10 Resep Pencuci Dosa dan Obat Penyakit Hati

Makalah Keenam Belas: Sepuluh resep pencuci dosa dan obat penyakit hati.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وقال الحسن البصري رحمه الله: يوما بينما أنا أطوف أزقة البصرة وفى أسواقها مع شاب عابد فإذا أنا بلغنا بطبيب وهو جالس على الكرسي بين يديه رجال ونساء صبيان بأيديهم قوارير فيها ماء، وكل واحد منهم يستوصف دواء لدائه، فقال: فتقدم الشاب إلى الطبيب فقال: أيها الطبيب هل عندك دواء يغسل الذنوب، ويشفى مرض القلوب؟ فقال: نعم، فقال: هات، فقال خذ مني عشر أشياء:

Hasan Al-Basri berkata, “Pada suatu hari ketika berkeliling jalan Bashrah dan pasarnya bersama seorang pemuda ahli ibadah. Ketika itu aku bertemu dengan seorang tabib. Dia duduk di atas kursi sedang dihadapannya banyak laki-laki dan perempuan serta anak-anak yang membawa beberapa botol berisikan air. Setiap orang di antara mereka meminta disebutkan obat untuk mengobati penyakitnya. Kemudian datanglah seorang pemuda kepada tabib itu. Dia berkata, “Wahai Tabib, apakah engkau mempunyai obat yang dapat membersihkan dosa dan penyakit hati?” tabib itu mengatakan, “Ambillah dariku sepuluh perkara:

خذ عروق شجرة الفقر مع عروق شجرة التواضع

Ambillah akar pohon kefakiran dan akar pohon ketawadhu’an.

واجعل فيها هليلج التوبة

Masukkan akar tobat ke dalamnya.

واطرحه فى هاون الرضاء

Masukkanlah ketiga unsur itu ke dalam lesung ridho.

واسحقه بمنجار القناعة

Tumbuklah hingga halus dengan alu qona’ah

واجعله فى قدر التقى

Masukkan semua itu dalam panci taqwa.

وصب عليه ماء الحياء

Tuangkan air malu ke dalamnya.

واغله بنار المحبة

Didihkan semua itu dengan api mahabbah

واجعله فى قدح الشكر

Selanjutnya, tuangkan semua itu ke dalam mangkok syukur.

وروحه بمروحة الرجاء

Dinginkan apa yang ada di dalam mangkok syukur tersebut dengan kipas raja’

واشربه بملعقة الحمد

Minumlah semua itu dengan sendok pujian.

فإنك إن فعلت ذلك فإنه ينفعك من كل داء وبلاء فى الدنيا والاخرة

Maka hal itu akan menyelamatkanmu dari berbagai jenis penyakit dan musibah di dunia dan di akhirat.

Kefakiran dan ketawadhu’an diibaratkan dengan suatu pohon, sebab keduanya merupakan sesuatu yang tinggi (nilainya di hadapan Allah). Adapun akar berfungsi sebagai faktor hidupnya suatu pohon. Maknanya adalah carilah faktor-faktor yang bisa menjadikan seseorang mampu menerima kefakiran dengan cara ridho dan mampu bersikap tawadhu’, sebab keduanya amatlah tinggi nilainya di hadapn Allah.

Ibnu Atha’ berkata, “Tawadhu’ akan menjadikan seseorang mudah menerima kebenaran.”

Ibnu ‘Abbas berkata, “Termasuk kategori tawadhu’ merupakan seseorang mau minum dari sisa air minum saudaranya.”

Al-Qusyairi berkata, “Kefakiran merupakan simbolnya auliya’ (para wali), permatanya ashfiya’ (orang-orang yang berhati higienis), dan merupakan sesuatu yang Allah pilihkan untuk hamba-hamba pilihan-Nya dari Atqiya’ (mereka yang bertaqwa) dan Anbiya’ (para nabi).”

Abu Abdullah Al-Qurasyi berkata, “Hakekat mahabbah (rasa cinta) merupakan membagikan semua yang engkau miliki kepada pihak yang engkau cintai hingga tak bersisa sedikitpun.”

Raja’ (penuh harap) merupakan suka dengan adanya karunia Allah. Adapula yang mengatakan bahwa raja’ merupakan meyakini luasnya rahmat Allah.

Wallahu a’lam. Semoga bermanfaat.

رَبَّنَا آتِنَا فِيْ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِيْ الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار

والسلام علىكم ورحمة الله و بركاته

 

Baca Makalah Ke-17, Klik di Sini ….

 

 

 

Sumber: “Nashaihul Ibad” Karya Ibnu Hajar Al Asqalany. Syarah oleh Muhammad Nawawi bin ‘Umar

 

 

Facebook Comments

Share This Article