai pungguk merindukan bulan.

Seseorang yang membayangkan atau menghayalkan sesuatu yang tidak mungkin.

 

Bagai rambut di belah seribu.

Sedikit sekali.

 

Bagai rumah ditepi tebing.

Selalu dalam kecemasan dan ketakutan.

 

Bagai telur di ujung tanjuk.

Terancam bahaya.

 

Seperti abu di atas angin.

Menggantung diri kepada orang yang berkuasa.

 

Seperti durian dengan mentimun.

Orang lemah / miskin / bodoh melawan orang kuat / kaya / pandai.

 

Seperti anjing bercawat ekor.

Orang yang pergi karena malu.

 

Seperti anjing dengan kucing.

Tidak pernah rukun.

 

Seperti anjing kepala busuk.

Orang yang dikenal jahat, kemanapun ia pergi dan dimanapu ia berada pasti akan selalu dihinakan orang.

 

Seperti disalah anjing bertuah.

Tidak dapat ditangguhkan/ditunda lagi.

 

Seperti antan pencungkil duri.

Melakukan hal yang sia-sia.

 

Seperti api makan lalang kering, tiada dapat dipadamkan lagi.

Orang yang lemah tidak berdaya menolak bencana yang menimpanya.

 

Seperti anak ayam kehilangan induk.

Menderita kesusahan karena kehilangan pemimpinnya.

 

Seperti aur dengan rebung.

Sangat karib tentang persahabatannya.

 

Seperti aur dengan tebing.

Saling menolong, tunjang menunjang.

 

Bak ilmu padi, kian berisi kian runduk.

Makin berilmu tidak sombong.

 

Bagai pinang dibelah dua.

Dua orang yang serupa benar.

 

Bagai balam dengan ketitir.

Perihal orang yang selalu bertengkar, masing-masing membanggakan dirinya sendiri.

 

Bagai kacang lupa akan kulitnya.

Tidak tahu diri, lupa akan asalnya.

 

Bagai memakai baju pinjaman.

Tingkah laku yang dibuat-buat sehingga terlihat canggung.

 

Seperti anjing terpanggang ekor.

Mendapat kesusahan yang teramat sangat sehingga tidak karuan tingkahnya.

 

Bagai katak dalam tempurung.

Sangat sedikit pengetahuannya, kurang luas pandangannnya.

 

Bagai kebakaran janggut.

Bingung tidak keruan.

 

Bagai kerakap di atas batu, hidup segan mati tak mau.

Hidup dalam kesukaran / kesengsaraan.

 

Seperti anjing beroleh bangkai.

Seorang yang rakus dengan mudah mendapatkan suatu benda.

 

Seperti anjing berebut tulang.

Orang yang tamak dalam perebutan mencari rezeki.

 

Seperti api dalam sekam.

Hal-hal yang tidak baik yang tidak tampak.

 

Bagaikan abu di atas tanggul.

Orang yang sedang berada pada kedudukan yang sulit dan mudah jatuh.

 

Seperti lebah, mulut bawa madu, pantat bawa sengat.

Berwajah rupawan namun perilakunya jahat.

Facebook Comments

Share This Article